Sejarah
Perusahaan ini memulai sejarahnya pada tanggal 6 Juli 1965 saat pemerintah Indonesia membagi "PN Pos dan Telekomunikasi" (PN Postel) menjadi dua perusahaan negara (PN) terpisah, yakni "PN Pos dan Giro" untuk menyediakan layanan pos & giro dan PN Telekomunikasi (PERUMTEL) untuk menyediakan layanan telekomunikasi.[7] Pada tahun 1974, sebagian aset perusahaan ini dijadikan modal oleh pemerintah untuk mendirikan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) yang bergerak di bidang produksi peralatan telekomunikasi.[8] Status perusahaan ini kemudian diubah menjadi perusahaan umum (Perum).[9] Pada tahun 1991, status perusahaan ini kembali diubah menjadi persero[10] dan mulai berbisnis dengan merek "Telkom".
Pada tahun 1995, perusahaan ini mendirikan Telkomsel untuk berbisnis di bidang telekomunikasi seluler. Pada tahun 1995 juga, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, mendaftarkan sahamnya di NYSE dan LSE, serta menawarkan sahamnya (tanpa melantai) di Bursa Efek Tokyo.
Pada Tahun 1996 ,Telkom Mendirikan Layanan TelkomNet yaitu penyediaan Jaringan Internet.[5]
Pada tahun 1999, perusahaan ini meluncurkan satelit Telkom-1. Pada tahun 2001, perusahaan ini membeli 35% saham Telkomsel yang masih dipegang oleh Indosat sebagai bagian dari restrukturisasi industri telekomunikasi Indonesia dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara perusahaan ini dan Indosat. Pada tahun 2005, perusahaan ini meluncurkan satelit Telkom-2.
Pada tahun 2010, perusahaan ini berhasil menyelesaikan pembangunan kabel serat optik bawah laut Jakarta-Kalimantan-Sulawesi-Denpasar-Makassar (JaKaLaDeMa). Pada tahun 2014, perusahaan ini menjadi yang pertama di Indonesia untuk menyediakan layanan 4G LTE. Pada tahun 2014 juga, perusahaan ini menarik diri dari LSE dan dan Bursa Efek Tokyo.[11] Setahun kemudian, perusahaan ini juga meluncurkan paket layanan IndiHome yang menggabungkan layanan internet, telepon, dan TV. Pada tahun 2016, perusahaan ini berhasil menyelesaikan pembangunan kabel bawah laut Southeast Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WE 5). Setahun kemudian, perusahaan ini juga berhasil menyelesaikan pembangunan kabel serat optik bawah laut Southeast Asia-United States (SEA-US) dan meluncurkan satelit Telkom-3S.
Pada tahun 2018, perusahaan ini meluncurkan satelit Telkom-4 dan meresmikan The Telkom Hub di Jakarta. Perusahaan ini juga berhasil menyelesaikan pembangunan kabel bawah laut Indonesia Global Gateway (IGG). Pada tahun 2019, melalui Mitratel, perusahaan ini mengakuisisi 2.100 unit menara telekomunikasi milik Indosat Ooredoo dan mengakuisisi 95% saham PT Persada Sokka Tama yang memiliki 1.017 unit menara telekomunikasi. Pada tahun 2020, perusahaan ini setuju untuk menjual 6.050 unit menara telekomunikasi miliknya ke Mitratel. Perusahaan ini juga menjalin kerja sama dan berinvestasi di Gojek. Pada akhir tahun 2020, perusahaan ini mengumumkan bahwa mereka akan menyingkat namanya menjadi "PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk", tanpa mengubah nama aslinya.[6]
Pada bulan Mei 2021, melalui Telkomsel, perusahaan ini menjadi yang pertama di Indonesia untuk menyediakan layanan 5G. Pada akhir tahun 2021, Mitratel resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2022, perusahaan ini berhasil menyelesaikan tahap pertama dari pembangunan Hyperscale Data Center di Cikarang. Pada akhir tahun 2022, perusahaan ini meletakkan batu pertama pembangunan Hyperscale Data Center di Batam. Melalui Telin, perusahaan ini juga bergabung ke dalam konsorsium pembangunan kabel bawah laut SEA-ME-WE 6.[2][5]
Pada bulan Agustus 2024, perusahaan ini mengalihkan pengelolaan atas aset serat optik miliknya ke Telkom Infrastruktur Indonesia.[12] Pada bulan Maret 2025, pemerintah menyerahkan mayoritas saham perusahaan ini ke Biro Klasifikasi Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi Danantara Asset Management, sebagai bagian dari upaya untuk membentuk holding operasional di internal Danantara.[13]
Pada 6 Januari 2026, dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN melalui Perjanjian Pengalihan Saham Milik Negara Republik Indonesia Berupa Saham Seri B pada BUMN Kepada Badan Pengaturan BUMN, sekaligus mengalihkan fungsi pengelolaan negara dari Kementerian BUMN kepada BP BUMN, Telkom mengalihkan 516,02 juta saham Seri B atau setara 0,52% yang sebelumnya dimiliki oleh Danantara Asset Management kepada BP BUMN, yang kemudian dijadikan sebagai saham Seri A Dwiwarna.[14] Dengan pengalihan kepemilikan saham Seri B tersebut, porsi kepemilikan saham Danantara Asset Management terhadap Telkom berkurang menjadi 51,57%, kendati tidak memengaruhi komposisi kepemilikan saham Negara Republik Indonesia secara keseluruhan.[15]
Komposisi kepemilikan saham
Pada Penawaran saham pada 14 November 1995 dan block sale Desember 1996, komposisi saham Telkom menjadi:[16]
Per 7 Mei 1999, komposisi saham Telkom menjadi:
Per 8 Desember 2001, komposisi saham Telkom berubah menjadi:
Per 16 Juli 2002, komposisi saham Telkom berubah kembali menjadi:
- Pemerintah Indonesia: 51,19%
- Publik free-float: 40,21%
- Bank of New York dan Investor dalam Negeri: 8,79%
Per 31 Desember 2013, komposisi saham Telkom berubah kembali menjadi:
Per 24 Februari 2025, ketika pemerintah mengalihkan kepemilikan saham Telkom ke Biro Klasifikasi Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Danantara Asset Management, komposisi saham Telkom berubah kembali menjadi:[17]
Sejak 6 Januari 2026, pasca berlakunya UU No. 16 tahun 2025 tentang BUMN yang mengatur pengalihan kepemilikan sebagian saham negara kepada BP BUMN, komposisi saham Telkom berubah kembali menjadi:
- Pemerintah Indonesia, melalui:
- Danantara Asset Management: 51,57%
- Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara: 0,52%
- Publik free-float: 47,91%
Sebelum penawaran saham perdana, Telkom tercatat 100% sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia.