Berbeda dengan sistem bus raya terpadu (BRT) yang menggunakan jalur khusus, BisKita Trans Pakuan beroperasi di jalur umum bersama kendaraan lain namun hanya berhenti pada titik pemberhentian bus atau halte yang telah ditentukan.[3]
Sejarah
Kegiatan Soft Launching Layanan BisKita Trans Pakuan di Kota Bogor.
BisKita Trans Pakuan resmi beroperasi pada 2 November2021 yang ditandai dengan pelaksanaan soft launching di Kantor Wali Kota Bogor. Pada tahap uji coba ini, Koridor 5 (Terminal Ciparigi–Stasiun Bogor) menjadi rute pertama yang dioperasikan dengan 10 unit bus dan 27 titik pemberhentian.[4]
Pada masa awal operasional, layanan ini sempat digratiskan kepada masyarakat sebagai bagian dari sosialisasi penggunaan transportasi publik modern di Kota Bogor. Kehadiran BisKita juga diiringi penerapan program konversi angkutan kota (angkot), dengan skema penggabungan tiga unit angkot menjadi satu unit BisKita Trans Pakuan. [5]
Dalam perencanaan awal, BisKita Trans Pakuan dirancang melayani enam koridor di seluruh wilayah Kota Bogor.[7] Namun, hanya empat koridor yang terealisasi, yaitu Koridor 1, 2, 5, dan 6.
Terhitung sejak 1 Januari2025, Kementerian Perhubungan resmi menghentikan subsidi program BTS BisKita Trans Pakuan dan menyerahkan pengelolaan operasional kepada Pemerintah Kota Bogor.[8] Pengalihan tersebut menyebabkan operasional layanan sempat terhenti akibat belum rampungnya skema pendanaan daerah. Selama masa transisi, Pemerintah Kota Bogor mengoperasikan bus wisata dan bus sekolah untuk melayani rute terdampak.[9]
Akibat keterbatasan anggaran daerah, layanan awalnya kembali beroperasi secara terbatas pada dua koridor. Namun, mulai 6 Oktober2025, operasional kembali ditingkatkan hingga seluruh empat koridor dapat dilayani secara penuh.[10] Seiring dengan peralihan pengelolaan tersebut, Pemerintah Kota Bogor juga merencanakan penjenamaan ulang layanan menjadi Trans Metro Pakuan.[11]
Terminal Ciparigi → Taman Villa Bogor Indah → Jl. Kedung Halang → Jl. KS. Tubun (arah selatan) → Jl. Ahmad Yani (arah selatan) → Plaza Jambu Dua → Jl. RE. Martadinata → Jl. Merdeka (arah selatan) → Jl. Moh. A. Salmun → Jl. Mayor Oking → Stasiun Bogor → Jl. Kapten Muslihat → Alun-Alun Kota Bogor → Katedral Bogor → Jl. Ir. H. Juanda → Balai Kota Bogor → Jl. Jend. Sudirman (arah utara) → Rumah Sakit Umum Salak Bogor → Museum Pembela Tanah Air → Jl. Pemuda (arah utara) → Jl. Dadali → Jl. Ahmad Yani (arah timur) → Plaza Jambu Dua → Jl. KS. Tubun (arah utara) Jl. Sholeh Iskandar → Tugu Narkoba → Jl. KS. Tubun (arah utara) → Jl. Kedung Halang → Taman Villa Bogor Indah → Terminal Ciparigi
Parung Banteng → Jl. Kol. Ahmad Syam → Taman Corat-Coret → Jl. Ahmad Adnawijaya → Jl. Ahmad Yani (arah selatan) → Plaza Jambu Dua → Jl. RE. Martadinata → Jl. Merdeka (arah selatan) → Jl. Moh. A. Salmun → Jl. Mayor Oking → Stasiun Bogor → Jl. Kapten Muslihat → Alun-Alun Kota Bogor → Katedral Bogor → Jl. Ir. H. Juanda → Balai Kota Bogor → Jl. Jend. Sudirman (arah utara) → Rumah Sakit Umum Salak Bogor → Museum Pembela Tanah Air → Jl. Pemuda (arah utara) → Jl. Dadali → Jl. Ahmad Yani (arah timur) → Plaza Jambu Dua → Jl. Ahmad Adnanwijaya → Taman Corat-Coret → Jl. Kol. Ahmad Syam → Parung Banteng
Armada
BisKita Trans Pakuan mengoperasikan 49 unit bus ukuran sedang berbodi Nucleus 5 yang diproduksi oleh karoseriLaksana. Masing-masing bus dapat mengangkut hingga 35 penumpang, terdiri dari 20 penumpang duduk dan 15 penumpang berdiri. Bus juga sudah dilengkapi pengondisi udara, kamera pengawas, alat pemadam api ringan, dan pintu darurat.[12] Unit bus BisKita Trans Pakuan juga dilengkapi dengan peralatan Internet of Things (IoT) seperti passanger counting, GPS tracking, dan camera surveillance. Hal ini akan memudahkan masyarakat dalam mengetahui headway kedatangan atau keberangkatan antar unit bus.[13]