Untuk memperindah stasiun, di depan bangunan stasiun yang masih merupakan peninggalan Staatsspoorwegen ini memiliki taman sederhana. Suasana stasiun tampak asri karena dikelilingi pepohonan kelapa. Balok nama stasiun asli yang terpampang di samping bangunan, masih dirawat sampai sekarang.[5]
Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api. Awalnya, jalur 1 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda mulai stasiun ini hingga Stasiun Kemranjen resmi dioperasikan per 27 November 2019[6][7][8] dan kemudian hingga Stasiun Gombong per 5 Mei 2020, jalur 1 dijadikan sebagai sepur lurus untuk arah Kroya saja, sedangkan jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus hanya untuk arah Kutoarjo. Hal ini membuat tata letak stasiun ini mirip dengan yang ada di Stasiun Plabuan dan Krengseng di lintas Tegal–Semarang. Emplasemen stasiun diperpanjang ke arah barat dan terdapat sebuah ruang PPKA baru yang digunakan untuk menggantikan ruang PPKA lama di bangunan utama stasiun. Selain itu, sistem persinyalan elektrik lama produksi Westinghouse Rail Systems yang telah beroperasi sejak 1999 sudah digantikan dengan yang terbaru produksi PT Len Industri.
Saat ini tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi penyusulan antarkereta api.
↑Susanti, D.M. (Januari 2008). Kajian atas Pengelolaan Pengetahuan dalam Pengoperasian Teknologi Persinyalan Kereta Api (Studi Kasus Daop 2 Bandung) (S2). Program Magister Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Pengembangan, dan Perencanaan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.
↑Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia"(PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
↑Prasetya, S. (2014). "Tambak (TBK): Tetap Bersih Meski Tak Layani Tiket". Majalah KA. 96: 20.