Bank Saqu Indonesia (sebelumnya bernama Bank Jasa Jakarta) merupakan jasa keuangan yang fokus melayani segmen ritel dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dengan kantor pusat di Jakarta. Bank ini dimiliki secara patungan oleh Astra Financial dengan WeLab.
Selain menjalankan bisnisnya secara konvensional (menggunakan kantor cabang), awalnya Bank Saqu dikenal lewat salah satu layanan perbankan digital PT Bank Jasa Jakarta yang bertujuan untuk memberikan tambahan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi bagi nasabah. Namun sejak Mei 2025 nama perusahaan diubah sepenuhnya menjadi PT Bank Saqu Indonesia, menyesuaikan produk digitalnya tersebut.
Perkembangan
Logo Bank Jasa Jakarta sejak 1989, digunakan bersamaan dengan logo Bank Saqu hingga 2025
Bank kecil dengan modal inti Rp 2,1 triliun dan aset Rp 6,5 triliun di tahun 2021 ini[1][2] awalnya didirikan pada 23 Maret 1971[3] dengan nama PT Bank Pasar Warga Grogol,[4] dengan status sebagai bank pasar (kini Bank Perekonomian Rakyat). Di tanggal 28 Oktober 1975, namanya berganti menjadi PT Bank Pasar Warga Gembira dan di tanggal 25 September 1978, menjadi PT Bank Pasar Jasa Jakarta.[5]
Di tahun 1984, Bank Pasar Jasa Jakarta diakuisisi oleh Iskandar Widyadi, seorang pengusaha yang kemudian akan terus menguasai bank ini sampai lebih dari 35 tahun kemudian.[5] Lima tahun kemudian, pada 7 Januari 1989 nama perusahaan berganti menjadi PT Bank Jasa Jakarta, yang selanjutnya berubah status dari BPR ke bank umum bermodal Rp 20 miliar sejak 2 Agustus 1989.[3][4] Bank ini kemudian terus berkembang dengan tetap mengedepankan strategi konservatif dan kehati-hatian, yang membawanya mampu berkembang dan bertahan, seperti pada periode krisis moneter di akhir 1990-an. Fokus bank ini adalah pada sektor ritel, dengan dibantu 1 kantor pusat dan 13 kantor cabang yang tersebar di Jabodetabek.[4][6]
Belakangan, bank ini mengalami perubahan kepemilikan sebagai rangka menghadapi kewajiban modal inti bank Rp 3 triliun serta upaya transformasi dan digitalisasinya. Iskandar Widyadi, yang awalnya mengendalikan bank ini lewat PT Widya Rahardja Dharma (70,91%) dan PT Adikarta Graha (29,09%), kemudian melepas sebagian sahamnya ke WeLab Sky Ltd sebesar 24%.[4] Transaksi yang memakan biaya US$ 240 juta ini dilakukan pada Desember 2021.[7] WeLab merupakan sebuah perusahaan fintech yang berbasis di Hong Kong dan dimiliki sejumlah pemodal seperti International Finance Corporation, Sequoia Capital dan Li Ka-shing.[8]
Akhirnya, Iskandar Widyadi melepas hampir seluruh sahamnya di bank ini lewat shares subscription agreement pada 1 Juli 2022, kepada WeLab dan PT Sedaya Multi Investama (anak usaha PT Astra International Tbk). Keduanya masing-masing menjadi pemegang 49,56% saham BJJ. Terkhusus bagi Astra, ini adalah kali ketiga mereka memegang bank, setelah sebelumnya melepas Bank Permata pada 2020 dan sempat memegang Bank Universal hingga dilepas ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 1999; sedangkan bagi WeLab, mereka berencana akan mengubah BJJ menjadi bank digital mereka yang kedua setelah di Hong Kong. Transaksi ini tuntas dilakukan pada 19 September 2022 dengan total harga Rp 3,87 triliun.[8][9][10]
Sebagai bank digital, Bank Saqu tetap mempertahankan kantor cabang.
Sesuai rencana yang disiapkan pemilik baru, Bank Jasa Jakarta direncanakan akan berubah menjadi bank digital. Dari awalnya ditargetkan pada September 2023,[11][12] produk perbankan digital BJJ resmi diluncurkan pada 20 November 2023 dengan nama Bank Saqu.[13] Bank Saqu diklaim mampu mendukung, melengkapi dan memperkuat ekosistem jasa keuangan Grup Astra, serta mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia khususnya bagi generasi muda dan UMKM. Produk tersebut menawarkan sejumlah fitur, antara lain 20 "saku" simpanan, tabungan otomatis Tabungmatic, dan bunga 10%.[14] Pada akhir 2023 diperkirakan 100.000 nasabah baru telah berhasil dijaring oleh aplikasi digital ini.[15]
Sejak 21 Mei 2025 (namun baru diresmikan 7 hari kemudian), nama lama Bank Jasa Jakarta resmi ditanggalkan sepenuhnya dengan kini mengikuti nama aplikasinya, Bank Saqu. Perubahan ini diklaim sebagai "evolusi menyeluruh dari cara Bank Saqu melayani nasabahnya". Dengan 2,5 juta nasabah, Bank Saqu memiliki dua fokus yaitu segmen ritel berupa solopreneur serta segmen bisnis berupa UMKM.[16]