Iklim di kawasan ini termasuk tipe B (Schmidt-Ferguson) dengan curah hujan 927-5.498 mm per tahun. Suhu di puncak berkisar 0-4°C, sementara suhu rata-rata 3-8°C pada malam hari dan 15-21°C pada siang hari.
Riwayat letusan
Catatan letusan pertama tercatat pada 8 November 1818, dan sepanjang abad ke-19 terjadi puluhan kali letusan. Letusan signifikan terjadi pada 1941–1942 (material letusan hingga ketinggian 1.400-1.775 m), 1977 dengan APG (Awan panas guguran) sejauh 10 km dengan volume 6,4 juta m³), 1994 (7 korban jiwa), dan terakhir kali yang paling mematikan dan destruktif pada 4 Desember 2021.
Kronologi letusan
Pra-letusan
Menjelang erupsi besar pada sore hari, aktivitas vulkanik terus meningkat. Letusan-letusan kecil tercatat sudah terjadi tiga kali berturut-turut sejak pagi, dengan tinggi letusan mencapai 600 meter di atas puncak. Erupsi pertama hari itu terjadi pukul 04:10 WIB (Waktu Indonesia Barat) dengan kolom abu setinggi 500 meter, disusul pukul 05:09 WIB dan pukul 06:05 WIB.
13:00–15:37 WIB: Letusan
Kronologi erupsi besar dimulai pada pukul 13:00 WIB, ketika di puncak hingga lereng Semeru terjadi hujan dengan intensitas sedang dan gunung tertutup kabut. Pukul 14:13 WIB, terpantau terjadinya guguran lava/awan panas guguran yang terekam di seismogram pada PPGA (Pos Pantau Gunung Api) Gunung Sawur, dengan amplitudo maksimal 25 mm. Pukul 14:25 WIB, guguran lava/awan panas guguran terpantau di CCTV Pos Curah Koboan dengan jarak luncur mencapai 4 km dari puncak Semeru. Pukul 14:35 WIB, awan panas guguran masih terekam dengan amplitudo maksimal 25 mm dengan jarak luncur mencapai 5 km. Pukul 15:37 WIB, awan panas guguran terpantau mengalami kenaikan dengan amplitudo maksimum 38 mm dengan jarak luncuran mencapai 5,5 km disertai gempa.[7][8][9]
16:00–17:00 WIB: Puncak aktivitas letusan dan kenaikan status level
Dalam waktu hanya satu jam, status gunung tertinggi di Pulau Jawa ini naik dari Waspada (Level II/2) menjadi Siaga (Level III/3), lalu ke Awas (Level IV/4), level status tertinggi, pada pukul 17:00 WIB. Puncak aktivitas terjadi pada masa ini, ketika Gunung Semeru meletus dahsyat dengan kolom abu setinggi 2 kilometer di atas puncak dan jarak luncuran awan panas melebihi 14 kilometer. Material panas juga sampai kawasan Jembatan Gladak Perak, salah satu jalur vital menuju lereng gunung, mengakibatkan penutupan akses jalan melalui jembatan ini.[7][8][9]
Letusan tercatat memiliki amplitudo maksimum 45 mm dengan durasi panjang mencapai 14.283 detik (sekitar 4 jam). Luncuran material awan panas mencapai lebih dari 13 kilometer mengarah ke tenggara-selatan, menuju Besuk Kobokan. Detik pukul 18:11 WIB, erupsi berakhir, tapi status Awas tetap diberlakukan. Media Indonesia Bupati Lumajang, Indah Amperawati menyampaikan bahwa kondisi gunung saat ini masih harus diawasi ketat. "Erupsi memang sudah berhenti, tetapi status awas tetap kita pertahankan demi keselamatan warga. Potensi aktivitas susulan masih bisa terjadi, sehingga kewaspadaan tidak boleh menurun."[8]
Pasca-letusan: Aktivitas vulkanik masih berlanjut
Aktivitas vulkanik terus berlanjut pasca-erupsi besar. Pada aktivitas kegempaan, Gunung Semeru terekam 157 kali gempa letusan atau guguran dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 58–185 detik. Gunung Semeru juga tercatat mengalami 17 kali gempa guguran, 19 kali gempa hembusan, satu gempa vulkanik dalam, enam gempa tektonik jauh, serta satu gempa getaran banjir dengan amplitudo mencapai 43 mm berdurasi 6.499 detik. Badan Geologi menegaskan bahwa masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak.[10]
Kepala Tim Mitigasi Gunung Api Badan Geologi, Heruningtyas mengatakan sekitar pukul 10.50 WIB, banjir lahar dingin akibat letusan terus meluas, lahar dingin tersebut sudah mencapai Gladak Perak yang jaraknya 13 kilometer dari puncak gunung. Banjir lahar dingin tersebut terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi-sedang di sekitar kawasan Semeru.[11]
Dampak
Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana, mengamati abu dari letusan Gunung Semeru
Menurut BPBD Jawa Timur, per tanggal 20 November, belum tercatat adanya korban jiwa akibat letusan ini. Tiga orang dilaporkan mengalami luka bakar akibat terjebak saat melintasi kawasan terdampak di sekitar Jembatan Gladak Perak.[12] Dua diantaranya merupakan sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri dan satu lainnya merupakan seorang warga Dusun Umbulan Sumbersari. Mereka yakni sepasang suami istri Haryono (48) dan Normawati (43), yang merupakan warga Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Keduanya juga mengalami trauma inhalasi, yakni cedera pada saluran pernapasan akibat terpapar udara panas dan debu vulkanik saat awan panas meluncur di sekitar jembatan. Mereka berdua menjalani perawatan di RSUD dr. Haryoto Lumajang. Satu korban lainnya, Hosen (44), juga turut mengalami luka bakar, dan dirawat di RSUD Pasirian Lumajang.[13]
Kepala BPBD Jawa Timur, Gatot Subroto, melaporkan kolom abu pekat membumbung tinggi dengan warna kelabu kehitaman dan intensitas sangat tebal dengan ketinggian 1.000 meter dari puncak.[14]Abu vulkanik tersebut mengarah ke Barat Laut hingga Utara, mengakibatkan langit gelap di beberapa wilayah Kabupaten Lumajang seperti Pronojiwo dan Candipuro.[15] Per 24 November, sekitar 200 rumah mengalami kerusakan, 21 rumah serta satu sekolah hancur, 204 hektare lahan rusak, serta infrastruktur listrik lumpuh.[16][17] 143 ternak mati, dan 1.156 orang mengungsi akibat dampak dari letusan tersebut.[18][19] Kerusakan tersebut meliputi tiga desa, masing-masing berada di Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo, di Kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal, di Kecamatan Candipuro.[20]
Tanggapan
Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) melakukan evakuasi warga ke titik aman, asesmen cepat di lapangan, dan memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi bersama BNPB, Tim SAR, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dinas Sosial Kabupaten Lumajang, TNI dan Polri, TAGANA, Kampung Siaga Bencana, serta para relawan.[21] Kemensos menyediakan makanan siap saji, selimut, kasur, masker, dan tenda pengungsian untuk membantu warga yang mengungsi. Persediaan medis, air, dan makanan instan juga disediakan. Diperkirakan saluran bantuan tersebut senilai Rp 463 Juta, Berdasarkan data Kemensos, sebanyak 765 warga mengungsi di delapan titik aman di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo.[22] Mereka terdiri dari anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, bayi, serta kelompok dewasa. Bantuan diarahkan untuk mengisi kebutuhan paling mendesak di pos pengungsian, mulai dari sandang, pangan, hingga perlengkapan darurat. Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lumajang telah menyiapkan dua titik dapur umum (DU) untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak, dengan total kapasitas 1.350 boks makanan per hari,[23] untuk lebih dari 600 pengungsi.[24]