Sarjana-sarjana Islam telah mengembangkan berbagai pandangan mengenai ilmu pengetahuan dalam konteks Islam.[1] Ilmuwan-ilmuwan dari peradaban Islam abad pertengahan (seperti Ibnu al-Haitsam) telah berjasa dalam penemuan-penemuan di ranah sains.[2][3][4] Dari abad ke-8 sampai ke-15, matematikawan dan astronom Islam memperdalam pengembangan matematika.[5][6] Kekhawatiran telah dinyatakan mengenai kurangnya literasi ilmiah di beberapa bagian di Dunia Islam modern.[7]
Selain dari kontribusi-kontribusi tersebut, beberapa penulis Muslim telah membuat klaim bahwa Al-Qur'an mengandung pernyataan "ramalan" mengenai fenomena ilmiah mengenai struktur embrio, Tata Surya, dan perkembangan alam semesta.[13][14]
Islam dan Al-Qur'an
Banyak Muslim setuju bahwa terlibat dalam ilmu pengetahuan adalah sebuah aktivitas yang menghasilkan pahala, bahkan sebagai tugas kolektif bagi umat Islam.[15] Menurut M. Shamsher Ali, terdapat sekitar 750 ayat dalam Al-Qur'an mengenai fenomena alam. Menurut Encyclopedia of the Quran, banyak ayat dalam Al-Qur'an meminta manusia untuk mempelajari alam, dan hal ini telah ditafsirkan sebagai sebuah dorongan untuk riset ilmiah[16] dan penyelidikan akan kebenaran.[16] Hal ini mencakup:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Dimulai pada 1970-an sampai 1980-an, gagasan mengenai hadirnya bukti ilmiah di dalam Al-Qur'an dipopulerkan sebagai literatur i'jaz (mukjizat). Literatur jenis ini, yang menafsirkan Al-Qur'an sebagai pengungkap keberana ilmiah sebelum penemuannya oleh manusia juga dikenal sebagai Tafsir 'ilmi. Pendekatan ini mendapat dorongan populeritas oleh penulis Prancis Maurice Bucaille, yang karyanya telah tersebar melalui toko buku dan situs daring Muslim, dan dibahas pada program-program televisi oleh mubalig Islam.[13][22] Gerakan ini memiliki gagasan utama bahwa Al-Qur'an penuh dengan "fakta ilmiah" yang hadir berabad-abad sebelum penemuannya oleh sains dan "tidak mungkin diketahui" oleh orang-orang pada pada masanya. Dengan menegaskan kehadiran kenyataan ilmiah dari Al-Qur'an, hal ini juga bertumpang tindih dengan kreasionisme Islam. Pendekatan ini telah ditolak oleh teolog ortodoks yang berpendapat bahwa tujuan Al-Qur'an adalah sebagai panduan religius, alih-alih sebagai bahan pengusulan teori ilmiah.[23]
Kritik dari pandangan ini berasal baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim. Para kritik berargumen bahwa ayat-ayat yang diusulkan menjelaskan fakta-fakta ilmiah modern memiliki kesesatan logika dan tidak ilmiah.[25][26]
Meski secara umum diterima bahwa Al-Qur'an mencakup banyak ayat-ayat mengenai keindahan alam, para kritik berargumen bahwa:
dibutuhkan "banyak senam dan distorsi mental untuk mencari fakta atau teori ilmiah dalam ayat-ayat tersebut" (Ziauddin Sardar);[22]
Al-Qur'an adalah sumber panduan untuk iman dan perilaku yang benar (alladhina amanu wa amilu l-salihat), tetapi gagasan bahwa Al-Qur'an mengandung "semua pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah" sudah tidak menjadi pandangan umum di kalangan sarjana Islam (Zafar Ishaq Ansari);[27][verifikasi]
"Ilmu pengetahuan terus berubah ... revolusi Kopernikus menggantikan model alam semesta Ptolemy hingga teori relativitas Einstein membayangi mekanisme Newtonian".[13] Sehingga, meski "Ilmu pengetahuan bersifat probabilistik", Al-Qur'an berurusan dengan "kepastian absolut". (Ali Talib)[28]
↑Egyptian Muslim geologist Zaghloul El-Naggar quoted in Science and Islam in Conflict| Discover magazine| 06.21.2007| quote: "Modern Europe's industrial culture did not originate in Europe but in the Islamic universities of Andalusia and of the East. The principle of the experimental method was an offshoot of the Islamic concept and its explanation of the physical world, its phenomena, its forces and its secrets." From: Qutb, Sayyad, Milestones, p. 111, https://archive.org/stream/SayyidQutb/Milestones%20Special%20Edition_djvu.txt
1234SARDAR, ZIAUDDIN (21 August 2008). "Weird science". New Statesman. Diakses tanggal 11 April 2019.
↑Johanna Pink (2010). Sunnitischer Tafsīr in der modernen islamischen Welt: Akademische Traditionen, Popularisierung und nationalstaatliche Interessen. Brill, ISBN 978-9004185920, pp. 120–121
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille, Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta