Sujud para malaikat
Sujud para malaikat adalah karena menghormati Nabi Adam A.S. dan bukan menyembah -- Iblis tidak mematuhi perintah Tuhan ini karena merasa dirinya besar dan memiliki kelebihan dibandingkan manusia.
Imam Al-Maghari mengatakan di dalam tafsirnya, setelah Allah s.w.t. mengabarkan kepada malaikat berhubung posisi Adam yang dijadikan sebagai khalifah di muka bumi, lantas Allah memerintahkan mereka sujud sebagai tanda hormat, bukan ibadat sebagai mengakui kemuliaan Adam dan sebagai pernyataan bersalah terhadap apa yang mereka katakan sebelumnya.
Di antara keistimewaan Adam adalah karunia ilmu yang banyak, sehingga melemahkan kinerja tingkat capaian keilmuan maksimum Malaikat. Allah menambahkan pada ayat-ayat berikut, dengan kemuliaan lain, yaitu perintah kepada sekalian Malaikat supaya bersujud kepadaNya. Ini menambah tanda-tanda kemuliaan dan kelebihan pada makhluk bernama manusia yang berasal dari Adam A.S.
Ibn Jarir dalam tafsirnya, At-Thabari mengatakan, seolah-olah ia merupakan peringatan kepada kaum Yahudi yang mendiami Kota Suci Madinah bersama Nabi s.a.w. Kepada mereka diberikan berbagai nikmat dan peringatan, sebagaimana Firman Allah yang artinya:
- Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia enggan dan takabur, dan ia adalah golongan orang kafir (Surah Al-Baqarah ayat 34)
Allah menyebut, 'Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat'. Artinya, ingat wahai Muhammad, kepada orang-orang Anda, ketika Kami berfirman kepada para Malaikat. Syeikh Abdur Rahman As-Sa'di mengatakan dalam tafsirnya, Taisir Al-Karim, kalimat ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya adalah mengisbatkan firman Allah.
Ibn Jauzi menafsirkan di dalam kitabnya, Zad al-Masir, bahwa ada dua pendapat tentang Malaikat:
- Pertama, semua Malaikat. Inilah pendapat As-Suddi dari guru-gurunya.
- Kedua, mereka adalah sekelompok malaikat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abas, tetapi pendapat pertama belum berlaku.
'Sujudlah kamu kepada Adam'. Yaitu sujud untuk menghormati dan membesarkannya, bukan sujud untuk beribadat. As-Syaukani di dalam Fath al-Qadir mengatakan, maksud sujud di sini adalah hina dan merendahkan diri, dan puncaknya adalah meletakkan wajah di bumi. Inilah juga pendapat Imam an-Nasafi di dalam tafsirnya yang menaqalkan pendapat jumhur ulama.
Ada dua pendapat sehubungan sifat sujud para malaikat kepada Adam: Pertama, yaitu seperti sifat sujud di dalam shalat. Inilah pendapat yang lebih zahir. Kedua, yaitu merendahkan kepala seumpama rukuk. Al-Imam al-Fakhru ar-Razi di dalam kitab, Tafsir al-Kabir mengatakan, telah ijmak sekalian orang Islam, bahwa sujud tersebut bukan sujud ibadah, karena sujud ibadah selain Allah dapat membawa kufur.
Al-'Allamah Thahir `Asyur melalui tafsirnya, At-Tahrir Wa At-Tanwir mengatakan, sujud merupakan penghormatan pertama yang diterima oleh manusia dari makhluk alam. Dan disandarkan sujud kepada Adam dengan kata 'lam' yang berarti 'untuk' menunjukkan bahwa mereka ditaklifkan bersujud dengan zatnya dan ia merupakan asal indikator 'lam ta'lil', yaitu ketika dikaitkan dengan maksud sujud.
Kemudian ia menambahkan, pada ayat ini juga dapat dikeluarkan permasalahan yang cukup menarik tentang menghormati ilmu dan kualifikasi ulama untuk menerima penghormatan dan kemuliaan tersebut, karena ketika Allah mengajarkan kepada Adam ilmu-ilmu yang tidak dimiliki oleh malaikat, ia membuat Adam contoh utama dalam penguasaan penciptaan penelitian dan ilmu yang lahir pada manusia berikutnya, dan pasti akan lahir penciptaan baru, begitu juga ilmu sehingga binasanya alam ini.
'Maka sujudlah mereka, kecuali iblis'. Maksudnya, lantas mereka para malaikat semuanya sujud, kecuali iblis. Para ahli menyebutkan, pengecualian ini ditafsirkan dengan dua pendapat: Pertama, yaitu pengecualian dari jenis yang sama. Pendapat ini menggolongkan iblis termasuk dalam kelompok malaikat, seperti pendapat Ibn Mas'ud dalam satu riwayat dan Ibn Abas, kecuali Allah mengganti rupanya menjadi setan. Kedua, ia bukan jenis malaikat, tetapi jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Basri dan Az-Zuhri.
Oleh karena itu, ada pengecualian ini sebagai pengecualian yang terputus. Penulis mendukung pendapat kedua berdasarkan ayat Al-Quran yang lain, di dalam Surah Al-Kahf ayat 50 yang artinya:
- Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang berbuat salah.
Berhubung nama iblis, ada dua pandangan ulama, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam al-Mawardi dalam kitabnya, an-Nukat Wa al-'Uyun.
- Pertama, itu adalah nama a'jam (non-Arab). Inilah pendapat Abu Ubaidah, yaitu Mu`ammar bin al-Musanna at-Taimi, az-Zajjaj dan Ibn al-Anbari.
- Kedua, itu diambil dari kata iblas, yang berarti putus asa sebagai narasi dari Abi Saleh
Ini karena 'Ia enggan dan takabur', yaitu melanggar apa yang diarahkan kepadanya. Syeikh Rashid Redha di dalam tafsirnya, al-Manar mengatakan, iblis tidak mematuhi perintah Tuhan karena merasa dirinya besar dan memiliki kelebihan dibandingkan manusia. Sifat takabur dan suka menunjuk-nunjukkan sifat kesombongan ini, merupakan tanda-tanda perasaan tinggi diri. Ada huruf 'sin' dan 'ta' pada awal kalimat takabur, ia menunjukkan bahwa takbur bukanlah kebiasaan iblis, tetapi ia mampu dan bersedia melakukannya.