ENSIKLOPEDIA
Deinonychus
| Deinonychus | |
|---|---|
| Cetakan rangka yang dipasang, Field Museum | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Klad: | Dinosauria |
| Klad: | Saurischia |
| Klad: | Theropoda |
| Famili: | †Dromaeosauridae |
| Klad: | †Eudromaeosauria |
| Genus: | †Deinonychus Ostrom, 1969 |
| Spesies tipe | |
| †Deinonychus antirrhopus Ostrom, 1969 | |
| Sinonim | |
| |
Deinonychus (/daɪˈnɒnɪkəs/[4] dy-NON-ih-kəs; dari bahasa Yunani Kuno δεινός (deinós), artinya "mengerikan", dan ὄνυξ (ónux), genitif ὄνυχος (ónukhos), artinya "cakar") adalah sebuah genus dinosaurus teropoda dromaeosaurid dengan satu spesies yang telah dideskripsikan, Deinonychus antirrhopus. Spesies ini, yang dapat tumbuh hingga sepanjang 34 meter (112 ft), hidup pada Periode Kapur Awal dan Kapur Akhir, sekitar 115–93,9 juta tahun yang lalu (dari pertengahan tahap Aptium hingga Cenomanium). Fosil-fosilnya telah ditemukan di negara bagian Amerika Serikat seperti Montana, Utah, Wyoming, dan Oklahoma, di bebatuan Formasi Cloverly dan Formasi Antlers, meskipun gigi yang mungkin milik Deinonychus telah ditemukan jauh di sebelah timur, yaitu di Maryland.
Studi ahli paleontologi John Ostrom mengenai Deinonychus pada akhir tahun 1960-an merevolusi cara para ilmuwan berpikir tentang dinosaurus, yang mengarah pada "renaisans dinosaurus" dan memicu perdebatan mengenai apakah dinosaurus itu berdarah panas atau berdarah dingin. Sebelumnya, konsepsi populer mengenai dinosaurus adalah sebagai raksasa reptilia yang lamban. Ostrom mencatat tubuhnya yang kecil, ramping, postur horizontal, tulang belakang yang mirip dengan burung ratita, dan khususnya cakar raptorial yang membesar di kakinya, yang menunjukkan bahwa ia adalah predator yang aktif dan lincah.[5]
"Cakar yang mengerikan" merujuk pada cakar berbentuk sabit yang luar biasa besar di jari kaki kedua pada setiap kaki belakangnya. Fosil YPM 5205 mengawetkan ungual yang besar dan melengkung tajam. Semasa hidupnya, arkosauria memiliki selubung tanduk yang menutupi tulang ini, yang menambah panjangnya. Ostrom mengamati cakar buaya dan burung, lalu merekonstruksi cakar untuk YPM 5205 dengan panjang lebih dari 120 milimeter (4,7 in).[5] Nama spesies antirrhopus berarti "penyeimbang", yang merujuk pada gagasan Ostrom tentang fungsi ekornya. Seperti pada dromaeosaurid lainnya, tulang belakang ekornya memiliki serangkaian tendon yang menulang dan prosesus tulang yang sangat memanjang. Ciri-ciri ini tampaknya membuat ekornya menjadi penyeimbang yang kaku, tetapi fosil Velociraptor mongoliensis (IGM 100/986) yang berkerabat sangat dekat dengannya memiliki kerangka ekor bersendi yang melengkung ke arah lateral membentuk huruf S yang panjang. Hal ini menunjukkan bahwa, semasa hidupnya, ekor tersebut dapat ditekuk ke samping dengan tingkat kelenturan yang tinggi.[6] Baik di formasi Cloverly maupun Antlers, sisa-sisa Deinonychus telah ditemukan berdekatan dengan sisa-sisa ornitopoda Tenontosaurus. Gigi yang ditemukan bersama dengan spesimen Tenontosaurus menyiratkan bahwa mereka diburu, atau setidaknya dimakan bangkainya, oleh Deinonychus. Hal ini telah memicu perdebatan mengenai apakah Deinonychus hidup berkelompok atau soliter, dengan bukti baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka mungkin hidup berkelompok, meskipun tidak dalam kawanan seperti halnya mamalia.
Penemuan dan penamaan
Sisa-sisa fosil Deinonychus telah ditemukan di Formasi Cloverly di Montana dan Wyoming[5] serta di Formasi Antlers di Oklahoma yang kira-kira sezaman,[7] di Amerika Utara. Formasi Cloverly diperkirakan berasal dari tahap Aptium akhir hingga Albium awal pada periode Kapur awal, sekitar 115 hingga 108 juta tahun yang lalu.[8][9] Selain itu, gigi yang ditemukan di Fasies Lempung Arundel (Aptium pertengahan), dari Formasi Potomac di Dataran Pesisir Atlantik Maryland mungkin dapat digolongkan ke dalam genus ini.[10]
Sisa-sisa pertamanya ditemukan pada tahun 1931 di Montana selatan, di dekat kota Billings. Pemimpin tim tersebut, ahli paleontologi Barnum Brown, pada awalnya lebih berfokus pada penggalian dan penyiapan sisa-sisa dinosaurus ornitopoda Tenontosaurus, namun dalam laporan lapangannya dari situs penggalian kepada Museum Sejarah Alam Amerika, ia melaporkan penemuan dinosaurus karnivora kecil di dekat kerangka Tenontosaurus, "tetapi terbungkus dalam lapisan kapur yang sulit untuk dibersihkan."[11] Ia secara informal menyebut hewan itu "Daptosaurus agilis" dan membuat persiapan untuk mendeskripsikannya serta memamerkan kerangkanya, yaitu spesimen AMNH 3015, tetapi pekerjaan ini tidak pernah diselesaikannya.[12] Brown membawa pulang dari Formasi Cloverly kerangka teropoda yang lebih kecil dengan gigi yang tampak terlalu besar, yang secara informal ia beri nama "Megadontosaurus". John Ostrom, yang meninjau kembali materi ini beberapa dekade kemudian, menyadari bahwa gigi tersebut berasal dari Deinonychus, sementara kerangkanya berasal dari hewan yang sama sekali berbeda. Ia menamai kerangka ini Microvenator.[12]

Lebih dari tiga puluh tahun kemudian, pada bulan Agustus 1964, ahli paleontologi John Ostrom memimpin sebuah ekspedisi dari Museum Sejarah Alam Peabody di Yale yang menemukan lebih banyak material kerangka di dekat Bridger. Ekspedisi selama dua musim panas berikutnya menemukan lebih dari 1.000 tulang, yang di antaranya terdapat setidaknya tiga individu. Karena hubungan antara berbagai tulang yang ditemukan tersebut lemah, sehingga jumlah pasti individu hewan yang terwakili tidak mungkin ditentukan dengan baik, spesimen tipe (YPM 5205) dari Deinonychus dibatasi hanya pada kaki kiri yang lengkap dan sebagian kaki kanan yang sudah pasti berasal dari individu yang sama.[13] Spesimen yang tersisa dikatalogkan dalam lima puluh entri terpisah di Museum Peabody Yale meskipun tulang-tulang tersebut bisa saja berasal dari sedikitnya tiga individu.[13]
Studi selanjutnya oleh Ostrom dan Grant E. Meyer menganalisis materi mereka sendiri serta "Daptosaurus" temuan Brown secara terperinci dan mendapati bahwa keduanya merupakan spesies yang sama. Ostrom pertama kali menulis naskahnya menjelang bulan Desember 1968 dan secara resmi menerbitkan temuannya pada bulan Februari 1969, dengan memberikan nama baru Deinonychus antirrhopus untuk semua sisa-sisa fosil yang dirujuk tersebut. Nama spesifik "antirrhopus", dari bahasa Yunani ἀντίρροπος, berarti "penyeimbang" dan merujuk pada kemungkinan fungsi ekornya yang kaku.[14] Pada bulan Juli 1969, Ostrom menerbitkan sebuah monografi yang sangat ekstensif mengenai Deinonychus.[13]
Meskipun banyak tulang telah tersedia menjelang tahun 1969, banyak tulang penting yang hilang atau sulit diinterpretasikan. Hanya ada sedikit elemen tengkorak pascaorbital, tidak ada tulang paha (femur), tidak ada sakrum, tidak ada furkula atau tulang dada (sternum), tulang belakang yang hilang, dan (menurut Ostrom) hanya sebuah fragmen kecil dari korakoid. Rekonstruksi kerangka Deinonychus oleh Ostrom mencakup tulang panggul yang sangat tidak biasa—tulang pubis yang berbentuk trapesium dan pipih, tidak seperti teropoda lainnya, namun memiliki panjang yang sama dengan iskium dan ditemukan tepat di sebelahnya.[13]
Temuan lebih lanjut

Pada tahun 1974, Ostrom menerbitkan monografi lain mengenai bahu Deinonychus di mana ia menyadari bahwa tulang pubis yang sebelumnya ia deskripsikan sebenarnya adalah tulang korakoid—sebuah elemen bahu.[15] Pada tahun yang sama, spesimen Deinonychus lainnya, MCZ 4371, ditemukan dan digali di Montana oleh Steven Orzack selama ekspedisi Universitas Harvard yang dipimpin oleh Farish Jenkins. Penemuan ini menambahkan beberapa elemen baru: tulang paha (femur), pubis, dan sakrum yang terawetkan dengan baik, serta tulang ilium yang lebih utuh, beserta elemen tulang kaki (pes) dan metatarsus. Ostrom mendeskripsikan spesimen ini dan merevisi restorasi kerangka Deinonychus miliknya. Kali ini kerangka tersebut menunjukkan tulang pubis yang sangat panjang, dan Ostrom mulai menduga bahwa tulang-tulang tersebut mungkin sedikit menekuk ke belakang (retroversi) seperti pada burung.[16]

Sebuah kerangka Deinonychus, termasuk tulang-tulang dari spesimen asli (dan yang paling lengkap) AMNH 3015, dapat dilihat dipamerkan di American Museum of Natural History,[17] sementara spesimen lainnya (MCZ 4371) dipamerkan di Museum Zoologi Komparatif di Universitas Harvard. Spesimen American Museum dan Harvard tersebut berasal dari lokasi yang berbeda dengan spesimen Yale. Bahkan kedua susunan kerangka ini masih kekurangan sejumlah elemen, termasuk tulang dada (sterna), tulang rusuk sternal, furkula, dan gastralia.[18]
Bahkan setelah semua pekerjaan Ostrom tersebut, beberapa blok kecil material yang terbungkus kapur tetap belum dibersihkan dan tersimpan di American Museum. Blok-blok ini sebagian besar terdiri dari tulang-tulang dan fragmen tulang yang terisolasi, termasuk matriks aslinya, atau batuan di sekitarnya tempat spesimen tersebut awalnya terkubur. Pemeriksaan terhadap blok-blok yang belum dibersihkan ini oleh Gerald Grellet-Tinner dan Peter Makovicky pada tahun 2000 mengungkapkan sebuah fitur menarik yang sebelumnya terlewatkan. Beberapa tulang tipis dan panjang yang sebelumnya diidentifikasi pada blok-blok tersebut sebagai tendon yang menulang (struktur yang membantu menopang ekor Deinonychus menjadi kaku) ternyata merupakan gastralia (tulang rusuk perut). Yang lebih penting, sejumlah besar kulit telur fosil yang sebelumnya tidak disadari ditemukan di dalam matriks batuan yang mengelilingi spesimen asli Deinonychus.[19]
Dalam laporan selanjutnya yang lebih terperinci mengenai kulit telur tersebut, Grellet-Tinner dan Makovicky menyimpulkan bahwa telur itu hampir dapat dipastikan milik Deinonychus, yang mewakili telur dromaeosaurid pertama yang berhasil diidentifikasi.[11] Selain itu, permukaan luar dari satu cangkang telur ditemukan bersentuhan langsung dengan gastralia, yang menunjukkan bahwa Deinonychus mungkin telah mengerami telur-telurnya. Hal ini menyiratkan bahwa Deinonychus menggunakan perpindahan panas tubuh sebagai mekanisme untuk inkubasi telur, dan mengindikasikan kemampuan endotermi yang mirip dengan burung modern.[20] Studi lebih lanjut oleh Gregory Erickson dan rekan-rekannya menemukan bahwa individu ini berusia 13 atau 14 tahun saat mati dan pertumbuhannya telah mendatar. Berbeda dengan teropoda lain dalam studi mereka mengenai spesimen yang ditemukan bersama dengan telur atau sarang, individu ini telah berhenti tumbuh pada saat kematiannya.[21]
Implikasi
Deskripsi Ostrom mengenai Deinonychus pada tahun 1969 telah digambarkan sebagai penemuan tunggal paling penting dalam paleontologi dinosaurus pada pertengahan abad ke-20.[22] Penemuan predator yang jelas-jelas aktif dan lincah ini sangat berperan dalam mengubah konsepsi ilmiah (dan populer) mengenai dinosaurus dan membuka jalan bagi spekulasi bahwa beberapa dinosaurus mungkin berdarah panas. Perkembangan ini telah diistilahkan sebagai renaisans dinosaurus. Beberapa tahun kemudian, Ostrom mencatat kemiripan antara kaki depan Deinonychus dan kaki depan burung, sebuah pengamatan yang mendorongnya untuk menghidupkan kembali hipotesis bahwa burung adalah keturunan dinosaurus.[23] Empat puluh tahun kemudian, gagasan ini hampir diterima secara universal.
Karena anatominya yang sangat mirip burung dan kekerabatannya yang dekat dengan dromaeosaurid lain, para ahli paleontologi berhipotesis bahwa Deinonychus kemungkinan besar ditutupi oleh bulu.[24][25][26] Bukti fosil yang jelas mengenai bulu bergaya burung modern ada pada beberapa dromaeosaurid yang berkerabat, termasuk Velociraptor dan Microraptor, meskipun belum ada bukti langsung yang diketahui untuk Deinonychus itu sendiri.[27][28] Saat melakukan studi di bidang-bidang seperti rentang gerak pada tungkai depan, ahli paleontologi seperti Phil Senter telah mempertimbangkan kemungkinan adanya bulu sayap (seperti yang ada pada semua dromaeosauria yang diketahui memiliki cetakan kulit).[29]
Deskripsi
Berdasarkan pada beberapa spesimen yang telah dewasa sepenuhnya,[30] Paul memperkirakan bahwa Deinonychus dapat mencapai panjang 33–34 meter (108 ft 3 in – 111 ft 7 in), dengan panjang tengkorak 410 milimeter (16 in), tinggi pinggul 087 meter (285 ft), dan massa tubuh 60–73 kg (132–161 pon).[31][32] Campione dan rekan-rekannya mengusulkan perkiraan massa yang lebih tinggi yaitu 100 kg (220 pon) berdasarkan keliling tulang paha (femur) dan tulang lengan atas (humerus).[33]
Tengkoraknya dilengkapi dengan rahang kuat yang didereti sekitar tujuh puluh gigi melengkung yang menyerupai bilah pisau. Studi mengenai tengkoraknya telah mengalami banyak kemajuan selama beberapa dekade. Ostrom merekonstruksi tengkorak parsial yang tidak terawetkan dengan sempurna yang ia miliki sebagai bentuk segitiga, lebar, dan cukup mirip dengan Allosaurus. Material tengkorak tambahan dari Deinonychus dan spesies berkerabat dekat yang ditemukan dengan pengawetan tiga dimensi yang baik[34] menunjukkan bahwa langit-langit mulutnya lebih melengkung dari yang diperkirakan Ostrom, membuat moncongnya jauh lebih sempit, sementara tulang jugal melebar luas, memberikan penglihatan stereoskopis yang lebih baik. Akan tetapi, tengkorak Deinonychus berbeda dari tengkorak Velociraptor, di mana ia memiliki atap tengkorak yang lebih kokoh, seperti pada Dromaeosaurus, dan tidak memiliki tulang hidung (nasal) yang cekung seperti Velociraptor.[35] Baik tengkorak maupun rahang bawahnya memiliki fenestra (bukaan tengkorak) yang mengurangi berat tengkoraknya. Pada Deinonychus, fenestra antorbital, sebuah bukaan tengkorak di antara mata dan lubang hidung, berukuran sangat besar.[34]
Deinonychus memiliki "tangan" (manus) yang besar dengan tiga cakar pada masing-masing tungkai depan. Jari pertama adalah yang paling pendek dan jari kedua adalah yang paling panjang. Masing-masing kaki belakangnya memiliki cakar berbentuk sabit pada jari kedua, yang kemungkinan digunakan saat berburu mangsa.[13]
Belum ada cetakan kulit yang pernah ditemukan berkaitan dengan fosil Deinonychus. Meskipun demikian, bukti menunjukkan bahwa Dromaeosauridae, termasuk Deinonychus, memiliki bulu.[27] Genus Microraptor secara geologis lebih tua dan secara filogenetik lebih primitif daripada Deinonychus, serta berada di dalam famili yang sama.[36] Beberapa fosil Microraptor mengawetkan bulu pennaceous (berbaling-baling/berbendera) seperti pada burung modern di lengan, kaki, dan ekornya, bersama dengan bulu penutup (covert) dan bulu kontur.[27] Velociraptor secara geologis lebih muda daripada Deinonychus, tetapi memiliki kekerabatan yang lebih dekat. Sebuah spesimen Velociraptor telah ditemukan memiliki tonjolan pangkal bulu (quill knobs) pada tulang hasta (ulna). Tonjolan pangkal bulu adalah tempat melekatnya ligamen folikular, dan merupakan indikator langsung adanya bulu dengan aspek modern.[28]
Klasifikasi
Deinonychus antirrhopus adalah salah satu spesies dromaeosaurid yang paling dikenal,[37] dan juga kerabat dekat dari Velociraptor yang lebih kecil, yang ditemukan di formasi batuan berusia Kapur Akhir yang lebih muda di Asia Tengah.[38][39] Klad yang mereka bentuk disebut Velociraptorinae. Nama subfamili Velociraptorinae pertama kali dicetuskan oleh Rinchen Barsbold pada tahun 1983[40] dan pada awalnya hanya memuat genus tunggal Velociraptor. Belakangan, Phil Currie memasukkan sebagian besar dromaeosaurid ke dalamnya.[41] Dua genus dari Kapur Akhir, Tsaagan dari Mongolia[38] dan Saurornitholestes dari Amerika Utara,[31] mungkin juga merupakan kerabat dekat, namun genus yang disebut terakhir ini kurang begitu dipahami dan sulit untuk diklasifikasikan.[38] Velociraptor dan kerabatnya dianggap lebih mengandalkan cakar mereka dibandingkan tengkoraknya sebagai alat pembunuh, berlawanan dengan dromaeosaurinae seperti Dromaeosaurus, yang memiliki tengkorak lebih kekar.[31] Secara filogenetik, dromaeosaurid mewakili salah satu kelompok dinosaurus non-avialan yang berkerabat paling dekat dengan burung.[42] Kladogram di bawah ini mengikuti analisis tahun 2015 oleh para ahli paleontologi Robert DePalma, David Burnham, Larry Martin, Peter Larson, dan Robert Bakker, yang menggunakan data terbaru dari Theropod Working Group. Studi ini untuk saat ini mengklasifikasikan Deinonychus sebagai anggota dari Dromaeosaurinae.[43]

Sebuah studi tahun 2021 mengenai dromaeosaurid Kansaignathus mendapati Deinonychus sebagai velociraptorinae alih-alih dromaeosaurinae, dengan Kansaignathus menjadi bentuk basal peralihan yang lebih maju daripada Deinonychus namun lebih primitif daripada Velociraptor.[44][45] Kladogram di bawah ini menampilkan hubungan yang baru dideskripsikan tersebut:
Namun, sebuah studi pada tahun 2022 kembali mengklasifikasi ulang Deinonychus sebagai anggota basal dari Dromaeosaurinae.[46]
Paleobiologi
Perilaku pemangsaan

Pada tahun 2009, Manning dan rekan-rekannya menafsirkan ujung cakar dromaeosauria berfungsi sebagai elemen penusuk dan pencengkeram, sedangkan bagian belakang cakar yang melebar menyalurkan tekanan beban ke seluruh struktur tersebut.[47] Mereka berpendapat bahwa anatomi, bentuk, dan fungsi jari kedua kaki yang melengkung ke belakang serta cakar tangan dromaeosauria mendukung fungsi penangkapan/pencengkeraman mangsa dan pemanjatan. Tim tersebut juga menyarankan bahwa ligamen pengunci yang mirip dengan roda gigi searah (ratchet) mungkin telah menyediakan cara yang hemat energi bagi dromaeosauria untuk mengaitkan cakar jari kedua mereka yang melengkung ke dalam tubuh mangsanya. Pergeseran berat badan akan mengunci cakar tersebut secara pasif, memungkinkan rahang mereka untuk menghabisi mangsa. Mereka menyimpulkan bahwa peningkatan kemampuan memanjat pada dinosaurus dromaeosauria mendukung fase skansorial (memanjat) dalam evolusi kemampuan terbang.[47]
Pada tahun 2011, Denver Fowler dan rekan-rekannya mengusulkan sebuah metode baru mengenai bagaimana Deinonychus dan dromaeosauria lainnya mungkin menangkap dan menahan mangsanya.[48] Model ini, yang dikenal sebagai model pemangsaan "raptor prey restraint" (RPR) atau "pengekangan mangsa oleh raptor", mengusulkan bahwa Deinonychus membunuh mangsanya dengan cara yang sangat mirip dengan burung pemangsa aksipitrid yang masih ada saat ini: dengan melompat ke atas buruannya, menjepitnya menggunakan berat badannya, dan mencengkeramnya erat-erat dengan cakar besarnya yang berbentuk sabit. Seperti halnya aksipitrid, dromaeosauria kemudian akan mulai memakan hewan tersebut saat masih hidup, sampai akhirnya ia mati karena kehilangan darah dan kegagalan organ. Usulan ini terutama didasarkan pada perbandingan antara morfologi dan proporsi kaki serta tungkai dromaeosauria dengan beberapa kelompok burung pemangsa yang masih hidup dengan perilaku pemangsaan yang telah diketahui. Fowler menemukan bahwa kaki dan tungkai dromaeosauria paling mirip dengan elang dan rajawali, terutama dalam hal memiliki cakar kedua yang membesar dan rentang gerakan menggenggam yang serupa. Namun, metatarsus yang pendek dan kekuatan kakinya akan lebih mirip dengan burung hantu. Metode pemangsaan RPR ini akan konsisten dengan aspek lain dari anatomi Deinonychus, seperti morfologi rahang dan lengannya yang tidak biasa. Lengannya kemungkinan besar ditutupi oleh bulu-bulu yang panjang, dan mungkin telah digunakan sebagai penyeimbang yang dikepakkan untuk menjaga keseimbangan saat berada di atas mangsa yang meronta, bersamaan dengan ekor penyeimbangnya yang kaku. Rahangnya, yang diperkirakan memiliki kekuatan gigitan yang relatif lemah,[49] mungkin digunakan untuk gigitan dengan gerakan menggergaji, seperti komodo modern yang juga memiliki kekuatan gigitan yang lemah, untuk menghabisi mangsanya jika tendangannya tidak cukup kuat.[50] Pada tahun 2020, Powers dan rekan-rekannya menganalisis morfologi moncong dromaeosaurid dari Amerika Utara dan Asia. Temuan mereka menunjukkan bahwa maksila Deinonychus berukuran pendek dan dalam, menyerupai canid (keluarga anjing) bermoncong pendek, yang mengisyaratkan bahwa Deinonychus berspesialisasi pada mangsa yang lebih besar.[51] Pada tahun yang sama, analisis isotop yang dilakukan oleh Frederickson dan rekan-rekannya mendapati bahwa Deinonychus dewasa kemungkinan besar memakan Tenontosaurus hingga tingkat tertentu.[52]
Kekuatan gigitan

Perkiraan kekuatan gigitan untuk Deinonychus pertama kali dihasilkan pada tahun 2005, yang didasarkan pada rekonstruksi otot rahang. Studi ini menyimpulkan bahwa Deinonychus kemungkinan memiliki kekuatan gigitan maksimum hanya sebesar 15% dari gigitan aligator Amerika modern.[49] Sebuah studi pada tahun 2010 oleh Paul Gignac dan rekan-rekannya mencoba memperkirakan kekuatan gigitan tersebut secara langsung berdasarkan pada tanda tusukan gigi Deinonychus yang baru ditemukan pada tulang seekor Tenontosaurus. Tanda-tanda tusukan ini berasal dari individu yang besar, dan memberikan bukti pertama bahwa Deinonychus berukuran besar dapat menggigit hingga menembus tulang. Dengan menggunakan bekas gigi tersebut, tim Gignac mampu menentukan bahwa kekuatan gigitan Deinonychus secara signifikan lebih tinggi daripada yang diperkirakan oleh studi-studi sebelumnya yang hanya menggunakan studi biomekanik. Mereka mendapati kekuatan gigitan Deinonychus berada di antara 4.100 hingga 8.200 newton, lebih besar daripada mamalia karnivora yang masih hidup termasuk hiena, dan setara dengan aligator yang berukuran serupa.[53]
Akan tetapi, perkiraan ini mulai dipertanyakan, karena didasarkan pada bekas gigitan alih-alih pada tengkorak Deinonychus. Sebuah studi terbaru pada tahun 2022 menggunakan tengkorak Deinonychus untuk perkiraan mereka dan menghitung hasil sebesar 706 N (159 lbf).[54]
Namun demikian, Gignac dan rekan-rekannya juga mencatat bahwa tanda tusukan tulang dari Deinonychus relatif jarang ditemukan, dan tidak seperti teropoda yang lebih besar dengan banyak tanda tusukan yang diketahui seperti Tyrannosaurus, Deinonychus mungkin tidak sering menggigit hingga menembus atau memakan tulang. Sebaliknya, mereka mungkin menggunakan kekuatan gigitan yang kuat tersebut untuk pertahanan diri atau untuk menangkap mangsa, bukan untuk aktivitas memakan mangsa.[53]
Sebuah studi tahun 2024 oleh Tse, Miller, dan Pittman dkk., yang berfokus pada morfologi tengkorak dan kekuatan gigitan dari berbagai dromaeosaurid menemukan bahwa Deinonychus, takson terbesar yang diteliti, memiliki tengkorak yang beradaptasi dengan baik untuk memburu vertebrata besar dan memberikan gigitan yang kuat kepada mangsanya bersama dengan Dromaeosaurus, yang menjadi bahan perbandingannya. Dalam studi ini, Deinonychus menunjukkan spesialisasi yang paling ekstrem dibandingkan dengan dromaeosaurid lainnya dalam hal adaptasinya. Studi yang sama juga mengungkapkan bahwa tengkorak Deinonychus kurang tahan terhadap tekanan gigitan dibandingkan dengan Velociraptor, yang tampaknya lebih sering melakukan perilaku memakan bangkai (scavenging). Hal ini menunjukkan bahwa resistansi yang tinggi terhadap tekanan gigitan lebih umum terjadi pada taksa dromaeosaurid yang memperoleh makanan dengan cara memakan bangkai daripada yang terlibat dalam pemangsaan aktif. Temuan ini juga mengisyaratkan bahwa Deinonychus mungkin memakan mangsanya dengan menggunakan gerakan tarikan yang digerakkan oleh leher untuk memotong-motong bangkai, mirip dengan kadal varanid (biawak) modern.[55]
Paleobiologi
Perilaku pemangsaan

Pada tahun 2009, Manning dan rekan-rekannya menafsirkan ujung cakar dromaeosauria berfungsi sebagai elemen penusuk dan pencengkeram, sedangkan bagian belakang cakar yang melebar menyalurkan tekanan beban ke seluruh struktur tersebut.[47] Mereka berpendapat bahwa anatomi, bentuk, dan fungsi jari kedua kaki yang melengkung ke belakang serta cakar tangan dromaeosauria mendukung fungsi penangkapan/pencengkeraman mangsa dan pemanjatan. Tim tersebut juga menyarankan bahwa ligamen pengunci yang mirip dengan roda gigi searah (ratchet) mungkin telah menyediakan cara yang hemat energi bagi dromaeosauria untuk mengaitkan cakar jari kedua mereka yang melengkung ke dalam tubuh mangsanya. Pergeseran berat badan akan mengunci cakar tersebut secara pasif, memungkinkan rahang mereka untuk menghabisi mangsa. Mereka menyimpulkan bahwa peningkatan kemampuan memanjat pada dinosaurus dromaeosauria mendukung fase skansorial (memanjat) dalam evolusi kemampuan terbang.[47]
Pada tahun 2011, Denver Fowler dan rekan-rekannya mengusulkan sebuah metode baru mengenai bagaimana Deinonychus dan dromaeosauria lainnya mungkin menangkap dan menahan mangsanya.[48] Model ini, yang dikenal sebagai model pemangsaan "raptor prey restraint" (RPR) atau "pengekangan mangsa oleh raptor", mengusulkan bahwa Deinonychus membunuh mangsanya dengan cara yang sangat mirip dengan burung pemangsa aksipitrid yang masih ada saat ini: dengan melompat ke atas buruannya, menjepitnya menggunakan berat badannya, dan mencengkeramnya erat-erat dengan cakar besarnya yang berbentuk sabit. Seperti halnya aksipitrid, dromaeosauria kemudian akan mulai memakan hewan tersebut saat masih hidup, sampai akhirnya ia mati karena kehilangan darah dan kegagalan organ. Usulan ini terutama didasarkan pada perbandingan antara morfologi dan proporsi kaki serta tungkai dromaeosauria dengan beberapa kelompok burung pemangsa yang masih hidup dengan perilaku pemangsaan yang telah diketahui. Fowler menemukan bahwa kaki dan tungkai dromaeosauria paling mirip dengan elang dan rajawali, terutama dalam hal memiliki cakar kedua yang membesar dan rentang gerakan menggenggam yang serupa. Namun, metatarsus yang pendek dan kekuatan kakinya akan lebih mirip dengan burung hantu. Metode pemangsaan RPR ini akan konsisten dengan aspek lain dari anatomi Deinonychus, seperti morfologi rahang dan lengannya yang tidak biasa. Lengannya kemungkinan besar ditutupi oleh bulu-bulu yang panjang, dan mungkin telah digunakan sebagai penyeimbang yang dikepakkan untuk menjaga keseimbangan saat berada di atas mangsa yang meronta, bersamaan dengan ekor penyeimbangnya yang kaku. Rahangnya, yang diperkirakan memiliki kekuatan gigitan yang relatif lemah,[49] mungkin digunakan untuk gigitan dengan gerakan menggergaji, seperti komodo modern yang juga memiliki kekuatan gigitan yang lemah, untuk menghabisi mangsanya jika tendangannya tidak cukup kuat.[50] Pada tahun 2020, Powers dan rekan-rekannya menganalisis morfologi moncong dromaeosaurid dari Amerika Utara dan Asia. Temuan mereka menunjukkan bahwa maksila Deinonychus berukuran pendek dan dalam, menyerupai canid (keluarga anjing) bermoncong pendek, yang mengisyaratkan bahwa Deinonychus berspesialisasi pada mangsa yang lebih besar.[51] Pada tahun yang sama, analisis isotop yang dilakukan oleh Frederickson dan rekan-rekannya mendapati bahwa Deinonychus dewasa kemungkinan besar memakan Tenontosaurus hingga tingkat tertentu.[52]
Kekuatan gigitan

Perkiraan kekuatan gigitan untuk Deinonychus pertama kali dihasilkan pada tahun 2005, yang didasarkan pada rekonstruksi otot rahang. Studi ini menyimpulkan bahwa Deinonychus kemungkinan memiliki kekuatan gigitan maksimum hanya sebesar 15% dari gigitan aligator Amerika modern.[49] Sebuah studi pada tahun 2010 oleh Paul Gignac dan rekan-rekannya mencoba memperkirakan kekuatan gigitan tersebut secara langsung berdasarkan pada tanda tusukan gigi Deinonychus yang baru ditemukan pada tulang seekor Tenontosaurus. Tanda-tanda tusukan ini berasal dari individu yang besar, dan memberikan bukti pertama bahwa Deinonychus berukuran besar dapat menggigit hingga menembus tulang. Dengan menggunakan bekas gigi tersebut, tim Gignac mampu menentukan bahwa kekuatan gigitan Deinonychus secara signifikan lebih tinggi daripada yang diperkirakan oleh studi-studi sebelumnya yang hanya menggunakan studi biomekanik. Mereka mendapati kekuatan gigitan Deinonychus berada di antara 4.100 hingga 8.200 newton, lebih besar daripada mamalia karnivora yang masih hidup termasuk hiena, dan setara dengan aligator yang berukuran serupa.[53]
Akan tetapi, perkiraan ini mulai dipertanyakan, karena didasarkan pada bekas gigitan alih-alih pada tengkorak Deinonychus. Sebuah studi terbaru pada tahun 2022 menggunakan tengkorak Deinonychus untuk perkiraan mereka dan menghitung hasil sebesar 706 N (159 lbf).[56]
Namun demikian, Gignac dan rekan-rekannya juga mencatat bahwa tanda tusukan tulang dari Deinonychus relatif jarang ditemukan, dan tidak seperti teropoda yang lebih besar dengan banyak tanda tusukan yang diketahui seperti Tyrannosaurus, Deinonychus mungkin tidak sering menggigit hingga menembus atau memakan tulang. Sebaliknya, mereka mungkin menggunakan kekuatan gigitan yang kuat tersebut untuk pertahanan diri atau untuk menangkap mangsa, bukan untuk aktivitas memakan mangsa.[53]
Sebuah studi tahun 2024 oleh Tse, Miller, dan Pittman dkk., yang berfokus pada morfologi tengkorak dan kekuatan gigitan dari berbagai dromaeosaurid menemukan bahwa Deinonychus, takson terbesar yang diteliti, memiliki tengkorak yang beradaptasi dengan baik untuk memburu vertebrata besar dan memberikan gigitan yang kuat kepada mangsanya bersama dengan Dromaeosaurus, yang menjadi bahan perbandingannya. Dalam studi ini, Deinonychus menunjukkan spesialisasi yang paling ekstrem dibandingkan dengan dromaeosaurid lainnya dalam hal adaptasinya. Studi yang sama juga mengungkapkan bahwa tengkorak Deinonychus kurang tahan terhadap tekanan gigitan dibandingkan dengan Velociraptor, yang tampaknya lebih sering melakukan perilaku memakan bangkai (scavenging). Hal ini menunjukkan bahwa resistansi yang tinggi terhadap tekanan gigitan lebih umum terjadi pada taksa dromaeosaurid yang memperoleh makanan dengan cara memakan bangkai daripada yang terlibat dalam pemangsaan aktif. Temuan ini juga mengisyaratkan bahwa Deinonychus mungkin memakan mangsanya dengan menggunakan gerakan tarikan yang digerakkan oleh leher untuk memotong-motong bangkai, mirip dengan kadal varanid (biawak) modern.[57]
Fungsi tungkai

Meskipun menjadi ciri yang paling khas dari Deinonychus, bentuk dan kelengkungan cakar sabit tersebut bervariasi antar spesimen. Spesimen tipe yang dideskripsikan oleh Ostrom pada tahun 1969 memiliki cakar sabit yang melengkung tajam, sedangkan spesimen yang lebih baru yang dideskripsikan pada tahun 1976 memiliki cakar dengan kelengkungan yang jauh lebih lemah, profilnya lebih mirip dengan cakar 'normal' pada jari kaki lainnya.[16] Ostrom menduga bahwa perbedaan dalam ukuran dan bentuk cakar sabit ini bisa disebabkan oleh variasi individu, seksual, atau terkait usia, tetapi ia mengakui bahwa ia tidak dapat memastikannya.
Terdapat bukti anatomis[5] dan jalur jejak[58] bahwa cakar besar ini ditahan ke atas dari tanah saat dinosaurus tersebut berjalan dengan jari kaki ketiga dan keempat.
Ostrom berpendapat bahwa Deinonychus dapat menendang dengan cakar sabitnya untuk menyayat dan merobek mangsanya.[5] Beberapa peneliti bahkan menduga bahwa cakar tersebut digunakan untuk merobek perut dinosaurus ceratopsia besar.[59] Studi lain menunjukkan bahwa cakar sabit tersebut tidak digunakan untuk menyayat, melainkan untuk memberikan tusukan-tusukan kecil pada korbannya.[60] Pada tahun 2005, Manning dan rekan-rekannya menjalankan pengujian pada replika robotik yang sama persis dengan anatomi Deinonychus dan Velociraptor, dan menggunakan ram hidraulis untuk membuat robot tersebut menyerang bangkai babi. Dalam pengujian ini, cakar tersebut hanya membuat tusukan dangkal dan tidak dapat memotong atau menyayat. Para penulis menyarankan bahwa cakar tersebut akan lebih efektif untuk memanjat daripada untuk memberikan serangan mematikan. [61] Pada tahun 2009, Manning dan rekan-rekannya melakukan analisis tambahan mengenai fungsi cakar dromaeosauria, menggunakan pendekatan pemodelan numerik untuk menghasilkan peta tegangan/regangan elemen hingga 3D dari cakar tangan Velociraptor.[47] Mereka kemudian secara kuantitatif mengevaluasi perilaku mekanis cakar dromaeosauria beserta fungsinya. Mereka menyatakan bahwa cakar dromaeosauria beradaptasi dengan baik untuk memanjat karena tahan terhadap gaya yang bekerja pada bidang tunggal (longitudinal), yang disebabkan oleh gravitasi.
Ostrom membandingkan Deinonychus dengan burung unta dan kasuari. Ia mencatat bahwa spesies burung tersebut dapat menimbulkan cedera serius dengan cakar besarnya di jari kaki kedua.[5] Kasuari memiliki cakar dengan panjang mencapai 125 mm (4,9 in).[62] Ostrom mengutip Gilliard (1958) yang menyatakan bahwa mereka dapat memutus lengan atau merobek perut manusia.[63] Kofron (1999 dan 2003) mempelajari 241 serangan kasuari yang terdokumentasi dan mendapati bahwa satu manusia dan dua anjing telah terbunuh, tetapi tidak ada bukti bahwa kasuari dapat merobek perut atau memotong bagian tubuh hewan lain.[64][65] Kasuari menggunakan cakarnya untuk mempertahankan diri, menyerang hewan yang mengancam, dan dalam pertunjukan agonistik seperti Pertunjukan Ancaman Membungkuk (Bowed Threat Display).[62] Burung seriema juga memiliki cakar jari kaki kedua yang membesar, dan menggunakannya untuk mencabik-cabik mangsa kecil agar dapat ditelan.[66] Pada tahun 2011, sebuah studi menyarankan bahwa cakar sabit tersebut kemungkinan digunakan untuk menahan mangsa ke tanah sambil menggigitnya, alih-alih sebagai senjata penyayat.[48]

Studi biomekanis oleh Ken Carpenter pada tahun 2002 menegaskan bahwa kemungkinan besar fungsi tungkai depan dalam pemangsaan adalah untuk mencengkeram, karena panjangnya yang signifikan akan memungkinkan jangkauan yang lebih jauh daripada kebanyakan teropoda lainnya. Tulang korakoid yang agak besar dan memanjang, yang mengindikasikan adanya otot-otot kuat pada tungkai depan, semakin memperkuat interpretasi ini.[67] Studi biomekanis Carpenter yang menggunakan cetakan tulang juga menunjukkan bahwa Deinonychus tidak dapat melipat lengannya ke arah tubuhnya seperti burung ("lipatan burung"), bertentangan dengan apa yang disimpulkan dari deskripsi awal tahun 1985 oleh Jacques Gauthier[68] dan Gregory S. Paul pada tahun 1988.[31]
Studi oleh Phil Senter pada tahun 2006 mengindikasikan bahwa tungkai depan Deinonychus dapat digunakan tidak hanya untuk mencengkeram, tetapi juga untuk mendekap objek ke arah dada. Jika Deinonychus memiliki jari dan sayap yang berbulu, bulu-bulu tersebut akan membatasi rentang gerak tungkai depan sampai batas tertentu. Sebagai contoh, ketika Deinonychus merentangkan lengannya ke depan, 'telapak' tangannya secara otomatis berputar ke posisi menghadap ke atas. Hal ini akan menyebabkan satu sayap menghalangi sayap yang lain jika kedua tungkai depan direntangkan pada saat yang bersamaan, sehingga Senter menyimpulkan bahwa dekapan objek ke dada hanya dapat dilakukan dengan satu lengan pada satu waktu. Fungsi jari-jarinya juga akan dibatasi oleh bulu; misalnya, hanya jari ketiga pada tangan yang dapat digunakan dalam aktivitas seperti mengorek celah untuk mencari mangsa kecil, dan hanya dalam posisi tegak lurus terhadap sayap utama. [29] Alan Gishlick, dalam sebuah studi tahun 2001 mengenai mekanika tungkai depan Deinonychus, mendapati bahwa meskipun terdapat bulu sayap yang besar, kemampuan mencengkeram dari tangan tersebut tidak akan terhalang secara signifikan; melainkan, cengkeraman akan dilakukan secara tegak lurus terhadap sayap, dan objek kemungkinan besar akan dipegang oleh kedua tangan secara bersamaan seperti gaya "pelukan beruang", temuan yang telah didukung oleh studi tungkai depan selanjutnya oleh Carpenter dan Senter.[69] Dalam sebuah studi tahun 2001 yang dilakukan oleh Bruce Rothschild dan ahli paleontologi lainnya, 43 tulang tangan dan 52 tulang kaki yang merujuk pada Deinonychus diperiksa untuk mencari tanda-tanda fraktur stres; tidak ada yang ditemukan.[70] Tulang jari (falangs) kedua dari jari kaki kedua pada spesimen YPM 5205 memiliki patah tulang yang telah sembuh.[71]

Parsons dan Parsons telah menunjukkan bahwa spesimen remaja dan pradewasa (subadult) dari Deinonychus menampilkan beberapa perbedaan morfologis dibandingkan dengan individu dewasa. Sebagai contoh, lengan spesimen yang lebih muda secara proporsional lebih panjang daripada spesimen dewasa, yang mungkin merupakan indikasi adanya perbedaan perilaku antara individu muda dan dewasa.[72] Contoh lain dari hal ini dapat dilihat pada fungsi cakar kakinya. Parsons dan Parsons telah mengusulkan bahwa kelengkungan cakar (yang sebelumnya telah ditunjukkan Ostrom [1976] berbeda antar spesimen[16]) mungkin lebih besar pada Deinonychus remaja, karena ini dapat membantunya memanjat pohon, dan bahwa cakar tersebut menjadi lebih lurus saat hewan itu menua dan mulai hidup sepenuhnya di tanah.[73] Hal ini didasarkan pada hipotesis bahwa beberapa dromaeosaurid kecil menggunakan cakar kaki mereka untuk memanjat.[61]
Lokomosi
Dromaeosauridae, khususnya Deinonychus, sering digambarkan sebagai hewan pelari yang sangat cepat di media populer, dan Ostrom sendiri berspekulasi bahwa Deinonychus dapat bergerak lincah dalam deskripsi aslinya.[13] Namun, ketika pertama kali dideskripsikan, kaki Deinonychus yang utuh belum ditemukan, dan spekulasi Ostrom mengenai panjang femur (tulang tungkai atas) belakangan terbukti terlalu melebih-lebihkan (overestimasi). Dalam studi selanjutnya, Ostrom mencatat bahwa rasio femur terhadap tibia (tulang tungkai bawah) tidak sepenting panjang relatif kaki dan tungkai bawah dalam menentukan kecepatan. Pada burung pejalan cepat modern, seperti burung unta, rasio kaki-tibia adalah 0,95. Pada dinosaurus pelari yang luar biasa cepat, seperti Struthiomimus, rasionya adalah 0,68, tetapi pada Deinonychus rasionya adalah 0,48. Ostrom menyatakan bahwa "satu-satunya kesimpulan yang masuk akal" adalah bahwa Deinonychus, meskipun tidak lambat, tidaklah terlalu cepat dibandingkan dengan dinosaurus lain, dan tentu saja tidak secepat burung tak terbang modern.[16]
Rendahnya rasio kaki terhadap tungkai bawah pada Deinonychus sebagian disebabkan oleh metatarsus (tulang telapak kaki atas) yang sangat pendek. Rasio ini sebenarnya lebih besar pada individu yang lebih kecil daripada individu yang lebih besar. Ostrom mengusulkan bahwa metatarsus yang pendek mungkin berkaitan dengan fungsi cakar sabitnya, dan menggunakan fakta bahwa metatarsus tampak memendek seiring bertambahnya usia individu tersebut sebagai buktinya. Ia menginterpretasikan semua fitur ini—jari kaki kedua yang pendek dengan cakar yang membesar, metatarsus yang pendek, dan lain-lain—sebagai pendukung penggunaan tungkai belakang sebagai senjata penyerang, di mana cakar sabit akan menyerang ke bawah dan ke belakang, dan tungkai ditarik ke belakang dan ke bawah pada saat yang bersamaan, untuk menyayat dan merobek mangsanya. Ostrom menyatakan bahwa metatarsus yang pendek mengurangi tekanan keseluruhan pada tulang tungkai selama serangan semacam itu, dan menginterpretasikan susunan perlekatan otot yang tidak biasa pada kaki Deinonychus sebagai dukungan untuk gagasannya bahwa serangkaian otot yang berbeda digunakan dalam serangan mematikan tersebut dibandingkan dengan saat berjalan atau berlari. Oleh karena itu, Ostrom menyimpulkan bahwa tungkai Deinonychus mewakili keseimbangan antara adaptasi berlari yang diperlukan bagi pemangsa yang lincah, dan fitur pengurangan tekanan untuk mengkompensasi senjata kakinya yang unik.[16]

Dalam studinya pada tahun 1981 mengenai jejak kaki dinosaurus Kanada, Richard Kool menghasilkan perkiraan kasar kecepatan berjalan berdasarkan beberapa jalur jejak yang dibuat oleh spesies yang berbeda di Formasi Gething, British Columbia. Kool memperkirakan salah satu jalur jejak ini, yang mewakili iknospesies Irenichnites gracilis (yang mungkin dibuat oleh Deinonychus), memiliki kecepatan berjalan sekitar 10,1 kilometer per jam (6 mil per jam).[74]
Dalam sebuah makalah tahun 2015, dilaporkan setelah analisis lebih lanjut terhadap fosil-fosil yang belum dewasa (imatur) bahwa sifat sendi bahu yang terbuka dan bebas bergerak (mobile) mungkin mengindikasikan bahwa Deinonychus muda mampu melakukan semacam bentuk penerbangan.[75]
Pada tahun 2016, Scott Persons IV dan Currie meneliti proporsi tungkai dari banyak teropoda dan mendapati bahwa Dromaeosauridae bukanlah hewan kursorial karena skor CLP mereka yang rendah, dengan Deinonychus mencatat skor -2,2, yang menunjukkan bahwa mereka tidak dapat mempertahankan kecepatan tinggi untuk jangka waktu yang lama.[76]
Telur

Identifikasi pada tahun 2000 terhadap sebuah telur yang kemungkinan milik Deinonychus yang ditemukan bersama dengan salah satu spesimen asli, memungkinkan adanya perbandingan dengan dinosaurus teropoda lainnya dalam hal struktur telur, pembuatan sarang, dan reproduksi. Dalam pemeriksaan mereka terhadap spesimen tersebut pada tahun 2006, Grellet-Tinner dan Makovicky menelaah kemungkinan bahwa dromaeosaurid itu telah memakan telur tersebut, atau bahwa pecahan-pecahan telur tersebut ditemukan berdekatan dengan kerangka Deinonychus secara kebetulan. Mereka menepis gagasan bahwa telur itu merupakan makanan bagi sang teropoda, dengan mencatat bahwa pecahan-pecahannya terjepit di antara tulang rusuk perut dan tulang tungkai depan, sehingga tidak mungkin pecahan tersebut merupakan isi dari perut hewan itu. Selain itu, cara telur itu hancur dan terpecah belah menunjukkan bahwa telur itu masih utuh pada saat terkubur, dan pecah akibat proses fosilisasi. Gagasan bahwa telur tersebut secara acak berasosiasi dengan dinosaurus itu juga dirasa tidak mungkin; tulang-tulang yang mengelilingi telur itu tidak berserakan atau terlepas dari persendiannya, melainkan tetap cukup utuh secara relatif terhadap posisi mereka saat masih hidup, yang mengindikasikan bahwa area di sekitar dan yang mencakup telur tersebut tidak terganggu selama proses pengawetan. Fakta bahwa tulang-tulang ini adalah tulang rusuk perut (gastralia), yang sangat jarang ditemukan dalam keadaan bersendi, mendukung interpretasi ini. Semua bukti, menurut Grellet-Tinner dan Makovicky, menunjukkan bahwa telur tersebut masih utuh di bawah tubuh Deinonychus ketika ia terkubur. Ada kemungkinan bahwa ini mewakili perilaku mengerami atau bersarang pada Deinonychus yang mirip dengan apa yang terlihat pada kerabatnya yaitu troodontid dan oviraptorid, atau bahwa telur itu sebenarnya masih berada di dalam oviduk ketika hewan itu mati.[11]
Pemeriksaan terhadap mikrostruktur telur Deinonychus menegaskan bahwa telur tersebut milik seekor teropoda, karena ia berbagi karakteristik dengan telur teropoda lain yang telah diketahui dan menunjukkan perbedaan dengan telur ornitiskia dan sauropoda. Dibandingkan dengan teropoda maniraptora lainnya, telur Deinonychus lebih mirip dengan telur oviraptorid dibandingkan dengan telur troodontid, terlepas dari studi-studi yang menunjukkan bahwa kelompok yang disebut terakhir berkerabat lebih dekat dengan dromaeosaurid seperti Deinonychus. Meskipun telur tersebut hancur terlalu parah sehingga ukurannya tidak dapat ditentukan secara akurat, Grellet-Tinner dan Makovicky memperkirakan diameternya sekitar 7 cm (2,8 in) berdasarkan lebar saluran panggul yang harus dilalui oleh telur tersebut. Ukuran ini serupa dengan diameter 72 cm (28 in) dari telur Citipati (sejenis oviraptorid) yang paling besar; Citipati dan Deinonychus juga memiliki ukuran tubuh keseluruhan yang kurang lebih sama, yang memperkuat perkiraan ini. Selain itu, ketebalan cangkang telur Citipati dan Deinonychus hampir identik, dan karena ketebalan cangkang berkorelasi dengan volume telur, hal ini semakin mendukung gagasan bahwa telur dari kedua hewan ini berukuran kira-kira sama.[11]
Sebuah studi yang diterbitkan pada bulan November 2018 oleh Norell, Yang, dan Wiemann dkk., menunjukkan bahwa Deinonychus bertelur dengan telur berwarna biru, kemungkinan besar untuk menyamarkannya saat membuat sarang terbuka. Studi ini juga mengindikasikan bahwa Deinonychus dan dinosaurus lain yang membuat sarang terbuka kemungkinan mewakili asal mula warna pada telur burung modern sebagai adaptasi baik untuk pengenalan maupun penyamaran dari predator.[77][78][79]
Perilaku sosial
Para ilmuwan telah memperdebatkan apakah Deinonychus hidup berkelompok (gregarius) atau tidak.
Gigi Deinonychus yang ditemukan berasosiasi dengan fosil dinosaurus ornitopoda Tenontosaurus cukup umum di Formasi Cloverly. Dua situs penggalian telah ditemukan menyimpan fosil Deinonychus yang cukup lengkap di dekat fosil Tenontosaurus. Situs yang pertama, penggalian Yale di Cloverly, Montana, mencakup banyak gigi, empat Deinonychus dewasa, dan satu Deinonychus remaja. Keberadaan sejumlah kerangka Deinonychus secara bersamaan di satu lokasi penggalian ini menunjukkan bahwa Deinonychus mungkin memakan hewan tersebut, dan mungkin pula memburunya. Ostrom dan Maxwell bahkan menggunakan informasi ini untuk berspekulasi bahwa Deinonychus mungkin hidup dan berburu dalam kawanan.[80] Situs penggalian kedua semacam itu berasal dari Formasi Antlers di Oklahoma. Situs tersebut berisi enam kerangka parsial Tenontosaurus dengan berbagai ukuran, bersama dengan satu kerangka parsial dan banyak gigi Deinonychus. Satu tulang humerus (lengan atas) tenontosaurus bahkan memiliki apa yang mungkin merupakan bekas gigi Deinonychus. Brinkman et al. (1998) menunjukkan bahwa Deinonychus memiliki massa dewasa sekitar 70–100 kg (150–220 pon), sedangkan tenontosaurus dewasa berbobot 1–4 ton metrik. Seekor Deinonychus yang menyendiri tidak akan bisa membunuh tenontosaurus dewasa, yang menunjukkan bahwa perburuan secara berkawanan mungkin saja terjadi.[7]
Sebuah studi pada tahun 2007 oleh Roach dan Brinkman meragukan sifat berkelompok dan perilaku berburu koperatif dalam kawanan dari Deinonychus, berdasarkan pada apa yang diketahui mengenai perburuan karnivora modern dan tafonomi dari situs-situs tenontosaurus. Arkosauria modern (burung dan buaya) serta komodo biasanya hanya sedikit menunjukkan perburuan koperatif; sebaliknya, mereka biasanya menjadi pemburu soliter (penyendiri), atau tertarik pada bangkai yang telah dibunuh sebelumnya, di mana banyak konflik terjadi antara individu dari spesies yang sama. Sebagai contoh, dalam situasi di mana sekelompok komodo makan bersama, individu terbesar akan makan terlebih dahulu dan menyerang komodo yang lebih kecil yang mencoba makan; jika hewan yang lebih kecil tersebut terbunuh, ia akan dikanibal. Ketika informasi ini diterapkan pada situs-situs tenontosaurus, tampaknya apa yang ditemukan sejalan dengan kemungkinan bahwa Deinonychus memiliki strategi makan seperti komodo atau buaya. Sisa-sisa kerangka Deinonychus yang ditemukan di situs-situs tersebut berasal dari individu pradewasa (subadult), dengan bagian-bagian yang hilang yang konsisten dengan indikasi telah dimakan oleh Deinonychus lainnya.[81]
Bertentangan dengan klaim bahwa buaya tidak berburu secara koperatif, mereka sebenarnya telah diamati berburu secara koperatif, bahkan sampai pada titik di mana setiap individu mengambil peran yang berbeda selama perburuan.[82][83] Selain itu, terlepas dari kasus-kasus kanibalisme dan pertarungan sesamanya, beberapa spesies buaya seperti buaya nil, aligator amerika, dan pada tingkat tertentu buaya muara (yang telah dikenal karena perilakunya yang sangat agresif), dianggap relatif hidup berkelompok.[84][85][86][87] Hal ini lebih lanjut menunjukkan bahwa gagasan yang menganggap pertarungan sesama dan kanibalisme dapat meniadakan perilaku makan koperatif dan sifat berkelompok adalah keliru.
Currie dan Eberth mengkritik hipotesis ini dalam makalah mereka pada tahun 2010, karena banyak karnivora yang hidup berkelompok juga sangat tidak bertoleransi satu sama lain, namun terlepas dari hal tersebut, karnivora-karnivora ini tetap mengembangkan perilaku sosial yang kompleks.[88] Li et al. mendeskripsikan situs-situs jejak kaki dalam makalah mereka pada tahun 2007, mencatat jarak kaki yang serupa dan jalur jejak paralel, yang menyiratkan perilaku kawanan berkelompok alih-alih perilaku makan yang tidak terkoordinasi.[89]
Analisis isotop karbon pada gigi Deinonychus menunjukkan adanya sifat prekosialitas (kemandirian sejak lahir) pada genus ini. Isotop yang ditemukan pada spesimen dari berbagai kelompok usia mengindikasikan bahwa individu dewasa dan remajanya memiliki pola makan yang berbeda seiring berjalannya usia, yang menunjukkan serangkaian tahap kehidupan arkosauria yang lebih tipikal, di mana pemberian makan oleh induk kepada anaknya berakhir sebelum sang anak cukup besar untuk mempertahankan pola makan standar individu dewasa. Pemeriksaan ini juga menunjukkan tidak adanya perburuan dalam kawanan mirip mamalia[a] pada Deinonychus. Meskipun demikian, karena tidak adanya pemisahan ruang antara individu remaja dan dewasa, Deinonychus kemungkinan besar hidup berkelompok, memiliki toleransi sosial setidaknya setingkat buaya, alih-alih hubungan agonistik sepenuhnya seperti yang terlihat pada komodo. Mereka berpendapat bahwa karena beberapa individu dewasa memiliki nilai yang tumpang tindih dengan individu yang lebih kecil, Deinonychus mungkin tidak mempraktikkan perilaku monogami, dan sebaliknya mempraktikkan perawatan anak yang mirip dengan ratita.[52]
Paleolingkungan

Bukti geologis menunjukkan bahwa Deinonychus menghuni habitat dataran banjir atau yang menyerupai rawa.[37] Paleolingkungan dari Formasi Cloverly bagian atas maupun Formasi Antlers, di mana sisa-sisa Deinonychus telah ditemukan, terdiri dari hutan tropis atau sub-tropis, delta, dan laguna, yang mungkin mirip dengan lingkungan Louisiana pada zaman modern.[90][91] Hewan-hewan lain yang hidup berdampingan dengan Deinonychus di antaranya adalah dinosaurus herbivora seperti nodosauridae Sauropelta serta ornitopoda Zephyrosaurus dan Tenontosaurus. Di Oklahoma, ekosistem Deinonychus juga mencakup teropoda besar Acrocanthosaurus, sauropoda raksasa Sauroposeidon, buaya purba Goniopholis dan Paluxysuchus, serta ikan gar Lepisosteus.[91] Jika gigi yang ditemukan di Maryland memang milik Deinonychus, maka hewan-hewan yang sezaman dengannya juga mencakup sauropoda Astrodon dan nodosaurus yang belum banyak diketahui yaitu Priconodon. Bagian tengah Formasi Cloverly diperkirakan berusia mulai dari 115 ± 10 juta tahun yang lalu di dekat lapisan dasar[8][9] hingga 93 ± 8 juta tahun yang lalu di dekat lapisan teratas.[3]
Deinonychus menghuni lingkungan lembap dengan tutupan hutan yang luas. Selama subkala Albium, sebagian besar wilayah Amerika Utara diselimuti oleh hutan lebat yang terdiri dari kehidupan tumbuhan yang beragam. Kanopi hutan didominasi oleh pepohonan seperti pinus, kayu merah, araukaria, keirolepidiaseae, ginkgo, yew, taksodioid, atrotaksidoid, podokarpus, pohon plane (sycamore), magnolia, laurales, fabid, malvid, pakis Tempskyaceae, dan pakis Cyatheales.[92][93][94] Lantai hutan ditumbuhi lapisan bawah vegetasi yang kaya, terdiri dari palem,[95] sikas, sikadeoid, paku ekor kuda, pakis garpu, paku sarang burung, dan pakis Osmundaceae.[92][94] Area yang lebih terbuka akan menjadi rumah bagi pakis yang dikenal sebagai Ruffordia.[94][96] Tumbuhan-tumbuhan ini akan menopang hidup banyak jenis herbivora yang diburu oleh Deinonychus seperti Tenontosaurus.[97]
Signifikansi budaya

Deinonychus ditampilkan secara menonjol dalam novel karya Harry Adam Knight yang berjudul Carnosaur dan adaptasi filmnya, serta dalam novel-novel karya Michael Crichton yaitu Jurassic Park dan The Lost World, maupun dalam waralaba yang diadaptasi dari novel-novel tersebut. Crichton pada akhirnya memilih menggunakan nama Velociraptor untuk dinosaurus-dinosaurus ini, alih-alih Deinonychus. Crichton telah bertemu dengan John Ostrom beberapa kali selama proses penulisan untuk mendiskusikan detail kemungkinan rentang perilaku dan penampilan fisik Deinonychus saat hidup. Pada satu kesempatan, Crichton dengan nada meminta maaf mengatakan kepada Ostrom bahwa ia telah memutuskan untuk menggunakan nama Velociraptor sebagai pengganti Deinonychus untuk bukunya, karena ia merasa nama tersebut "lebih dramatis". Meskipun demikian, menurut Ostrom, Crichton menyatakan bahwa Velociraptor dalam novel tersebut didasarkan pada Deinonychus di hampir setiap detailnya, dan hanya namanya saja yang diubah.[98]
Para pembuat film Jurassic Park mengikuti jejak yang sama, dengan merancang model-model dalam film tersebut hampir seluruhnya berdasarkan pada Deinonychus dan bukan Velociraptor yang sebenarnya, dan mereka dilaporkan meminta semua makalah Ostrom yang telah dipublikasikan mengenai Deinonychus selama proses produksi.[98] Sebagai hasilnya, mereka menggambarkan dinosaurus di dalam film tersebut dengan proporsi dan bentuk moncong dari seekor Deinonychus besar.[5]
Utahraptor yang memiliki panjang 20-kaki-long (6,1 m) umumnya dianggap sebagai padanan yang lebih cocok untuk dinosaurus di film tersebut dari segi ukurannya, karena mereka lebih besar daripada spesimen-spesimen Deinonychus yang pernah hidup yang diketahui.[99][100]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Kawanan mirip mamalia dalam studi ini secara eksklusif merujuk pada kawanan serigala, karnivora berkelompok lainnya seperti singa, hiena tutul, dan dhole memiliki kelompok terstruktur yang jauh berbeda
Referensi
- ↑ "Mid-Mesozoic Field Conference Proceedings". The Age of Dinosaurs in Transition. 2014.
- ↑ Carpenter, Kenneth (2002). "Origins Of The Early And "Middle" Cretaceous Dinosaurs Of North America: Implications For Plate Tectonics". Proceedings of the International Symposium on New Concepts in Global Tectonics.
- 1 2 Oreska, Matthew P. J.; Carrano, Matthew T.; Dzikiewicz, Katherine M. (March 1, 2013). "Vertebrate paleontology of the Cloverly Formation (Lower Cretaceous), I: faunal composition, biogeographic relationships, and sampling". Journal of Vertebrate Paleontology. 33 (2): 264–292. Bibcode:2013JVPal..33..264O. doi:10.1080/02724634.2012.717567. ISSN 0272-4634.
- ↑ "deinonychus". Dictionary.com Unabridged. Random House.
- 1 2 3 4 5 6 7 Ostrom, John Harold (1970). "Stratigraphy and paleontology of the Cloverly Formation (Lower Cretaceous) of the Bighorn Basin area, Wyoming and Montana". Bulletin of the Peabody Museum of Natural History. 35: 1–234.
- ↑ Norell, Mark A.; Makovicky, Peter J. (1999). "Important features of the dromaeosaurid skeleton II: information from newly collected specimens of Velociraptor mongoliensis". American Museum Novitates (3282): 1–45. hdl:2246/3025.
- 1 2 Brinkman, D. L.; Cifelli, R. L.; Czaplewski, N. J. (1998). "First occurrence of Deinonychus antirrhopus (Dinosauria: Theropoda) from the Antlers Formation (Lower Cretaceous: Aptian–Albian) of Oklahoma". Oklahoma Geological Survey Bulletin. 146: 1–27.
- 1 2 Chen, Z.-Q.; Lubin, S. (1997). "A fission track study of the terrigenous sedimentary sequences of the Morrison and Cloverly Formations in northeastern Bighorn Basin, Wyoming". The Mountain Geologist. 34: 51–62.
- 1 2 Burton, D.; Greenhalgh, B.W.; Britt, B.B.; Kowallis, B.J.; Elliott, W.S.; Barrick, R. (2006). "New radiometric ages from the Cedar Mountain Formation, Utah and the Cloverly Formation, Wyoming: implications for contained dinosaur faunas". Geological Society of America Abstracts with Programs. 38 (7): 52.
- ↑ Lipka, T. R. (1998). "The Affinities of the Enigmatic Theropods of the Arundel Clay Facies (Aptian), Potomac Formation, Atlantic Coastal Plain of Maryland". Dalam Lucas, S.G.; Kirkland, J.I.; Estep, J.W. (ed.). Lower and Middle Cretaceous Terrestrial Ecosystems. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 14. Albuquerque: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 229–234. OCLC 40283894.
- 1 2 3 4 Grellet-Tinner, G.; Makovicky, P. (2006). "A possible egg of the dromaeosaur Deinonychus antirrhopus: phylogenetic and biological implications". Canadian Journal of Earth Sciences. 43 (6): 705–719. Bibcode:2006CaJES..43..705G. doi:10.1139/E06-033.
- 1 2 Norell, M. A.; Gaffney, E. S.; Dingus, L. (1995). Discovering Dinosaurs in the American Museum of Natural History. New York: Knopf. hlm. 126–130. ISBN 978-0-679-43386-6.
- 1 2 3 4 5 6 Ostrom, J. H. (1969). "Osteology of Deinonychus antirrhopus, an unusual theropod from the Lower Cretaceous of Montana". Peabody Museum of Natural History Bulletin. 30: 1–165.
- ↑ Ostrom, John Harold (1969). "A new theropod dinosaur from the Lower Cretaceous of Montana". Postilla. 128: 1–17. S2CID 73680223.
- ↑ Ostrom, John H. (1974). "The Pectoral Girdle and Forelimb Function of Deinonychus (Reptilia: Saurischia): A Correction". Postilla, Peabody Museum of Natural History Bulletin. 165: 1–11.
- 1 2 3 4 5 Ostrom, J.H. (1976). "On a new specimen of the Lower Cretaceous theropod dinosaur Deinonychus antirrhopus". Breviora. 439: 1–21.
- ↑ American Museum of Natural History (2007). "Deinonychus". American Museum of Natural History. Diarsipkan dari asli tanggal August 12, 2007. Diakses tanggal July 13, 2007.
- ↑ Parsons, W.L. & K.M. (2009). "Further Descriptions of the Osteology of Deinonychus antirrhopus (Saurischia, Theropoda)". Bulletin of the Buffalo Society of Natural Sciences. 38.
- ↑ Makovicky, P.J.; Grellet-Tinner, G. (2000). "Association between a specimen of Deinonychus antirrhopus and theropod eggshell". Dalam Bravo, A.M.; T. Reyes (ed.). First international symposium on dinosaur eggs and babies, Isona i Conca Dellà Catalonia, Spain, 23–26 September 1999. hlm. 123–128.
- ↑ Grellet-Tinner, Gerard (2006). "Oology And The Evolution Of Thermophysiology In Saurischian Dinosaurs: Homeotherm And Endotherm Deinonychosaurians?". Papéis Avulsos de Zoologia. 46 (1): 1–10. doi:10.1590/S0031-10492006000100001.
- ↑ Erickson, Gregory M.; Curry Rogers, Kristina; Varricchio, David J.; Norell, Mark A.; Xu, Xing (2007). "Growth patterns in brooding dinosaurs reveals the timing of sexual maturity in non-avian dinosaurs and genesis of the avian condition". Biology Letters. 3 (5): 558–61. doi:10.1098/rsbl.2007.0254. PMC 2396186. PMID 17638674.
- ↑ Fastovsky, D.E.; Weishampel, D.B. (2005). "Theropoda I: Nature Red in Tooth and Claw". Dalam Fastovsky, D.E.; Weishampel, D.B. (ed.). The Evolution and Extinction of the Dinosaurs (Edisi 2nd). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 265–299. ISBN 978-0-521-81172-9.
- ↑ Ostrom, J. H. (1976). "Archaeopteryx and the origin of birds" (PDF). Biological Journal of the Linnean Society. 8 (2): 91–182. doi:10.1111/j.1095-8312.1976.tb00244.x.
- ↑ Bakker, R.T. (1986). The Dinosaur Heresies. Kensington Publishing. hlm. 310. ISBN 978-0-8065-2260-9.
- ↑ Long, J.A.; Schouten, P. (2008). "Deinonychus". Feathered Dinosaurs: The Origin of Birds. Oxford University Press. hlm. 142–143. ISBN 978-0-19-537266-3.
- ↑ Dixon, Dougal (2007). "Fast Hunters". The Illustrated Encyclopedia of Dinosaurs. Lorenz Books. hlm. 160–161. ISBN 978-0-7548-1573-0.
- 1 2 3 Xu, X.; Zhou, Z.; Wang, X.; Kuang, X.; Zhang, F. & Du, X. (2003). "Four-winged dinosaurs from China" (PDF). Nature. 421 (6921): 335–340. Bibcode:2003Natur.421..335X. doi:10.1038/nature01342. PMID 12540892. S2CID 1160118.
- 1 2 Turner, Alan H.; Makovicky, Peter J.; Norell, Mark A. (2007). "Feather quill knobs in the dinosaur Velociraptor". Science. 317 (5845): 1721. Bibcode:2007Sci...317.1721T. doi:10.1126/science.1145076. PMID 17885130. S2CID 11610649.
- 1 2 Senter, Phil (2006). "Comparison of Forelimb Function Between Deinonychus And Bambiraptor (Theropoda: Dromaeosauridae)". Journal of Vertebrate Paleontology. 26 (4): 897–906. doi:10.1671/0272-4634(2006)26[897:COFFBD]2.0.CO;2. S2CID 85919882.
- ↑ Parsons, William L.; Parsons, Kristen M. (2009). "Further descriptions of the osteology of Deinonychus antirrhopus (Saurischia, Theropoda)". Bulletin of the Buffalo Society of Natural Sciences. 38.
- 1 2 3 4 Paul, Gregory Scott (1988). Predatory Dinosaurs of the World. New York: Simon and Schuster. hlm. 358, 366–369. ISBN 978-0-671-61946-6.
- ↑ Paul, G. S. (2016). The Princeton Field Guide to Dinosaurs (Edisi 2nd). Princeton, New Jersey: Princeton University Press. hlm. 153. ISBN 978-0-691-16766-4.
- ↑ Campione, Nicolas E.; Evans, David C.; Brown, Caleb M.; Carrano, Matthew T. (2014). "Body mass estimation in non-avian bipeds using a theoretical conversion to quadruped stylopodial proportions". Methods in Ecology and Evolution. 5 (9): 913–923. Bibcode:2014MEcEv...5..913C. doi:10.1111/2041-210X.12226. S2CID 84317234.
- 1 2 Maxwell, W. D. & Witmer, L. M. (1996). "New Material of Deinonychus (Dinosauria, Theropoda)". Journal of Vertebrate Paleontology. 16 (3): 51A. doi:10.1080/02724634.1996.10011371.
- ↑ Witmer, Lawrence M. & Maxwell, William D. (1996). "The skull of Deinonychus (Dinosauria:Theropoda): New insights and implications". Journal of Vertebrate Paleontology. 16 (3): 73A. doi:10.1080/02724634.1996.10011371.
- ↑ Hwang, S. H.; Norell, M. A.; Ji, Q. & Gao, K. (2002). "New Specimens of Microraptor zhaoianus (Theropoda: Dromaeosauridae) from Northeastern China" (PDF). American Museum Novitates (3381): 1–44. doi:10.1206/0003-0082(2002)381<0001:nsomzt>2.0.co;2. hdl:2246/2870. S2CID 54995804. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal January 2, 2014. Diakses tanggal September 1, 2013.
- 1 2 Norell, M.A.; Makovicky, P.J. (2004). "Dromaeosauridae". Dalam Weishampel, D.B.; Dodson, P.; Osmólska, H. (ed.). The Dinosauria (Edisi 2nd). Berkeley: University of California Press. hlm. 196–210. ISBN 978-0-520-24209-8.
- 1 2 3 Norell, M.A.; Clark, J.M.; Turner, A.H.; Makovicky, P.J.; Barsbold, R.; Rowe, T. (2006). "A new dromaeosaurid theropod from Ukhaa Tolgod (Ömnögov, Mongolia)" (PDF). American Museum Novitates (3545): 1–51. doi:10.1206/0003-0082(2006)3545[1:ANDTFU]2.0.CO;2. hdl:2246/5823. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal June 12, 2007. Diakses tanggal July 7, 2007.
- ↑ Turner, A.S.; Hwang, S.H.; Norell, M.A. (2007). "A small derived theropod from Öösh, Early Cretaceous, Baykhangor Mongolia" (PDF). American Museum Novitates (3557): 1–27. doi:10.1206/0003-0082(2007)3557[1:ASDTFS]2.0.CO;2. hdl:2246/5845. S2CID 31096081. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal March 26, 2009. Diakses tanggal April 30, 2007.
- ↑ Barsbold, R. (1983). "Carnivorous Dinosaurs from the Cretaceous of Mongolia". The Joint Soviet–Mongolian Palaeontological Expedition, Transactions. 19: 1–117.
- ↑ Currie, P.J. (1995). "New information on the anatomy and relationships of Dromaeosaurus albertensis (Dinosauria: Theropoda)". Journal of Vertebrate Paleontology. 15 (3): 576–591. Bibcode:1995JVPal..15..576C. doi:10.1080/02724634.1995.10011250. (abstrak Diarsipkan September 27, 2007, di Wayback Machine.)
- ↑ Benton, M.J. (2004). Vertebrate Palaeontology (Edisi Third). Blackwell Publishing. hlm. 472. ISBN 978-0-632-05637-8. Diarsipkan dari asli tanggal October 19, 2008. Diakses tanggal July 8, 2007.
- ↑ DePalma, Robert A.; Burnham, David A.; Martin, Larry D.; Larson, Peter L.; Bakker, Robert T. (2015). "The First Giant Raptor (Theropoda: Dromaeosauridae) from the Hell Creek Formation". Paleontological Contributions (14): 1–16. doi:10.17161/paleo.1808.18764. hdl:1808/18764. Diarsipkan dari asli tanggal November 6, 2015. Diakses tanggal May 3, 2016.
- ↑ Averianov, A. O.; Lopatin, A. V. (July 1, 2021). "A New Theropod Dinosaur (Theropoda, Dromaeosauridae) from the Late Cretaceous of Tajikistan". Doklady Earth Sciences. 499 (1): 570–574. Bibcode:2021DokES.499..570A. doi:10.1134/S1028334X21070047. S2CID 236478552 – via Springer Link.
- ↑ Averianov, A. O.; Lopatin, A. V. (2021). "Новый хищный динозавр (Theropoda, Dromaeosauridae) из позднего мела Таджикистана" [A new theropod dinosaur (Theropoda, Dromaeosauridae) from the Late Cretaceous of Tajikistan]. Reports of the Russian Academy of Sciences. Earth Sciences (dalam bahasa Russian). 499 (1): 49–53. doi:10.31857/S2686739721070045. S2CID 239088573. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link).
- ↑ Powers, Mark J.; Fabbri, Matteo; Doschak, Michael R.; Bhullar, Bhart-Anjan S.; Evans, David C.; Norell, Mark A.; Currie, Philip J. (2022). "A new hypothesis of eudromaeosaurian evolution: CT scans assist in testing and constructing morphological characters". Journal of Vertebrate Paleontology. 41 (5) e2010087. Bibcode:2021JVPal..41E0087P. doi:10.1080/02724634.2021.2010087. S2CID 247039404.
- 1 2 3 4 5 Manning, P. L., Margetts, L., Johnson, M. R., Withers, P., Sellers, W. I., Falkingham, P. L., Mummery, P. M., Barrett, P. M. and Raymont, D. R. 2009. Biomechanics of dromaeosaurid dinosaur claws: application of x-ray microtomography, nanoindentation and finite element analysis. Anatomical Record, 292, 1397-1405.
- 1 2 3 Fowler, D. W.; Freedman, E. A.; Scannella, J. B.; Kambic, R. E. (2011). Farke, Andrew Allen (ed.). "The Predatory Ecology of Deinonychus and the Origin of Flapping in Birds". PLOS ONE. 6 (12) e28964. Bibcode:2011PLoSO...628964F. doi:10.1371/journal.pone.0028964. PMC 3237572. PMID 22194962.
- 1 2 3 4 Therrien, F.; Henderson, D.M.; Huff, C.B. (2005). "Bite me: biomechanical models of theropod mandibles and implications for feeding behavior". Dalam Carpenter, Kenneth (ed.). The Carnivorous Dinosaurs. Indianapolis: Indiana University Press. hlm. 179–237. ISBN 978-0-253-34539-4.
- 1 2 Sakamoto, M. (2010). "Jaw biomechanics and the evolution of biting performance in theropod dinosaurs". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 277 (1698): 3327–3333. doi:10.1098/rspb.2010.0794. PMC 2981932. PMID 20534620.
- 1 2 Powers, M. A.; Sullivan, C.; Currie, P. J. (2020). "Re-examining ratio based premaxillary and maxillary characters in Eudromaeosauria (Dinosauria: Theropoda): Divergent trends in snout morphology between Asian and North American taxa". Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. 547 (109704) 109704. Bibcode:2020PPP...54709704P. doi:10.1016/j.palaeo.2020.109704. S2CID 216499705.
- 1 2 3 Frederickson, J. A.; Engel, M. H.; Cifelli, R. L. (August 15, 2020). "Ontogenetic dietary shifts in Deinonychus antirrhopus (Theropoda; Dromaeosauridae): Insights into the ecology and social behavior of raptorial dinosaurs through stable isotope analysis". Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. 552 109780: 4–7. Bibcode:2020PPP...55209780F. doi:10.1016/j.palaeo.2020.109780. S2CID 219059665.
- 1 2 3 4 Gignac, P.M.; Makovicky, P.J.; Erickson, G.M.; Walsh, R.P. (2010). "A description of Deinonychus antirrhopus bite marks and estimates of bite force using tooth indentation simulations". Journal of Vertebrate Paleontology. 30 (4): 1169–1177. Bibcode:2010JVPal..30.1169G. doi:10.1080/02724634.2010.483535. S2CID 86182457.
- ↑ "Estimating bite force in extinct dinosaurs using phylogenetically predicted physiological cross-sectional areas of jaw adductor muscles" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal April 15, 2023. Diakses tanggal April 15, 2023.
- ↑ Tse, Yuen Ting; Miller, Case Vincent; Pittman, Michael (2024). "Morphological disparity and structural performance of the dromaeosaurid skull informs ecology and evolutionary history". BMC Ecology and Evolution. 24 (1): 39. Bibcode:2024BMCEE..24...39T. doi:10.1186/s12862-024-02222-5. PMC 11020771. PMID 38622512.
- ↑ "Estimating bite force in extinct dinosaurs using phylogenetically predicted physiological cross-sectional areas of jaw adductor muscles" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal April 15, 2023. Diakses tanggal April 15, 2023.
- ↑ Tse, Yuen Ting; Miller, Case Vincent; Pittman, Michael (2024). "Morphological disparity and structural performance of the dromaeosaurid skull informs ecology and evolutionary history". BMC Ecology and Evolution. 24 (1): 39. Bibcode:2024BMCEE..24...39T. doi:10.1186/s12862-024-02222-5. PMC 11020771. PMID 38622512.
- ↑ Li, Rihui; Lockley, Martin G.; Makovicky, Peter J.; Matsukawa, Masaki; Norell, Mark A.; Harris, Jerald D.; Liu, Mingwei (2007). "Behavioral and faunal implications of deinonychosaur trackways from China". Naturwissenschaften. 95 (3): 185–91. Bibcode:2008NW.....95..185L. doi:10.1007/s00114-007-0310-7. PMID 17952398. S2CID 16380823.
- ↑ Adams, Dawn (1987) "The bigger they are, the harder they fall: Implications of ischial curvature in ceratopsian dinosaurs" pp. 1–6 in Currie, Philip J. and Koster, E. (eds) Fourth symposium on mesozoic terrestrial ecosystems. Tyrrell Museum, Drumheller, Canada
- ↑ Carpenter, Kenneth (1998). "Evidence of predatory behavior by carnivorous dinosaurs". Gaia. 15: 135–144.
- 1 2 Manning, Phil L.; Payne, David; Pennicott, John; Barrett, Paul M.; Ennos, Roland A. (2006). "Dinosaur killer claws or climbing crampons?". Biology Letters. 2 (1): 110–112. doi:10.1098/rsbl.2005.0395. PMC 1617199. PMID 17148340.
- 1 2 Davies, S. J. J. F. (2002). Ratites and Tinamous. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-854996-3.
- ↑ Gilliard, E. T. (1958). Living birds of the world. Garden City, NY: Doubleday.
- ↑ Kofron, Christopher P. (1999) "Attacks to humans and domestic animals by the southern cassowary (Casuarius casuarius johnsonii) in Queensland, Australia
- ↑ Kofron, Christopher P. (2003). "Case histories of attacks by the southern cassowary in Queensland". Memoirs of the Queensland Museum. 49 (1): 335–338.
- ↑ Redford, Kent H.; Peters, Gustav. "Notes on the biology and song of the red-legged seriema (cariama cristata)". Journal of Field Ornithology. 57 (4): 261–269.
- ↑ Carpenter, Kenneth (2002). "Forelimb biomechanics of nonavian theropod dinosaurs in predation". Senckenbergiana Lethaea. 82: 59–76. doi:10.1007/BF03043773. S2CID 84702973.
- ↑ Gauthier, J.; Padian, K. (1985). M.K. Hecht; J.H. Ostrom; G. Viohl; P. Wellnhofer (ed.). Phylogenetic, Functional, And Aerodynamic Analyses Of The Origin Of Birds And Their Flight. The Beginnings Of Birds. Proceedings of the International Archaeopteryx Conference, Eichstätt, 1984. Eischtatt: Freunde des Jura-Museums Eichstätt. hlm. 185–197. ISBN 3-9801178-0-4.
- ↑ Gishlick, A.D. (2001). "The function of the manus and forelimb of Deinonychus antirrhopus and its importance for the origin of avian flight". Dalam Gauthier, J.; Gall, L.F. (ed.). New Perspectives on the Origin and Early Evolution of Birds. New Haven: Yale Peabody Museum. hlm. 301–318.
- ↑ Rothschild, B., Tanke, D. H., and Ford, T. L., 2001, Theropod stress fractures and tendon avulsions as a clue to activity: In: Mesozoic Vertebrate Life, edited by Tanke, D. H., and Carpenter, K., Indiana University Press, pp. 331–336.
- ↑ Molnar, R. E., 2001, Theropod paleopathology: a literature survey: In: Mesozoic Vertebrate Life, edited by Tanke, D. H., and Carpenter, K., Indiana University Press, pp. 337–363.
- ↑ Parsons, W.; Parsons, K. (2006). "Morphology and size of an adult specimen of Deinonychus antirrhopus, (Saurischia, Theropoda)". Journal of Vertebrate Paleontology. 26 (3 sup): 109A. doi:10.1080/02724634.2006.10010069. S2CID 220413406.
- ↑ Parsons, W. L.; Parsons, K. M. (2009). "Further descriptions of the osteology of Deinonychus antirrhopus (Saurischia, Theropoda)" (PDF). Bulletin of the Buffalo Society of Natural Sciences. 38: 43–54. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal July 3, 2010. Diakses tanggal November 14, 2010.
- ↑ Kool, R. (1981). "The walking speed of dinosaurs from the Peace River Canyon, British Columbia, Canada". Canadian Journal of Earth Sciences. 18 (4): 823–825. Bibcode:1981CaJES..18..823K. doi:10.1139/e81-077.
- ↑ Parsons, W. L.; Parsons, K. M. (2015). "Morphological Variations within the Ontogeny of Deinonychus antirrhopus (Theropoda, Dromaeosauridae)". PLOS ONE. 10 (4) e0121476. Bibcode:2015PLoSO..1021476P. doi:10.1371/journal.pone.0121476. PMC 4398413. PMID 25875499. e0121476.
- ↑ Scott Persons IV, W.; Currie, P. J. (2016). "An approach to scoring cursorial limb proportions in carnivorous dinosaurs and an attempt to account for allometry". Scientific Reports. 6 19828. Bibcode:2016NatSR...619828P. doi:10.1038/srep19828. PMC 4728391. PMID 26813782.
- ↑ Wiemann, Jasmina; Yang, Tzu-Ruei; Norell, Mark A. (2018). "Dinosaur egg colour had a single evolutionary origin". Nature. 563 (7732): 555–558. Bibcode:2018Natur.563..555W. doi:10.1038/s41586-018-0646-5. PMID 30464264. S2CID 53188171.
- ↑ "Dinosaur Egg Color Had a Single Evolutionary Origin". November 2018.
- ↑ "Dinosaurs put all colored bird eggs in one basket, evolutionarily speaking". October 31, 2018.
- ↑ Maxwell, W. D.; Ostrom, J.H. (1995). "Taphonomy and paleobiological implications of Tenontosaurus–Deinonychus associations". Journal of Vertebrate Paleontology. 15 (4): 707–712. Bibcode:1995JVPal..15..707M. doi:10.1080/02724634.1995.10011256. (abstrak Diarsipkan September 27, 2007, di Wayback Machine.)
- ↑ Roach, B. T.; D. L. Brinkman (2007). "A reevaluation of cooperative pack hunting and gregariousness in Deinonychus antirrhopus and other nonavian theropod dinosaurs". Bulletin of the Peabody Museum of Natural History. 48 (1): 103–138. doi:10.3374/0079-032X(2007)48[103:AROCPH]2.0.CO;2. S2CID 84175628.
- ↑ Lang, J. W. (2002). "Crocodilians". Dalam Halliday, T.; Adler, K. (ed.). The Firefly Encyclopedia of Reptiles and Amphibians. Firefly Books. hlm. 212–221. ISBN 978-1-55297-613-5.
- ↑ Dinets, Vladimir (2015). "Apparent coordination and collaboration in cooperatively hunting crocodilians". Ethology Ecology & Evolution. 27 (2): 244–250. Bibcode:2015EtEcE..27..244D. doi:10.1080/03949370.2014.915432. S2CID 84672219.
- ↑ Huchzermeyer, F. (2003). Crocodiles: Biology, Husbandry, Diseases. CABI International Publishing. UK and Massachusetts.
- ↑ Garrick, L. D. & Lang, J. W. (1977). "Social signals and behaviors of adult alligators and crocodiles". American Zoologist. 17: 225–239. doi:10.1093/icb/17.1.225.
- ↑ Utete, Beaven (August 3, 2021). "A review of the conservation status of the Nile crocodile (Crocodylus niloticus Laurenti, 1768) in aquatic systems of Zimbabwe". Global Ecologu and Conservation. 29 e01743. Bibcode:2021GEcoC..2901743U. doi:10.1016/j.gecco.2021.e01743.
- ↑ Baker, C. J.; Frère, C. H.; Franklin, C. E.; Campbell, H. A.; Irwin, T. R.; Dwyer, R. G. (2023). "Long-term tracking reveals a dynamic crocodylian social system". Animal Behaviour. 199: 59–78. doi:10.1016/j.anbehav.2023.02.015.
- ↑ Currie, Philip J.; Eberth, David A. (2010). "On gregarious behavior in Albertosaurus". Canadian Journal of Earth Sciences. 47 (9): 1277–1289. Bibcode:2010CaJES..47.1277C. doi:10.1139/e10-072.
- ↑ Li, Rihui; Lockley, Martin G.; Makovicky, Peter J.; Matsukawa, Masaki; Norell, Mark A.; Harris, Jerald D.; Liu, Mingwei (2007). "Behavioral and faunal implications of Early Cretaceous deinonychosaur trackways from China". Naturwissenschaften. 95 (3): 185–91. Bibcode:2008NW.....95..185L. doi:10.1007/s00114-007-0310-7. PMID 17952398. S2CID 16380823.
- ↑ Forster, C. A. (1984). "The paleoecology of the ornithopod dinosaur Tenontosaurus tilletti from the Cloverly Formation, Big Horn Basin of Wyoming and Montana". The Mosasaur. 2: 151–163.
- 1 2 Wedel, M. J.; Cifelli, R. L. (2005). "Sauroposeidon: Oklahoma's Native Giant" (PDF). Oklahoma Geology Notes. 65 (2): 40–57. Diarsipkan dari versi asli pada July 5, 2008.
- 1 2 G. R. Upchurch; P. R. Crane; A. N. Drinnan (1994). "The Megaflora from the Quantico Locality (Upper Albian), Lower Cretaceous Potomac Group of Virginia". Virginia Museum of Natural History.
- ↑ Peppe, Daniel J.; Hickey, Leo J.; Miller, Ian M.; Green, Walton A. (October 1, 2008). "A Morphotype Catalogue, Floristic Analysis and Stratigraphic Description of the Aspen Shale Flora(Cretaceous–Albian) of Southwestern Wyoming". Bulletin of the Peabody Museum of Natural History (dalam bahasa Inggris). 49 (2): 181–208. Bibcode:2008BPMNH..49..181P. doi:10.3374/0079-032X-49.2.181. ISSN 0079-032X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 1, 2025. Diakses tanggal September 17, 2025.
- 1 2 3 Huang, Qiangsheng C.; Dilcher, David L. (1994), "Evolutionary and paleoecological implications of fossil plants from the Lower Cretaceous Cheyenne Sandstone of the Western Interior", Geological Society of America Special Papers (dalam bahasa Inggris), vol. 287, Geological Society of America, hlm. 129–144, doi:10.1130/spe287-p129, ISBN 978-0-8137-2287-0, diakses tanggal September 17, 2025
- ↑ Vega, Francisco J.; García-Barrera, Pedro; Perrilliat, María del Carmen; Coutiño, Marco A.; Marino-Pérez, Ricardo (January 2006). "El Espinal, a new plattenkalk facies locality from the Lower Cretaceous Sierra Madre Formation, Chiapas, southeastern Mexico". Revista mexicana de ciencias geológicas (dalam bahasa Inggris). 23 (3): 323–333. ISSN 1026-8774.
- ↑ Mohr, Barbara A. R.; Bernardes-de-Oliveira, Mary E. C.; Loveridge, Robert; Pons, Denise; Sucerquia, Paula Andréa; Castro-Fernandes, Maria C. (May 1, 2015). "Ruffordia goeppertii (Schizaeales, Anemiaceae) – A common fern from the Lower Cretaceous Crato Formation of northeast Brazil". Cretaceous Research. 54: 17–26. Bibcode:2015CrRes..54...17M. doi:10.1016/j.cretres.2014.11.006. ISSN 0195-6671.
- ↑ Nudds, John R.; Lomax, Dean R.; Tennant, Jonathan P. (December 1, 2022). "Gastroliths and Deinonychus teeth associated with a skeleton of Tenontosaurus from the Cloverly Formation (Lower Cretaceous), Montana, USA". Cretaceous Research. 140 105327. Bibcode:2022CrRes.14005327N. doi:10.1016/j.cretres.2022.105327. ISSN 0195-6671.
- 1 2 Cummings, M. "Yale's legacy in Jurassic World." Yale News, 18 Juni 2015.
- ↑ Vanhooker, Brian (September 16, 2021). "Spielberg's raptor: The wild, true story behind "Utahraptor spielbergi"". Inverse. Diakses tanggal August 26, 2023.
- ↑ Black, Riley (February 22, 2011). "What Do We Really Know About Utahraptor? | Dinosaur Tracking". Smithsonian Magazine. doi:10.1080/02724634.2001.10010852. S2CID 220414868. Diakses tanggal January 24, 2013.
Pranala luar
Media terkait Deinonychus di Wikimedia Commons
Kutipan tentang Deinonychus di Wikikutip
Informasi terkait dengan Deinonychus dari Wikispecies.
| ||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||
| Deinonychus |
|
|---|---|