Sejarah
Sejarah Keuskupan Manokwari–Sorong bermula pada saat R.P. Cornelius Le Coq d'Armandville, S.J., mendarat di Semenanjung Doberai, Sekru, Fakfak, pada 22 Mei 1894 setelah meninggalkan Seram Timur, Keuskupan Amboina.[4] Hingga 23 Mei, ia membaptis 73 anak di Sekru, Pariwari, Fakfak.
Pada tanggal 1 Mei 1895, pastor Le Cocq tidur di kampung Raduria. Keesokan harinya memasuki di pulau Warhiranggah atau Bonyum untuk membuka pos misi Katolik pertama di Nueva Guinea. Disana ia membangun pastoran, gereja, sekolah dan sumur darurat. Kemudian membaptis 86 orang, sedangkan jumlah murid di sekolah mula-mula ini sebanyak 16 orang.[5]
Tahun 1904, Fakfak sempat menerima kunjungan Matthijs Neijsen, M.S.C., dari Keuskupan Amboina. Setelah itu, para imam dan biarawan M.S.C. mulai mengunjungi Papua. Banyaknya imam membuat para imam M.S.C. menganggap perlu untuk mengundang para imam O.F.M. untuk mengisi kekosongan imam di Kaimana.[7] Pada tahun 1953, atau enam tahun sebelum Prefek Apostolik Manokwari memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Hollandia, para misionaris O.S.A. tiba di daerah-daerah yang ada di Propinsi Papua Barat.[8]
Garis waktu
- Didirikan sebagai Prefektur Apostolik Manokwari pada tanggal 19 Desember 1959, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Hollandia
- Ditingkatkan menjadi Keuskupan Manokwari pada tanggal 15 November 1966
- Berganti nama menjadi Keuskupan Manokwari–Sorong pada tanggal 14 Mei 1974