Araujia sericifera adalah tumbuhan merambat menahun dalam genus Araujia, dari famili Apocynaceae, yang berasal dari Amerika Selatan. Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim subtropis dengan rentang sebaran mulai dari Brasil tenggara dan selatan hingga Argentina timur laut. Dalam bahasa Inggris, tanaman ini dikenal dengan sebutan white bladderflower. Spesies ini dideskripsikan pada tahun 1817 oleh ahli botani Portugis Félix de Avelar Brotero.[2] Sinonimnya, Araujia hortorum lebih sering digunakan di Selandia Baru.
Araujia diperkenalkan ke Eropa dan daerah lain sebagai tanaman hias, tetapi sekarang dianggap sebagai gulma berbahaya. Di beberapa negara, seperti Prancis, bunganya yang menarik dan harum yang melimpah menjadikannya spesimen yang layak dibudidayakan. Namun, ketahanannya yang kuat dikombinasikan dengan produksi biji yang tinggi dapat membuatnya invasif di sebagian besar lingkungan, tetapi tidak di Prancis karena sensitivitasnya terhadap embun beku.
Etimologi
Nama genus (Araujia) berasal dari António de Araújo e Azevedo, Pangeran Barca ke-1 (1754–1817), seorang ahli botani amatir Portugal yang melakukan studi dan eksperimen ilmiah di kebun raya miliknya sendiri. Nama Latin spesies ini, sericifera, berarti "berbulu sutra" dan mengacu pada bulu-bulu halus yang mengelilingi biji di dalam buah. Araujiasericofera merupakan sinonim taksonomi yang salah untuk Araujia sericifera.[3][4][5]
Deskripsi
Bunga Araujia sericifera
Araujia sericifera adalah tumbuhan merambat yang dapat memanjat hingga setinggi 5–10 meter (16–33 kaki). Ketika patah, ia mengeluarkan cairan kental berwarna susu dan berbau busuk. Daunnya berhadapan, berwarna hijau tua, mengkilap, dan cukup berdaging, hampir berbentuk segitiga, dengan tepi daun utuh, panjangnya sekitar 10–12 sentimeter (3,9–4,7 inci) dan lebar 1–6 sentimeter (0,39–2,36 inci) dengan tepi daun utuh. Sisi atas berwarna hijau tua, telanjang, dan mengkilap, sedangkan sisi bawah berwarna abu-abu kehijauan dengan bulu-bulu halus seperti kain felt. Ketika batang, daun, atau buah yang belum matang patah, cairan putih susu akan keluar di titik patahnya. Cairan ini sedikit beracun dan dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit jika disentuh.
Batangnya tipis dan berkelok-kelok. Percabangannya kuat dan dapat mengalami lignifikasi di pangkalnya. Tanaman ini biasanya melilit tanaman lain atau tiang atau jeruji pagar. Sistem akarnya terdiri dari akar tunggang pendek dengan akar lateral superfisial. Batang dan daun tanaman mungkin mengalami penuaan di akhir musim panas atau awal musim gugur, tetapi tunas baru akan tumbuh pada batang tua sebagai penopang tanaman merambat.