Kabupaten Manggarai Barat adalah kabupaten di provinsiNusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten Manggarai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003. Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah 9.450km² yang terdiri dari wilayah daratan seluas 2.947,50km² dan wilayah lautan 7.052,97km², pada pertengahan tahun 2024, jumlah penduduk Manggarai Barat adalah 282.943 jiwa.[1][7]
Kabupaten Manggarai Barat terletak pada bagian paling barat pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Manggarai Barat merupakan wilayah administratif yang tergolong baru. Sebelumnya, kabupaten ini merupakan bagian dari wilayah administratif Kabupaten Manggarai. Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat adalah Labuan Bajo. Kabupaten Manggarai Barat terletak di antara 8°14'– 9°00' Lintang Selatan (LS) dan 119°21'–120°20' Bujur Timur (BT). Kabupaten Manggarai Barat memiliki luas daratan mencapai 2.947,50km², yang terdiri dari daratan Flores dan pulau-pulau besar seperti pulau Komodo, Rinca, Longos, serta beberapa pulau kecil lainnya. Wilayah administrasi kabupaten Manggarai Barat terdiri dari 12 Kecamatan yakni kecamatan Komodo, Boleng, Sano Nggoang, Mbeliling, Lembor, Welak, Lembor Selatan, Kuwus, Ndoso, Macang Pacar, Kuwus Barat, dan Pacar.[8][9]
Batas wilayah
Secara administratif, wilayah Kabupaten Manggarai Barat berbatasan dengan beberapa wilayah, yaitu
Keadaan topografi Kabupaten Manggarai Barat bervariasi berdasarkan bentuk relief, kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan laut. Ketinggian wilayah Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan ketinggian yang bervariasi yakni kelas ketinggian kurang dari 100 mdpl sebanyak 23%, 100–500 mdpl sebanyak 47%, 500 – 1000 mdpl sebanyak 25% dan lebih dari 100 mdpl sebanyak 3%. Lebih dari 75% ketinggian di atas 100 mdpl, kemiringan lerengnya bervariasi antara 0-2%, 2-15%, 15-40% dan di atas 40%. Namun secara umum wilayah Kabupaten Manggarai Barat memiliki topografi berbukit-bukit hingga pegunungan.[8][9]
Iklim
Seperti wilayah lain di Indonesia, Kabupaten Manggarai Barat beriklim tropis dengan tipe tropis basah dan kering (Am) yang ditandai dengan dua perbedaan musim yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang dipengaruhi angin monsun baratan yang membawa banyak uap air dan kelembapan berlangsung pada periode November hingga April dengan rerata curah hujan bulanan pada bulan-bulan tersebut lebih dari 150mm/bulan. Sementara itu, musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun timuran yang bersifat kering berlangsung pada periode Mei hingga Oktober. Suhu udara di wilayah Manggarai Barat bervariasi antara 22°−34°C terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah, sedangkan di wilayah dataran tinggi suhu biasanya kurang dari 25°C. Tingkat kelembapan udara di wilayah ini pun bervariasi antara 60% hingga 90%.
Data iklim Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Kabupaten Manggarai Barat terdiri dari 12 Kecamatan, 5 Kelurahan, dan 164 Desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 256.491 jiwa dengan luas wilayah 2.397,03 km² dan sebaran penduduk 107 jiwa/km².[15][16]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Manggarai Barat, adalah sebagai berikut:
Ide pemekaranwilayah Kabupaten Manggarai Barat sudah ada sejak tahun 1950-an. Ide ini dimunculkan pertama kali olehBapak Lambertus Kape, tokoh Manggarai asal Kempo Kecamatan Sano Nggoang yang pernah duduk sebagai anggota Konstituante di Jakarta. Padatahun 1963 aspirasi untuk memekarkan Kabupaten Manggaraidengan membentuk Kabupaten Manggarai Barat mulai diperjuangkan secara formal melalui lembaga politik partai Katolik Subkomisariat Manggarai. Padatahun 1982 Manggarai Barat diberikan status Wilayah Kerja Pembantu Bupati Manggarai Bagian Barat dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 821.26-1355 tanggal 11 November 1982.
Melalui proses pengkajian yang matang dengan memperhatikan potensi dan luas wilayah serta kebutuhan untuk pendekatan pelayanan kepada masyarakat maka melalui Sidang Paripurna DPRRI tanggal 27 Januari 2003 aspirasi dan keinginan masyarakat Manggarai Barat mencapai puncaknya dengan disahkannya Undang-undang Nomor 8 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Manggarai Barat maka Kabupaten Manggarai Barat resmi terbentuk.
Padatanggal 1 September 2003, Drs. Fidelis Pranda dilantik menjadi Pejabat Bupati Kabupaten Manggarai Baratyang bertugas menjalankan pemerintahan serta mempersiapkan pemilihan kepala daerah definitif . Dan selanjutnya melalui proses demokrasi dengan pemilihan kepala daerah secara langsungDrs. Fidelis Pranda dan Drs. Agustinus C. Dulakemudian diangkat menjadi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat yang pertama.
Sebagian besar penduduk Kabupaten Manggarai Barat beragama Kekristenan yakni sebesar 80,03% di mana mayoritas adalah Katolik 79,31% dan sebagian kecil Kristen Protestan yakni 0,72%. Terdapat juga sebagian penduduk menganut agama Islam yakni 19,88%, dan selebihnya adalah Hindu 0,08% dan Buddha 0,01%.[1]
Kabupaten Manggarai Barat merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, terutama melalui Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1991. Ibu kota kabupaten, Labuan Bajo, menjadi gerbang utama bagi wisatawan yang ingin mengunjungi kawasan ini.
Pada tahun 2024, Balai Taman Nasional Komodo mencatat sebanyak 334.206 kunjungan wisatawan, yang terdiri dari 226.948 wisatawan mancanegara dan 107.258 wisatawan nusantara.[22] Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 182.676 kunjungan pada tahun 2022 dan 300.488 kunjungan pada tahun 2023.
Destinasi wisata
Beberapa destinasi wisata utama di Kabupaten Manggarai Barat antara lain: