2005–2011: Glencore, Dan Gertler, dan Kongo
Pada tahun 2005, hasil dari penjualan sejumlah minyak ke Glencore disita sebagai bagian dari investigasi korupsi di Republik Demokratik Kongo.[25]
Pada tahun 2007, tambang Nikanor digabung ke tambang Katanga dalam sebuah transaksi bernilai US$3,3 miliar.[26]
Pada bulan Mei 2011, perusahaan ini resmi melantai di bursa saham, sehingga perusahaan ini bernilai US$61 miliar.[27] Pada minggu pertama setelah melantai, saham perusahaan ini hanya dapat diperdagangkan oleh investor institusional, sementara investor perorangan tidak diperbolehkan untuk membeli saham perusahaan ini hingga tanggal 24 Mei 2011.[28]
2011: manipulasi keuangan dan akuntansi
Pada tahun 2011, lima organisasi non-pemerintah mengajukan keluhan ke OECD terhadap anak usaha dari Glencore atas dugaan bahwa tambang milik perusahaan tersebut di Zambia tidak membayar pajak yang sesuai dengan labanya. Keluhan tersebut didasarkan pada dugaan manipulasi keuangan dan akuntansi yang sengaja dilakukan oleh Mopani Copper Mines Plc (MCM), untuk menghindari pajak di Zambia.[29][30] Sebuah draf laporan dari Grant Thornton pun memperkirakan bahwa penghindaran pajak tersebut merugikan pemerintah Zambia sebesar ratusan juta dolar.[31] Penghindaran tersebut diduga dilakukan melalui transfer pricing dan biaya yang dibesar-besarkan di tambang tembaga Mopani, yang dikendalikan melalui British Virgin Islands, sebuah surga pajak.[31] Glencore dan auditornya, Deloitte, pun menyangkal tuduhan tersebut.[32] Pada tahun 2013, setoran pajak dari Glencore ke pemerintah Zambia telah meningkat.[33]
Pada semester pertama tahun 2015, karena turunnya harga global untuk aset yang mereka miliki, terutama batu bara dan tembaga, dan untuk komoditas yang mereka perdagangkan, perusahaan ini pun mencatatkan rugi operasi sebesar $676 juta, sehingga harga saham perusahaan ini juga ikut turun.[34] Para analis keuangan juga menyoroti jumlah utang perusahaan ini yang cukup tinggi,[35] yakni $30 miliar. Perusahaan ini kemudian mengurangi utangnya dengan cara menjual saham dan asetnya.[34]
2011: asosiasi dengan perusahaan tambang lain
Bersama sejumlah produsen batu bara besar lain, Glencore memegang sejumlah saham dari globalCOAL, sebuah platform perdagangan batu bara daring. Perusahaan ini juga memegang 44% saham Century Aluminum asal Amerika Serikat,[36] 70,5% saham Minara Resources Ltd yang merupakan salah satu dari tiga produsen nikel terbesar di Australia,[36][37] dan 8,8% saham Rusal asal Rusia.[36]
Pada pertengahan tahun 2011, saham Century Aluminum disebut sebagai "salah satu saham paling mengerikan dalam beberapa tahun terakhir". Saham Century pun diidentifikasi sebagai saham yang beresiko, tetapi berpotensi menguntungkan di masa mendatang.[38]
Pada bulan Mei 2014, perusahaan ini mengumumkan bahwa mereka akan menutup tambang batu bara bawah tanahnya yang berada di Newlands, Queensland, Australia pada akhir tahun 2015. Tambang yang dimulai pada tahun 1983 tersebut menghasilkan 2,8 juta ton batu bara termal pada tahun 2013. Perusahaan ini sebelumnya juga telah menghentikan operasi di tambang bawah tanah Ravensworth seiring dengan turunnya harga batu bara, meningkatnya biaya produksi, dan menguatnya nilai tukar dolar Australia.[39][40][41]
Pada bulan Februari 2019, Glencore mengumumkan akan mengurangi produksi di salah satu operasi pertambangan tembaga dan kobalt terbesarnya di Kongo.[42] Tambang Mutanda di Kongo memproduksi 199.000 ton tembaga dan 27.000 ton kobalt pada tahun 2018, atau sekitar seperlima dari total produksi kobalt global. Pengurangan produksi tersebut kemungkinan bersifat sementara, karena perusahaan ini sedang menjajaki teknik penambangan baru untuk lokasi tersebut.
Pada bulan Oktober 2020, CEO Glencore, Ivan Glasenberg, berpendapat bahwa tidak ada manfaat lingkungan dalam divestasi aset batu bara, karena tambang batu bara yang didivestasi kemungkinan akan diambil alih oleh pemain lain tanpa memperhatikan Persetujuan Paris.[43] Ia justru mengusulkan pembatasan produksi tambang batu bara, sehingga juga akan mengurangi produksi dari tambang tersebut, dan menggunakan uang tunai yang dihasilkan dari tambang tersebut untuk meningkatkan produksi bahan baku lain yang permintaannya makin tinggi seiring dengan transformasi energi global, seperti nikel, tembaga, dan kobalt.[43] Dua bulan kemudian, pada bulan Desember 2020, Glasenberg mengumumkan bahwa ia akan pensiun pada tahun 2021 dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO setelah hampir 20 tahun menjabat. Ia akan digantikan oleh Gary Nagle asal Afrika Selatan, yang memimpin bisnis batu bara dari Glencore.[44][45][46]
Pada bulan Agustus 2022, pasar memperkirakan bahwa Glencore akan mencatatkan laba yang memecahkan rekor, karena kemampuannya untuk berkembang pesat di pasar, dan terutama karena bisnis batu bara yang tumbuh pesat selama krisis energi global 2022, di mana penggunaan batu bara di Eropa meningkat drastis untuk menggantikan gas alam yang mahal dari Rusia. Sementara itu, perusahaan pertambangan seperti BHP dan Rio Tinto mengalami perlambatan, karena permintaan yang lebih rendah dari Tiongkok untuk besi dan bijih tembaga, sehingga Glencore mampu meningkatkan bisnisnya sebagian besar dengan batu bara, meskipun batu bara memiliki citra yang buruk. Analis bisnis pun memperkirakan bahwa total dividen yang dibagikan oleh Glencore pada tahun 2022 dapat mencapai lebih dari $10 miliar.[47][48]