Banjir Jakarta 2025, atau Banjir Jabodetabek 2025, adalah bencana Banjir besar yang melanda wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Karawang sejak 3 Maret 2025 malam. Banjir tersebut disebabkan meluapnya sungai yang kebanyakan berhulu di Bogor, khususnya daerah Jonggol, Bogor dan Puncak, Bogor sebagai daerah sumber air terbesar se-Jabodetabek.
Meluapnya sungai tersebut, terjadi akibat curah hujan tinggi yang melanda Jakarta dan sekitarnya sejak 3 Maret sore.[1]
Setidaknya 9 orang dilaporkan tewas, dan lebih dari 90.000 orang mengungsi. Bencana ini merupakan banjir terburuk yang pernah melanda Jakarta dan sekitarnya sejak banjir 2020.[2]
Banjir besar pernah melanda Jakarta, pada tahun 1621, 1654, 1918, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007, 2013, 2015, 2018, dan 2020. Meskipun banjir besar serupa pernah terjadi di wilayah Jakarta di masa lalu, banjir yang terjadi menjadi lebih parah, kemungkinan besar disebabkan oleh dampak pembangunan lahan secara masif.[3] Salah satu penyebab utama permasalahan banjir adalah sebagian besar wilayah Jakarta adalah dataran rendah, dan penurunan permukaan air laut. Sekitar 24.000 ha (sekitar 240 km persegi) wilayah utama Jakarta diperkirakan berada di bawah permukaan air laut.
Penyebab
Kepadatan penduduk dan penurunan permukaan air laut di Jakarta dan sekitarnya (2010).
Sebab utama banjir ini adalah curah hujan yang tinggi, musim hujan di Indonesia di mulai pada bulan Desember hingga Maret.
Meteorologi
Penyebab paling signifikan terjadinya bencana ini adalah tingginya curah hujan, karena musim hujan di Indonesia dimulai pada bulan Desember dan berakhir pada bulan Maret. Pada 2025, intensitas hujan mencapai puncaknya pada bulan Maret, dengan intensitas terbesar menjelang awal bulan.
Geografis
Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali di wilayah perkotaan, perencanaan penggunaan lahan yang buruk, dan kurangnya pemahaman warga kota dan pemerintah mengenai banjir dan risiko bencananya merupakan faktor-faktor kunci dalam situasi di Jakarta.[4] Pada akhirnya, air yang mengalir ke Jakarta meluap ke beberapa sistem pengendalian banjir dan menyebabkan kerusakan di wilayah tersebut.
Lokasi banjir
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB dan BPBD dari berbagai sumber, berikut ini wilayah Jabodetabek yang terkena banjir pada awal maret 2025 (3 Maret 2025):
Bekasi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut penyebab banjir di Bekasi ini adalah air kiriman dari Bogor, daerah pegunungan di selatan. Bogor diguyur hujan deras. Air dari Bogor mengalir ke sungai-sungai yang bermuara di utara, termasuk Bekasi.[5]
BNPB mengatakan sedikitnya ada 140 rumah warga yang terendam dengan ketinggian air mencapai 3 meter di Kota Bekasi. Ketinggian 3 meter tersebut dapat mencapai atap rumah pada umumnya, atau paling tidak meyisakan lantai 2 rumah. Sementara itu di Kabupaten Bekasi, sebanyak 15 rumah yang terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai 150 cm. Di Kota Bekasi setidaknya 61.000 jiwa terkena dampaknya.[6] Tiga orang meninggal akibat tersengat listrik di Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi.
Bogor
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 7 jembatan rusak akibat banjir. Banjir yang disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi ini berdampak pada ratusan rumah dan sekitar 6.000 jiwa terkena dampaknya. Setidaknya empat orang dilaporkan tewas di Bogor, termasuk satu orang tewas akibat tanah longsor, satu balita meninggal akibat tenggelam, dan sepasang suami istri yang meninggal akibat terseret arus.[7]
Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyampaikan sebanyak 114 RT terendam banjir. Banjir paling tertinggi mencapai 3,1 meter, setidaknya 4.258 orang mengungsi, dan lebih dari 11.000 orang terkena dampaknya.[8] Penyebab banjir di Jakarta akibat luapan Sungai Ciliwung setelah terjadi hujan deras di wilayah Bogor, Jawa Barat.[9] Seorang balita berusia 2 tahun tewas akibat hanyut saat evakuasi di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.
Tangerang
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebanyak 13 kecamatan atau lebih dari 1.800 rumah terendam banjir, akses jalan utama terputus, dan longsor yang merusak dua rumah warga di Ciputat, Tangerang Selatan.[10] Sekitar 3.000 penduduk terkena dampaknya.[11]
Karawang
Di Kabupaten Karawang, tiga kecamatan terendam banjir hingga ketinggian dua meter. Lokasi terdampak banjir di Kecamatan Telukjambe Barat terdiri dari empat desa antara lain Desa Karangligar, Mekarmulya, Mulyajaya, dan Wanakerta. Di Kecamatan Karawang Barat, dua wilayah terdampak adalah Desa Tanjungmekar dan Kelurahan Karawang Kulon. Sementara itu empat desa terdampak di Kecamatan Pangkalan yaitu Desa Mulangsari, Ciptasari, Tamanmekar, dan Tamansari. Sekitar 10.180 orang mengungsi dan terkena dampaknya.[12]
Setidaknya 4 korban meninggal di Kabupaten Bogor, termasuk, satu orang tewas akibat tanah longsor, seorang balita yang tewas akibat tenggelam, dan sepasang suami istri meninggal akibat terseret arus.[13][14] Kemudian, seorang balita berusia 2 tahun meninggal karena hanyut saat proses evakuasi di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.[15] Lalu, seorang remaja di Kabupaten Karawang meninggal akibat terseret arus.[16] Dua orang meninggal akibat tersengat listrik di Kota Bekasi dan satu orang lainnya meninggal karena hanyut di Kabupaten Bekasi.[17]
Respon
Reaksi
Setelah banjir tersebut, Gubernur Jakarta Pramono Anung mengunjungi beberapa lokasi yang terdampak banjir, antara lain Gedung OlahRaga Jakarta Timur yang dijadikan tempat penampungan sementara warga terdampak banjir dan pintu air Manggarai.[18] Pramono akan memerintahkan pembukaan beberapa pintu air di ibu kota untuk meminimalisir risiko banjir susulan karena debit air di pintu air Manggarai sudah mencapai 850 sentimeter.[19]
Pasca banjir, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuju ke Puncak untuk memantau banjir di kawasan tersebut. Atas pelanggaran yang diduga menjadi biang keladi banjir tersebut, Pemda Jabar memerintahkan penutupan 4 kawasan wisata di Puncak, termasuk taman hiburan Hibisc Fantasy. Taman hiburan Hibisc Fantasy secara resmi dibongkar oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 6 Maret 2025.[20]
Bantuan
Pemerintah Indonesia terus bergerak cepat dalam penanganan bencana banjir yang melanda wilayah sekitar Jakarta, Bekasi Tangerang, dan Bogor. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa tenaga kebencanaan telah diterjunkan ke berbagai titik terdampak. Dalam penanganan ini, menurut Saifullah Yusuf, Kementerian Sosial (Kemensos) berfokus pada dua klaster yakni logistik dan lokasi penampungan. Bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang juga dalam koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pihaknya telah berkoordinasi dalam proses evakuasi warga yang terdampak. Ribuan warga mengungsi akibat banjir. Di Jakarta, ada sekitar 20 titik pengungsian dengan jumlah warga mengungsi mencapai ribuan.[21]