Kabupaten Sekadau merupakan jalur transportasi segitiga, yakni daerah Nanga Taman dan Nanga Mahap yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ketapang. Kabupaten Sekadau resmi berdiri pada 18 Desember 2003 setelah melakukan pemekaran dari Kabupaten Sanggau.[butuh rujukan]
Geografi
Kabupaten Sekadau merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sanggau, secara geografis terletak pada 0o38'23" LU dan 0o44'25" LS, serta di antara 110o33'07" - 111o17'44" BT.[butuh rujukan]
Batas Wilayah
Batas wilayah Kabupaten Sekadau terdiri dari:[butuh rujukan]
Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sanggau
Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sintang
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sintang
Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ketapang
Komoditas unggulan Kabupaten Sekadau yaitu sektor perkebunan, pertanian dan jasa. Sektor Perkebunan komoditas unggulannya adalah kelapa sawit, kakao, karet, kopi, kelapa, dan lada. Sub sektor Pertanian komoditas yang diunggulkan berupa jagung, ubi jalar, dan ubi kayu. Sub sektor jasa Pariwisatanya yaitu wisata alam.[butuh rujukan]
Sejarah
Pelantikan Panembahan Gusti Mohammad tahun 1932
Sekadau dahulu merupakan daerah pemerintahan kerajaan. Raja-raja yang pernah berkuasa di wilayah ini adalah:
Dayang Sri Awan
Dayang Sri Bunga
Kyai Dipati Suma Negara
Dayang Kacang
Abang Karang (Kyai Dipati Tumbah Baj)
Dayang Ineh, tahun 1720 menikah dengan Sultan Mangkurat, Raja Melamat (Matan)
Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam wester-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.[6]
Kabupaten Sekadau terdiri dari 7 kecamatan dan 87 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 208.791 jiwa dengan luas wilayah 5.444,20 km² dan sebaran penduduk 38 jiwa/km².[9][10]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Sekadau, adalah sebagai berikut:
Penduduk asli Kabupaten Sekadau adalah etnisDayak, yang terbagi dalam sub-sub suku Dayak di Kabupaten Sekadau antara lain: Dayak Mualang (Ibanik Group), Dayak Ketungau Sesat (Ibanik Group), Dayak Kerabat, Dayak Jawant, dan kemudian disusul oleh Melayu Sekadau. Dayak Mualang mempunyai populasi terbesar yang diperkirakan lebih dari 60% penduduk Kabupaten Sekadau. Sebagian besar bermukim di Belitang Hilir, Belitang Tengah dan Belitang Hulu dan tersebar ke Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang. Populasi besar kedua yaitu: Dayak Ketungau sesat bermukim di Sekadau Hilir dan Sekadau Hulu. Dayak Kerabat dan Dayak Jawant bermukim di Sekadau Hulu, Dayak Mentuka (Nanga Taman dan Nanga Mahap), Suku Dayak Kancikgh (Nanga Taman dan Nanga Mahap), Dayak Menterap Kabut (Nanga Mahap, sedangkan Melayu Sekadau tersebar di pesisir sungai besar yang ada di seluruh kecamatan di Kabupaten Sekadau, dan sub-sub kecil lainnya yang tersebar di Nanga Taman, Nanga Mahap.[butuh rujukan]
Agama
Mayoritas agama yang dianut suku-suku Dayak di Sekadau adalah Katolik dan Protestan, tetapi ada sebagian menganut Agama Islam yang berasal dari berbagai etnis terutamanya dari etnis Melayu dan diikuti oleh Jawa, Bugis, dan lainnya. Berdasarkan data pemerintahan kabupaten Sekadau tahun 2025, sebanyak 59,89% Penduduknya memeluk Kekristenan, di mana Katolik 45,93% dan Protestan sebanyak 13,96% dari 227.055 jiwa. Pemeluk agama Islam berjumlah 39,33%, kemudian pemeluk Budha 0,64% serta Konghucu 0,13% yang umunya adalah orang Tionghoa.[1]
Bahasa
Bahasa yang umum digunakan masyarakat Kabupaten Sekadau adalah Bahasa Melayu Sekadau yang digunakan di Kota Sekadau dan setiap ibukota kecamatan, kemudian Bahasa Dayak Mualang, Bahasa Dayak Ketungau, Bahasa Dayak Menterap Kabut (Nanga Mahap). Khusus Dayak Menterap Kabut adalah satu-satunya suku Dayak yang menuturkan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa lain.[11]
Contoh beberapa kata dalam bahasa daerah Sekadau yang sering digunakan, antara lain seperti:[butuh rujukan]
Mesik/Nadai / ndai / nai: tidak
Konai/kikai / kini: ke mana
Bolek/ngai: tidak mau
Pulai: Pulang
Makai: makan
Bejalai: pergi Jalan
Akay Day: Aduhay
Akay Nay: Aduh Mak
Kesenian
Tari
Seni pertunjukan yang masih hidup dan cenderung menuju punah adalah:[butuh rujukan]
Rodat Hadrah pada masyarakat pesisir (Melayu Sekadau)
Tari Belangkah/Japin pada masyarakat pesisir (Melayu Sekadau)
Tari Pinggan, tersebar di daerah Belitang Hilir, Belitang Tengah dan Belitang Hulu
Tari Lang Nginang /Tari Lang, tari tradisional Dayak Mualang, sebagai tarian Ritual, guna menumbuhkan kekuatan, kepercayaan diri terhadap Sabong/pendekar yang akan turun mengayau. Tarian ini dilakukan di atas tiang teras Rumah Panyai (tiang bagian tengah) posisi kaki penari, salah satunya diikat di tiang tersebut, menggunakan Temeran (kulit kayu kepuak), penari tersebut naik ke atas tiang, berputar di tiang, kedua tangan membuka laksana elang yang berputar mengintai mangsa (ngindang), sebelum melakukan tari harus diadakan upacara adat (bedara) agar dilindungi petara. Para ksatria atau Sabong, sebelum mengayau duduk menyaksikan tarian ini, sebagai simbol keberanian dan strategi mengintai musuh.[butuh rujukan]
Tari Pala, tersebar di Belitang Hilir, Kampung Sungai Mirah, Desa Batu Ancau.
Tari Pedang, tersebar di Belitang Hilir, Belitang Tengah dan Belitang Hulu.
Tari Ngajat Temuai Datai, merupakan bentuk tari penyambutan terhadap tamu yang datang dan tersebar di Belitang Hilir, Tengah dan Hulu.
Tari Sampe, tersebar di daerah Sekadau Hilir, tepatnya di seberang Sungai Kapuas (Dayak Ketunggau sesat wilayah Kedah), merupakan tarian penyambutan tamu, iringan pengantin dan pembukaan acara adat setempat
Kerajinan.
Kerajinan masyarakat adalah Tenun Mualang, yaitu kain tapeh dengan motif kain Engkerebang, Pangit dan lain-lain. Kerajinan Anyam Tangoy: terdapat di Menawai Lingkau. Kerajinan Bakul, takin terdapat di Nanga Taman dan Nanga Mahap.
Pakaian adat
Pakaian adat kaum laki-laki berupa kain tenun yang terdiri dari:
Perisai untuk pertahanan diri, oleh masyarakat setempat disebut kelaukyang dihiasi berbagai motif khas dayak
Tempat bersejarah
Sekadau memilik tempat-tempat bersejarah, antara lain:
Lawang Kuari (merupakan rumah betang yang melebur menjadi gua batu dalam legenda Sangik dan Marik), di zaman Kerajaan Sekadau, tempat ini digunakan oleh Pangeran Agong.[12] Menurut masyarakat setempat, Lawang Kuari adalah tempat Pangeran Agung mengasingkan diri setelah saudaranya diangkat menjadi raja. Sampai sekarang tempat tersebut dijadikan objek wisata yang terletak di tepi Sungai Kapuas, kurang lebih 1km dari kota Sekadau ke arah hilir.
Batu Tinggi
Lawang Siti
Batu Kenyalau
Batu Nyaut
Palak Kaba' (Rumah/tempat penyimpanan tengkorak hasil kayau) yang berada di Tembawang Gumah Lanau Desa Landau Kodah, Kecamatan Sekadau Hilir.