Sungai Bongka merupakan aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai yaituDAS Bongka dengan luas daerah tangkapan air mencapai 3.330km2 (1.290sqmi) yang mencakup wilayah kabupaten Tojo Una-una di bagian tengah hingga kawasan hilir DAS dan Morowali Utara mulai dari kawasan hulu hingga bagian tengah DAS. DAS Bongka merupakan DAS Pegunungan, dari kawasan hulunya hingga ke bagian hilirnya.[3]
Pemanfaatan
Rencana pembangunan PLTA Bongka
Pemerintah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 275 MW dengan memanfaatkan aliran Sungai Bongka yang berlokasi di wilayah Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah. Proyek tersebut telah diinisiasi sejak tahun 2017 oleh perusahaan Korea Water Resources Corporation (K-Water) melalui PT. Bongka Nova Energi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menyetujui rencana ini dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada tahun 2022.[4][5]
Pembangunan PLTA tersebut bertujuan menyediakan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah serta dalam mendukung transisi energi terbarukan di Indonesia.[6]
Hingga saat ini, proyek PLTA Bongka masih dalam tahap perencanaan dan menghadapi berbagai kendala. Protes dan kritik dari masyarakat lokal dan organisasi lingkungan terus mengiringi rencana pembangunan ini. Meskipun pemerintah daerah mendukung proyek ini, proses perizinan dan partisipasi masyarakat yang minim masih menjadi hambatan utama.[7][8]
Potensi wisata DAS Bongka
DAS Bongka menawarkan panorama alam yang indah, flora dan fauna yang beragam, serta budaya lokal yang masih terjaga. Atraksi utamanya adalah arung jeram dan eksplorasi kehidupan masyarakat adat.
Masyarakat adat DAS Bongka
Orang Salaki termasuk rumpun Suku Wana yang menetap di DAS Bongka, sejak ratusan tahun lalu. Pola ladang rotasi, berburu dan memanen hasil hutan seperti rotan, damar dan gaharu telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Wilayah adat Salaki dijadikaan Hutan Lindung oleh Negara pada tahun 1999. Pemerintah beberapa kali memaksa mereaka untuk direlokasi (resetlement).[9]
Latar belakang Masyarakat Adat Tau Taa Wana
Kawasan hutan di Pedalaman Tojo Una-Una, khususnya di wilayah Dataran Tinggi Bulang, Daerah Aliran Sungai Bongka, merupakan salah satu area penting yang didiami dan dilestarikan oleh masyarakat adat Tau Taa Wana. Bagi masyarakat Tau Taa Wana, wilayah hutan di DAS Bongka, yang menjadi muara dari Sungai Bulang dan Mkasi, dianggap sebagai tempat yang paling baik dan dipercaya sebagai tempat asal leluhur mereka. Pijakan tanah pertama di Bongka, khususnya di hulu Sungai Bongka di Pegunungan Katurende dan Kadata, dianggap sebagai awal mitologi Kaju Paramba’a (kayu yang beranak), yang kemudian disebut Kaju Marangka. Tempat ini disakralkan sebagai tempat lahirnya leluhur Tau Taa Wana.[10]
Leluhur masyarakat Tau Taa Wana diduga kuat berasal dari kawasan hutan di bagian selatan-tenggara Pulau Sulawesi (atau bagian barat daya/barat laut Malili). Melalui fase persebaran dan migrasi kedua pada masa prasejarah, rombongan leluhur ini bergerak ke utara dan timur, menyusuri berbagai sungai dan pegunungan, hingga akhirnya tiba di daerah hulu Sungai Bau dan bergerak bermigrasi serta melakukan persebaran ke timur, tepatnya di DAS Bongka. Prinsip persebaran ini memungkinkan orang Tau Taa Vana tersebar di wilayah yang berbatasan dengan DAS Bongka, seperti Poso, Tentena, Morowali, Tojo Una-Una, dan Banggai.[10]
Masyarakat Tau Taa Wana secara turun-temurun hidup dan menetap di bentangan alam dari Pegunungan Kalunde Lumut di Dataran Tinggi Bulang Tojo Una-Una sampai wilayah Cagar Alam Morowali, termasuk di sekitar DAS Bongka. Hutan di sekitar DAS Bongka difungsikan sebagai ruang pemenuh kebutuhan hidup (konsumsi, pemukiman) dan juga dimanfaatkan kekayaan biodiversitasnya, termasuk tanaman obat untuk praktik pengobatan tradisional seperti Bakum valia dan Mobolong.[10]
Geografi
Sungai ini mengalir di wilayah tengah pulau Sulawesi yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[11] Suhu rata-rata setahun sekitar 23°C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 24°C, and terdingin April, sekitar 22°C.[12] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2929mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah April, dengan rata-rata 341mm, dan yang terendah September, rata-rata 79mm.[13]