Ferry lahir di Jambi pada 16 Desember 1991 dari pasangan perantau Minangkabau, yakni Irwandi dan Rosma. Ayahnya berasal dari Barulak dan ibunya berasal dari Pauh Duo Nan Batigo. Sang ayah merupakan seorang dosen hukum tata negara di Universitas Jambi.[4]
Seusai lulus dari PKN STAN, Ferry bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) fungsional di bidang hubungan masyarakat. Ia bertugas sebagai videografer di Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (BLI) Kementerian Keuangan sejak 2012 hingga mengundurkan diri pada akhir 2022.[10][11]
YouTube
Meskipun telah lama memulai akun YouTube pribadinya sejak 2010, Ferry baru mendapatkan perhatian publik luas setelah mengunggah video bertajuk Memahami Filsafat Stoikisme pada Januari 2022.[12] Beberapa bulan berikutnya, Ferry menjadi tamu dalam siniar Close the Door di kanal Deddy Corbuzier pada April 2022 dan siniar Stoikisme, dan Lain-Lain... di kanal Raditya Dika pada Mei 2022.[13][14]
Pada November 2022, Ferry mengumumkan bahwa dirinya telah mengundurkan diri dari Kementerian Keuangan dan akan fokus membangun karier sebagai pembuat konten.[10] Ferry menyatakan bahwa keputusannya didasari pada kekhawatiran bahwa pertumbuhan kariernya sebagai pembuat konten menyita banyak waktu, berisiko menimbulkan konflik kepentingan dengan tugasnya sebagai PNS, dan guna mengejar kebebasan untuk menyasar topik-topik sosial-politik dengan lebih bebas.[10]
Di kanal YouTube miliknya, Ferry mengombinasikan konten-konten yang diunggah antara siniar dengan figur publik dengan topik tertentu, monolog bergaya jurnal, dan video bergaya dokumenter yang membahas berbagai isu sosial-politik dan ekonomi domestik dan internasional.[15] Selain hubungan pertemanan, Ferry mengakui bahwa Deddy Corbuzier melalui lini bisnis Close the Door merupakan pemilik bersama kanal YouTube miliknya.[16] Akan tetapi, Ferry menjelaskan bahwa kepemilikan tersebut tidak datang dengan intervensi editorial dalam pembuatan kontennya.[17]
Malaka
Pada 20 Oktober 2023, Ferry bersama 8 pemengaruh, pembuat konten, dan selebriti internet lainnya (Angellie Nabilla, Aurelia Vizal, Cania Citta, Coki Pardede, Dea Anugrah, Fathia Izzati, Jerome Polin, dan Rizky Arief Dwi Prakoso) meluncurkan Malaka Project di Djakarta Theater.[18] Ferry menjelaskan bahwa proyek ini dibangun dengan tujuan "membangun masyarakat baru" melaui pendidikan yang berkualitas menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Rekannya, Cania Citta, memaparkan bahwa proyek ini diinspirasi oleh gagasan Tan Malaka.[18] Dengan ragam konten yang berbeda-beda dari sembilan orang pendiri Malaka, Ferry menyatakan bahwa prioritas utamanya melalui Malaka adalah membangun Kampus Malaka yang dideskripsikan sebagai perguruan tinggi yang "terbuka bagi semua kalangan dan menggunakan sistem pembelajaran adaptif yang modular dan dapat diakses kapan saja dan dari mana saja."[19]
Aktivisme
Di samping membahas berbagai persoalan publik di kanal YouTube dan media sosial miliknya, Ferry kerap muncul di berbagai unjuk rasa dan dialog publik untuk menyampaikan aspirasinya sebagai warga sipil.[butuh rujukan]
Di tengah gelombang unjuk rasa Indonesia Gelap pada Maret 2025, Ferry mengunggah video bertajuk Catatan Seorang Demonstran untuk Prabowo Subianto.[20] Dalam video tersebut, Ferry menyebut kebijakan PresidenPrabowo Subianto memperluas keterlibatan militer dalam urusan-urusan sipil sebagai ancaman terhadap demokrasi dan tatanan sipil yang sehat.[20] Sebelumnya, Ferry mengungkapkan bahwa ia pernah berdialog dengan Presiden Prabowo sebelum Pemilu 2024, di mana Prabowo dengan tegas menyatakan komitmennya terhadap supremasi sipil dan menolak gaya kepemimpinan militeristik.[21] Ferry turut berpartisipasi dalam unjuk rasa menolak pengesahan amendemen Undang-UndangTentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang dinilainya berpotensi mengganggu tatanan demokrasi.[22]
Pada Agustus–September 2025, Ferry berpartisipasi dalam gelombang unjuk rasa yang meluas setelah mengemukanya wacana kenaikan tunjangan anggota DPR dan tragedi Pembunuhan Affan Kurniawan.[23] Ferry juga turut menjadi salah satu pemengaruh yang menyuarakan 17+8 Tuntutan Rakyat.[24] Pada 31 Agustus 2025, Ferry mengunggah video bertajuk Dalang Demo dan Mencegah Darurat Militer di kanal YouTube miliknya, di mana ia menyampaikan pendapatnya tentang sejumlah akun pemengaruh media sosial yang memprovokasi terjadinya kerusuhan sebagai alasan pemberlakuan darurat militer.[25] Pada 8 September 2025, Kepala Pusat Penerangan TNI mengungkapkan bahwa patroli siber yang dilakukan oleh pihak militer menemukan dugaan tindak pidana provokasi dan fitnah dalam sejumlah unggahan Ferry di internet.[26] Tuduhan ini memicu kritik keras dari masyarakat sipil, termasuk Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhamad Isnur, dan Peneliti Setara Institute, Ikhsan Yosarie.[27][28]
Kontroversi
Ferry kerap menyampaikan kritik terhadap berbagai isu-isu terkini serta dinamika sosial, politik, dan ekonomi. Melalui berbagai kanal media sosial miliknya, Ferry kerap mencuri perhatian publik dengan pendapatnya.[butuh rujukan]
Pada September 2023, Ferry mengunggah konten bertajuk Tangan Kotor Influencer dalam Judi Online di kanal YouTube miliknya.[29] Selain membahas fenomena judi daring di Indonesia, Ferry menyoroti banyaknya pemengaruh media sosial yang turut mempromosikan berbagai produk judi daring.[30]
Pada Oktober 2024, Ferry menjadi sorotan publik setelah menantang dukun santet yang "bisa bikin gue muntah paku, gue kasih alphard" di kanal X miliknya.[31] Tantangan ini muncul setelah Ferry mengkritik narasi mistis yang banyak dikemukakan masyarakat dalam menanggapi kasus hilangnya Naomi Daviola Setyanie ketika mendaki Gunung Slamet.[32] Pernyataan Ferry ini ditanggapi oleh Ria Puspita, seseorang yang mengaku sebagai mantan dukun santet, dengan menyampaikan "kalau seandainya Tuhan mengizinkan boleh—halal, halal saya matikan Ferry, saya ngga mau pakai santet, dia pakai tangan saya aja" di kanal YouTube Malam Mencekam.[33] Hal ini dinilai Ferry sebagai ancaman pembunuhan sehingga ia mengeluarkan ultimatum agar Ria menyampaikan permintaan maaf atau membuktikan bahwa ia bisa melakukan pembunuhan dengan ilmu santet. Pengelola kanal YouTube Malam Mencekam pun kemudian menyampaikan permintaan maaf dan menghapus unggahan Ria Puspita tersebut.[34]
Pada Juli 2025, melalui kanal YouTube miliknya dan juga Malaka, Ferry mengunggah sejumlah konten yang mengkritik relevansi ilmu filsafat dan mengapungkan wacana pembubaran jurusan filsafat di perguruan tinggi.[35][36] Dalam berbagai konten tersebut, Ferry menekankan pentingnya pendidikan filsafat, tetapi model penjurusan di perguruan tinggi menghasilkan sistem yang eksklusif dan sulit diakses oleh kebanyakan orang dan sulit diaplikasikan di level praktik.[37] Menanggapi wacana ini, tokoh Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas, menyatakan bahwa menghapus jurusan filsafat adalah pemikiran yang pragmatis karena memandang pendidikan tinggi semata-mata sebagai jalan menuju pekerjaan, bukan sarana membangun kemampuan berpikir kritis.[38] Sementara itu, pengamat lain mengkritik bahwa meskipun mengajak berdialog, sebagai selebriti internet yang tidak memiliki kepakaran relevan, pernyataan Ferry kerap dijadikan pembenaran oleh penonton yang mengidolakannya.[39]
Kehidupan pribadi
Ferry menikah dengan penyanyi jaz Muthia Nadhira pada tahun 2015 dan memiliki satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Muthia juga merupakan lulusan PKN STAN dan pernah bekerja sebagai PNS di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.[butuh rujukan]