Sebagian besar sarjana yang mempelajari Yesus historis dan Kekristenan purba meyakini bahwa injil-injil kanonik dan riwayat hidup Yesus mesti dicermati dalam konteks sejarah dan budayanya, ketimbang semata-mata dari sudut pandang ortodoksi Kristen.[1][2] Mereka mengkaji agama Yahudi zaman Bait Allah kedua, ketegangan-ketegangan, kecenderungan-kecenderungan, dan perubahan-perubahan di kawasan yang terdampak pengaruh Helenisme dan pendudukan Romawi, serta faksi-faksi Yahudi pada masa itu, karena memandang Yesus sebagai seorang Yahudi yang hidup di lingkungan semacam itu, dan Perjanjian Baru tertulis sebagai karya sastra yang terlahir dari periode tradisi-tradisi injil lisan pascawafat Yesus.
Menurut sejarawan Yahudi-Romawi, Flavius Yosefus, ada tiga kubu dalam agama Yahudi pada masa hidupnya, yaitu Farisi, Saduki, dan Eseni. Tampaknya Eseni adalah kubu yang terpinggirkan, dan dalam beberapa kasus membentuk komunitas-komunitas semibiara yang hidup jauh dari dunia ramai. Flavius Yosefus juga menyebut tentang "gerakan yang keempat", yaitu Zelot, Lestai, atau Sicarii.
Farisi adalah kaum yang kuat di Yudea pada abad pertama Masehi. Beberapa pokok keimanan umat Kristen perdana juga merupakan pokok keimanan kaum Farisi, misalnya keimanan akan kebangkitan, keimanan akan pembalasan di akhirat, keimanan akan kewujudan malaikat, keimanan akan kebebasan manusia, dan keimanan akan penyelenggaraan Ilahi.[3] Sesudah Bait Allah yang kedua dihancurkan, fikrah kaum Farisi terlembagakan dalam agama Yahudi Rabani. Beberapa sarjana menduga-duga bahwa Yesus sendiri adalah seorang Farisi.[4] Ada dua aliran pemikiran utama di lingkungan kaum Farisi pada masa hidup Yesus, yaitu Bait Hilel, yang dipelopori oleh Tana (perawi) Hilel Sepuh, dan Bait Syamai. Para sejarawan tidak mengetahui apakah ada kaum Farisi di Galilea pada masa hidup Yesus, maupun seperti apa cara hidup dan tindak tanduk mereka pada masa itu.[5]
Kaum Saduki lebih kuat di Yerusalem. Kaum ini hanya menerima hukum tertulis, dan menolak tafsir-tafsir tradisional yang diterima kaum Farisi, misalnya keimanan akan pembalasan di akhirat, kebangkitan jasad, kewujudan malaikat-malaikat, dan kewujudan roh-roh. Pascakehacuran Yerusalem, kaum ini menghilang dari panggung sejarah.[6]
Kaum Eseni adalah ahli-ahli zuhud yang percaya bahwa tidak lama lagi dunia akan kiamat, dan merupakan salah satu dari tiga (atau empat) aliran utama dalam agama Yahudi pada masa itu, sekalipun tidak disebutkan dalam Perjanjian Baru.[7] Beberapa sarjana berteori bahwa Yesus adalah seorang Eseni atau akrab dengan kaum Eseni, salah satunya adalah Paus Benediktus XVI, yang memaparkan dugaannya dalam bukunya tentang Yesus bahwa "tampaknya bukan hanya Yohanes Pembaptis, melainkan kemungkinan besar juga Yesus dan keluarganya, akrab dengan komunitas Qumran."[8]
↑"Pharisees", Cross, F. L., ed. The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press. 2005
↑Berdasarkan perbandingan injil-injil dengan Talmud dan karya-karya sastra Yahudi lainnya. Maccoby, HyamJesus the Pharisee, Scm Press, 2003. ISBN0-334-02914-7; Falk, Harvey Jesus the Pharisee: A New Look at the Jewishness of Jesus, Wipf & Stock Publishers (2003).ISBN1-59244-313-3.
↑Funk, Robert W. dan Seminar Yesus. The acts of Jesus: the search for the authentic deeds of Jesus. HarperSanFrancisco. 1998.
↑"Sadducees". Cross, F. L., ed. The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press. 2005
↑Berdasarkan hasil perbandingan injil-injil dengan naskah-naskah gulungan Laut Mati, khususunya naskah Guru Kebenaran dan naskah Mesias Yang Tertikam. Eisenman, RobertJames the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls, Penguin (Non-Classics), 1998. ISBN0-14-025773-X; Stegemann, HartmutThe Library of Qumran: On the Essenes, Qumran, John the Baptist, and Jesus. Grand Rapids MI, 1998. See also Broshi, Magen, "What Jesus Learned from the Essenes", Biblical Archaeology Review, 30:1, hlmn. 32–37, 64. Magen mendapati kemiripan-kemiripan antara ajaran-ajaran Yesus tentang kemiskinan dan perceraian dengan ajaran-ajaran Eseni terkait yang masing-masing dijabarkan dalam risalah Yosefus' Perang Yahudi dan naskah-naskah Dokumen Damsyik. Lih. pula Akers, Keith The Lost Religion of Jesus. Lantern, 2000. ISBN1-930051-26-3
↑Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, hlm. 14
The New Testament (the half of the Christian Bible that provides an account of Jesus's life and teachings, and the orthodox history of the early Christian Church)
The Talmud (the main compendium of Rabbinal debates, legends, and laws)
The Tanakh (the redacted collection of Jewish religious writings from the period)
Sumber sekunder
Akers, Keith (2000). The Lost Religion of Jesus: Simple Living and Nonviolence in Early Christianity (New York: Lantern Books). (Foreword by Walter Wink.)