Taxaceae merupakan famili tumbuhan yang sebagian besar merupakan konifer. Famili ini terdiri dari 6 genus dan 30 spesies dengan perawakan pohon dan semak hijau abadi. Enam genus Taxaceae adalah: Amentotaxus (4 spesies, Cina), Austrotaxus (1 spesies, Kaledonia Baru), Cephalotaxus (6 spesies, Asia), Pseudotaxus (1 spesies, Cina), Taxus (yew, 9 spesies, wilayah utara bumi, Asia Tenggara), dan Torreya (7 spesies. Asia Timur, AS).[1][2]
Distribusi dan Ekologi
Famili ini dapat ditemukan di Belahan Bumi Utara.[2] Tetapi, Taxus menyebar secara luas di Amerika Utara dan Eurasia, menyebar ke selatan secara terputus-putus hingga Meksiko, Florida, dan Jawa. Torreya dapat ditemukan di Jepang, Cina, dan Taiwan, dengan satu spesies masing-masing di California dan Florida. Pseudotaxus monotipe bersifat endemik, dengan distribusi yang sangat terbatas dan kisaran habitat terbatas di daratan Cina, dan Austrotaxus monotipe bersifat endemik dan terlokalisasi di Kaledonia Baru.[3]
Karakteristik
Akar, Batang, dan Daun
Percabangan banyak ditemukan di famili ini dengan daun berselang-seling seperti jarum.[2] Kayu sekundernya padat dan piknoksilik yang memiliki spiral tersier pada dinding trakeid. Tidak ditemukan saluran resin.[4] Cabang lateral berkembang dengan baik, mirip dengan tunas utama; ranting terete, tidak tertutup rapat oleh daun tetapi ± beralur oleh pangkal daun decurrent; ruas terpanjang kurang dari 1cm; kuncup ± tidak mencolok. Akar berserat hingga berkayu.[5][6][7]
Bunga, Buah, dan Biji
Posisi bunga jantan dan betina berbeda. Bunga jantan ditemukan di aksis daun atau braktea. Sedangkan, bunga betina ditemukan di ketiak daun pada tunas kerdil fertil sekunder atau pada tunas panjang. Di Taxaceae, tidak seperti Pinaceae, strobili ovulasi yang berbeda tidak terbentuk tetapi ovulnya terbuka bebas dan soliter. Serbuk sari tidak bersayap. Sporofil yang mengandung 2--16 mikrosporangia (kantung serbuk sari). Embrio bersifat dikotil. Kerucut biji direduksi menjadi satu bakal biji (pada Cephalotaxus, kerucut biji dengan braktea menyilang, masing-masing menopang 2 bakal biji). Biji tegak, 1 per kerucut, tidak bersayap, berwarna cerah, biasanya soliter ditutupi oleh aril berdaging (struktur seperti buah beri atau plum) yang tampaknya membantu penyebaran oleh hewan. Ujung biji terlihat pada spesies Austrotaxus,[1][2][4][4][5][6][7][8]
Filogeni dan Evolusi
Hubungan genetik di antara Taxaceae telah terbukti sulit dinilai, tetapi tampaknya Amentotaxus adalah bagian dari inti Taxaceae, sedangkan Cephalotaxus adalah saudara perempuan dari sisanya, meskipun dengan bukti yang lemah. Fosil tersier Amentotaxus sedikit berbeda dari spesies yang sudah punah, sehingga menjadikannya "fosil hidup". Anggota Taxaceae dicirikan oleh laju perubahan evolusi yang lambat. Famili ini terkadang terbagi menjadi dua atau lebih subfamili.[9]
Pemanfaatan
Industri Kayu
Kayunya, khususnya Taxus tetapi juga secara umum seluruh familinya, cenderung keras dan kasar, sulit diolah tetapi sangat kuat dan tahan lama; masyarakat Aborigin telah banyak menggunakannya untuk busur dan peralatan. Di zaman modern, penggunaannya terutama sebagai kayu kerajinan atau pelapis, karena cenderung memiliki bentuk yang menarik.[10]
Pengobatan
Taxol yang diekstraksi dari kulit kayu dan dedaunan beberapa spesies Taxus yang efektif dalam pengobatan kanker ovarium. Senyawa ini juga menghambat mitosis dan digunakan dalam bentuk sintetis (paclitaxel).[9][10][11]
Pangan
Biji Taxus yang berdaging dapat dimakan, tetapi harus dikonsumsi dengan hati-hati karena biji semua spesies Taxus beracun. Biji yang dapat dimakan dari Torreya grandis dan Torreta nucifera populer di Tiongkok dan Jepang. T. nucifera dapat diperas untuk menghasilkan minyak goreng.[9][10][11]
Tradisi dan Budaya
Beberapa spesies, khususnya Taxus dan Torreya, juga penting secara spiritual dalam berbagai tradisi di seluruh dunia, biasanya sebagai simbol umur panjang atau keabadian. Kayu ini juga berharga untuk digunakan dalam pembuatan alat musik, terutama kecapi. Kayu kaya yang berwarna kuning digunakan untuk papan go, permainan yang dimainkan di Asia Timur.[9][10][11]