Umat Keuskupan Agung Ende berjumlah sekitar 480 ribu orang pada tahun 2021, yang tersebar di 72 paroki, dan dilayani oleh 239 imam.
Sejarah
Pada 16 September 1913, Takhta Suci memisahkan Kepulauan Nusa Tenggara dari daerah Vikariat Apostolik Batavia, dengan menjadikan Prefektur Apostolik Isole della Piccola Sonda (Kepulauan Sunda Kecil), yang meliputi Timor, Lombok, Sumba, Sumbawa, dan Bali. Dalam pendirian tersebut, Pulau Flores dinyatakan di luar Kepulauan Sunda Kecil. Namun dalam pembicaraan kemudian, disepakati Flores masuk Prefektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil yang ditandai dengan dekret pada tanggal 20 Juli 1914 oleh Kongregasi Penyebaran Iman.[butuh rujukan]
Pasca-perang pasifikasi tahun 1907-08 konstruksi Jalan Trans-Flores dari Reo hingga Keuskupan Larantuka dimulai. Petrus Noyen, pada tahun 1914, berpendapat bahwa Ende dapat saja occupied/diduduki oleh tentaa dan personil Gereja mulai tahun 1915.[2]
Garis waktu
Didirikan sebagai Prefektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil pada tanggal 16 September 1913, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Batavia
Ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil pada tanggal 12 Maret 1922
Berganti nama menjadi Vikariat Apostolik Endeh pada tanggal 8 Maret 1951
Ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Endeh pada tanggal 3 Januari 1961
Berganti nama menjadi Keuskupan Agung Ende pada tanggal 14 Mei 1974
Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Juni 2017), Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 2017 (dalam bahasa (Indonesia)) (Edisi 1), Jakarta Pusat: Konferensi Waligereja Indonesia Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Steenbrink, Karel (1 Januari 2007), Catholics in Indonesia, 1903-1942: A Documented History (dalam bahasa (Inggris)), vol.2, Brill, ISBN978-90-67-18260-7 Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)