"Ut Diligatis Invicem" (Yohanes15:17)[3] (Kasihilah seorang akan yang lain)
Lambang
Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. (lahir 14 Februari 1968) adalah UskupKeuskupan Bandung, melanjutkan kepemimpinan Mgr. Johannes Pujasumarta yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang dan kekosongan tahta diisi oleh Administrator Apostolik Mgr. Ignatius Suharyo. Ia terpilih menjadi Uskup Bandung pada 3 Juni 2014, dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014.[4]
Mgr. Anton mulai menjalani studinya di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1984.[7] Ia memilih moto yang menjadi penyemangat panggilannya, Ubi Ego Sum Ibi Deo Servio (Di Mana pun Saya Berada, Saya Akan Mengabdi Tuhan).[6] Ia sempat juga menjadi bidel angkatan dan bidel umum (sejenis Ketua OSIS) di sana periode Juli 1986 sampai dengan Juli 1987.[6][8] Ia kemudian melanjutkan studi di seminari tinggi, dan bergabung dengan Ordo Salib Suci (OSC).[9] Ia kemudian menjalani studi S1 di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.[5]
Kapel Santa Helena dalam Kompleks Pratista, lokasi tahbisan diakon Mgr. Anton.
Ia mengucapkan kaulnya sebagai imam religius untuk tarekat Ordo Salib Suci (OSC) pada tanggal 28 Agustus 1994.[7] Bunjamin ditahbiskan menjadi diakon di Kapel Santa Helena, Pratista, Bandung pada 31 Januari 1996. Ia kemudian menjalani tahun pastoral sebagai diakon selama 6 bulan. Ia menerima tahbisan imamat pada 26 Juni 1996 di Gereja Santo Laurentius, Bandung.[10] Ia ditahbiskan oleh Uskup Bandung saat itu, Mgr. Alexander Djajasiswaja bersama 3 orang imam OSC lainnya, yakni R.P. Laurentius Tarpin, O.S.C, R.P. Basilius Hendra Kimawan, O.S.C., dan R.P. Yohanes Berchmans Rosaryanto, O.S.C.[10]
Selama kariernya, Mgr. Anton tidak pernah menjadi pastor paroki.[11] Setelah menerima tahbisan imamat, ia menjadi pastor pembantu selama tiga bulan di Paroki Kristus Sang Penabur sampai keberangkatannya untuk studi. Ia diutus melanjutkan studi S2 dilakukannya di Universitas Katolik Leuven, Leuven, Belgia sejak tahun 1996 hingga 1999 dalam bidang filsafat.[12][13] Dari studi tersebut, ia mendapat gelar Lisensiat dan kembali ke Indonesia untuk mengajar di Universitas Katolik Parahyangan, hingga tahun 2003.[13]
Pada tahun 2003, Mgr. Anton mendapat perutusan untuk mendalami ilmu filsafat di Universitas Kepausan Lateran, Roma dan menyelesaikannya pada tahun 2007.[12] Sekembalinya ke Indonesia, ia kembali mengajar di Universitas Katolik Parahyangan dengan tugas tambahan sebagai Wakil Provinsial OSC Indonesia untuk periode 2007–2010.[12][13]
Pada Kapitel OSC Provinsi Sang Kristus Indonesia yang dilaksanakan pada 5–9 Juli 2010, Mgr. Anton terpilih menjadi Provinsial Ordo Salib Suci Provinsi Sang Kristus Indonesia untuk masa bakti 2010–2013.[15]
Mgr. Anton juga menjadi Sekretaris sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Salib Suci yang mengurus sejumlah sekolah Katolik di wilayah Keuskupan Bandung.[5] Di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan, Mgr. Anton juga menjadi dosen tetap di Fakultas Filsafat, dan pernah memimpin Pusat Kajian Humaniora Unpar (kini Lembaga Pengembangan Humaniora Unpar).[5] Di Yayasan Unpar, Mgr. Anton pernah menjadi sekretaris pengurus dan terakhir menjadi Anggota Pembina dalam kapasitasnya sebagai Provinsial OSC.[5][16] Di Keuskupan Bandung, ia dipercaya sebagai Sekretaris FORPITU (Forum Pimpinan Tarekat dan UNIO) Keuskupan Bandung, anggota Dewan Konsultores dan Dewan Pastoral Keuskupan Bandung.[13]
Pada Kapitel OSC 15–19 Juli 2013, Mgr. Anton kembali terpiih menjadi Provinsial OSC Provinsi Sang Kristus Indonesia untuk masa bakti 2013–2016.[17]
Uskup Bandung
Mgr. Anton memasuki Gereja Katedral Bandung dalam misa pontifikal pertama setelah ditahbiskan menjadi Uskup Bandung.
Pada tanggal 3 Juni 2014 pukul 12.00 waktu Roma (pukul 17.00 UTC+7), Paus Fransiskus mengumumkan terpilihnya Mgr. Anton menjadi Uskup Keuskupan Bandung.[7][12][18][19] Hal ini mematahkan isu yang menyatakan ia akan memperkuat pada tingkat Generalat Ordo Salib Suci demi membantu gubernatio internal Salib Suci dan menjadi Magister General OSC.[13]
Keuskupan Bandung telah melaksanakan dua sinode selama kepemimpinan Mgr. Anton, termasuk Sinode Keuskupan tahun 2015 dengan tema "Sehati Sejiwa Berbagi Sukacita" (bahasa Sunda:Sarasa Sasukma Ngawedar Atma Guligahcode: su is deprecated )[23][24] dan Sinode Orang Muda Katolik tahun 2016.[25] Mgr. Anton juga menetapkan tahun 2016 sampai 2018 menjadi Tahun Keluarga.[26]
Menjelang penahbisan Mgr. Paulinus Yan Olla, M.S.F. sebagai Uskup Tanjung Selor, Mgr. Anton memimpin ibadat salve yang bertempat di Gereja Katedral Tanjung Selor pada 4 Mei 2018. Mgr. Anton kembali memimpin ibadat salve, yakni dalam rangka penahbisan Mgr. Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto pada 15 Oktober 2018.[30]
Menjelang acara tahbisan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, S.X. sebagai Uskup Padang, Mgr. Anton kembali menjadi pemimpin Ibadat Salve yang digelar di Gereja Katedral Santa Theresia Padang pada tanggal 6 Oktober 2021.
Pada tanggal 17 November 2022, Mgr. Anton terpilih sebagai Ketua KWI periode 2022–2025 menggantikan Kardinal Ignatius Suharyo yang sudah menjadi Ketua KWI selama tiga periode.
Pada tanggal 13 Mei 2025, Mgr. Anton kembali menjadi pemimpin Ibadat Salve yang digelar di Gereja Katedral Tiga Raja Timika dalam rangka pentahbisan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A sebagai Uskup Timika.