Ketika segala perkara itu didengar raja Daud sangat marahlah ia.[3]
Daud sangat marah atas pemerkosaan putrinya oleh putra sulungnya (1 Tawarikh 3:1). Namun, ia tidak bisa menegur dan menghukum Amnon sebagaimana mestinya (lihat Imamat 20:17).
Perbuatan Daud sendiri dengan Batsyeba telah melemahkan dan merusak kemampuannya untuk mendisiplin anak-anaknya dan mengatur rumah tangganya sendiri. Karena Daud sendiri bukan tanpa cela (Amsal 6:32–33), dia kehilangan wibawa dan keberanian moral untuk menegur anaknya. Teladannya yang kurang baik menghancurkan pengaruh moralnya atas orang-orang yang diasuhnya.
Di bawah perjanjian yang baru, para pemimpin gereja harus menjadi teladan kekudusan. Dengan demikian ketika menegur dosa, mereka tidak perlu takut bahwa kehidupan mereka sendiri bercela dalam menaati standar-standar yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya (1 Timotius 3:1–13).[4]
Ayat 27
Absalom telah melarikan diri dan telah pergi kepada Talmai bin Amihur, raja negeri Gesur. Dan Daud berdukacita berhari-hari lamanya karena anaknya itu. (TB)[5]
Absalom adalah putra Daud dari istrinya, Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur. Jadi Absalom melarikan diri untuk mendapatkan perlindungan dari kakeknya.[6]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857