Ia mengucapkan kaul pertamanya pada 1 November 1907 dan disusul dengan kaul kekal pada 7 September 1910.[3] Pada 29 September 1910, ia ditahbiskan menjadi imam bersama dengan 56 orang sekelasnya.
Bertugas di Indonesia
Pada tahun 1919, ia mengajukan lamaran kepada Superior General SVD untuk dikirim ke Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Saat itu, ia belum mengetahui secara persis seperti apa wilayah di sana. Pada 23 Oktober 1920, ia bertolak dari Rotterdam dan tiba di Tanjung Priok pada 20 November 1920. Ia kemudian melanjutkan perjalan ke Flores dengan berlayar, dan tiba di Ende pada 11 Desember 1920. Selama di Ende, ia mempelajari bahasa Melayu di Ndona. Di pusat keuskupan Ndona, ia bertemu Mgr. Arnold Verstraelen, S.V.D. yang sempat bermisi bersama di Togo. Oleh Verstraelen, ia ditugaskan dalam bidang pendidikan di sekolah, seraya menjadi sebagai pastor pendidik di Halilulik, Timor sejak 22 Juli 1922. Tugas penting lain yang dia pegang adalah menjadi inspektur sekolah (penilik) untuk sekolah misi di Timor dengan surat resmi dari pemerintah. Hal ini dijalaninya selama lima tahun sampai Juli 1927. Pasca kematian Pastor Yan van Cleef, Wakil Pro-vikaris dari Mgr. Verstraelen, ia dipindahkan dari Timor ke Ndona pada 1 Agustus 1927 dan mengisi jabatan tersebut. Selama mengisi posisi tersebut, ia mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di semua sekolah Katolik di Nusa Tenggara. Ia turut mengisi posisi Verstraelen selama kunjungan ke luar negeri. Selama masa ini, ia mengatur pelayanan misionaris yang tersebar di wilayah misi tersebut. Pasca kematian mendadak Mgr. Verstraelan pada 15 Maret 1932, Leven ditunjuk menjadi Administrator Apostolik. Selama mengisi kekosongan sebagai Administrator Apostolik, ia mampu mengorganisasi kegiatan harian Gereja.[3]
Hal tersebut dilakukannya sampai ia kemudian ditunjuk menjadi Vikaris Apostolik pada 25 April 1933. Ia diberi gelar Uskup Tituler Arca di Armenia. Sebelumnya, pemerintah Belanda sempat keberatan dengan penunjukkan ini karena Leven berkewarganegaraan Jerman, sehingga Pemerintah Belanda kemudian menawari Leven sebagai warga negara Belanda. Hal ini disetujuinya, sehingga proses kemudian dapat terus berlangsung.[2] Leven saat itu dianggap tokoh yang agak kaku dan birokratis, berbeda dengan pendahulunya yang hidup dinamis dan kadang-kadang bahkan dicap sebagai 'Prusia'. Ia kemudian ditahbiskan pada 12 November 1933 di Uden, Belanda.[4] Uskup 's Hertogenbosch, Arnold Frans Diepen menjadi Uskup Konskerator, dengan Uskup Ko-konsekrator adalah Uskup Breda, Pieter Adriaan Willem Hopmans dan Uskup Roermond, Jozef Hubert Willem Lemmens. Sebagai Uskup, ia memilih moto "O Crux, ave, spes unica"
(Salam O Salib, Harapan Satu-satunya). Dalam hal ini dinyatakan pengakuan iman bahwa Salib sebagai harapan satu-satunya baik untuk "yang saleh" maupun "yang salah", karena Salib menjadi media rahmat pengampunan, sehingga menjadikan Salib lambang penebusan dan belas kasih.[4]
Pada 3 Oktober 1934, Leven menjadi Uskup Ko-konsekrator bagi Mgr. Pieter Jan Willekens, S.J. sebagai Uskup Tituler Zorava ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia.
Dalam bidang perkawinan, di mana adat Flores sangat berbeda dari aturan dasar Katolik, membuat sebagian orang yang baru dibaptis tidak siap untuk mengikuti aturan formal dalam agama baru mereka. Leven kemudian mengadakan sinode pada tahun 1935 di Ndona, sebagai upaya agar pernikahan adat diterima secara sah pula. Hal ini memberi ruang untuk pembangunan Gereja tanpa bahaya pengucilan dan ekskomunikasi.[2]
Leven kemudian mendirikan serikat para suster Kongregasi Pengikut Yesus (bahasa Latin: Congregatio Imitationis Jesu; CIJ) pada tanggal 25 Maret 1935 di Jopu, Ende, Flores.[5] Hal ini didasari atas kondisi saat itu bahwa para wanita diperlakukan sebagai barang yang bisa diperdagangkan untuk kepentingan feodal dan golongan atas. Berbagai penyakit baik fisik maupun psikis kemudian timbul akibat kondisi ini, tetapi juga tidak dapat dengan mudah mendapat penanganan, sehingga pada akhirnya kondisi masyarakat menjadi hidup dalam kemelaratan. Leven berharap melalui kongregasi ini martabat para wanita penderita serta kaum papa miskin dapat terangkat, sekaligus memberi pengajaran bagi mereka yang belum mengenal agama.[6] Pendirian ini secara sah dilakukan setelah diterimanya 9 orang novis pada angkatan pertama pada tahun yang sama. Saat itu, Leven juga menyadari bantuan dari Eropa sulit diharapkan di tengah zaman malaise yang sedang berlangsung.[4]