Bank Dipo
Pada awalnya PT Bank Sahabat Sampoerna didirikan pada tanggal 27 September 1990 dengan nama PT Dipo International Bank, yang mulai beroperasi pada 1 Juli 1991, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 668/KMK.013/1991.[1] Kantor pusat pertamanya ada di Gedung Samudera Indonesia, Jl. S. Parman Jakarta,[2] yang kemudian pindah ke lokasi yang tidak terlalu jauh di Wisma Sejahtera Jakarta.[3] Sejak 5 Februari 1996 namanya di-Indonesiakan menjadi PT Bank Dipo Internasional.[1] Seperti banyak bank pasca-Pakto 88, Bank Dipo mulanya didirikan dan dikuasai oleh kalangan pebisnis. Mereka adalah keluarga Poniman (Po Liong Tjiang) yang lebih dikenal sebagai pengusaha di bidang otomotif, berupa keagenan Mitsubishi Motors dan Mercedes Benz (PT Putra Mandiri Jembar Tbk), maupun keuangan dalam Dipo Star Finance.[4]
Didirikan awalnya dengan modal dasar Rp 50 miliar[5] dan 10.000 nasabah,[6] Bank Dipo terus berkembang, termasuk bertahan pada krisis moneter 1998 dengan status kategori A. Akan tetapi, skala bisnisnya tetap kecil, seperti pada tahun 2006 hanya beraset Rp 652 miliar[7] plus modal inti mini yaitu Rp 78,7 miliar.[8] Pada tahun 2011, aset mereka sempat naik menjadi Rp 928 miliar.[3] Adapun Bank Dipo mengoperasikan 6 kantor cabang di Jakarta (5) dan Medan (1) yang mempekerjakan 170 karyawan.[9] Fokus Bank Dipo adalah pada pembiayaan usaha kecil dan menengah, dan penghimpunan dana dari individu, yayasan maupun perusahaan.[10] Pemegang saham bank pra-akuisisi meliputi perusahaan induk keluarga Poniman PT Pahalamas Sejahtera (42%) ditambah dua putra Poniman (Suhanti Poniman 48% dan Suhada Poniman 10%).[11]
Bank Sahabat Sampoerna
Modal yang cekak dan kewajiban Arsitektur Perbankan Indonesia memaksa keluarga Poniman menjajaki calon investor baru bagi bank mereka. Sejak tahun 2008, Bank Dipo santer dikabarkan akan diakusisi.[12] Salah satu yang dikabarkan berminat adalah Grup Sampoerna Strategic. Sebenarnya, bisnis keuangan bukan barang baru bagi mereka. Di era yang sama dengan lahirnya Bank Dipo, keluarga Sampoerna pernah mendirikan banknya sendiri bernama PT Bank Sampoerna Internasional (atau Sampoerna Bank). Namun, akibat salah urus, pada tahun 1992 bank tersebut dijual ke Bank Danamon, sehingga keluarga itu menghindari bisnis ini selama bertahun-tahun.[13] Mulai tahun 2008, industri keuangan kembali digeluti dengan pendirian Koperasi Simpan Pinjam Sahabat Mitra Sejati (KSP Sahabat UKM) yang berfokus pada sektor UMKM.[14]
Di waktu hampir bersamaan dengan berdirinya KSP Sahabat, yaitu di tanggal 5 Februari 2008, lengan usaha Sampoerna bernama Orient Distributions Network Pte. Ltd. meneken perjanjian akuisisi dengan pemegang saham Bank Dipo. Namun, rencana tersebut terhenti akibat munculnya Resesi Besar. Setelah puncak krisis global berlalu, proses pembelian kembali dilanjutkan di pertengahan 2010,[14] kali ini menggunakan PT Sampoerna Investama (SI). Pada saat itu direncanakan PT SI akan membeli 85% saham Bank Dipo Internasional.[15] Secara efektif, proses akuisisi dituntaskan pada 9 Mei 2011. Rencana awal Sampoerna adalah mengubah Bank Dipo menjadi bank syariah,[16] yang belakangan dibatalkan karena lebih berminat membentuk unit usaha syariah di bank ini.[17]
Akhirnya, PT Bank Dipo Internasional resmi berganti nama menjadi PT Bank Sahabat Sampoerna di tanggal 28 Desember 2011, yang diiringi penggunaan identitas baru.[1] Nama baru ini selanjutnya diperkenalkan ke masyarakat di tanggal 9 Mei 2012.[18] Adapun identitasnya mengusung falsafah keluarga Sampoerna, seperti prinsip "Anggarda Paramita" dan logo "tiga tangan".[19] Bank Sampoerna dikonsepkan sebagai lembaga yang "mensinergikan bisnis dengan persaudaraan dan komitmen kepedulian sebagai landasan untuk tumbuh maju".[20] Demi membantu pengembangannya, Sampoerna sudah menyuntikkan modal tambahan Rp 100 miliar ke bisnis barunya ini. Maka, ketika berganti nama, Bank Sampoerna mencatatkan rasio kecukupan modal 36,5% dan aset Rp 1,1 triliun (naik dari Rp 798 miliar pada tahun 2010).[18]
Pada awal-awal operasinya, Bank Sahabat Sampoerna memindahkan kantor pusatnya ke Gedung Sampoerna Strategic Square, Sudirman Jakarta, sekaligus memperkenalkan ATM dan call center. Seiring waktu, mereka terus memperkenalkan produk baru seperti kartu debit, phone banking dan internet banking (2014), Tabungan Hati (2015), Tasaku (Tabungan Sampoerna Alfamart-Ku, 2016); ProBiz Karyawan, KPR dan mobile banking (2018); dan status bank devisa/transaksi valuta asing (2024). Kantor-kantornya juga diperluas ke berbagai daerah seperti Pontianak, Semarang, Manokwari dan Batam.[1] Dengan berbagai pengembangan tersebut, aset Bank Sampoerna per 2024 mencapai Rp 17,68 triliun, yang berarti naik tajam dari ratusan miliar saat masih bernama Bank Dipo.[1] Pada bulan desember 2025 menjalin kerjasama dengan Bank Capital Indonesia dalam rangka mengicar segmen pensiun.[21]
Pemegang saham
Meskipun kepemilikannya didominasi Grup Sampoerna Strategic, tetapi Bank Sahabat Sampoerna juga memiliki beberapa pemegang saham minoritas. Pada Agustus 2013, AlfaCorp (konglomerasi milik Djoko Susanto) mengakuisisi 10,8% sisa saham pemilik lama Bank Dipo (PT Pahalamas Sejahtera).[22] Dengan kepemilikan saham saat ini sebesar 12,7%, partner lama keluarga Sampoerna itu kini dijadikan "mitra strategis" Bank Sampoerna, yang pernah melahirkan produk seperti Tasaku[1] (hingga 2024). Pemegang saham minoritas signifikan lain adalah fintech Xendit yang pada April 2022 mengakuisisi 14,96% saham bank,[23] dengan selanjutnya naik menjadi 24%.[1] Masuknya fintech itu ditujukan bagi menyokong pengembangan UMKM yang sama-sama menjadi target Xendit maupun Bank Sahabat Sampoerna.[24] Selain itu, pemegang saham lain dalam jumlah yang kecil meliputi sejumlah individu dan perusahaan.[1]