Juga pada waktu itu aku [Musa] mohon kasih karunia daripada TUHAN, demikian: "Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon." (TB)[10]
Bukan karena kurang beriman, melainkan karena tidak taat,[11] maka Tuhan ALLAH (bahasa Ibrani:אדני יהוהcode: he is deprecated ; ’ă·ḏō·nāyYHWH) tidak mengizinkan Musa menyeberangi sungai Yordan untuk menginjakkan kaki ke tanah Kanaan. Musa dilarang Tuhan untuk membicarakan lagi hal itu.[12] Namun, Tuhan menunjukkan rahmat-Nya dengan menunjukkan seluruh tanah itu dari puncak gunung Pisga.[13][14][15] Kelak, Musa diberi kesempatan untuk bercakap-cakap denganAllah Putra, YesusKristus, di atas "gunung yang kudus"[16] yang menurut kepercayaan terjadi di atas gunung Tabor, di dalam wilayah tanah Kanaan.[17][18]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑Meistermann, Barnabas (1912), "Transfiguration", The Catholic Encyclopedia, vol.XV, New York: Robert Appleton Company, citingOrigen's Comm. in Ps. 88, 13