ENSIKLOPEDIA
Ernest Hemingway
Ernest Hemingway | |
|---|---|
Hemingway pada tahun 1939 | |
| Lahir | (1899-07-21)21 Juli 1899 Oak Park, Illinois, AS |
| Meninggal | 2 Juli 1961(1961-07-02) (umur 61) Ketchum, Idaho, AS |
| Penghargaan terkenal |
|
| Pasangan | |
| Anak | |
| Tanda tangan | |
Ernest Miller Hemingway (/ˈhɛmɪŋweɪ/ HEM-ing-way; 21 Juli 1899 – 2 Juli 1961) adalah seorang novelis, penulis cerita pendek, dan jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat. Dikenal luas berkat gaya bahasanya yang hemat kata dan bersahaja—yang memberikan pengaruh kuat terhadap sastra abad ke-20—sosoknya pun kerap diromantisasi karena gaya hidupnya yang penuh petualangan serta citra publiknya yang vokal dan lugas. Sejumlah karyanya, yang meliputi tujuh novel, enam kumpulan cerita pendek, dan dua karya nonfiksi, telah menjadi karya klasik dalam sastra Amerika, dan ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra 1954.
Hemingway dibesarkan di Oak Park, Illinois, sebuah daerah pinggiran kota Chicago. Selepas menamatkan sekolah menengah, ia bekerja selama enam bulan sebagai reporter untuk surat kabar The Kansas City Star sebelum mendaftar di Palang Merah. Ia bertugas sebagai pengemudi ambulans di Front Italia semasa Perang Dunia I dan mengalami luka serius akibat serpihan peluru pada tahun 1918. Pada tahun 1921, Hemingway pindah ke Paris. Di sana, ia bekerja sebagai koresponden asing untuk Toronto Star dan terpengaruh oleh para penulis dan seniman modernis dari komunitas ekspatriat "Generasi yang Hilang" (Lost Generation). Novel debutnya, Matahari Juga Terbit, diterbitkan pada tahun 1926. Pada tahun 1928, Hemingway kembali ke AS dan menetap di Key West, Florida. Pengalaman-pengalamannya selama masa perang menjadi bahan bagi novelnya yang terbit pada tahun 1929, Pertempuran Penghabisan.
Pada tahun 1937, Hemingway bertolak ke Spanyol untuk meliput Perang Saudara Spanyol, yang kelak menjadi landasan bagi novelnya tahun 1940, Untuk Siapa Lonceng Berbunyi, yang ditulisnya di Havana, Kuba. Semasa Perang Dunia II, Hemingway hadir bersama pasukan Sekutu sebagai jurnalis dalam peristiwa Pendaratan Normandia dan Pembebasan Paris. Pada tahun 1952, novelnya Lelaki Tua dan Laut diterbitkan dan menuai pujian luar biasa, serta memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk Fiksi. Dalam sebuah perjalanan ke Afrika pada tahun 1954, Hemingway mengalami cedera parah akibat dua kecelakaan pesawat yang terjadi berturut-turut; peristiwa ini menyisakan rasa sakit dan gangguan kesehatan yang menderanya hampir di sepanjang sisa hidupnya. Ia meninggal dunia karena bunuh diri di rumahnya di Ketchum, Idaho, pada tahun 1961.
Masa muda

Ernest Miller Hemingway lahir pada 21 Juli 1899, di Oak Park, Illinois, sebuah daerah pinggiran kota yang makmur tepat di sebelah barat Chicago.[1] Ia adalah anak kedua dari enam bersaudara pasangan Clarence Edmonds Hemingway, seorang dokter, dan Grace Hall Hemingway, seorang musisi. Ketika Clarence dan Grace Hemingway menikah pada tahun 1896, mereka tinggal bersama ayah Grace, Ernest Miller Hall,[2] yang namanya kemudian disematkan pada putra pertama mereka.[3] Orang tuanya berpendidikan tinggi dan sangat dihormati di Oak Park,[3] sebuah komunitas konservatif yang oleh warganya, Frank Lloyd Wright, digambarkan sebagai, "Begitu banyak gereja untuk didatangi oleh begitu banyak orang baik."[4]
Kakak perempuannya, Marcelline, lahir lebih dulu pada tahun 1898, sedangkan adik-adiknya adalah Ursula (lahir 1902), Madelaine (1904), Carol (1911), dan Leicester (1915).[3] Grace mengikuti konvensi zaman Victoria yang tidak membedakan pakaian anak-anak berdasarkan jenis kelamin. Hanya terpaut usia satu tahun, Ernest dan Marcelline sangat mirip satu sama lain. Grace ingin mereka terlihat seperti kembar, sehingga pada tiga tahun pertama kehidupan Ernest, ia membiarkan rambut putranya panjang dan memakaikan kedua anak itu pakaian feminin yang berenda-renda dan serupa.[5]

Grace Hemingway adalah musisi lokal yang tersohor,[6] dan ia mengajari putranya yang enggan untuk bermain selo. Di kemudian hari, ia mengatakan bahwa pelajaran musik itu berkontribusi pada gaya penulisannya, sebagaimana terbukti dalam "struktur kontrapung" pada novel Untuk Siapa Lonceng Berbunyi.[7] Saat dewasa, Hemingway mengaku membenci ibunya, meskipun mereka memiliki energi antusiasme yang serupa.[6] Ayahnya, Dr. Clarence Hemingway, mengajarinya keterampilan hutan selama persinggahan musim panas keluarga di Windemere di Danau Walloon, dekat Petoskey, Michigan; di sana Ernest belajar berburu, memancing, dan berkemah di hutan serta danau Michigan Utara. Pengalaman-pengalaman awal ini menanamkan hasrat seumur hidup akan petualangan luar ruangan dan kehidupan di daerah terpencil atau terisolasi.[8]
Hemingway bersekolah di SMA Oak Park dan River Forest di Oak Park antara tahun 1913 hingga 1917. Di sana ia berkompetisi dalam tinju, atletik, polo air, dan sepak bola Amerika. Ia tampil di orkestra sekolah selama dua tahun bersama saudarinya, Marcelline, dan mendapat nilai bagus dalam pelajaran bahasa Inggris.[6] Selama dua tahun terakhirnya di sekolah menengah, ia menyunting koran dan buku tahunan sekolah (Trapeze dan Tabula); ia meniru bahasa para penulis olahraga populer dan berkontribusi menggunakan nama pena Ring Lardner Jr.—sebuah penghormatan kepada Ring Lardner dari Chicago Tribune yang memiliki rubrik bertajuk "Line O'Type".[9] Sebuah taman peringatan untuk menghormati Hemingway dibangun di depan sekolah menengah tersebut pada tahun 1996.[10]
Selepas meninggalkan bangku sekolah menengah, ia bekerja untuk The Kansas City Star sebagai reporter pemula.[9] Meskipun ia hanya bertahan di sana selama enam bulan, pedoman gaya Star—yang menyatakan "Gunakan kalimat pendek. Gunakan paragraf pertama yang pendek. Gunakan bahasa Inggris yang bertenaga. Bersikaplah positif, bukan negatif"—menjadi fondasi bagi prosa tulisannya.[11]
Perang Dunia I

Hemingway ingin pergi berperang dan mencoba mendaftar di Angkatan Darat AS, tetapi tidak diterima karena penglihatannya yang buruk.[12] Alih-alih, ia menjadi sukarelawan dalam upaya perekrutan Palang Merah pada Desember 1917 dan mendaftar sebagai pengemudi ambulans di Korps Motor Palang Merah Amerika di Italia.[13] Pada bulan Mei 1918, ia berlayar dari New York, dan tiba di Paris saat kota itu sedang membara di bawah pengeboman artileri Jerman.[14] Pada bulan Juni itu, ia tiba di Front Italia sebagai sukarelawan bersama A.R.C.. Dokumen-dokumen kontemporer terkadang mendeskripsikannya dengan gelar kehormatan atau gelar sopan santun seperti letnan dua (A.R.C.) atau sottotenente (Angkatan Darat Italia), tetapi ia bukanlah perwira yang ditugaskan secara resmi di Angkatan Darat Amerika Serikat.[15] Pada hari pertamanya di Milan, ia dikirim ke lokasi ledakan pabrik munisi untuk bergabung dengan para penyelamat dalam mengevakuasi sisa-sisa jasad pekerja wanita yang hancur. Ia menggambarkan insiden tersebut dalam buku nonfiksinya tahun 1932, Mati di Tengah Hari: "Saya ingat bahwa setelah kami mencari jenazah yang utuh dengan cukup teliti, kami mengumpulkan potongan-potongannya."[16] Beberapa hari kemudian, ia ditempatkan di Fossalta di Piave.[16]
Pada tanggal 8 Juli, tepat setelah membawakan cokelat dan rokok dari kantin untuk para prajurit di garis depan, rombongan tersebut dihujani tembakan mortir. Hemingway terluka parah.[16] Meskipun terluka, ia membantu para prajurit Italia menuju tempat yang aman, dan atas tindakannya itu ia dianugerahi Salib Jasa Perang Italia (Croce al Merito di Guerra) serta Medali Perak Nilai Militer Italia (Medaglia d'argento al valor militare).[note 1][17][18]
Ia baru berusia 18 tahun kala itu. Hemingway kemudian berujar tentang insiden tersebut: "Ketika kau pergi berperang sebagai seorang bocah, kau memiliki ilusi besar tentang keabadian. Orang lain terbunuh; bukan kau ... Lalu ketika kau terluka parah untuk pertama kalinya, kau kehilangan ilusi itu dan kau tahu hal itu bisa terjadi padamu."[19] Ia menderita luka parah akibat serpihan peluru di kedua kakinya, menjalani operasi segera di pusat distribusi, dan menghabiskan lima hari di rumah sakit lapangan, sebelum dipindahkan untuk pemulihan di rumah sakit Palang Merah di Milan.[20] Ia menghabiskan enam bulan di rumah sakit, tempat ia bertemu "Chink" Dorman-Smith. Keduanya menjalin persahabatan erat yang berlangsung selama beberapa dekade.[21]

Saat masa pemulihan, Hemingway jatuh cinta pada Agnes von Kurowsky, seorang perawat Palang Merah yang tujuh tahun lebih tua darinya. Ketika Hemingway kembali ke Amerika Serikat pada bulan Januari 1919, ia yakin Agnes akan menyusulnya dalam beberapa bulan, dan keduanya akan menikah. Sebaliknya, ia menerima surat dari Agnes pada bulan Maret yang mengabarkan bahwa wanita itu telah bertunangan dengan seorang perwira Italia. Biografer Jeffrey Meyers menulis bahwa penolakan Agnes menghancurkan dan menorehkan luka batin pada pemuda itu. Dalam hubungan-hubungan selanjutnya, Hemingway mengikuti pola meninggalkan istrinya sebelum sang istri meninggalkannya.[22] Salah satu persahabatan terdekat Hemingway dari masa tugas Palang Merah-nya adalah dengan William "Bill" Dodge Horne Jr., sesama pengemudi ambulans di Italia. Horne kelak menjadi pendamping pria di pernikahan pertama Hemingway dan pengusung jenazah kehormatan di pemakamannya. Horne menyimpan arsip pribadi korespondensi mereka, foto-foto, dan kenangan—materi yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Princeton.[23][24][25][26]
Kepulangannya pada tahun 1919 merupakan masa penyesuaian kembali yang sulit. Sebelum usia 20 tahun, ia telah memperoleh kedewasaan dari perang yang bertolak belakang dengan kehidupan di rumah tanpa pekerjaan dan kebutuhan akan pemulihan.[27] Sebagaimana dijelaskan oleh biografer Michael S. Reynolds, "Hemingway tidak benar-benar bisa memberi tahu orang tuanya apa yang ia pikirkan saat melihat lututnya yang berdarah." Ia tak mampu menceritakan kepada mereka betapa takutnya ia berada "di negeri orang bersama para ahli bedah yang tak bisa memberitahunya dalam bahasa Inggris apakah kakinya akan diamputasi atau tidak."[28]
Bulan September itu, ia pergi memancing dan berkemah bersama teman-teman sekolah menengahnya ke daerah pedalaman Semenanjung Atas di Michigan.[19] Perjalanan itu menjadi inspirasi bagi cerita pendeknya, "Big Two-Hearted River", di mana karakter semi-otobiografis Nick Adams pergi ke pedesaan untuk mencari kesendirian setelah pulang dari perang.[29] Seorang teman keluarga menawari Hemingway pekerjaan di Toronto, dan karena tidak ada kegiatan lain, ia menerimanya. Menjelang akhir tahun itu, ia mulai bekerja sebagai pekerja lepas dan penulis staf untuk Toronto Star Weekly. Ia kembali ke Michigan pada bulan Juni berikutnya[27] lalu pindah ke Chicago pada September 1920 untuk tinggal bersama teman-temannya, sembari tetap mengirim berita untuk Toronto Star.[30] Di Chicago, ia bekerja sebagai editor rekanan jurnal bulanan Cooperative Commonwealth, tempat ia bertemu novelis Sherwood Anderson.[30]
Ia bertemu Hadley Richardson melalui saudara perempuan teman sekamarnya. Kelak, ia mengaku, "Saya tahu dialah gadis yang akan saya nikahi."[31] Berambut merah, dengan "naluri mengasuh", Hadley delapan tahun lebih tua dari Hemingway.[31] Terlepas dari perbedaan usia itu, ia tampak kurang dewasa dibandingkan wanita seusianya, mungkin karena ibunya yang terlalu protektif.[32] Bernice Kert, penulis The Hemingway Women, mengklaim bahwa Hadley "mengingatkan" pada Agnes, tetapi Agnes tidak memiliki sifat kekanak-kanakan seperti Hadley. Setelah saling berkirim surat selama beberapa bulan, Hemingway dan Hadley memutuskan untuk menikah dan pergi ke Eropa.[31]
Mereka ingin mengunjungi Roma, tetapi Sherwood Anderson meyakinkan mereka untuk pergi ke Paris saja, dan menulis surat pengantar untuk pasangan muda tersebut.[33] Mereka menikah pada 3 September 1921. Dua bulan kemudian, Hemingway menandatangani kontrak sebagai koresponden asing untuk Toronto Star dan pasangan itu berangkat ke Paris. Mengenai pernikahan Hemingway dengan Hadley, Meyers mengklaim: "Bersama Hadley, Hemingway mencapai segala yang ia harapkan bersama Agnes: cinta dari seorang wanita cantik, penghasilan yang nyaman, dan kehidupan di Eropa."[34]
Paris dan Schruns

Anderson menyarankan Paris lantaran biaya hidupnya yang terjangkau dan kota itu menjadi kediaman bagi "insan-insan paling menarik di dunia". Di sanalah Hemingway berjumpa dengan para penulis seperti Gertrude Stein, James Joyce, dan Ezra Pound yang "mampu membantu seorang penulis muda menapaki jenjang karier".[33] Hemingway adalah "pemuda yang tinggi, tampan, berotot, berbahu bidang, bermata cokelat, berpipi merah, berrahang tegas, dan bersuara lembut."[35] Ia tinggal bersama Hadley di sebuah apartemen kecil tanpa lift di 74 rue du Cardinal Lemoine [fr] di Kawasan Latin, dan menyewa sebuah kamar di dekat situ untuk bekerja.[33] Stein, yang merupakan benteng modernisme di Paris,[36] menjadi mentor Hemingway sekaligus ibu baptis bagi putranya, Jack;[37] ia memperkenalkannya kepada para seniman dan penulis ekspatriat di Kawasan Montparnasse, yang ia sebut sebagai "Generasi yang Hilang" (Lost Generation)—sebuah istilah yang dipopulerkan Hemingway melalui penerbitan Matahari Juga Terbit.[38] Sebagai pengunjung tetap di salon Stein, Hemingway bertemu dengan pelukis-pelukis berpengaruh seperti Pablo Picasso, Joan Miró, Juan Gris,[39] dan Luis Quintanilla.[40] Pada akhirnya, ia menarik diri dari pengaruh Stein, dan hubungan mereka memburuk menjadi perseteruan sastra yang merentang selama beberapa dekade.[41]
Pound berusia 14 tahun lebih tua daripada Hemingway ketika mereka bertemu secara kebetulan pada tahun 1922 di toko buku milik Sylvia Beach, Shakespeare and Company. Mereka mengunjungi Italia pada tahun 1923 dan tinggal di jalan yang sama pada tahun 1924.[35] Keduanya menjalin persahabatan yang erat; dalam diri Hemingway, Pound mengenali dan membina sesosok talenta muda.[39] Pound—yang baru saja selesai menyunting Tanah Gersang karya T. S. Eliot—memperkenalkan Hemingway kepada penulis Irlandia James Joyce,[35] yang kerap kali menjadi rekan Hemingway dalam "pesta minuman keras".[42]

Selama 20 bulan pertamanya di Paris, Hemingway mengirimkan 88 berita untuk surat kabar Toronto Star.[43] Ia meliput Perang Yunani-Turki, di mana ia menyaksikan pembakaran Smyrna, dan menulis artikel perjalanan seperti "Tuna Fishing in Spain" (Memancing Tuna di Spanyol) dan "Trout Fishing All Across Europe: Spain Has the Best, Then Germany" (Memancing Trout di Seluruh Eropa: Spanyol yang Terbaik, Kemudian Jerman).[44] Hampir seluruh karya fiksi dan cerita pendeknya lenyap ketika pada bulan Desember 1922, saat sedang dalam perjalanan untuk menyusul suaminya di Jenewa, Hadley kehilangan sebuah koper berisi naskah-naskah Hemingway di stasiun kereta Gare de Lyon. Ia merasa hancur dan murka.[45] Sembilan bulan kemudian pasangan itu kembali ke Toronto, tempat putra mereka John Hadley Nicanor lahir pada 10 Oktober 1923. Selama ketidakhadiran mereka, buku pertama Hemingway, Tiga Cerita dan Sepuluh Puisi, diterbitkan di Paris. Satu-satunya yang tersisa setelah hilangnya koper itu adalah dua cerita yang dimuat dalam volume tersebut; ia menulis cerita ketiga pada awal 1923 saat berada di Italia. Beberapa bulan kemudian, in our time (tanpa huruf kapital) diproduksi di Paris. Volume kecil itu memuat 18 vinyet, selusin di antaranya ia tulis pada musim panas sebelumnya saat kunjungan pertamanya ke Spanyol, tempat ia menemukan sensasi dari corrida. Ia menganggap Toronto membosankan, merindukan Paris, dan ingin kembali pada kehidupan seorang penulis, alih-alih menjalani hidup sebagai jurnalis.[46]
Hemingway, Hadley, dan putra mereka (dijuluki Bumby) kembali ke Paris pada Januari 1924 dan pindah ke sebuah apartemen di rue Notre-Dame des Champs.[46] Hemingway membantu Ford Madox Ford menyunting The Transatlantic Review, yang menerbitkan karya-karya Pound, John Dos Passos, Baroness Elsa von Freytag-Loringhoven, dan Stein, serta beberapa cerita awal karya Hemingway sendiri seperti "Perkemahan Indian".[47] Ketika kumpulan cerita pertama Hemingway, In Our Time, diterbitkan pada tahun 1925, sampul jaket bukunya memuat komentar dari Ford.[48][49] "Perkemahan Indian" menerima pujian yang cukup besar; Ford memandangnya sebagai cerita awal yang penting oleh seorang penulis muda,[50] dan para kritikus di Amerika Serikat memuji Hemingway karena menyegarkan kembali genre cerita pendek dengan gayanya yang lugas dan penggunaan kalimat deklaratif.[51] Enam bulan sebelumnya, Hemingway telah bertemu dengan F. Scott Fitzgerald, dan keduanya menjalin persahabatan yang diwarnai "kekaguman dan permusuhan".[52] Fitzgerald telah menerbitkan The Great Gatsby pada tahun yang sama: Hemingway membacanya, menyukainya, dan memutuskan bahwa karya berikutnya haruslah sebuah novel.[53]
Tahun sebelumnya, Hemingway mengunjungi Festival San Fermín di Pamplona, Spanyol, untuk pertama kalinya, di mana ia terpesona oleh adu banteng.[54] Keluarga Hemingway kembali ke Pamplona pada tahun 1924 dan untuk ketiga kalinya pada Juni 1925; tahun itu, mereka membawa serta sekelompok ekspatriat Amerika dan Inggris: teman masa kecil Hemingway dari Michigan Bill Smith, Donald Ogden Stewart, Lady Duff Twysden (yang baru saja bercerai), kekasihnya Pat Guthrie, dan Harold Loeb.[55]

Beberapa hari setelah pesta usai, tepat pada hari ulang tahunnya (21 Juli), ia mulai menulis draf dari apa yang kelak menjadi Matahari Juga Terbit, dan menyelesaikannya delapan minggu kemudian.[56] Beberapa bulan kemudian, pada Desember 1925, keluarga Hemingway pergi untuk menghabiskan musim dingin di Schruns, Austria, tempat Hemingway mulai merevisi naskah tersebut secara ekstensif.[57] Pauline Pfeiffer, putri dari keluarga Katolik kaya di Arkansas, yang datang ke Paris untuk bekerja di majalah Vogue, bergabung dengan mereka pada bulan Januari. Bertentangan dengan saran Hadley, Pfeiffer mendesak Hemingway untuk menandatangani kontrak dengan Scribner's. Ia meninggalkan Austria untuk perjalanan singkat ke New York guna menemui penerbit dan, sekembalinya dari sana, mulai berselingkuh dengan Pfeiffer saat singgah di Paris, sebelum kembali ke Schruns untuk menyelesaikan revisi pada bulan Maret.[58] Naskah itu tiba di New York pada bulan April; ia mengoreksi cetakan percobaan (proof) terakhir di Paris pada bulan Agustus 1926, dan Scribner's menerbitkan novel tersebut pada bulan Oktober.[56][59][60]
The Sun Also Rises merupakan lambang generasi ekspatriat pascaperang (periode antarperang),[61] menuai ulasan positif, dan "diakui sebagai karya terbesar Hemingway".[62] Hemingway sendiri kemudian menulis surat kepada editornya, Max Perkins, bahwa "inti dari buku tersebut" bukanlah tentang generasi yang hilang, melainkan bahwa "bumi kekal adanya"; ia meyakini karakter-karakter dalam The Sun Also Rises mungkin "babak belur" namun tidak tersesat.[63]
Pernikahan Hemingway dengan Hadley memburuk saat ia mengerjakan The Sun Also Rises.[60] Pada awal 1926, Hadley menyadari perselingkuhan suaminya dengan Pfeiffer, yang ikut ke Pamplona bersama mereka pada bulan Juli itu.[64][65] Sekembalinya mereka ke Paris, Hadley meminta perpisahan; pada bulan November ia secara resmi mengajukan cerai. Mereka membagi harta benda mereka, sementara Hadley menerima tawaran Hemingway atas hasil penjualan The Sun Also Rises.[66] Mereka bercerai pada Januari 1927, dan Hemingway menikahi Pfeiffer pada bulan Mei.[67]

Sebelum pernikahannya dengan Pfeiffer, Hemingway berpindah agama menjadi Katolik.[68] Mereka berbulan madu di Le Grau-du-Roi; di sana ia terjangkit antraks, dan ia merencanakan kumpulan cerita pendek berikutnya,[69] Men Without Women (Lelaki Tanpa Perempuan), yang diterbitkan pada Oktober 1927,[70] dan memuat cerita tinju-nya, "Fifty Grand". Pemimpin redaksi majalah Cosmopolitan, Ray Long, memuji "Fifty Grand" dengan menyebutnya, "salah satu cerita pendek terbaik yang pernah sampai ke tangan saya... cerita adu tinju terbaik yang pernah saya baca... sebuah karya realisme yang luar biasa."[71]
Menjelang akhir tahun, Pauline hamil dan ingin kembali ke Amerika. Dos Passos merekomendasikan Key West, dan mereka meninggalkan Paris pada Maret 1928. Hemingway menderita cedera kepala parah di kamar mandi mereka di Paris ketika ia menarik jendela loteng hingga menimpa kepalanya karena mengira sedang menarik rantai toilet. Kejadian ini menyisakan bekas luka yang menonjol di dahinya, yang ia bawa seumur hidup. Ketika Hemingway ditanya tentang bekas luka tersebut, ia enggan menjawab.[72] Selepas kepergiannya dari Paris, Hemingway "tidak pernah lagi tinggal di kota besar".[73]
Key West

Hemingway dan Pauline bertolak ke Kansas City, Missouri, tempat putra mereka, Patrick, lahir pada 28 Juni 1928, di Rumah Sakit Bell Memorial.[74] Pauline mengalami persalinan yang sulit; Hemingway mengangkat peristiwa tersebut ke dalam bentuk fiksi dalam novel Pertempuran Penghabisan. Selepas kelahiran Patrick, mereka bepergian ke Wyoming, Massachusetts, dan New York.[75] Pada tanggal 6 Desember, saat Hemingway berada di New York untuk mengunjungi Bumby dan hendak menaiki kereta menuju Florida, ia menerima kabar bahwa ayahnya, Clarence, tewas bunuh diri.[note 2][76] Hemingway sangat terpukul; sebelumnya ia sempat menulis surat kepada ayahnya agar tidak perlu mencemaskan masalah keuangan, tetapi surat itu baru tiba beberapa menit setelah peristiwa bunuh diri tersebut. Ia menyadari bagaimana perasaan Hadley setelah ayahnya sendiri bunuh diri pada tahun 1903, dan berujar, "Aku mungkin akan menempuh jalan yang sama."[77]
Sekembalinya ke Key West pada bulan Desember, Hemingway mengerjakan draf A Farewell to Arms sebelum berangkat ke Prancis pada bulan Januari. Ia sebenarnya telah menyelesaikannya pada bulan Agustus sebelumnya namun menunda proses revisi. Serialisasi di Scribner's Magazine dijadwalkan terbit pada bulan Mei. Pada bulan April, ia masih berkutat dengan bagian akhir cerita, yang kemungkinan telah ia tulis ulang sebanyak tujuh belas kali. Novel yang telah rampung itu diterbitkan pada 27 September 1929.[78] Biographer James Mellow meyakini bahwa A Farewell to Arms mengukuhkan kedudukan Hemingway sebagai penulis besar Amerika dan menampilkan tingkat kompleksitas yang tidak terlihat dalam The Sun Also Rises.[79] Di Spanyol pada pertengahan 1929, Hemingway melakukan riset untuk karya berikutnya, Mati di Tengah Hari. Ia ingin menulis sebuah risalah komprehensif mengenai adu banteng, yang memaparkan para torero dan corrida lengkap dengan glosarium dan lampiran, karena ia meyakini bahwa adu banteng "sangatlah menarik secara tragis, karena secara harfiah menyangkut hidup dan mati."[80]
Selama awal tahun 1930-an, Hemingway menghabiskan musim dingin di Key West dan musim panas di Wyoming; di sana ia menemukan "negeri paling indah yang pernah dilihatnya di Amerika Barat" serta berburu rusa, elk, dan beruang grizzly.[81] Dos Passos bergabung dengannya di sana. Pada November 1930, setelah mengantar Dos Passos ke stasiun kereta di Billings, Montana, Hemingway mengalami patah lengan dalam sebuah kecelakaan mobil. Ia dirawat di rumah sakit selama tujuh minggu, dengan Pauline yang merawatnya. Saraf di tangan penulisnya membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk pulih, dan selama masa itu ia menderita rasa sakit yang teramat sangat.[82]

Anak ketiganya, Gloria Hemingway, lahir setahun kemudian pada 12 November 1931, di Kansas City dengan nama "Gregory Hancock Hemingway".[note 3][83] Paman Pauline membelikan pasangan itu sebuah rumah di Key West yang dilengkapi rumah kereta, yang lantai duanya diubah menjadi studio menulis.[84] Ia mengundang teman-temannya—termasuk Waldo Peirce, Dos Passos, dan Max Perkins[85]—untuk bergabung dengannya dalam perjalanan memancing dan ekspedisi khusus pria ke Dry Tortugas. Ia terus bepergian ke Eropa dan Kuba, dan—meskipun pada tahun 1933 ia menulis tentang Key West, "Kami memiliki rumah yang bagus di sini, dan anak-anak semua sehat"—Mellow meyakini bahwa ia "jelas merasa gelisah".[86]
Pada tahun 1933, Hemingway dan Pauline pergi bersafari ke Kenya. Perjalanan selama 10 minggu itu menyediakan materi untuk Bukit-Bukit Hijau Afrika, serta untuk cerita pendek "Salju Kilimanjaro" dan "Singkat namun Bahagianya Hidup Francis Macomber".[87] Pasangan itu mengunjungi Mombasa, Nairobi, dan Machakos di Kenya; kemudian melanjutkan perjalanan ke Wilayah Tanganyika, tempat mereka berburu di Serengeti, di sekitar Danau Manyara, serta di sebelah barat dan tenggara Taman Nasional Tarangire masa kini. Pemandu mereka adalah "pemburu kulit putih" terkemuka, Philip Percival, yang pernah memandu Theodore Roosevelt dalam safarinya tahun 1909. Selama perjalanan ini, Hemingway terjangkit disentri amuba yang menyebabkan ususnya mengalami prolaps, sehingga ia harus dievakuasi dengan pesawat ke Nairobi; pengalaman ini tercermin dalam "Salju Kilimanjaro". Sekembalinya Hemingway ke Key West pada awal 1934, ia mulai mengerjakan Green Hills of Africa, yang diterbitkannya pada tahun 1935 dengan tanggapan yang beragam.[88]
Ia membeli sebuah kapal pada tahun 1934, menamainya Pilar, dan mulai berlayar di Karibia.[89] Ia tiba di Bimini pada tahun 1935, dan menghabiskan cukup banyak waktu di sana.[87] Selama periode ini ia mengerjakan Punya dan Tak Punya, yang diterbitkan pada tahun 1937 saat ia berada di Spanyol; ini menjadi satu-satunya novel yang ia tulis selama tahun 1930-an.[90]
Hemingway mengecam keras cara pemerintah menangani Badai Hari Buruh tahun 1935. Setelah menyaksikan bencana tersebut dan respons pemerintah federal yang gagal di Key West, ia menulis sebuah paparan untuk New Masses berjudul, “Who Murdered the Vets?” (Siapa yang Membunuh Para Veteran?). Dalam korespondensi pribadinya, Hemingway menyebut nama-nama pihak terkait secara lebih spesifik, dengan menulis bahwa "Harry Hopkins dan Roosevelt yang mengirim orang-orang malang dari aksi demonstrasi bonus itu ke sana [ke Florida Keys] untuk menyingkirkan mereka, dan benar-benar berhasil menyingkirkan mereka."[91]
Perang Saudara Spanyol

Hemingway telah mengamati perkembangan di Spanyol sejak awal kariernya[92] dan mulai tahun 1931 menjadi jelas bahwa akan ada perang Eropa lainnya. Hemingway memprediksi perang akan terjadi pada akhir 1930-an. Baker menulis bahwa Hemingway tidak menduga Spanyol akan "menjadi semacam ajang uji coba internasional bagi Jerman, Italia, dan Rusia sebelum Perang Saudara Spanyol berakhir".[93] Meskipun Pauline merasa enggan, Hemingway menandatangani kontrak dengan North American Newspaper Alliance untuk meliput Perang Saudara Spanyol,[94] dan berlayar dari New York pada 27 Februari 1937.[95] Jurnalis dan penulis Martha Gellhorn menemani Hemingway. Ia telah bertemu dengannya di Key West setahun sebelumnya. Seperti Hadley, Martha adalah penduduk asli St. Louis dan, seperti Pauline, pernah bekerja untuk Vogue di Paris. Menurut Kert, Martha "tidak pernah memanjakannya seperti yang dilakukan wanita-wanita lain".[96]
Ia tiba di Spanyol pada bulan Maret bersama pembuat film Belanda Joris Ivens.[97] Ivens, yang sedang memfilmkan The Spanish Earth, berniat menggantikan John Dos Passos dengan Hemingway sebagai penulis naskah. Dos Passos telah meninggalkan proyek tersebut ketika temannya sekaligus penerjemah bahasa Spanyol José Robles ditangkap dan kemudian dieksekusi.[98] Insiden ini mengubah pandangan Dos Passos terhadap kaum republikan kiri, dan menyebabkan keretakan hubungan dengan Hemingway.[99] Sekembalinya ke AS pada musim panas itu, Hemingway menyiapkan jalur suara (soundtrack) untuk film tersebut. Film itu diputar di Gedung Putih pada bulan Juli.[100]

Pada akhir Agustus, ia kembali ke Prancis dan terbang dari Paris ke Barcelona lalu ke Valencia.[101] Pada bulan September, ia mengunjungi garis depan dalam Pertempuran Belchite dan kemudian lanjut ke Teruel.[102] Sekembalinya ke Madrid, Hemingway menulis satu-satunya naskah dramanya, The Fifth Column, saat kota itu sedang membara dibombardir oleh tentara Franco.[103] Ia kembali ke Key West selama beberapa bulan pada Januari 1938. Masa itu penuh frustrasi: ia merasa sulit menulis, cemas akan ulasan buruk untuk To Have and Have Not, bertengkar dengan Pauline, mengikuti berita dari Spanyol dengan penuh semangat, dan merencanakan perjalanan berikutnya.[104] Ia melakukan dua kali perjalanan ke Spanyol pada tahun 1938. Pada bulan November, ia mengunjungi lokasi Pertempuran Ebro, pertahanan terakhir kaum republikan, bersama jurnalis Inggris dan Amerika lainnya.[105] Mereka tiba dan mendapati jembatan terakhir telah hancur sehingga harus mundur menyeberangi Ebro yang bergolak dengan perahu dayung, dengan Hemingway sebagai pendayungnya, "mendayung sekuat tenaga demi menyelamatkan nyawa."[106][107] Pada awal 1939, Hemingway menyeberang ke Kuba dengan kapalnya untuk tinggal di Hotel Ambos Mundos di Havana. Ini adalah fase perpisahan dari keretakan hubungan yang berjalan lambat dan menyakitkan dengan Pauline, yang bermula ketika Hemingway bertemu Martha Gellhorn.[108] Martha segera menyusulnya dan mereka menyewa Finca Vigía ("Peternakan Pengintai"), sebuah properti seluas 15-ekar (61.000 m2) yang berjarak 15 mil (24 km) dari Havana. Musim panas itu ia mengunjungi Pauline dan anak-anaknya di Wyoming; saat itulah Pauline membawa anak-anak dan meninggalkannya. Setelah perceraiannya dengan Pauline rampung, ia menikahi Martha pada 20 November 1940, di Cheyenne.[109]
Hemingway mengikuti pola yang terbentuk setelah perceraiannya dengan Hadley dan pindah lagi. Ia membagi waktunya antara Kuba dan resor yang baru didirikan, Sun Valley.[110] Ia sedang mengerjakan For Whom the Bell Tolls, yang dimulainya pada Maret 1939 dan diselesaikannya pada Juli 1940.[110] Pola kerjanya adalah berpindah-pindah saat mengerjakan naskah, dan ia menulis For Whom the Bell Tolls di Kuba, Wyoming, dan Sun Valley.[108] Diterbitkan pada bulan Oktober itu,[110] buku tersebut menjadi pilihan book-of-the-month, terjual setengah juta eksemplar dalam hitungan bulan, dinominasikan untuk Penghargaan Pulitzer, dan sebagaimana digambarkan Meyers, "berhasil memulihkan reputasi sastra Hemingway secara gemilang".[111] Pada Januari 1941, Martha dikirim ke Tiongkok untuk tugas majalah Collier's.[112] Hemingway pergi bersamanya, mengirimkan kawat berita untuk surat kabar PM. Meyers menulis bahwa Hemingway tidak terlalu antusias dengan perjalanan itu maupun dengan Tiongkok,[112] Meskipun kawat beritanya untuk PM memberikan wawasan mendalam tentang Perang Tiongkok-Jepang menurut Reynolds, dengan analisis mengenai serbuan Jepang ke Filipina yang memicu "perang Amerika di Pasifik".[113] Pada bulan Agustus, Hemingway kembali ke Finca Vigía. Pada bulan September, ia berangkat ke Sun Valley.[114]
Perang Dunia II
Amerika Serikat memasuki kancah peperangan pasca-Serangan Pearl Harbor pada Desember 1941.[115] Kembali di Kuba, Hemingway memodifikasi Pilar menjadi Kapal-Q dan melakukan patroli untuk memburu U-boat Jerman.[note 4][19] Ia juga membentuk unit kontra-intelijen yang bermarkas di wisma tamunya untuk mengawasi kaum Falangis,[116] serta simpatisan Nazi.[117] Martha dan kawan-kawannya menganggap aktivitas Hemingway "tak lebih dari sekadar ulah iseng yang menghibur", tetapi FBI mulai memantaunya dan menghimpun berkas setebal 124 halaman.[note 5][118] Martha menginginkan Hemingway berada di Eropa sebagai jurnalis dan gagal memahami keengganannya untuk turut serta dalam kancah perang Eropa lainnya. Mereka kerap bertengkar sengit, dan Hemingway minum alkohol terlalu banyak,[119] hingga akhirnya Martha berangkat ke Eropa untuk meliput bagi majalah Collier's pada September 1943.[120] Dalam sebuah kunjungan ke Kuba pada Maret 1944, Hemingway bertindak intimidatif dan kasar terhadap Martha. Reynolds menulis bahwa "menilik kembali dari tahun 1960–61, [siapa pun] dapat mengatakan bahwa perilakunya merupakan perwujudan dari depresi yang kelak membinasakannya".[120] Beberapa minggu kemudian, ia menghubungi Collier's yang lantas menjadikannya koresponden garis depan mereka.[121] Ia berada di Eropa sejak Mei 1944 hingga Maret 1945.[122]

Ketika tiba di London, ia bertemu koresponden majalah Time Mary Welsh, yang seketika memikat hatinya. Martha terpaksa menyeberangi Atlantik menumpang kapal yang bermuatan bahan peledak karena Hemingway menolak membantunya mendapatkan pas pers untuk naik pesawat, dan setibanya di London, ia mendapati suaminya sedang dirawat di rumah sakit akibat gegar otak karena kecelakaan mobil. Martha bersikap acuh tak acuh terhadap kemalangannya; ia menuduh Hemingway sebagai penindas dan mengatakan bahwa hubungan mereka "selesai, benar-benar tamat".[123] Kali terakhir Hemingway melihat Martha adalah pada Maret 1945 saat ia bersiap kembali ke Kuba;[124] perceraian mereka rampung pada tahun itu juga.[123] Sementara itu, ia telah melamar Mary Welsh pada pertemuan ketiga mereka.[123]
Hemingway mengalami luka kepala serius yang membutuhkan 57 jahitan.[125] Kendati masih didera gejala gegar otak,[126] ia menyertai pasukan menuju Pendaratan Normandia dengan mengenakan perban kepala yang besar. Pihak militer memperlakukannya sebagai "kargo berharga" dan ia tidak diizinkan untuk mendarat.[127] Kapal pendarat yang ditumpanginya sudah berada dalam jarak pandang Pantai Omaha sebelum akhirnya berbalik arah karena gempuran musuh. Hemingway kelak menulis di Collier's bahwa ia bisa melihat "gelombang pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima dari [pasukan pendarat] tergeletak di tempat mereka gugur, tampak seperti begitu banyak bungkusan sarat muatan di hamparan kerikil datar antara laut dan perlindungan pertama".[128] Mellow menjelaskan bahwa, pada hari pertama itu, tak satu pun koresponden diizinkan mendarat dan Hemingway dibawa kembali ke kapal Dorothea Dix.[129] Pada akhir Juli, ia menggabungkan diri dengan "Resimen Infanteri ke-22 yang dikomandoi oleh Kol. Charles 'Buck' Lanham, saat pasukan itu melaju menuju Paris", dan Hemingway menjadi pemimpin de facto bagi sekelompok kecil milisi desa di Rambouillet, di luar Paris.[122] Paul Fussell berkomentar: "Hemingway mendapat masalah besar karena berperan selayaknya kapten infanteri bagi sekelompok orang Pejuang Perlawanan yang ia kumpulkan, sebab seorang koresponden tidak seharusnya memimpin pasukan, meskipun ia melakukannya dengan baik."[19] Tindakan ini melanggar Konvensi Jenewa, dan Hemingway dihadapkan pada dakwaan resmi; ia mengaku "lolos dari jerat hukum" dengan berdalih bahwa ia hanya memberikan nasihat.[130]
Ia hadir dalam peristiwa Pembebasan Paris oleh pasukan Prancis pada 25 Agustus; namun bertentangan dengan legenda yang beredar, ia bukanlah orang pertama yang memasuki kota, tidak pula ia membebaskan Ritz.[131] Selama di sana, ia mengunjungi Sylvia Beach dan bertemu Picasso bersama Mary Welsh, dan dalam suasana sukacita, ia memaafkan Gertrude Stein.[132] Menjelang akhir tahun tersebut, ia menyaksikan pertempuran sengit di Pertempuran Hutan Hürtgen.[131] Pada 17 Desember 1944, ia bertolak ke Luksemburg, kendati sedang sakit, untuk meliput Pertempuran Bulge. Namun, begitu ia tiba, Lanham merujuknya ke dokter, yang lantas mengopnamenya karena pneumonia; ia pulih seminggu kemudian, tetapi sebagian besar pertempuran telah usai.[130] Ia dianugerahi Bintang Perunggu atas keberaniannya pada tahun 1947, sebagai pengakuan karena telah berada "di bawah gempuran musuh di area pertempuran guna memperoleh gambaran situasi yang akurat".[19]
Kuba

Hemingway mengatakan bahwa dirinya "tak lagi produktif sebagai penulis" dari tahun 1942 hingga 1945.[133] Pada tahun 1946 ia menikahi Mary, yang mengalami kehamilan ektopik lima bulan kemudian. Keluarga Hemingway didera serangkaian kecelakaan dan masalah kesehatan pada tahun-tahun pascaperang: dalam sebuah kecelakaan mobil tahun 1945, lututnya cedera dan ia kembali mengalami luka di kepala. Beberapa tahun kemudian, Mary mengalami patah pergelangan kaki kanan dan kemudian kaki kirinya dalam serangkaian kecelakaan ski. Kecelakaan mobil pada tahun 1947 mengakibatkan Patrick menderita luka kepala, sakit parah, dan mengigau. Dokter di Kuba mendiagnosisnya dengan skizofrenia, dan mengirimnya untuk menjalani 18 sesi terapi elektrokonvulsif.[134]
Hemingway terperosok ke dalam depresi seiring berpulangnya sahabat-sahabat sastranya: pada tahun 1939 William Butler Yeats dan Ford Madox Ford; pada 1940 F. Scott Fitzgerald; pada 1941 Sherwood Anderson dan James Joyce; pada 1946 Gertrude Stein; dan tahun berikutnya pada 1947, Max Perkins, editor lama Hemingway di Scribner's sekaligus sahabatnya.[135] Selama periode ini, ia menderita sakit kepala parah, tekanan darah tinggi, masalah berat badan, dan akhirnya diabetes—yang sebagian besar merupakan dampak dari kecelakaan-kecelakaan sebelumnya dan kebiasaan minum alkohol berat selama bertahun-tahun.[136]
Pada Januari 1946, ia mulai mengerjakan Taman Eden, dan menyelesaikan 800 halaman pada bulan Juni.[note 6][137] Selama tahun-tahun pascaperang, ia juga mulai mengerjakan sebuah trilogi yang untuk sementara diberi judul "Tanah", "Laut", dan "Udara", yang ingin ia gabungkan dalam satu novel bertajuk Buku Laut (The Sea Book). Kedua proyek tersebut macet. Mellow menulis bahwa ketidakmampuan Hemingway untuk menulis merupakan "gejala dari masalah-masalahnya" selama tahun-tahun ini.[note 7][138]
Pada tahun 1948, Hemingway dan Mary bepergian ke Eropa dan tinggal di Venesia selama beberapa bulan. Selama di sana, Hemingway jatuh cinta pada Adriana Ivancich yang kala itu berusia 19 tahun. Hubungan cinta platonis ini mengilhami novel Di Seberang Sungai dan Masuk ke Pepohonan, yang ditulis di Kuba di tengah masa pertikaian dengan Mary, dan diterbitkan pada tahun 1950 dengan ulasan negatif.[139] Tahun berikutnya, lantaran murka atas sambutan para kritikus terhadap Across the River and Into the Trees, Hemingway menulis draf Lelaki Tua dan Laut dalam delapan minggu, seraya berkata bahwa itu adalah "karya terbaik yang bisa kutulis seumur hidupku".[136] Diterbitkan pada September 1952,[140] The Old Man and the Sea menjadi pilihan book-of-the-month, menjadikan Hemingway selebritas internasional, serta memenangkan Penghargaan Pulitzer pada Mei 1953. Pada bulan Juni, ia meninggalkan Kuba untuk perjalanan keduanya ke Afrika.[141][142]
Kecelakaan pesawat

Pada Januari 1954, sewaktu berada di Afrika, Hemingway mengalami cedera yang nyaris merenggut nyawanya dalam dua kecelakaan pesawat yang terjadi secara beruntun. Ia menyewa penerbangan wisata di atas Kongo Belgia sebagai hadiah Natal untuk Mary. Dalam perjalanan untuk memotret Air Terjun Murchison dari udara, pesawat itu menabrak tiang listrik yang sudah tak terpakai dan terpaksa melakukan pendaratan darurat. Hemingway menderita cedera pada punggung dan bahunya. Mary mengalami patah tulang rusuk dan syok. Setelah bermalam di semak belukar, mereka menyewa perahu di sungai dan tiba di Butiaba; di sana mereka bertemu dengan seorang pilot yang sedang mencari mereka. Pilot itu meyakinkan bahwa ia bisa menerbangkan mereka keluar, tetapi landasan pacunya terlalu kasar sehingga pesawat itu meledak dan terbakar. Mary dan sang pilot meloloskan diri melalui jendela yang pecah. Hemingway harus mendobrak keluar dengan menghantamkan kepalanya ke pintu hingga terbuka.[143]
Hemingway menderita luka bakar dan cedera kepala serius lainnya, yang menyebabkan cairan serebral bocor dari lukanya.[144] Mereka akhirnya tiba di Entebbe dan mendapati para wartawan sedang meliput berita kematian Hemingway. Ia memberikan penjelasan kepada para wartawan dan menghabiskan beberapa minggu berikutnya untuk memulihkan diri di Nairobi.[145] Terlepas dari luka-lukanya, Hemingway tetap menemani Patrick dan istrinya dalam ekspedisi memancing yang telah direncanakan pada bulan Februari, tetapi rasa sakit membuatnya menjadi mudah gusar dan sulit diajak bergaul.[146] Ketika kebakaran semak terjadi, ia kembali terluka, menderita luka bakar derajat dua pada kaki, bagian depan tubuh, bibir, tangan kiri, dan lengan kanan bawahnya.[147]
Beberapa bulan kemudian di Venesia, Mary melaporkan kepada teman-temannya mengenai kondisi cedera Hemingway selengkapnya: dua cakram tulang belakang retak, ginjal dan hati pecah, bahu terkilir, dan tengkorak retak.[146] Kecelakaan-kecelakaan ini mungkin telah memicu kemerosotan fisik yang terjadi setelahnya. Pasca-kecelakaan pesawat, Hemingway, yang selama ini merupakan "pecandu alkohol yang nyaris tak terkendali di sepanjang hidupnya, minum lebih banyak dari biasanya untuk melawan rasa sakit akibat luka-lukanya."[148]
Hadiah Nobel

Pada bulan Oktober 1954, Hemingway menerima Hadiah Nobel Sastra. Dengan rendah hati, ia mengatakan kepada pers bahwa Carl Sandburg, Isak Dinesen, dan Bernard Berenson lebih layak menerima penghargaan tersebut,[149] namun ia dengan senang hati menerima hadiah uangnya.[150] Mellow mengatakan Hemingway "sangat mendambakan Hadiah Nobel", tetapi ketika ia memenangkannya, beberapa bulan setelah kecelakaan pesawat dan liputan pers dunia mengenai peristiwa itu, "pasti ada kecurigaan yang tersisa di benak Hemingway bahwa berita kematiannya turut berperan dalam keputusan akademi."[151] Karena masih dalam masa pemulihan, ia memutuskan untuk tidak pergi ke Stockholm.[152] Sebagai gantinya, ia mengirimkan sebuah pidato untuk dibacakan, yang di dalamnya ia mendefinisikan kehidupan seorang penulis:
Menulis, pada kondisi terbaiknya, adalah kehidupan yang sunyi. Organisasi kepenulisan dapat meredakan kesepian seorang penulis, namun saya meragukan apakah hal itu dapat meningkatkan kualitas tulisannya. Ia tumbuh dalam status publik seiring ia menanggalkan kesepiannya, dan sering kali karyanya justru memburuk. Sebab ia melakukan pekerjaannya seorang diri, dan jika ia seorang penulis yang cukup baik, ia harus menghadapi keabadian, atau ketiadaan keabadian itu, setiap harinya.[153][154]
Sejak kepulangannya dari Afrika, Hemingway secara perlahan menulis "Jurnal Afrika"-nya.[note 8][155] Pada akhir tahun 1955 dan awal 1956, ia terbaring di tempat tidur akibat berbagai penyakit.[155] Ia diperintahkan untuk berhenti minum alkohol guna mengurangi kerusakan hati, nasihat yang awalnya ia turuti namun akhirnya ia abaikan.[156] Pada Oktober 1956, ia kembali ke Eropa dan menjenguk penulis Basque yang sedang sakit, Pio Baroja, yang meninggal beberapa minggu kemudian. Selama perjalanan itu, Hemingway kembali jatuh sakit dan dirawat karena berbagai penyakit termasuk penyakit hati dan tekanan darah tinggi.[157] Pada November 1956, saat tinggal di Paris, ia teringat pada peti-peti yang pernah ia simpan di Hotel Ritz pada tahun 1928 dan tidak pernah ia ambil kembali. Saat mengklaim kembali dan membuka peti-peti tersebut, Hemingway menemukan bahwa isinya penuh dengan buku catatan dan tulisan dari masa-masa ia tinggal di Paris. Gembira dengan penemuan itu, ketika kembali ke Kuba pada awal 1957, ia mulai membentuk karya yang ditemukan itu menjadi memoarnya, A Moveable Feast.[158] Pada tahun 1959, ia mengakhiri periode aktivitas yang intens: ia menyelesaikan A Moveable Feast (dijadwalkan rilis tahun berikutnya); membawa True at First Light hingga mencapai 200.000 kata; menambahkan bab-bab ke The Garden of Eden; dan mengerjakan Islands in the Stream. Tiga karya terakhir disimpannya dalam kotak deposit aman di Havana sementara ia memusatkan perhatian pada penyempurnaan A Moveable Feast. Reynolds mengklaim bahwa pada periode inilah Hemingway terperosok ke dalam depresi, yang tak pernah bisa ia pulihkan.[159]
Finca Vigía menjadi sesak dengan tamu dan turis, seiring pertimbangan Hemingway untuk pindah permanen ke Idaho. Pada tahun 1959, ia membeli sebuah rumah yang menghadap ke Sungai Big Wood, di luar Ketchum, dan meninggalkan Kuba—meskipun tampaknya ia tetap berhubungan baik dengan pemerintahan Castro, dengan mengatakan kepada The New York Times bahwa ia "senang" dengan keberhasilan Castro menggulingkan Batista.[160][161] Ia berada di Kuba pada November 1959, di antara waktu kepulangannya dari Pamplona dan perjalanan ke barat menuju Idaho, serta pada tahun 1960, untuk ulang tahunnya yang ke-61.[162]
Pada tahun 1960, ia dan Mary memutuskan untuk pergi setelah mendengar kabar bahwa Castro ingin menasionalisasi properti milik warga Amerika dan warga negara asing lainnya.[162] Pada 25 Juli 1960, keluarga Hemingway meninggalkan Kuba untuk terakhir kalinya, meninggalkan seni dan naskah-naskah di sebuah brankas bank di Havana. Pasca-Invasi Teluk Babi tahun 1961, Finca Vigía diambil alih oleh pemerintah Kuba, lengkap dengan koleksi sekitar 5.000 buku milik Hemingway.[163]
Idaho dan bunuh diri

Selepas meninggalkan Kuba, di Sun Valley, Hemingway terus mengerjakan ulang materi yang diterbitkan sebagai A Moveable Feast sepanjang tahun 1950-an.[158] Pada pertengahan 1959, ia mengunjungi Spanyol untuk melakukan riset bagi serangkaian artikel adu banteng yang dipesan oleh majalah Life.[164] Life hanya menginginkan 10.000 kata, tetapi naskah tersebut membengkak di luar kendali.[165] Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak mampu menata tulisannya, sehingga ia meminta A. E. Hotchner terbang ke Kuba untuk membantunya. Hotchner membantu memangkas artikel Life tersebut menjadi 40.000 kata, dan Scribner's menyetujui versi buku utuh (The Dangerous Summer) yang berisi hampir 130.000 kata.[166]
Hotchner mendapati Hemingway "sangat ragu-ragu, tidak terorganisasi, dan bingung",[167] serta sangat menderita akibat penglihatan yang kian memburuk.[168] Ia meninggalkan Kuba untuk terakhir kalinya pada 25 Juli 1960. Mary ikut bersamanya ke New York, tempat ia mendirikan kantor kecil dan mencoba bekerja namun gagal. Tak lama kemudian, ia meninggalkan New York, bepergian tanpa Mary ke Spanyol untuk difoto bagi sampul depan majalah Life. Beberapa hari kemudian, berita melaporkan bahwa ia sakit parah dan di ambang kematian; hal ini membuat Mary panik hingga ia menerima telegram darinya yang berbunyi, "Laporan palsu. Dalam perjalanan ke Madrid. Salam sayang Papa."[169]
Faktanya, ia memang sakit parah, dan meyakini dirinya berada di ambang gangguan jiwa.[166] Merasa kesepian, ia mengurung diri di tempat tidur selama berhari-hari, menarik diri dalam keheningan, meskipun angsuran pertama The Dangerous Summer diterbitkan di Life pada bulan September itu dan menuai ulasan positif.[170] Pada bulan Oktober, ia kembali ke New York; di sana ia menolak meninggalkan apartemen Mary karena menduga dirinya sedang diawasi. Mary segera membawanya ke Idaho, tempat mereka dijemput di stasiun kereta di Ketchum oleh dokter setempat, George Saviers.[166]
Ia mencemaskan masalah keuangan, merindukan Kuba, buku-bukunya, dan kehidupannya di sana, serta khawatir tidak akan pernah bisa kembali untuk mengambil naskah-naskah yang ia tinggalkan di brankas bank.[171] Ia yakin naskah-naskah yang kelak diterbitkan sebagai Islands in the Stream dan True at First Light telah hilang.[172] Ia menjadi paranoid, meyakini bahwa FBI sedang aktif memantau gerak-geriknya di Ketchum.[note 9][168] Mary tak sanggup merawat suaminya, dan bagi pria dari generasi Hemingway, mengakui bahwa dirinya menderita penyakit mental adalah hal yang tabu. Pada akhir November, Saviers menerbangkannya ke Mayo Clinic di Minnesota dengan dalih bahwa ia akan dirawat karena hipertensi.[171] Ia didaftarkan masuk menggunakan nama Saviers untuk menjaga kerahasiaan identitasnya.[170]
Meyers menulis bahwa "aura kerahasiaan menyelimuti perawatan Hemingway di Mayo" namun membenarkan bahwa ia dirawat dengan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebanyak 15 kali pada Desember 1960.[173] Reynolds memperoleh akses ke rekam medis Hemingway di Mayo, yang mendokumentasikan 10 sesi ECT. Para dokter di Rochester memberi tahu Hemingway bahwa keadaan depresi yang sedang dirawat itu mungkin disebabkan oleh penggunaan jangka panjang Reserpine dan Ritalin.[174] Mengenai terapi ECT tersebut, Hemingway berkata kepada Hotchner, "Apa gunanya merusak kepalaku dan menghapus ingatanku, yang merupakan modalku, dan membuatku gulung tikar? Itu adalah penyembuhan yang brilian, tapi kita kehilangan pasiennya."[175] Pada akhir Januari 1961 ia dipulangkan, sebagaimana ditulis Meyers, "dalam keadaan hancur". Saat diminta memberikan penghormatan untuk Presiden John F. Kennedy pada bulan Februari, ia hanya mampu menghasilkan beberapa kalimat setelah berusaha selama seminggu.
Beberapa bulan kemudian, pada 21 April, Mary memergoki Hemingway memegang senapan di dapur. Ia menelepon Saviers, yang lantas memasukkan Hemingway ke Rumah Sakit Sun Valley di bawah pengaruh obat penenang. Begitu cuaca cerah, Saviers terbang lagi ke Rochester bersama pasiennya itu.[176] Hemingway menjalani tiga perawatan kejut listrik selama kunjungan tersebut.[177] Ia diperbolehkan pulang pada akhir Juni dan tiba di rumahnya di Ketchum pada 30 Juni.
Dua hari kemudian, Hemingway "dengan sangat sengaja" menembak dirinya sendiri menggunakan senapan favoritnya pada dini hari tanggal 2 Juli 1961.[178] Meyers menulis bahwa ia membuka kunci gudang bawah tanah tempat senapan-senapannya disimpan, naik ke serambi depan, "memasukkan dua peluru ke dalam senapan Boss kaliber dua belas ... meletakkan ujung laras ke dalam mulutnya, menarik pelatuknya, dan menghancurkan otaknya."[179] Akan tetapi, pada tahun 2010, muncul argumen bahwa Hemingway tidak pernah memiliki senapan merek Boss dan bahwa senjata bunuh diri itu sebenarnya dibuat oleh W. & C. Scott & Son, senjata favoritnya yang digunakan dalam kompetisi menembak di Kuba, berburu bebek di Italia, atau saat safari di Afrika Timur.[180]

Ketika pihak berwenang tiba, Mary diberi obat penenang dan dibawa ke rumah sakit. Kembali ke rumah keesokan harinya, ia membersihkan rumah serta mengurus pemakaman dan pengaturan perjalanan. Bernice Kert menulis bahwa bagi Mary, "tampaknya bukan kebohongan yang disadari" ketika ia mengatakan kepada pers bahwa kematian suaminya adalah kecelakaan.[181] Dalam sebuah wawancara pers lima tahun kemudian, Mary membenarkan bahwa suaminya telah menembak dirinya sendiri.[182] Keluarga dan sahabat terbang ke Ketchum untuk menghadiri pemakaman, yang dipimpin oleh imam Katolik setempat, yang meyakini bahwa kematian itu adalah kecelakaan.[181] Seorang putra altar pingsan di bagian kepala peti mati selama pemakaman, dan saudara laki-laki Hemingway, Leicester, menulis: "Bagiku sepertinya Ernest akan menyetujui itu semua."[183]
Perilaku Hemingway selama tahun-tahun terakhirnya mirip dengan perilaku ayahnya sebelum bunuh diri;[184] ayahnya mungkin menderita hemokromatosis keturunan, di mana akumulasi zat besi yang berlebihan dalam jaringan berujung pada kemerosotan mental dan fisik.[185] Rekam medis yang dibuka pada tahun 1991 memastikan bahwa Hemingway telah didiagnosis menderita hemokromatosis pada awal 1961.[186] Saudari perempuannya, Ursula, dan saudara laki-lakinya, Leicester, juga tewas bunuh diri.[187]
Kesehatan Hemingway semakin diperparah oleh kebiasaan minum alkohol berat di sebagian besar hidupnya, yang memperburuk perilaku tak menentunya, dan cedera kepalanya meningkatkan efek alkohol tersebut.[136][188] Buku karya neuropsikiater Andrew Farah tahun 2017, Hemingway's Brain, menyajikan pemeriksaan forensik terhadap penyakit mental Hemingway. Dalam ulasannya terhadap buku Farah, Beegel menulis bahwa Farah mendalilkan Hemingway menderita kombinasi depresi, efek samping dari sembilan gegar otak serius, lalu, tulisnya, "Tambahkan alkohol dan aduk".[189] Farah menulis bahwa gegar otak Hemingway mengakibatkan ensefalopati traumatik kronis, yang pada akhirnya menyebabkan sejenis demensia, kemungkinan besar demensia dengan badan Lewy.[190] Ia mendasarkan hipotesisnya pada gejala-gejala Hemingway yang konsisten dengan DLB, seperti berbagai komorbiditas, dan khususnya delusi, yang muncul sejak akhir 1940-an dan nyaris tak tertahankan selama tahun-tahun terakhir di Ketchum.[191] Beegel menulis bahwa studi Farah meyakinkan dan "seharusnya mengakhiri spekulasi di masa depan".[189]
Gaya penulisan
Meneruskan tradisi yang dipancangkan oleh Mark Twain, Stephen Crane, Theodore Dreiser, dan Sinclair Lewis, Hemingway adalah seorang jurnalis sebelum menjadi novelis.[9] The New York Times menulis pada tahun 1926 mengenai novel pertama Hemingway, "Analisis sebanyak apa pun tidak akan mampu menyampaikan kualitas The Sun Also Rises. Ini adalah kisah yang benar-benar memikat, dituturkan dalam prosa naratif yang ramping, keras, dan atletis, yang membuat bahasa Inggris yang lebih bersastra tampak memalukan."[192] The Sun Also Rises ditulis dalam prosa yang hemat dan ketat yang melambungkan nama Hemingway, dan, menurut James Nagel, "mengubah sifat penulisan Amerika".[193]
Pada tahun 1954, ketika Hemingway dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, penghargaan itu diberikan atas "penguasaannya terhadap seni narasi, yang paling baru ditunjukkan dalam The Old Man and the Sea, dan atas pengaruh yang ia berikan pada gaya kontemporer."[194] Henry Louis Gates meyakini bahwa gaya Hemingway pada dasarnya terbentuk "sebagai reaksi terhadap pengalamannya dalam perang dunia". Pasca-Perang Dunia I, ia dan para penganut modernisme lainnya "kehilangan kepercayaan pada institusi-institusi sentral peradaban Barat" dengan bereaksi melawan gaya rumit para penulis abad ke-19 dan dengan menciptakan gaya "di mana makna dibangun melalui dialog, melalui tindakan, dan keheningan—sebuah fiksi di mana tidak ada hal krusial—atau setidaknya sangat sedikit—yang dinyatakan secara tersurat."[19]
Fiksi Hemingway kerap menggunakan struktur tata bahasa dan gaya dari bahasa-bahasa selain bahasa Inggris.[195] Kritikus Allen Josephs, Mimi Gladstein, dan Jeffrey Herlihy-Mera telah mengkaji bagaimana bahasa Spanyol memengaruhi prosa Hemingway,[195][196]. Ia juga sering menggunakan plesetan dwibahasa dan permainan kata lintas bahasa sebagai perangkat gaya.[197][198][199]
Jika seorang penulis prosa cukup mengetahui apa yang ia tulis, ia boleh menghilangkan hal-hal yang ia ketahui itu, dan pembaca, jika penulis tersebut menulis dengan cukup jujur, akan merasakan hal-hal tersebut sekuat seolah-olah penulis telah menyatakannya. Keagungan pergerakan gunung es disebabkan karena hanya seperdelapannya saja yang berada di atas permukaan air. Seorang penulis yang menghilangkan banyak hal karena ia tidak mengetahuinya hanya akan membuat ruang-ruang hampa dalam tulisannya.
—Ernest Hemingway dalam Mati di Tengah Hari[200]
Karena ia mengawali karier sebagai penulis cerita pendek, Baker meyakini Hemingway belajar untuk "mendapatkan hasil maksimal dari hal yang paling minimal, cara memangkas bahasa, cara melipatgandakan intensitas, dan cara menuturkan tak lain kecuali kebenaran dengan cara yang memungkinkan untuk menceritakan lebih dari sekadar kebenaran."[201] Hemingway menyebut gayanya sebagai teori gunung es: fakta-fakta mengapung di atas air; struktur pendukung dan simbolisme beroperasi di luar pandangan.[201] Konsep teori gunung es ini terkadang disebut sebagai "teori penghilangan". Hemingway percaya bahwa penulis dapat mendeskripsikan satu hal (seperti Nick Adams yang sedang memancing di "Big Two-Hearted River") meskipun ada hal yang sama sekali berbeda terjadi di bawah permukaan (Nick Adams berkonsentrasi pada memancing hingga ia tidak perlu memikirkan hal lain).[202]
Paul Smith menulis bahwa cerita-cerita pertama Hemingway, yang dikumpulkan dalam In Our Time, menunjukkan bahwa ia masih bereksperimen dengan gaya penulisannya,[203] dan ketika ia menulis tentang Spanyol atau negara lain, ia memasukkan kata-kata asing ke dalam teks, yang terkadang muncul langsung dalam bahasa lain, dicetak miring, seperti yang terjadi dalam Lelaki Tua dan Laut, atau dalam bahasa Inggris sebagai terjemahan harfiah.[204] Secara umum, ia menghindari sintaksis yang rumit. Sekitar 70 persen kalimatnya adalah kalimat tunggal tanpa subordinasi—sebuah struktur tata bahasa sederhana yang menyerupai kanak-kanak.[205]
Jackson Benson berpendapat bahwa Hemingway menggunakan detail otobiografi sebagai perangkat pembingkaian tentang kehidupan secara umum—bukan hanya tentang hidupnya sendiri. Sebagai contoh, Benson mendalilkan bahwa Hemingway menggunakan pengalamannya dan menariknya keluar dengan skenario "bagaimana jika": "bagaimana jika aku terluka sedemikian rupa hingga aku tidak bisa tidur di malam hari? Bagaimana jika aku terluka dan menjadi gila, apa yang akan terjadi jika aku dikirim kembali ke garis depan?"[206] Menulis dalam "The Art of the Short Story" (Seni Cerita Pendek), Hemingway menjelaskan: "Ada beberapa hal yang kutemukan benar adanya. Jika kau membuang hal-hal atau peristiwa penting yang kau ketahui, cerita itu akan semakin kuat. Jika kau membiarkan atau melewatkan sesuatu karena kau tidak mengetahuinya, cerita itu tidak akan berharga. Ujian bagi setiap cerita adalah seberapa bagus hal-hal yang kau, bukan editormu, hilangkan."[207]
Pada akhir musim panas tahun itu kami tinggal di sebuah rumah di desa yang memandang ke seberang sungai dan dataran hingga ke pegunungan. Di dasar sungai terdapat kerikil dan bongkahan batu, kering dan memutih di bawah matahari, dan airnya jernih serta bergerak deras dan biru di saluran-saluran. Pasukan melewati rumah dan menuruni jalan dan debu yang mereka timbulkan membedaki pepohonan.
—Paragraf pembuka Pertempuran Penghabisan yang memperlihatkan penggunaan kata dan oleh Hemingway[208]
Kesederhanaan prosanya bersifat menipu. Zoe Trodd meyakini Hemingway menyusun kalimat-kalimat yang ramping bak kerangka sebagai respons terhadap pengamatan Henry James bahwa Perang Dunia I "telah menghabiskan kata-kata". Hemingway menawarkan realitas fotografis yang "multifokus". Teori penghilangan gunung es-nya adalah fondasi tempat ia membangun cerita. Sintaksisnya, yang tidak memiliki konjungsi subordinatif, menciptakan kalimat-kalimat statis. Gaya "jepretan" (snapshot) fotografis menciptakan kolase citra. Banyak jenis tanda baca internal (titik dua, titik koma, garis pisah, tanda kurung) dihilangkan demi kalimat deklaratif yang pendek.[209]
Kalimat-kalimat tersebut saling bertumpuk, seiring peristiwa-peristiwa terbangun untuk menciptakan kesan keseluruhan. Beragam untaian hadir dalam satu cerita; sebuah "teks yang tersemat" menjembatani ke sudut pandang yang berbeda. Ia juga menggunakan teknik sinematik lainnya seperti "memotong" (cutting) dengan cepat dari satu adegan ke adegan berikutnya; atau "menyambung" (splicing) sebuah adegan ke dalam adegan lain. Penghilangan yang disengaja memungkinkan pembaca untuk mengisi celah tersebut, seolah-olah merespons instruksi dari penulis, dan menciptakan prosa tiga dimensi.[209] Kata sambung seperti "dan" biasanya digunakan sebagai pengganti koma, sebuah penggunaan polisindeton yang menyampaikan kesegeraan. Kalimat polisindeton Hemingway—atau dalam karya-karya selanjutnya penggunaan klausa subordinatif—menggunakan kata sambung untuk menjajarkan visi dan citra yang mengejutkan. Benson membandingkannya dengan haiku.[210][211]
Banyak pengikut Hemingway salah menafsirkan gayanya dan memandang sinis ekspresi emosi; Saul Bellow menyindir gaya ini sebagai "Apakah kau punya emosi? Cekiklah mereka."[212] Niat Hemingway bukanlah untuk menghilangkan emosi, melainkan untuk menggambarkannya secara realistis. Sebagaimana ia jelaskan dalam Death in the Afternoon: "Dalam menulis untuk surat kabar, kau menceritakan apa yang terjadi ... tetapi hal yang nyata, urutan gerak dan fakta yang menciptakan emosi tersebut dan yang akan tetap valid dalam setahun atau sepuluh tahun atau, dengan keberuntungan dan jika kau menyatakannya dengan cukup murni, selamanya, berada di luar jangkauanku". Ia mencoba mencapai penyampaian emosi dengan kolase citra.[213] Penggunaan citra sebagai korelasi objektif ini merupakan ciri khas Ezra Pound, T. S. Eliot, James Joyce, dan Marcel Proust.[214] Surat-surat Hemingway merujuk pada karya Proust Mencari Waktu yang Hilang beberapa kali selama bertahun-tahun, dan menunjukkan bahwa ia membaca buku itu setidaknya dua kali.[215]
Tema
Tulisan Hemingway mencakup tema-tema tentang cinta, perang, perjalanan, ekspatriasi, alam liar, dan kehilangan.[216] Kritikus Leslie Fiedler memandang tema yang ia definisikan sebagai "Tanah Keramat" (The Sacred Land)—Barat Amerika—diperluas dalam karya Hemingway hingga mencakup pegunungan di Spanyol, Swiss, dan Afrika, serta aliran sungai di Michigan. Barat Amerika diberi penghormatan simbolis dengan penamaan "Hotel Montana" dalam The Sun Also Rises dan For Whom the Bell Tolls.[217] Dalam Hemingway's Expatriate Nationalism, Jeffrey Herlihy mendeskripsikan "Arketipe Transnasional Hemingway" sebagai arketipe yang melibatkan karakter-karakter yang "multibahasa dan dwibudaya, serta telah mengintegrasikan norma-norma budaya baru dari komunitas tuan rumah ke dalam kehidupan sehari-hari mereka pada saat alur cerita dimulai."[218] Dengan cara ini, "skenario asing, alih-alih sekadar menjadi latar belakang eksotis atau lingkungan kosmopolitan, justru menjadi faktor pendorong dalam tindakan karakter".[219]
Dalam fiksi Hemingway, alam adalah tempat untuk kelahiran kembali dan peristirahatan; tempat di mana seorang pemburu atau nelayan mungkin mengalami momen transendensi pada saat mereka membunuh mangsanya.[220] Alam adalah tempat di mana laki-laki hadir tanpa perempuan: laki-laki memancing; laki-laki berburu; laki-laki menemukan penebusan di alam.[217] Meskipun Hemingway memang menulis tentang olahraga, seperti memancing, Carlos Baker mencatat bahwa penekanannya lebih pada sang atlet daripada olahraganya.[221] Pada intinya, sebagian besar karya Hemingway dapat dipandang dalam kerangka naturalisme Amerika, yang terlihat jelas dalam deskripsi mendetail seperti yang terdapat dalam "Big Two-Hearted River".[8]
Fiedler meyakini bahwa Hemingway membalikkan tema sastra Amerika mengenai "Wanita Kelam" (Dark Woman) yang jahat versus "Wanita Terang" (Light Woman) yang baik. Wanita kelam—Brett Ashley dari Matahari Juga Terbit—adalah seorang dewi; wanita terang—Margot Macomber dari "Singkat namun Bahagianya Hidup Francis Macomber"—adalah seorang pembunuh.[217] Robert Scholes mengatakan cerita-cerita awal Hemingway, seperti "Sebuah Cerita yang Sangat Pendek", menampilkan "karakter laki-laki secara menguntungkan dan perempuan secara tidak menguntungkan".[222] Menurut Rena Sanderson, para kritikus awal Hemingway memuji dunia yang berpusat pada laki-laki dengan pengejaran maskulinnya, dan fiksi tersebut membagi perempuan menjadi "pengebiri atau budak cinta". Kritikus feminis menyerang Hemingway sebagai "musuh masyarakat nomor satu", meskipun evaluasi ulang yang lebih baru terhadap karyanya "telah memberikan visibilitas baru pada karakter perempuan Hemingway (dan kekuatan mereka) serta telah mengungkapkan kepekaannya sendiri terhadap isu gender, sehingga meragukan asumsi lama bahwa tulisannya secara sepihak bersifat maskulin."[223] Nina Baym meyakini bahwa Brett Ashley dan Margot Macomber "adalah dua contoh luar biasa dari 'perempuan jalang' Hemingway."[224]
Dunia mematahkan setiap orang dan sesudahnya banyak yang menjadi kuat pada bagian-bagian yang patah itu. Namun, mereka yang tak bisa dipatahkan, akan dibunuhnya. Ia membunuh yang sangat baik, yang sangat lembut, dan yang sangat berani tanpa pandang bulu. Jika kau bukan salah satu dari mereka, kau bisa yakin dunia akan membunuhmu juga, namun tidak akan terburu-buru.
—Ernest Hemingway dalam Pertempuran Penghabisan[225]
Kematian meresap ke dalam sebagian besar karya Hemingway. Young meyakini penekanan pada kematian dalam "Indian Camp" tidak terlalu tertuju pada sang ayah yang bunuh diri, melainkan pada Nick Adams, yang menyaksikan peristiwa tersebut dan menjadi "pemuda yang sangat terluka batinnya dan gelisah". Young percaya bahwa arketipe dalam "Indian Camp" memegang "kunci utama" untuk "apa yang dilakukan penulisnya selama sekitar tiga puluh lima tahun karier menulisnya".[226] Stoltzfus menganggap karya Hemingway lebih kompleks dengan representasi kebenaran yang melekat dalam eksistensialisme: jika "ketiadaan" direngkuh, maka penebusan dicapai pada saat kematian. Mereka yang menghadapi kematian dengan bermartabat dan keberanian menjalani kehidupan yang autentik. Francis Macomber mati bahagia karena jam-jam terakhir hidupnya autentik; sang matador di dalam corrida mewakili puncak kehidupan yang dijalani dengan autentisitas.[220] Dalam makalahnya The Uses of Authenticity: Hemingway and the Literary Field, Timo Müller menulis bahwa fiksi Hemingway sukses karena para karakternya menjalani "kehidupan yang autentik", dan "para tentara, nelayan, petinju, dan orang pedalaman adalah di antara arketipe autentisitas dalam sastra modern".[227]
Emaskulasi atau pengebirian lazim ditemukan dalam karya Hemingway, terutama dalam God Rest You Merry, Gentlemen dan The Sun Also Rises. Emaskulasi, menurut Fiedler, adalah akibat dari generasi tentara yang terluka; dan dari generasi di mana wanita seperti Brett memperoleh emansipasi. Hal ini juga berlaku untuk karakter minor, Frances Clyne, kekasih Cohn di awal The Sun Also Rises. Karakternya mendukung tema tersebut bukan hanya karena gagasannya disajikan di awal novel, tetapi juga dampak yang ia berikan pada Cohn di permulaan buku meskipun hanya muncul beberapa kali.[217]
Dalam God Rest You Merry, Gentlemen, emaskulasi tersebut bersifat harfiah, dan berkaitan dengan rasa bersalah religius. Baker meyakini karya Hemingway menekankan pada yang "alami" versus yang "tidak alami". Dalam "Sebuah Idilis Alpen", "ketidakalamian" bermain ski di dataran tinggi pada salju akhir musim semi disandingkan dengan "ketidakalamian" seorang petani yang membiarkan mayat istrinya terlalu lama berada di gudang selama musim dingin. Para pemain ski dan petani itu mundur ke lembah menuju mata air "alami" untuk penebusan.[221]
Dalam beberapa dekade terakhir, para kritikus mencirikan karya Hemingway sebagai misoginis dan homofobia. Susan Beegel menganalisis kritik terhadap Hemingway selama empat dekade dan menemukan bahwa "kritikus yang tertarik pada multikulturalisme" begitu saja mengabaikan Hemingway. Tipikal dari analisis ini adalah ulasan mengenai The Sun Also Rises: "Hemingway tidak pernah membiarkan pembaca lupa bahwa Cohn adalah seorang Yahudi, bukan karakter tidak menarik yang kebetulan seorang Yahudi, tetapi karakter yang tidak menarik karena ia seorang Yahudi." Pada dekade yang sama, menurut Beegel, diterbitkan kritik yang menyelidiki "kengerian homoseksualitas" dan rasisme dalam fiksi Hemingway.[228] Dalam penilaian menyeluruh terhadap karya Hemingway, Beegel menulis: "Di sepanjang tubuh fiksinya yang luar biasa, ia menceritakan kebenaran tentang ketakutan manusia, rasa bersalah, pengkhianatan, kekerasan, kekejaman, kemabukan, kelaparan, keserakahan, apati, ekstase, kelembutan, cinta, dan nafsu."[229]
Pengaruh dan warisan

Warisan Hemingway bagi sastra Amerika adalah gayanya: para penulis yang datang setelahnya menirunya atau menghindarinya.[230] Setelah reputasinya mapan dengan penerbitan The Sun Also Rises, ia menjadi juru bicara bagi generasi pasca-Perang Dunia I, setelah menetapkan gaya untuk diikuti.[193] Buku-bukunya dibakar di Berlin pada tahun 1933, "karena menjadi monumen dekadensi modern", dan tidak diakui oleh orang tuanya karena dianggap sebagai "kotoran".[231] Reynolds menegaskan warisan itu adalah bahwa "[Hemingway] meninggalkan cerita dan novel yang begitu menggugah hingga beberapa di antaranya telah menjadi bagian dari warisan budaya kita."[232]
Benson meyakini detail kehidupan Hemingway telah menjadi "kendaraan utama bagi eksploitasi", yang menghasilkan industri Hemingway.[233] Sarjana Hemingway Hallengren [sv] meyakini "gaya hard-boiled" dan machismo harus dipisahkan dari sang penulis itu sendiri.[231] Benson setuju, menggambarkannya sebagai sosok introver dan tertutup seperti J. D. Salinger, meskipun Hemingway menutupi sifat aslinya dengan pembual.[234]
Selama Perang Dunia II, Salinger bertemu dan berkorespondensi dengan Hemingway, yang ia akui sebagai pengaruhnya. Dalam sebuah surat kepada Hemingway, Salinger mengklaim pembicaraan mereka "telah memberinya satu-satunya menit penuh harapan di sepanjang perang" dan dengan bercanda "mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua nasional Klub Penggemar Hemingway".[235] Pada tahun 2002, fosil ikan paruh dari Formasi Danata di Turkmenistan diberi nama Hemingwaya untuk menghormati Hemingway, yang secara menonjol menampilkan seekor marlin dalam Lelaki Tua dan Laut.[236]
Mary Hemingway mendirikan Yayasan Hemingway pada tahun 1965, dan pada tahun 1970-an, ia menyumbangkan dokumen-dokumen suaminya ke Perpustakaan John F. Kennedy. Pada tahun 1980, sekelompok sarjana Hemingway berkumpul untuk menilai dokumen yang disumbangkan tersebut, yang kemudian membentuk Masyarakat Hemingway (Hemingway Society), yang "berkomitmen untuk mendukung dan membina kesarjanaan Hemingway", serta menerbitkan The Hemingway Review.[237] Cucunya, Margaux Hemingway, adalah seorang supermodel dan aktris yang membintangi film tahun 1976 Lipstick bersama adik perempuannya, Mariel.[238][239] Kematiannya kemudian dinyatakan sebagai kematian akibat bunuh diri.[240]
Karya pilihan

Berikut adalah daftar karya yang diterbitkan oleh Ernest Hemingway semasa hidupnya. Kendati banyak dari tulisan-tulisannya di kemudian hari diterbitkan secara anumerta, karya-karya tersebut diselesaikan tanpa pengawasannya, berbeda halnya dengan karya-karya yang tercantum di bawah ini.
- Tiga Cerita dan Sepuluh Puisi (1923)
- in our time (1924)
- In Our Time (1925)
- Air Bah Musim Semi (1926)
- Matahari Juga Terbit (1926)
- Lelaki Tanpa Perempuan (1927)
- Pertempuran Penghabisan (1929)
- Mati di Tengah Hari (1932)
- Pemenang Tak Dapat Apa-apa (1933)
- Bukit-Bukit Hijau Afrika (1935)
- Punya dan Tak Punya (1937)
- Kolom Kelima dan Empat Puluh Sembilan Cerita Pertama (1938)
- Untuk Siapa Lonceng Berbunyi (1940)
- Di Seberang Sungai dan Masuk ke Pepohonan (1950)
- Lelaki Tua dan Laut (1952)
Lihat pula
Referensi
Catatan
- ↑ On awarding the medal, the Italians wrote of Hemingway: "Gravely wounded by numerous pieces of shrapnel from an enemy shell, with an admirable spirit of brotherhood, before taking care of himself, he rendered generous assistance to the Italian soldiers more seriously wounded by the same explosion and did not allow himself to be carried elsewhere until after they had been evacuated." See Mellow (1992), p. 61
- ↑ Clarence Hemingway menggunakan pistol Perang Saudara milik ayahnya untuk menembak dirinya sendiri. Lihat Meyers (1985), 2
- ↑ Ia kelak menjalani bedah penentuan ulang seks antara tahun 1988 dan 1994. Lihat Meyers (2020), 413
- ↑ Jerman menargetkan kapal-kapal yang meninggalkan kilang minyak Lago di Aruba yang mengangkut produk minyak ke Inggris; pada tahun 1942, lebih dari 250 kapal dihancurkan. Lihat Reynolds (2012), 336
- ↑ Ia terus berada di bawah pengawasan hingga akhir hayatnya. Lihat Meyers (1985), 384
- ↑ The Garden of Eden diterbitkan secara anumerta pada tahun 1986. Lihat Meyers (1985), 436
- ↑ Naskah untuk The Sea Book diterbitkan secara anumerta sebagai Kepulauan di Arus Sungai pada tahun 1970. Lihat Mellow (1992), 552
- ↑ Diterbitkan pada tahun 1999 sebagai True at First Light. Lihat Oliver (1999), 333
- ↑ FBI telah membuka berkas tentang dirinya selama Perang Dunia II, ketika ia menggunakan Pilar untuk berpatroli di perairan lepas pantai Kuba, dan J. Edgar Hoover menugaskan seorang agen di Havana untuk mengawasinya selama tahun 1950-an, lihat Mellow (1992), 597–598; dan tampaknya sedang memantau gerakannya pada saat itu, sebagaimana didokumentasikan seorang agen dalam surat yang ditulis beberapa bulan kemudian, pada Januari 1961, tentang Hemingway yang tinggal di klinik Mayo. lihat Meyers (1985), 543–544
Kutipan
- ↑ Oliver (1999), 140
- ↑ Oliver (1999), 134
- 1 2 3 Reynolds (2000), 17–18
- ↑ Meyers (1985), 4
- ↑ Meyers (1985), 9
- 1 2 3 Reynolds (2000), 19
- ↑ Meyers (1985), 3
- 1 2 Beegel (2000), 63–71
- 1 2 3 Meyers (1985), 19–23
- ↑ "Ernest Hemingway Remembrance Garden Historical Marker". www.hmdb.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal February 14, 2025.
- ↑ "Star style and rules for writing". The Kansas City Star. June 26, 1999. Diarsipkan dari asli tanggal April 8, 2014.
Below are excerpts from The Kansas City Star stylebook that Ernest Hemingway once credited with containing 'the best rules I ever learned for the business of writing.'
- ↑ Meyers (1985), 26
- ↑ Mellow (1992), 48–49
- ↑ Meyers (1985), 27–31
- ↑ Hutchisson (2016), 26
- 1 2 3 Mellow (1992), 57–60
- ↑ Hutchisson (2016), 28
- ↑ Baker (1981), 247
- 1 2 3 4 5 6 Putnam, Thomas (August 15, 2016). "Hemingway on War and Its Aftermath". archives.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 18, 2012. Diakses tanggal July 11, 2017.
- ↑ Desnoyers, 3
- ↑ Meyers (1985), 34, 37–42
- ↑ Meyers (1985), 37–42
- ↑ "William Dodge Horne Collection of Ernest Hemingway". Princeton University Library. Diakses tanggal April 25, 2025.
- ↑ Stamler, Jonathan (July 14, 2021). "Friends for Life: Alums' Recollections of Hemingway". Princeton Alumni Weekly. Princeton University. Diakses tanggal April 25, 2025.
- ↑ Worden, Darla (July–August 2021). "Quintessential America: Hemingway in the Bighorns". Quintessential Barrington. Diakses tanggal April 25, 2025.
- ↑ "William Dodge Horne Collection of Ernest Hemingway". UPenn Finding Aids. Princeton University Library, Department of Rare Books and Special Collections. Diakses tanggal April 25, 2025.
- 1 2 Meyers (1985), 45–53
- ↑ Reynolds (1998), 21
- ↑ Mellow (1992), 101
- 1 2 Meyers (1985), 56–58
- 1 2 3 Kert (1983), 83–90
- ↑ Oliver (1999), 139
- 1 2 3 Baker (1972), 7
- ↑ Meyers (1985), 60–62
- 1 2 3 Meyers (1985), 70–74
- ↑ Mellow (1991), 8
- ↑ Meyers (1985), 77
- ↑ Mellow (1992), 308
- 1 2 Reynolds (2000), 28
- ↑ Spanier, 558
- ↑ Meyers (1985), 77–81
- ↑ Meyers (1985), 82
- ↑ Reynolds (2000), 24
- ↑ Desnoyers, 5
- ↑ Meyers (1985), 69–70
- 1 2 Baker (1972), 15–18
- ↑ Meyers (1985), 126
- ↑ Baker (1972), 34
- ↑ Meyers (1985), 127
- ↑ Mellow (1992), 236
- ↑ Mellow (1992), 314
- ↑ Meyers (1985), 159–160
- ↑ Baker (1972), 30–34
- ↑ Meyers (1985), 117–119
- ↑ Nagel (1996), 89
- 1 2 Meyers (1985), 189
- ↑ Günther J. Wolf: Paradies ohne Wiederkehr. Hemingway im Montafon, 2000 (ASIN B00CU6Y0Q2)
- ↑ Reynolds (1989), vi–vii
- ↑ Mellow (1992), 328
- 1 2 Baker (1972), 44
- ↑ Mellow (1992), 302
- ↑ Meyers (1985), 192
- ↑ Baker (1972), 82
- ↑ Baker (1972), 43
- ↑ Mellow (1992), 333
- ↑ Mellow (1992), 338–340
- ↑ Meyers (1985), 172
- ↑ Meyers (1985), 173, 184
- ↑ Mellow (1992), 348–353
- ↑ Meyers (1985), 195
- ↑ Long (1932), 2–3
- ↑ Robinson (2005)
- ↑ Meyers (1985), 204
- ↑ "1920–1929". www.kumc.edu.
- ↑ Meyers (1985), 208
- ↑ Mellow (1992), 367
- ↑ dikutip dalam Meyers (1985), 210
- ↑ Meyers (1985), 215
- ↑ Mellow (1992), 378
- ↑ Baker (1972), 144–145
- ↑ Meyers (1985), 222
- ↑ Reynolds (2000), 31
- ↑ Oliver (1999), 144
- ↑ Meyers (1985), 222–227
- ↑ Mellow (1992), 376–377
- ↑ Mellow (1992), 424
- 1 2 Desnoyers, 9
- ↑ Mellow (1992), 337–340
- ↑ Meyers (1985), 280
- ↑ Meyers (1985), 292
- ↑ Beito, David T. (2025). FDR: A New Political Life (Edisi First). Chicago: Carus Books. hlm. 78–79. ISBN 978-1637700693.
- ↑ Baker (1972), 224
- ↑ Baker (1972), 227
- ↑ Mellow (1992), 488
- ↑ Muller (2019), 47.
- ↑ Kert (1983), 287–295
- ↑ Koch (2005), 87
- ↑ Meyers (1985), 311
- ↑ Koch (2005), 164
- ↑ Baker (1972), 233
- ↑ Muller (2019), 109
- ↑ Muller (2019), 135–138
- ↑ Koch (2005), 134
- ↑ Muller (2019), 155–161
- ↑ Meyers (1985), 321
- ↑ Muller (2019), 203
- ↑ Thomas (2001), 833
- 1 2 Meyers (1985), 326
- ↑ Lynn (1987), 479
- 1 2 3 Meyers (1985), 334
- ↑ Meyers (1985), 334–338
- 1 2 Meyers (1985), 356–361
- ↑ Reynolds (2012), 320
- ↑ Reynolds (2012), 324–328
- ↑ Reynolds (2012), 332–333
- ↑ Mellow (1992), 526–527
- ↑ Meyers (1985), 337
- ↑ Meyers (1985), 367
- ↑ Reynolds (2012), 364–365
- 1 2 Reynolds (2012), 368
- ↑ Reynolds (2012), 373–374
- 1 2 Meyers (1985), 398–405
- 1 2 3 Kert (1983), 393–398
- ↑ Meyers (1985), 416
- ↑ Farah (2017), 32
- ↑ Reynolds (2012), 377
- ↑ Meyers (1985), 400
- ↑ Reynolds (1999), 96–98
- ↑ Mellow (1992), 533
- 1 2 Lynn (1987), 518–519
- 1 2 Meyers (1985) 408–411
- ↑ Mellow (1992), 535–540
- ↑ dikutip dalam Mellow (1992), 552
- ↑ Meyers (1985), 420–421
- ↑ Mellow (1992) 548–550
- 1 2 3 Desnoyers, 12
- ↑ Meyers (1985), 436
- ↑ Mellow (1992), 552
- ↑ Meyers (1985), 440–452
- ↑ Reynolds (2012), 656
- ↑ Desnoyers, 13
- ↑ Meyers (1985), 489
- ↑ Reynolds (2012), 550
- ↑ Mellow (1992), 586
- ↑ Mellow (1992), 587
- 1 2 Mellow (1992), 588
- ↑ Meyers (1985), 505–507
- ↑ Beegel (1996), 273
- ↑ Lynn (1987), 574
- ↑ Baker (1972), 38
- ↑ Mellow (1992), 588–589
- ↑ Meyers (1985), 509
- ↑ "Ernest Hemingway The Nobel Prize in Literature 1954 Banquet Speech". The Nobel Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 2, 2018. Diakses tanggal December 10, 2009.
- ↑ "The Nobel Prize in Literature 1954". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal January 4, 2023.
- 1 2 Meyers (1985), 511
- ↑ Reynolds (2000), 291–293
- ↑ Meyers (1985), 512
- 1 2 Meyers (1985), 533
- ↑ Reynolds (1999), 321
- ↑ Mellow (1992), 494–495
- ↑ Meyers (1985), 516–519
- 1 2 Reynolds (2000), 332, 344
- ↑ Mellow (1992), 599
- ↑ Meyers (1985), 520
- ↑ Baker (1969), 553
- 1 2 3 Reynolds (1999), 544–547
- ↑ dikutip dalam Mellow (1992), 598–600
- 1 2 Meyers (1985), 542–544
- ↑ dikutip dalam Reynolds (1999), 546
- 1 2 Mellow (1992), 598–601
- 1 2 Reynolds (1999), 348
- ↑ Reynolds (1999), 354
- ↑ Meyers (1985), 547–550
- ↑ Reynolds (2000), 350
- ↑ Hotchner (1983), 280
- ↑ Meyers (1985), 551
- ↑ Reynolds (2000), 355
- ↑ Reynolds (2000), 16
- ↑ Meyers (1985), 560
- ↑ "Hemingway's Suicide Gun". Garden & Gun. October 20, 2010. Diakses tanggal July 21, 2024.
- 1 2 Kert (1983), 504
- ↑ Gilroy, Harry (August 23, 1966). "Widow Believes Hemingway Committed Suicide; She Tells of His Depression and His 'Breakdown' Assails Hotchner Book". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 26, 2021. Diakses tanggal July 11, 2017.
- ↑ Hemingway (1996), 14–18
- ↑ Burwell (1996), 234
- ↑ Burwell (1996), 14
- ↑ Burwell (1996), 189
- ↑ Oliver (1999), 139–149
- ↑ Farah, (2017), 43
- 1 2 Beegel, (2017), 122–124
- ↑ Farah, (2017), 39–40
- ↑ Farah, (2017), 56
- ↑ "Marital Tragedy". The New York Times. October 31, 1926. Diarsipkan dari asli tanggal January 26, 2021. Diakses tanggal January 4, 2023.
- 1 2 Nagel (1996), 87
- ↑ "The Nobel Prize in Literature 1954". The Nobel Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 26, 2018. Diakses tanggal March 7, 2010.
- 1 2 Josephs (1996), 221–235
- ↑ Herlihy-Mera, Jeffrey (2012). "Ernest Hemingway in Spain: He was a sort of Joke, in Fact". The Hemingway Review. 31: 84–100 https://www.academia.edu/1258702/Ernest_Hemingway_in_Spain_He_was_a_Sort_of_Joke_in_Fact. doi:10.1353/hem.2012.0004.
- ↑ Gladstein, Mimi (2006). "Bilingual Wordplay: Variations on a Theme by Hemingway and Steinbeck". The Hemingway Review. 26: 81–95 https://muse.jhu.edu/article/205022/summary. doi:10.1353/hem.2006.0047.
- ↑ Herlihy-Mera, Jeffrey (2017). "Cuba in Hemingway". The Hemingway Review. 36 (2): 8–41 https://www.academia.edu/33255402/Cuba_in_Hemingway. doi:10.1353/hem.2017.0001.
- ↑ Herlihy, Jeffrey (2009). "Santiago's Expatriation from Spain". The Hemingway Review. 28: 25–44 https://www.academia.edu/1548905/Santiagos_Expatriation_from_Spain_and_Cultural_Otherness_in_Hemingways_the_Old_Man_and_the_Sea. doi:10.1353/hem.0.0030.
- ↑ dikutip dalam Oliver (1999), 322
- 1 2 Baker (1972), 117
- ↑ Oliver (1999), 321–322
- ↑ Smith (1996), 45
- ↑ Gladstein (2006), 82–84
- ↑ Wells (1975), 130–133
- ↑ Benson (1989), 351
- ↑ Hemingway (1975), 3
- ↑ dikutip dalam Mellow (1992), 379
- 1 2 Trodd (2007), 8
- ↑ McCormick, 49
- ↑ Benson (1989), 309
- ↑ dikutip dalam Hoberek (2005), 309
- ↑ Hemingway, (1932), 11–12
- ↑ McCormick, 47
- ↑ Burwell (1996), 187
- ↑ Svoboda (2000), 155
- 1 2 3 4 Fiedler (1975), 345–365
- ↑ Herlihy (2011), 49
- ↑ Herlihy (2011), 3
- 1 2 Stoltzfus (2005), 215–218
- 1 2 Baker (1972), 120–121
- ↑ Scholes (1990), 42
- ↑ Sanderson (1996), 171
- ↑ Baym (1990), 112
- ↑ Hemingway, Ernest. (1929) A Farewell to Arms. New York: Scribner's
- ↑ Young (1964), 6
- ↑ Müller (2010), 31
- ↑ Beegel (1996), 282
- ↑ "Susan Beegel: What I like about Hemingway". kansascity.com. Diakses tanggal July 11, 2017.
- ↑ Oliver (1999), 140–141
- 1 2 Hallengren, Anders. "A Case of Identity: Ernest Hemingway". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal January 4, 2023.
- ↑ Reynolds (2000), 15
- ↑ Benson (1989), 347
- ↑ Benson (1989), 349
- ↑ Baker (1969), 420
- ↑ Ellis, Richard (April 15, 2013). Swordfish: A Biography of the Ocean Gladiator (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-92292-8.
- ↑ "Leadership". The Hemingway Society. April 18, 2021. Diarsipkan dari asli tanggal April 18, 2021. Diakses tanggal May 30, 2021.
Carl Eby Professor of English Appalachian State University, President (2020–2022); Gail Sinclair Rollins College, Vice President and Society Treasurer (2020–2022); Verna Kale The Pennsylvania State University, Ernest Hemingway Foundation Treasurer (2018–2020);
- ↑ Rainey, James (August 21, 1996). "Margaux Hemingway's Death Ruled a Suicide". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 16, 2019. Diakses tanggal April 1, 2016.
- ↑ Holloway, Lynette (July 3, 1996). "Margaux Hemingway Is Dead; Model and Actress Was 41". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal January 4, 2023.
- ↑ "Coroner Says Death of Actress Was Suicide". The New York Times (dalam bahasa American English). Associated Press. August 21, 1996. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal January 4, 2023.
- ↑ "New Hemingway sculpture idea was born decades ago in Cuba". Petoskey News-Review. September 8, 2021. Diakses tanggal April 27, 2025.
Sources
- Baker, Carlos. (1969). Ernest Hemingway: A Life Story. New York: Charles Scribner's Sons. ISBN 978-0-02-001690-8
- Baker, Carlos. (1972). Hemingway: The Writer as Artist. Princeton, NJ: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-01305-3
- Baker, Carlos. (1981). "Introduction" in Ernest Hemingway Selected Letters 1917–1961. New York: Scribner's. ISBN 978-0-684-16765-7
- Banks, Russell. (2004). "PEN/Hemingway Prize Speech". The Hemingway Review. Volume 24, issue 1. 53–60
- Baym, Nina. (1990). "Actually I Felt Sorry for the Lion", in Benson, Jackson J. (ed.), New Critical Approaches to the Short Stories of Ernest Hemingway. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-1067-9
- Beegel, Susan. (1996). "Conclusion: The Critical Reputation", in Donaldson, Scott (ed.), The Cambridge Companion to Ernest Hemingway. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-45574-9
- Beegel, Susan (2000). "Eye and Heart: Hemingway's Education as a Naturalist", in Wagner-Martin, Linda (ed.), A Historical Guide to Ernest Hemingway. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512152-0
- Beegel, Susan. (2017) "Review of Hemingway's Brain, by Andrew Farah". The Hemingway Review. Volume 37, no. 1. 122–127.
- Benson, Jackson. (1989). "Ernest Hemingway: The Life as Fiction and the Fiction as Life". American Literature. Volume 61, issue 3. 354–358
- Benson, Jackson. (1975). The Short Stories of Ernest Hemingway: Critical Essays. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-0320-6
- Burwell, Rose Marie. (1996). Hemingway: the Postwar Years and the Posthumous Novels. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-48199-1
- Desnoyers, Megan Floyd. "Ernest Hemingway: A Storyteller's Legacy" Diarsipkan August 23, 2016, di Wayback Machine.. John F. Kennedy Presidential Library Online Resources. John F. Kennedy Presidential Library and Museum. Retrieved November 30, 2011.
- Farah, Andrew. (2017). Hemingway's Brain. Columbia, SC: University of South Carolina Press. ISBN 978-1-61117-743-5
- Fiedler, Leslie. (1975). Love and Death in the American Novel. New York: Stein and Day. ISBN 978-0-8128-1799-7
- Gladstein, Mimi. (2006). "Bilingual Wordplay: Variations on a Theme by Hemingway and Steinbeck" The Hemingway Review Volume 26, issue 1. 81–95.
- Griffin, Peter. (1985). Along with Youth: Hemingway, the Early Years. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-503680-0
- Hemingway, Ernest. (1929). A Farewell to Arms. New York: Scribner. ISBN 978-1-4767-6452-8
- Hemingway, Ernest. (1932). Death in the Afternoon. New York. Scribner. ISBN 978-0-684-85922-4
- Hemingway, Ernest. (1975). "The Art of the Short Story", in Benson, Jackson (ed.), New Critical Approaches to the Short Stories of Ernest Hemingway. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-1067-9
- Hemingway, Leicester. (1996). My Brother, Ernest Hemingway. New York: World Publishing Company. ISBN 978-1-56164-098-0
- Herlihy, Jeffrey. (2011). Hemingway's Expatriate Nationalism. Amsterdam: Rodopi. ISBN 978-90-420-3409-9
- Hoberek, Andrew. (2005). Twilight of the Middle Class: Post World War II fiction and White Collar Work. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-691-12145-1
- Hotchner, A. E. (1983). Papa Hemingway: A personal Memoir. New York: Morrow. ISBN 9781504051156
- Hutchisson, James M. (2016). Ernest Hemingway: A New Life. Penn State University Press. ISBN 978-0-271-07534-1
- Josephs, Allen. (1996). "Hemingway's Spanish Sensibility", in Donaldson, Scott (ed.), The Cambridge Companion to Ernest Hemingway. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-45574-9
- Kert, Bernice. (1983). The Hemingway Women. New York: Norton. ISBN 978-0-393-31835-7
- Koch, Stephen. (2005). The Breaking Point: Hemingway, Dos Passos, and the Murder of Jose Robles. New York: Counterpoint. ISBN 978-1-58243-280-9
- Long, Ray – editor. (1932). "Why Editors Go Wrong: 'Fifty Grand' by Ernest Hemingway", 20 Best Stories in Ray Long's 20 Years as an Editor. New York: Crown Publishers. 1–3
- Lynn, Kenneth. (1987). Hemingway. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-38732-4
- McCormick, John (1971). American Literature 1919–1932. London: Routledge. ISBN 978-0-7100-7052-4
- Mellow, James. (1992). Hemingway: A Life Without Consequences. Boston: Houghton Mifflin. ISBN 978-0-395-37777-2
- Mellow, James. (1991). Charmed Circle: Gertrude Stein and Company. Boston: Houghton Mifflin. ISBN 978-0-395-47982-7
- Meyers, Jeffrey. (1985). Hemingway: A Biography. New York: Macmillan. ISBN 978-0-333-42126-0
- Meyers, Jeffrey. (2020). "Gregory Hemingway: Transgender Tragedy". American Imago, Volume 77, issue 2. 395–417
- Miller, Linda Patterson. (2006). "From the African Book to Under Kilimanjaro". The Hemingway Review, Volume 25, issue 2. 78–81
- Muller, Gilbert. (2019). Hemingway and the Spanish Civil War. Palgrave Macmillan. ISBN 978-3-030-28124-3
- Müller, Timo. (2010). "The Uses of Authenticity: Hemingway and the Literary Field, 1926–1936". Journal of Modern Literature. Volume 33, issue 1. 28–42
- Nagel, James. (1996). "Brett and the Other Women in The Sun Also Rises", in Donaldson, Scott (ed.), The Cambridge Companion to Ernest Hemingway. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-45574-9
- Oliver, Charles. (1999). Ernest Hemingway A to Z: The Essential Reference to the Life and Work. New York: Checkmark Publishing. ISBN 978-0-8160-3467-3
- Pizer, Donald. (1986). "The Hemingway: Dos Passos Relationship". Journal of Modern Literature. Volume 13, issue 1. 111–128
- Reynolds, Michael (2000). "Ernest Hemingway, 1899–1961: A Brief Biography", in Wagner-Martin, Linda (ed.), A Historical Guide to Ernest Hemingway. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512152-0
- Reynolds, Michael. (1999). Hemingway: The Final Years. New York: Norton. ISBN 978-0-393-32047-3
- Reynolds, Michael. (1989). Hemingway: The Paris Years. New York: Norton. ISBN 978-0-393-31879-1
- Reynolds, Michael. (1998). The Young Hemingway. New York: Norton. ISBN 978-0-393-31776-3
- Reynolds, Michael. (2012). Hemingway: The 1930s through the final years. New York: Norton. ISBN 978-0-393-34320-5
- Robinson, Daniel. (2005). "My True Occupation is That of a Writer: Hemingway's Passport Correspondence". The Hemingway Review. Volume 24, issue 2. 87–93
- Sanderson, Rena. (1996). "Hemingway and Gender History", in Donaldson, Scott (ed.), The Cambridge Companion to Ernest Hemingway. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-45574-9
- Scholes, Robert. (1990). "New Critical Approaches to the Short Stories of Ernest Hemingway", in Benson, Jackson J., Decoding Papa: 'A Very Short Story' as Work and Text. 33–47. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-1067-9
- Smith, Paul (1996). "1924: Hemingway's Luggage and the Miraculous Year", in Donaldson, Scott (ed.), The Cambridge Companion to Ernest Hemingway. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-45574-9
- Spanier, Sandra (ed.) et al. (2024), "The Letters of Ernest Hemingway Vol. 6 1934-1936." Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-89738-9
- Stoltzfus, Ben. (2005). "Sartre, 'Nada,' and Hemingway's African Stories". Comparative Literature Studies. Volume 42, issue 3. 205–228
- Svoboda, Frederic. (2000). "The Great Themes in Hemingway", in Wagner-Martin, Linda (ed.), A Historical Guide to Ernest Hemingway. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512152-0
- Thomas, Hugh. (2001). The Spanish Civil War. New York: Modern Library. ISBN 978-0-375-75515-6
- Trodd, Zoe. (2007). "Hemingway's Camera Eye: The Problems of Language and an Interwar Politics of Form". The Hemingway Review. Volume 26, issue 2. 7–21
- Trogdon, Robert W. "Forms of Combat: Hemingway, the Critics and Green Hills of Africa". The Hemingway Review. Volume 15, issue 2. 1–14
- Wells, Elizabeth J. (1975). "A Statistical Analysis of the Prose Style of Ernest Hemingway: Big Two-Hearted River", in Benson, Jackson (ed.), The Short Stories of Ernest Hemingway: Critical Essays. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-0320-6
- Young, Philip. (1964). Ernest Hemingway. St. Paul, MN: University of Minnesota. ISBN 978-0-8166-0191-2
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Ernest Hemingway pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Sumber pustaka mengenai Ernest Hemingway |
| By Ernest Hemingway |
|---|
Koleksi digital
- Karya buatan Ernest Hemingway dalam bentuk eBook di Standard Ebooks
- Lua error in Modul:Gutenberg at line 21: Parameter id is missing. See Template:Gutenberg author documentation.
- Karya Ernest Hemingway di Faded Page (Canada)
- Karya oleh/tentang Ernest Hemingway di Internet Archive (pencarian dioptimalkan untuk situs non-Beta)
- Karya Ernest Hemingway di LibriVox (buku suara domain umum)

Koleksi fisik
- Ernest Hemingway Collection at the John F. Kennedy Presidential Library and Museum
- Ernest Hemingway collection at the University of Maryland Libraries
- Ernest Hemingway Collection. Yale Collection of American Literature, Beinecke Rare Book and Manuscript Library.
- Ernest Hemingway's Collection at The University of Texas at Austin
- Finding aid to Adele C. Brockhoff letters, including Hemingway correspondence, at Columbia University. Rare Book & Manuscript Library.
- Hemingway legal files collection, 1899–1971 Manuscripts and Archives, New York Public Library.
- Maurice J. Speiser papers at the University of South Carolina Department of Rare Books and Special Collections
Jurnalisme
- "The Art of Fiction No. 21". The Paris Review. Spring 1958.
- Ernest Hemingway's journalism at The Archive of American Journalism
Biografi dan informasi lain
- Ernest Hemingway pada situs Nobelprize.org
- FBI Records: The Vault, Subject: Ernest Hemingway
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |