Papan selamat datang di Pulau Home yang menampilkan bahasa Melayu Cocos. Perhatikan penggunaan bentuk baku bahasa Betawi "di" sebagai ganti bahasa Melayu umum "ke" untuk menunjukkan lokasi.
Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Halaman bahasa acak
Bahasa Melayu Cocos adalah ragambahasa Melayu pasca-kreol yang dituturkan oleh orang Melayu Cocos yang sebagian besar mendiami wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Natal yang merupakan bagian dari teritori Australia. Selain di Australia, bahasa ini juga dituturkan oleh diaspora keturunan Melayu Cocos di Sabah, Malaysia.[1]
Secara linguistik, bahasa Melayu Cocos berasal dari bahasa dagang Melayu abad ke-19, khususnya bahasa Betawi, dengan pengaruh dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda.[4][5]Bahasa Melayu ditawarkan sebagai bahasa kedua di sekolah-sekolah, dan bahasa Malaysia memiliki status bergengsi; keduanya memengaruhi bahasa tersebut, membuatnya lebih sesuai dengan bahasa Melayu standar.[6]
Terdapat pula pengaruh bahasa Inggris yang semakin meningkat, mengingat kepulauan tersebut pernah menjadi wilayah Australia dan globalisasi membawa istilah-istilah modern ke dalam bahasa sehari-hari. Pada tahun 2009, pelajar Melayu Cocos dilarang menggunakan bahasa mereka sendiri dan kegagalan untuk mematuhinya yang mengakibatkan hukuman berupa "tiket berbicara" yang berarti diwajibkan melaksanakan tugas kebersihan di sekolah.[7] Namun, bentuk pembatasan bahasa ini berakhir pada tahun 2011.[4]
Sejarah
Penduduk Cocos pertama adalah budak yang dibawa ke Kepulauan Cocos yang saat itu tidak berpenghuni pada tahun 1826 oleh Alexander Hare dan John Clunies-Ross. Sebagian besar budak Melayu diperoleh di Melaka dan Banjarmasin, tetapi mereka aslinya berasal dari seluruh Indonesia, dan bahasa yang mereka gunakan satu sama lain adalah salah satu bentuk bahasa Melayu.[8] Mengingat bahwa bahasa Melayu merupakan basantara atau bahasa perdagangan di seluruh Asia Tenggara Maritim pada saat itu, kemungkinan besar para budak berbicara dalam beberapa bentuk bahasa Melayu pijin. Antara tahun 1857 dan 1910, keluarga Clunies-Ross juga mendatangkan sejumlah besar buruh Jawa dari Banten, Jawa Tengah, dan Madura. Para buruh penduduk Jawa tersebut disebut sebagai "Bantamese" untuk membedakan mereka dari orang Melayu yang sebelumnya telah mendiami pulau tersebut. Saat ini, bahasa asli yang digunakan oleh nenek moyang mereka sebagian besar telah hilang di Kepulauan Cocos, meskipun beberapa kata telah masuk ke dalam bahasa Melayu Cocos.
Dari masa ke masa, bahasa Melayu Cocos tampak sangat rentan mengingat jumlah penuturnya hanya sekitar 500 orang. Pada tahun 1950-an, karena kesulitan ekonomi, banyak orang yang berbahasa Melayu Cocos beremigrasi ke Pulau Natal dan Sabah, Malaysia. Emigrasi berlanjut pada tahun 1970-an, ketika penduduk Kepulauan Cocos mulai bermigrasi ke daratan Australia, dengan tiket sekali jalan (sesuai dengan kebijakan Clunies-Ross saat itu bahwa mereka bebas pergi tetapi tidak bebas kembali). Karena migrasi yang sedang berlangsung, penutur bahasa Melayu Cocos tinggal di kota-kota di Australia Barat, termasuk Perth, Katanning, Geraldton, Kalgoorlie, dan Port Hedland.[4]
Pada tahun 2009, bahasa Melayu Cocos dilarang digunakan di sektor pendidikan di Kepulauan Cocos karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah kesopanan berbahasa, dan sebaliknya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang dianggap oleh orang Melayu sebagai varian standar bahasa Melayu.[9] Namun larangan penggunaan bahasa Melayu Cocos tidak berlangsung lama dan akhirnya dapat digunakan kembali secara normal pada tahun 2011.[4]
Karakteristik
Bahasa ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
Pengaruh bahasa Jawa: cucutcode: jv is deprecated 'hiu', katescode: jv is deprecated 'pepaya', walikatcode: jv is deprecated 'tulang belikat', dan lain-lain.
Pengaruh bahasa Hokkien yang berasal dari orang pertama dan orang kedua tunggal guacode: coa is deprecated dan lucode: coa is deprecated .
Partikel penyebab kasicode: ms is deprecated .
Partikel progresif adacode: ms is deprecated .
Partikel posesif punyacode: ms is deprecated .
Bentuk orang ketiga tak tentu ongcode: jv is deprecated berasal dari orangcode: ms is deprecated [8]
Bahasa Melayu Cocos memiliki unsur leksikal dan serapan kata dari bahasa Belanda yang umum dalam bahasa Indonesia dan bahasa Betawi (bahasa Melayu Jakarta), tetapi jarang digunakan dalam bahasa Melayu. Oleh karena itu, bahasa Melayu Cocos dianggap sebagai bahasa kreol dari akar bahasa Melayu, yang berasal dari bahasa Betawi, walaupun bahasa Melayu Cocos tidak mempunyai ciri struktural yang sama dengan bahasa Betawi seperti perubahan -a menjadi -è dan sufiks transitif -in.[8]
Kosakata
Bahasa Melayu Cocos memiliki pengaruh kuat dari tiga bahasa, yaitu bahasa Melayu, Jawa, dan Betawi. Beberapa contoh kata dalam bahasa Melayu Cocos meliputi:[butuh rujukan]
cucut (dari bahasa Jawa:ꦕꦸꦕꦸꦠ꧀code: jv is deprecated , translit.cucut, har.'hiu')
Ada tiga hal yang membedakan bahasa Melayu Cocos dengan bahasa Melayu baku dan bahasa Indonesia:[11]
Konsonan uvular [ʁ] yang selalu muncul di antara vokal dan vokal terdapat dalam bahasa Melayu Cocos, tetapi tidak dalam bahasa Melayu baku atau bahasa Indonesia.
Konsonan tertentu, [f v ʃ z], yang muncul dalam bahasa Melayu baku tidak terdapat dalam bahasa Melayu Cocos.
Mengenai [h] di antara ketiga bahasa tersebut, [h] dalam bahasa Melayu Cocos sering dihilangkan, terutama pada posisi awal kata. Contohnya meliputi:
Bahasa Melayu baku
Bahasa Melayu Cocos
Glosa
[ˈhisap˺]
[ˈisap˺]
'hisap'
[ˈhuta̪ n]
[ˈuta̪ n]
'hutan'
[ˈhiduŋ]
[ˈiduŋ]
'hidung'
[ˈhaus]
[ˈaus]
'haus'
Contoh teks
Bahasa Melayu Cocos:
Saban minggu orang tu kərja'an presa tu, raun tu. Kalo' aer kring bole mənyəbərang, aer bəsar bole bawa' jukung tu, ame' məngkali ada yu masu', ganggu nang di dalam situ tu, bunu tu. Itu macam-macam ikan ada situ tu. Emang dia punya pintu dua, jukung bole masu' emangnya.
Saban minggu tuh orang gawéannya meréksain ntu, ngider-ngiderin ntu. Kalo aér asat, bisa nyebrang; kalo aér naék, bisa naék perahu ntu. Ama kali baé ada hiu ngasup, ngerécokin nyang di dalem situ, dibunuh baé. Ntu ikan macem-macem juga ada di situ. Pantonya ada dua, perahu gé bisa ngasup.
Terjemahan:
"Setiap minggu orang-orang akan pergi dan memeriksanya, mereka akan melakukan pemeriksaan keliling. Saat air surut seseorang bisa berjalan menyeberang, saat air pasang seseorang bisa naik perahu, untuk menangkap atau membunuh, misalnya, seekor hiu, yang datang ke kolam dan mengganggu kura-kura dan ikan-ikan di dalamnya. Karena dulu ada berbagai macam ikan di sana. Sebenarnya ada dua gerbang, perahu bisa masuk."
Catatan
↑Kata gua dalam bahasa Betawi sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Hokkien yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Tionghoa.
↑Kata lu dalam bahasa Betawi sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Hokkien.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Cocos Islands". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
↑Bunce, Pauline (2012). Out of Sight, Out of Mind… and Out of Line: Language Education in the Australian Indian Ocean Territory of the Cocos (Keeling) Islands (dalam bahasa Inggris). Multilingual Matters. hlm.37–59. ISBN978-1-84769-749-3.
123Alexander, Adelaar (1996). Malay in the Cocos (Keeling) Islands (dalam bahasa Inggris).
↑Bunce, Pauline (2012). Out of Sight, Out of Mind… and Out of Line: Language Education in the Australian Indian Ocean Territory of the Cocos (Keeling) Islands. Multilingual Matters. hlm.37–59. ISBN978-1-84769-749-3.
↑Alexander Adelaar, 1996. "Malay in the Cocos (Keeling) Islands 1996".