H. S. Dillon menghabiskan masa kecilnya di Medan, Sumatera Utara. Ia menempuh pendidikan di SD Santo Josef Medan, SMP Santo Thomas Medan, dan SMA 1 Teladan Medan. Kemudian ia berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU)
Tahun 1983, ia mendapatkan gelar PhD dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Cornell University, New York, Amerika Serikat.[2]
Karier
Departemen Pertanian (1985–1996)
Ia memulai karier pemerintahan di Departemen Pertanian. Ia menjadi Tenaga ahli diperbantukan pada Ketua Tim Khusus Proyek Perkebunan Berbantuan, Direktorat Jenderal Perkebunan dari tahun 1983 hingga 1985. Kemudian, Dillon diangkat menjadi Kepala Bagian Pengkajian Komoditas Biro Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian dari tahun 1985 hingga tahun 1990.
Dalam rentang 6 tahun (1990–1990), ia kemudian menjadi Staf Ahli Menteri Pertanian bidang Pengembangan dan Perdagangan Komoditas.[3] Selain itu pada tahun 1994, ia menjabat 3 posisi, yakni Ketua Tim Konsolidasi Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan (BUMN), Ketua Tim Perumus Konsolidasi BUMN Sektor Pertanian, kemudian menjadi Kepala Biro Tata Usaha BUMN, Departemen Pertanian.
Lembaga Nonstruktural Pemerintahan dan Penasihat Menteri (1997–2001)
Ia kemudian menjadi Penasihat Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Penanggulangan Kemiskinan pada Februari 2001. Ia juga dipercaya menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dari Maret hingga Oktober 2001 dan Direktur Kemitraan untuk Reformasi Pemerintahan.[4]
Komisaris di perusahaan pangan
Pada Oktober 2001, PT Astra Agro Lestari menunjuk H. S. Dillon sebagai Komisaris Independen. Ia menjadi komisaris independen di perusahaan tersebut selama belasan tahun.[2][5]
Utusan Khusus Presiden dan Komite Ekonomi Nasional (2010–2014)
Pada Agustus 2011, ia bersama Komisi Pemberantasan Korupsi, Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Komnas HAM, Komnas Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia serta Ombudsman mendeklarasikan "Gerakan Cukup Sudah Kemiskinan dan Pemiskinan".[7] Gerakan ini merupakan kolaborasi gerakan konkrit untuk mengentaskan kemiskinan. Pada Juli 2012, HS Dillon ke Kalimantan Tengah untuk mendukung intensifikasi budidaya kedelai di lahan seluas 150.000 hektar oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang. Ia juga mengimbau melakukan kemitraan dengan masyarakat, agar keterlibatan masyarakat mampu meningkatkan taraf hidup mereka.[8]
Di Juni 2013, ia sempat menyentil pemerintah daerah karena tidak memberikan lahan kepada petani, yang mengakibatkan kesenjangan semakin meningkat.[9]
Kegiatan Internasional
Dalam kancah internasional, ia beberapa kali diutus mewakili Indonesia dalam bidang Agribisnis. Pada tahun 1988, ia menjadi representasi negara dalam International Association of Agricultural Economists. Pada tahun yang sama, ia menjadi Chief Negotiator pada delegasi Indonesia di Uruguay Round Negotiations sampai 1993.[2] Setahun kemudian pada 1989, ia ditunjuk sebagai Kepala Sekretariat Komisi Kerja Tetap Departeman Pertanian – Departemen Perindustrian (1989).
Pada tahun 1990 hingga tahun 1996, Dillon menjadi Koordinator Task Force Kebijakan Pertanian, INPEC (Indonesian National Committee for Pacific Economic Cooperation). Selanjutnya dipercaya menjadi Sekretaris Board of Supervisors, PTP Commodities Limited New York dan Indoham (1991–1996), Anggota Consultative Committee, the Common Fund for Commodities, Amsterdam (1991–1992), Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (1996–1999), dan Vice President Asian Society of Agricultural Economists (1996–1999).
Penghargaan
H. S. Dillon mendapat Penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Joko Widodo (2015)
Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh oleh H. S. Dillon, salah satunya Bintang Jasa Pratama. Ia dianugerahkan penghargaan ini oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Agustus 2007.[10] Ia juga mendapatkan Global Award dari Priyadarshni Academy Mumbay, India, Bidang Hak Asasi Manusia dan Sosial Ekonomi. Penghargaan ini ia dapatkan pada 19 September 2014.[11]
Pada Agustus 2015, ia kembali mendapatkan penghargaan dari Presiden Indonesia. Dillon mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Utama oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Hal ini ia dapatkan karena 3 hal, yakni berjasa luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa dan negara. Kedua, pengabdian dan pengorbanannya di bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi dan beberapa bidang lain yang besar manfaat bagi bangsa dan negara. Ketiga, darma bakti dan jasanya diakui secara luas di tingkat nasional dan internasional.[12]
H. S. Dillon menikah dengan seorang dokter bernama Drupadi S. Harnopidjati. Dari pernikahannya tersebut, mereka mempunyai 3 anak, yakni Haryasetyaka Singh Dillon, Mahawira Singh Dillon, dan Mahareksha Singh Dillon.[13]
Dillon menganut agama Sikhisme. Agama ini merupakan agama minoritas di Indonesia.[14]