Sama seperti sekte-sekte Xiantiandao lainnya, Guiyidao berfokus pada pemujaan terhadap Tuhan universal (Tian), yang mereka definisikan sebagai Patriark Paling Suci dari Surga Primordial (至聖先天老祖), sebagai sumber keselamatan.
Guiyidao memiliki keterkaitan dengan sekte Shinto Jepang Oomoto (大本 "Sumber Agung")[2] dan merupakan agama yang dilarang di Republik Rakyat Tiongkok, sehingga kemudian aktif sebagai aliran bawah tanah.[3] Cabang amal dari Daoyuan dikenal sebagai Komunitas Swastika Merah (世界红卍字会 Hóngwànzìhuì).[2]
Sejarah
Guiyidao didirikan pada tahun 1916 di Kabupaten Pin,Shandong sebagai sebuah kelompok fuji (penyampaian wahyu melalui medium).[4] Gerakan ini dipimpin oleh Liu Shoji (劉紹基). Pada tahun berikutnya, asosiasi tersebut pindah ke ibu kota provinsi Jinan, di mana mereka berinteraksi dengan Tongshanshe, sebuah sekte Xiantiandao yang lain.[4] Dengan mengadopsi struktur organisasi dan teknik meditasi Tongshanshe, pada tahun 1921 terbentuklah Guiyi Daoyuan.[2]
Asosiasi ini secara resmi didirikan di Beijing dengan dukungan perdana menteri Xiong Xiling (1870-1937, menjabat pada 1913-14) dan misionaris Kristen asal Amerika, Gilbert Reid,[2] dan antara tahun 1922 hingga 1928 organisasi ini berkembang ke seluruh Tiongkok.[2] Daoyuan juga mendirikan sebuah organisasi amal berskala nasional, Komunitas Swastika Merah (世界红卍字会 Hóngwànzìhuì), yang menjadi organisasi bantuan terbesar di Tiongkok selama Perang Tiongkok-Jepang.[2]
Daoyuan memiliki struktur organisasi terpisah yang dikelola oleh dan untuk kaum perempuan, yang mengawasi kegiatan keagamaan, pendidikan, serta pengasuhan anak, sekaligus meneguhkan kebajikan tradisional dan mengangkat peran pelayanan publik perempuan.[2] Misionaris Barat tertarik pada Daoyuan, yang juga menarik anggota dari kalangan Kristen, karena memasukkan serta menafsirkan ajaran Yesus.[2]
Laporan mengenai jumlah umat Guiyidao–Swastika Merah pada 1920-an dan 1930-an tampak sangat bervariasi, dengan catatan mulai dari 30.000 “anggota” pada 1927 hingga 7–10 juta “pengikut” pada 1937.[1]
Perkembangan di Jepang
Setelah gempa bumi di Jepang pada tahun 1923, sebuah misi bantuan dari Guiyidao dikirim ke sana, yang kemudian mengarah pada pembentukan cabang Jepang dari sekte ini serta terjalinnya hubungan dengan sekte-sekte Shinto karena adanya kesesuaian kuat dalam keyakinan mereka.[2] Presiden pertama dari Daoyuan Jepang adalah Deguchi Onisaburo (1871–1948), salah satu pendiri sekte Shinto Oomoto (大本 "Sumber Agung").[2]
Anggota lainnya termasuk Ueshiba Morihei (1883–1969), pendiri seni bela diri gaya bela diri Aikido; Okada Mokichi (1882–1955), yang pada tahun 1955 mendirikan Persatuan Messianisme Dunia; Nakano Yonosuke (1887–1974), pendiri sekte Ananai dari Oomoto pada tahun 1949; serta Goi Masahisa, pendiri dari sekte Cahaya Putih.[5]
Setelah 1949
Setelah tahun 1949, Guiyidao ditekan oleh rezim komunis dan bertahan sebagai agama bawah tanah di Republik Rakyat Tiongkok.[3] Cabang-cabang sekte ini hadir di Hong Kong, Taiwan, Jepang, Malaysia, Singapore, Kanada, dan Amerika Serikat. Sejak tahun 1950, Daoyuan Hong Kong berfungsi sebagai markas besar dunia Guiyidao di luar Tiongkok daratan.
Komunitas Swastika Merah
Anggota dari Swastika Merah, sekitar tahun 1937.
Komunitas Swastika Merah adalah cabang filantropi dari Guiyi Daoyuan yang didirikan pada tahun 1922 oleh Qian Nengxun (錢能訓), Du Bingyin (杜秉寅) dan Li Jiabai (李佳白). Pembentukan federasi ini dilakukan di Beijing bersama dengan presiden organisasi Li JianChiu (李建秋) , dengan mencontoh lembaga Barat seperti Palang Merah untuk membangun institusi amal yang berlandaskan agama Tionghoa. Lambang swastika (卍 wàn; "tak terbatas", "semua") dalam budaya Tionghoa maupun budaya lain merupakan simbol manifestasi Tuhan atau ciptaan-Nya.
Misi Swastika Merah adalah upaya luas dalam bidang filantropi dan pendidikan moral. Organisasi ini mengelola rumah penampungan orang miskin dan dapur umum, serta rumah sakit modern dan berbagai kegiatan bantuan lainnya. Swastika Merah memiliki fokus internasional yang jelas, dengan mengirimkan bantuan ke Tokyo setelah gempa bumi, serta menanggapi bencana alam di Uni Soviet. Selain itu, organisasi ini memiliki kantor di Paris, London, dan Tokyo , serta anggota yang terdiri dari profesor Esperanto.[6]
Mungkin peristiwa yang paling banyak dilaporkan dalam sejarahnya adalah peranannya dalam Tragedi Pembataian Nanking. Amukan pasukan pendudukan Jepang di kota tersebut meninggalkan ribuan jenazah di jalanan, dan Red Swastika turun tangan untuk membantu proses pemakaman. Catatan kegiatan Red Swastika ini telah menjadi sumber primer penting bagi penelitian mengenai skala kekejaman tersebut dan lokasi kuburan massal.
Meskipun sempat ditekan selama masa pemerintahan Maois di Tiongkok daratan, Swastika Merah tetap bertahan hingga kini sebagai organisasi keagamaan yang berfokus pada kegiatan amal. Organisasi ini memiliki cabang di berbagai wilayah diaspora Tionghoa, dengan markas besar di Taiwan. Selain kegiatan amal, Red Swastika juga mengelola dua sekolah di Hong Kong (Tuen Mun and Tai Po) serta satu sekolah di Singapore (Red Swastika School).
12Duara, Prasenjit. Of Authenticity and Woman: Personal Narratives of Middle-Class Women in Modern China. Becoming Chinese. Wen-Hsin Yeh, ed. Berkeley: University of California Press. 2000. p. 348.
↑Duara, Prasenjit. Transnationalism in the Era of Nation-States: China 1900–1945. Globalization and Identity. Birgit Meyer and Peter Geschiere, eds. Oxford: Blackwell Publishers. 2003. p 51.
List first published in: "Appendix: Sects and Societies Recently or Currently Active in the PRC". Chinese Sociology & Anthropology. 21 (4): 103–104. 1989. doi:10.2753/CSA0009-46252104102.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Daoyuan.