ENSIKLOPEDIA
Ailurus
| Panda merah | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Carnivora |
| Famili: | Ailuridae |
| Subfamili: | Ailurinae |
| Tribus: | Ailurini |
| Genus: | Ailurus F. Cuvier, 1825 |
| Spesies: | A. fulgens |
| Nama binomial | |
| Ailurus fulgens F. Cuvier, 1825 | |
| Subspesies | |
| Wilayah persebaran panda merah | |
| Sinonim[3] | |
Panda merah (Ailurus fulgens), juga dikenal sebagai panda kecil, adalah mamalia kecil yang berasal dari Himalaya timur dan Tiongkok barat daya. Hewan ini memiliki bulu lebat berwarna cokelat kemerahan dengan perut dan kaki berwarna hitam, telinga bertepi putih, moncong yang sebagian besar berwarna putih, dan ekor yang bergelang. Panjang kepala hingga tubuhnya adalah 51–63,5 cm (20,1–25,0 in) dengan ekor sepanjang 28–48,5 cm (11,0–19,1 in), dan beratnya berkisar antara 3,2 hingga 15 kg (7,1 hingga 33,1 pon). Mereka beradaptasi dengan baik untuk memanjat karena sendinya yang fleksibel dan cakar semi-retraktil yang melengkung.
Panda merah secara formal dideskripsikan pada tahun 1825. Dua subspesies yang diakui, panda merah himalaya dan panda merah Tiongkok, mengalami divergensi genetik sekitar 250.000 tahun yang lalu. Posisi panda merah dalam pohon evolusi telah diperdebatkan, namun bukti genetik modern menempatkannya dalam kekerabatan dekat dengan rakun, cerpelai, dan sigung. Ia tidak berkerabat dekat dengan panda raksasa, yang merupakan sejenis beruang, meskipun keduanya memiliki tulang pergelangan tangan panjang atau "Ibu jari palsu" yang digunakan untuk menggenggam bambu. Garis keturunan evolusi panda merah (Ailuridae) merentang kembali sekitar 25 hingga 18 juta tahun silam, sebagaimana yang diindikasikan oleh kerabat fosil punah yang ditemukan di Eurasia dan Amerika Utara.
Panda merah mendiami hutan runjung serta hutan gugur daun iklim sedang dan hutan campur, menyukai lereng curam dengan tutupan bambu yang lebat di dekat sumber air. Hewan ini bersifat soliter dan sebagian besar arboreal. Ia memakan terutama rebung dan daun bambu, tetapi juga buah-buahan dan bunga. Panda merah kawin pada awal musim semi, dengan betina melahirkan hingga empat anak pada musim panas. Ia terancam oleh perburuan liar serta kerusakan dan fragmentasi habitat akibat deforestasi. Spesies ini telah terdaftar sebagai spesies Genting dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 2015. Hewan ini dilindungi di semua negara wilayah persebarannya.
Program konservasi berbasis masyarakat telah dimulai di Nepal, Bhutan, dan timur laut India; di Tiongkok, hewan ini mendapatkan keuntungan dari proyek konservasi alam. Program penangkaran regional untuk panda merah telah didirikan di kebun binatang di seluruh dunia. Ia ditampilkan dalam film animasi, permainan video, buku komik, dan sebagai nama perusahaan serta grup musik.
Etimologi
Asal-usul nama panda tidak pasti, tetapi salah satu teori yang paling mungkin adalah bahwa nama tersebut berasal dari kata dalam bahasa Nepal "ponya".[4] Kata पञ्जाcode: ne is deprecated pajā atau पौँजाcode: ne is deprecated pañjā berarti "bantalan kaki" dan "cakar".[5] Kata-kata Nepal "nigalya ponya" telah diterjemahkan sebagai "kaki bambu" dan diperkirakan merupakan nama panda merah dalam bahasa Nepal. Hewan ini dulunya hanya disebut panda, dan merupakan satu-satunya hewan yang dikenal dengan nama ini selama lebih dari 40 tahun; hewan ini kemudian dikenal sebagai panda merah atau panda kecil untuk membedakannya dari panda raksasa, yang secara resmi dideskripsikan dan diberi nama pada tahun 1869.[4]
Nama genus Ailurus diadopsi dari kata Yunani Kuno αἴλουρος ailouros yang berarti 'kucing'.[6] Nama spesies fulgens berasal dari bahasa Latin yang artinya 'bersinar, terang'.[4][7]
Taksonomi

Panda merah dideskripsikan dan diberi nama pada tahun 1825 oleh Frederic Cuvier, yang memberinya nama ilmiah Ailurus fulgens. Deskripsi Cuvier didasarkan pada spesimen zoologi, termasuk kulit, cakar, tulang rahang, dan gigi "dari pegunungan di utara India", serta catatan oleh Alfred Duvaucel.[9][10] Panda merah telah dideskripsikan sebelumnya oleh Thomas Hardwicke pada tahun 1821, namun makalahnya baru diterbitkan pada tahun 1827.[4][11] Pada tahun 1902, Oldfield Thomas mendeskripsikan tengkorak spesimen panda merah jantan dengan nama Ailurus fulgens styani untuk menghormati Frederick William Styan yang telah mengumpulkan spesimen ini di Sichuan.[2]
Subspesies dan spesies
Panda merah modern adalah satu-satunya spesies yang diakui dalam genus Ailurus. Secara tradisional, hewan ini dibagi menjadi dua subspesies: panda merah himalaya (A. f. fulgens) dan panda merah Tiongkok (A. f. styani). Subspesies Himalaya memiliki perawakan yang lebih lurus, dahi berwarna lebih terang, dan rambut berujung oker di punggung bawah dan pantat. Subspesies Tiongkok memiliki dahi yang lebih melengkung dan moncong yang miring, bulu yang lebih gelap dengan wajah yang kurang putih, dan kontras yang lebih tajam di antara cincin-cincin ekornya.[3]
Pada tahun 2020, hasil analisis genetik sampel panda merah menunjukkan bahwa populasi panda merah di Himalaya dan Tiongkok terpisah sekitar 250.000 tahun yang lalu. Para peneliti menyarankan bahwa kedua subspesies tersebut harus diperlakukan sebagai spesies yang berbeda. Panda merah di Tibet tenggara dan Myanmar utara ditemukan sebagai bagian dari subspesies styani, sedangkan panda merah di Tibet selatan termasuk dalam subspesies fulgens dalam arti sempit.[12] Pengurutan DNA dari 132 sampel feses panda merah yang dikumpulkan di India Timur Laut dan Tiongkok juga menunjukkan dua klaster berbeda yang mengindikasikan bahwa Sungai Siang merupakan batas antara panda merah himalaya dan tiongkok.[13] Mereka kemungkinan mengalami divergensi akibat peristiwa glasiasi di Dataran Tinggi Tibet bagian selatan pada kala Pleistosen.[14]
Filogeni
Penempatan panda merah dalam pohon evolusi telah menjadi perdebatan. Pada awal abad ke-20, berbagai ilmuwan menempatkannya dalam famili Procyonidae bersama rakun dan kerabatnya. Pada masa itu, sebagian besar ahli biologi terkemuka juga menganggap panda merah berkerabat dengan panda raksasa, yang pada akhirnya diketahui sebagai sejenis beruang. Sebuah studi tahun 1982 meneliti persamaan dan perbedaan tengkorak antara panda merah dan panda raksasa, beruang, serta procyonid lainnya, dan menempatkan spesies ini dalam familinya sendiri, Ailuridae. Penulis studi tersebut menganggap panda merah berkerabat lebih dekat dengan beruang.[3] Analisis DNA mitokondria tahun 1995 mengungkapkan bahwa panda merah memiliki afinitas dekat dengan Procyonidae.[15] Studi genetik lebih lanjut pada tahun 2005, 2018, dan 2021 telah menempatkan panda merah di dalam klad Musteloidea, yang juga mencakup Procyonidae, Mustelidae (cerpelai dan kerabatnya), serta Mephitidae (sigung dan kerabatnya).[16][17][18]
Catatan fosil

Famili Ailuridae tampaknya telah berevolusi di Eropa pada kala Oligosen Akhir atau Miosen Awal, sekitar 25 hingga 18 juta tahun silam. Anggota terawalnya, Amphictis, diketahui dari tengkoraknya yang berukuran 10 cm (4 in) dan mungkin memiliki ukuran yang sama dengan spesies modern. Dentisinya terdiri atas premolar dan gigi pemotong yang tajam (P4 dan m1) serta geraham yang beradaptasi untuk menggiling (M1, M2 dan m2), yang menunjukkan bahwa hewan ini memiliki pola makan karnivor yang umum. Penempatannya dalam Ailuridae didasarkan pada alur di sisi gigi taringnya. Ailurid awal atau basal lainnya mencakup Alopecocyon dan Simocyon, yang fosilnya ditemukan di seluruh Eurasia dan Amerika Utara, dari kala Miosen Tengah, di mana fosil yang disebut terakhir bertahan hingga kala Pliosen Awal. Keduanya memiliki gigi yang mirip dengan Amphictis dan dengan demikian memiliki pola makan yang serupa.[19] Simocyon yang seukuran puma kemungkinan merupakan pemanjat pohon dan memiliki "ibu jari palsu"—tulang pergelangan tangan panjang—yang serupa dengan spesies modern, menunjukkan bahwa organ tambahan tersebut merupakan adaptasi untuk lokomosi arboreal dan bukan untuk memakan bambu.[19][20]
Ailurid yang muncul belakangan dan lebih berkembang diklasifikasikan dalam subfamili Ailurinae dan dikenal sebagai panda merah "sejati". Hewan-hewan ini berukuran lebih kecil dan lebih beradaptasi untuk pola makan omnivor atau herbivor. Panda sejati paling awal yang diketahui adalah Magerictis dari Spanyol Miosen Tengah dan hanya diketahui dari satu gigi, yakni geraham kedua bawah. Gigi tersebut menunjukkan karakteristik leluhur dan karakteristik baru, dengan mahkota yang relatif rendah dan sederhana tetapi juga permukaan penghancur yang memanjang dengan bonjol gigi yang berkembang seperti spesies-spesies belakangan.[21] Ailurine yang muncul kemudian mencakup Pristinailurus bristoli yang hidup di Amerika Utara bagian timur dari Miosen akhir hingga Pliosen Awal[21][22] dan spesies dari genus Parailurus yang pertama kali muncul di Eropa pada Pliosen Awal, menyebar melintasi Eurasia hingga ke Amerika Utara.[21][23] Hewan-hewan ini diklasifikasikan sebagai takson saudara bagi garis keturunan panda merah modern. Berbeda dengan spesies modern yang herbivor, panda purba ini kemungkinan adalah omnivor, dengan geraham yang memiliki banyak bonjol dan geraham depan yang tajam.[21][22][24]
Catatan fosil paling awal dari genus modern Ailurus berasal tidak lebih awal dari kala Pleistosen dan tampaknya terbatas di Asia. Garis keturunan panda merah modern beradaptasi untuk pola makan bambu yang khusus, memiliki geraham depan yang menyerupai geraham dan bonjol yang lebih tinggi.[21] Ibu jari palsu tersebut secara sekunder memperoleh fungsi dalam hal makan.[19][20]
Genomika
Analisis terhadap 53 sampel panda merah dari Sichuan dan Yunnan menunjukkan tingkat keanekaragaman genetik yang tinggi.[25] Genom lengkap panda merah diurutkan pada tahun 2017. Para peneliti membandingkannya dengan genom panda raksasa untuk mempelajari genetika evolusi konvergen, karena kedua spesies memiliki ibu jari palsu dan beradaptasi untuk pola makan bambu yang khusus meskipun memiliki sistem pencernaan karnivor. Kedua panda menunjukkan modifikasi pada gen perkembangan tungkai tertentu (DYNC2H1 dan PCNT), yang mungkin berperan dalam perkembangan ibu jarinya.[26] Dalam peralihan dari pola makan karnivor ke herbivor, kedua spesies telah mengaktifkan kembali gen reseptor rasa yang digunakan untuk mendeteksi rasa pahit, meskipun gen spesifiknya berbeda.[27]
Deskripsi
Bulu panda merah sebagian besar berwarna merah atau cokelat jingga dengan perut dan kaki berwarna hitam. Moncong, pipi, alis, dan tepi telinga bagian dalam sebagian besar berwarna putih, sedangkan ekornya yang lebat memiliki pola cincin berwarna merah dan bungalan, serta ujung berwarna cokelat tua.[28][29][30] Pewarnaan ini tampaknya berfungsi sebagai kamuflase di habitat dengan lumut merah dan pepohonan yang tertutup lumut kerak putih. Rambut pelindungnya lebih panjang dan kasar, sementara rambut bawahnya yang lebat lebih halus dengan helai yang lebih pendek.[29] Rambut pelindung pada bagian punggung memiliki penampang melintang yang melingkar dan panjangnya 47–56 mm (1,9–2,2 in). Hewan ini memiliki misai yang cukup panjang di sekitar mulut, rahang bawah, dan dagu. Rambut pada telapak kakinya memungkinkan hewan ini berjalan di atas salju.[28]
Panda merah memiliki kepala yang relatif kecil, meskipun secara proporsional lebih besar daripada rakun yang berukuran sama, dengan moncong yang pendek dan telinga berbentuk segitiga, serta tungkai yang hampir sama panjangnya.[28][29] Panjang kepala hingga tubuhnya adalah 51–63,5 cm (20,1–25,0 in) dengan ekor sepanjang 28–485 cm (11–191 in). Panda merah himalaya tercatat memiliki berat 3,2–94 kg (7,1–207,2 pon), sedangkan panda merah Tiongkok memiliki berat 4–15 kg (8,8–33,1 pon) untuk betina dan 4,2–13,4 kg (9,3–29,5 pon) untuk jantan.[28] Panda merah memiliki lima jari melengkung pada setiap kaki, yang masing-masing dilengkapi cakar semi-retraktil melengkung yang membantu dalam memanjat.[29] Panggul dan tungkai belakangnya memiliki sendi yang fleksibel, sebuah adaptasi untuk gaya hidup kuadrupedal arboreal.[31] Meskipun tidak prehensil, ekornya membantu keseimbangan hewan saat memanjat.[29]
Kaki depannya memiliki "ibu jari palsu", yang merupakan perpanjangan dari tulang pergelangan tangan, yakni sesamoid radial yang ditemukan pada banyak Carnivora. Ibu jari ini memungkinkan hewan tersebut untuk mencengkeram batang bambu, dan baik jari maupun tulang pergelangan tangannya sangat fleksibel. Panda merah berbagi fitur ini dengan panda raksasa, yang memiliki sesamoid lebih besar dan lebih pipih di bagian samping. Selain itu, sesamoid panda merah memiliki ujung yang lebih cekung, sedangkan sesamoid panda raksasa melengkung di bagian tengah. Fitur-fitur ini memberikan ketangkasan yang lebih berkembang pada panda raksasa.[32]
Tengkorak panda merah lebar, dan rahang bawahnya kokoh.[28][29] Namun, karena memakan daun dan batang yang tidak terlalu keras, mereka memiliki otot pengunyah yang lebih kecil dibandingkan panda raksasa. Sistem pencernaan panda merah hanya 4,2 kali panjang tubuhnya, dengan lambung yang sederhana, tidak ada pembagian yang nyata antara ileum dan usus besar, serta tidak memiliki sekum.[28]
Kedua jenis kelamin memiliki sepasang kelenjar anal yang mengeluarkan sekresi yang terdiri dari asam lemak rantai panjang, kolesterol, skualena, dan 2-Piperidinon; senyawa terakhir adalah yang paling berbau dan dirasakan oleh manusia memiliki bau seperti amonia atau lada.[33]
Persebaran dan habitat

Panda merah mendiami Nepal, negara bagian Sikkim, Benggala Barat, dan Arunachal Pradesh di India, Bhutan, Tibet bagian selatan, Myanmar bagian utara, serta provinsi Sichuan dan Yunnan di Tiongkok.[1] Habitat potensial global panda merah diperkirakan mencakup paling banyak 47.100 km2 (18.200 sq mi); habitat ini terletak di zona iklim sedang di Himalaya dengan kisaran suhu tahunan rata-rata 18–24 °C (64–75 °F).[34] Di seluruh wilayah persebaran ini, hewan ini tercatat berada pada ketinggian 2.000–4.300 m (6.600–14.100 ft).[35][36][37][38][39]
| Negara | Perkiraan luas[34] |
|---|---|
| Nepal | 22.400 km2 (8.600 sq mi) |
| Tiongkok | 13.100 km2 (5.100 sq mi) |
| India | 5.700 km2 (2.200 sq mi) |
| Myanmar | 5.000 km2 (1.900 sq mi) |
| Bhutan | 900 km2 (350 sq mi) |
| Total | 47.100 km2 (18.200 sq mi) |
Di Nepal, hewan ini hidup di enam kompleks kawasan lindung dalam ekoregion hutan berdaun lebar Himalaya Timur.[37] Catatan paling barat hingga saat ini diperoleh di tiga hutan kemasyarakatan di Distrik Kalikot pada tahun 2019.[40] Panchthar dan Distrik Ilam mewakili wilayah persebaran paling timur di negara tersebut, di mana habitatnya yang berupa petak-petak hutan dikelilingi oleh desa, padang penggembalaan ternak, dan jalan.[41] Metapopulasi di kawasan lindung dan koridor hidupan liar di lanskap Kangchenjunga di Sikkim dan Benggala Barat bagian utara sebagian terhubung melalui hutan primer di luar kawasan lindung.[42] Hutan di lanskap ini didominasi oleh ek himalaya (Quercus lamellosa dan Q. semecarpifolia), birca himalaya, fir himalaya, mapel himalaya dengan bambu, Rhododendron, dan beberapa semak juniper hitam yang tumbuh di lapisan bawah hutan.[35][43][44][45] Catatan di Bhutan, Lembah Pangchen di Arunachal Pradesh, serta distrik Kameng Barat dan Shi Yomi menunjukkan bahwa hewan ini sering mengunjungi habitat dengan bambu Yushania dan Thamnocalamus, Rhododendron berukuran sedang, serta pohon whitebeam dan chinquapin.[36][46][47] Di Tiongkok, hewan ini mendiami Hutan runjung subalpen Pegunungan Hengduan dan Hutan runjung Qionglai-Minshan di Pegunungan Hengduan, Qionglai, Xiaoxiang, Daxiangling, dan Liangshan di Sichuan.[38] Di provinsi Yunnan yang bersebelahan, hewan ini tercatat hanya berada di bagian pegunungan barat laut.[48][49]
Panda merah menyukai mikrohabitat yang berjarak 70–240 m (230–790 ft) dari sumber air.[50][51][52][53] Batang kayu yang tumbang dan tunggul pohon merupakan fitur habitat yang penting, karena memfasilitasi akses ke daun bambu.[54] Panda merah tercatat menggunakan lereng curam dengan kemiringan lebih dari 20° dan tunggul yang berdiameter lebih dari 30 cm (12 in).[50][52] Panda merah yang diamati di Taman Nasional Phrumsengla terutama menggunakan lereng yang menghadap ke timur dan selatan dengan kemiringan rata-rata 34° dan tutupan tajuk sebesar 66 persen yang ditumbuhi bambu setinggi sekitar 23 m (75 ft).[51] Di Cagar Alam Dafengding, hewan ini menyukai lereng curam yang menghadap ke selatan pada musim dingin dan mendiami hutan dengan bambu setinggi 1,5–2,5 m (4 ft 11 in – 8 ft 2 in).[55] Di Cagar Alam Nasional Gaoligongshan, hewan ini mendiami hutan runjung campuran dengan tutupan tajuk lebat lebih dari 75 persen, lereng curam, dan kepadatan bambu setidaknya 70 tanaman bambu/m2 (6,5 tanaman bambu/sq ft).[56] Di beberapa bagian Tiongkok, panda merah hidup berdampingan dengan panda raksasa. Di Fengtongzhai dan Cagar Alam Nasional Yele, mikrohabitat panda merah dicirikan oleh lereng curam dengan banyak batang bambu, semak belukar, batang kayu tumbang, dan tunggul pohon, sedangkan panda raksasa lebih menyukai lereng yang lebih landai dengan bambu yang lebih tinggi namun jumlahnya lebih sedikit, serta fitur habitat yang lebih sedikit secara keseluruhan. Pemisahan ceruk semacam itu mengurangi persaingan di antara kedua spesies pemakan bambu tersebut.[50][54]
Perilaku dan ekologi

Panda merah sulit diamati di alam liar,[57] dan sebagian besar studi mengenai perilakunya dilakukan di penangkaran.[58] Panda merah tampaknya bersifat nokturnal sekaligus krepuskular, dan tidur secara terputus-putus di malam hari. Hewan ini biasanya beristirahat atau tidur di pohon atau tempat tinggi lainnya, terentang menelungkup di dahan dengan kaki menjuntai saat cuaca panas, dan meringkuk dengan tungkai belakang menutupi wajah saat cuaca dingin. Mereka beradaptasi untuk memanjat dan turun ke tanah dengan kepala terlebih dahulu sambil kaki belakangnya mencengkeram bagian tengah batang pohon. Mereka bergerak cepat di tanah dengan berlari kecil atau melompat.[29]
Jarak sosial
Panda dewasa umumnya bersifat soliter dan teritorial. Individu menandai wilayah jelajah atau batas teritorial mereka dengan urine, feses, dan sekresi dari kelenjar anal serta kelenjar di sekitarnya. Penandaan aroma biasanya dilakukan di tanah, dengan pejantan menandai lebih sering dan dalam waktu yang lebih lama.[29] Di Cagar Alam Nasional Wolong Tiongkok, wilayah jelajah seekor betina berkalung radio adalah 0,94 km2 (0,36 sq mi), sedangkan wilayah jelajah pejantan adalah 1,11 km2 (0,43 sq mi).[59] Sebuah studi pemantauan selama satu tahun terhadap sepuluh panda merah di Nepal timur menunjukkan bahwa empat pejantan memiliki median wilayah jelajah seluas 1,73 km2 (0,67 sq mi) dan enam betina seluas 0,94 km2 (0,36 sq mi) dalam tutupan hutan setidaknya 19,2 ha (47 ekar). Betina melakukan perjalanan 419–841 m (1.375–2.759 ft) per hari dan jantan 660–1.473 m (2.165–4.833 ft). Pada musim kawin dari Januari hingga Maret, panda dewasa menempuh rata-rata 795 m (2.608 ft) dan sub-dewasa rata-rata 861 m (2.825 ft).[41] Mereka semua memiliki wilayah jelajah yang lebih luas di daerah dengan tutupan hutan rendah dan mengurangi aktivitasnya di daerah yang terganggu oleh manusia, ternak, dan anjing.[60]
Pola dan cara makan
Panda merah sebagian besar herbivor dan sebagian besar memakan bambu, utamanya dari genus Phyllostachys, Sinarundinaria, Thamnocalamus, dan Chimonobambusa.[61] Ia juga memakan buah-buahan, bunga, biji ek, telur, burung, dan mamalia kecil. Daun bambu mungkin merupakan bahan makanan yang paling melimpah sepanjang tahun dan satu-satunya makanan yang dapat mereka akses selama musim dingin.[62] Di Cagar Alam Nasional Wolong, daun spesies bambu Bashania fangiana ditemukan di hampir 94 persen kotoran yang dianalisis, dan rebungnya ditemukan di 59 persen kotoran yang ditemukan pada bulan Juni.[59]
Makanan panda merah yang dipantau di tiga lokasi di Taman Nasional Singalila selama dua tahun terdiri dari 40–83 persen bambu Yushania maling dan 51–91,2 persen Thamnocalamus spathiflorus,[a] yang dilengkapi dengan rebung, buah Actinidia strigosa, dan buah beri musiman.[65] Di taman nasional ini, kotoran panda merah juga mengandung sisa-sisa mawar sutra dan spesies buah beri semak di musim panas, Actinidia callosa di musim pasca-monsun, serta Merrilliopanax alpinus, spesies whitebeam Sorbus cuspidata, dan rhododendron pohon di kedua musim tersebut. Kotoran ditemukan mengandung 23 spesies tanaman termasuk spesies ek batu Lithocarpus pachyphyllus, magnolia Campbell, spesies chinquapin Castanopsis tribuloides, birca himalaya, Litsea sericea, dan spesies holly Ilex fragilis.[66] Di Taman Nasional Rara Nepal, Thamnocalamus ditemukan di semua kotoran yang dijadikan sampel, baik sebelum maupun sesudah monsun.[67] Makanan musim panasnya di Cagar Perburuan Dhorpatan juga mencakup beberapa lumut kerak dan barberi.[43] Di Taman Nasional Jigme Dorji Bhutan, feses panda merah yang ditemukan pada musim berbuah mengandung biji ivy himalaya.[53]

Panda merah mengambil makanan dengan salah satu kaki depannya dan biasanya makan sambil duduk atau berdiri. Saat mencari bambu, ia mencengkeram batang tanaman dan menariknya ke bawah menuju rahangnya. Ia menggigit daun dengan sisi gigi pipi lalu memotong, mengunyah, dan menelan. Makanan yang lebih kecil seperti bunga, beri, dan daun kecil dimakan dengan cara berbeda, yakni dipotong oleh gigi seri.[29] Karena memiliki saluran pencernaan karnivor, panda merah tidak dapat mencerna bambu dengan sempurna, yang melewati ususnya dalam dua hingga empat jam. Oleh karena itu, ia harus mengonsumsi materi tanaman paling bergizi dalam jumlah besar. Ia memakan lebih dari 1,5 kg (3 pon 5 oz) daun segar atau 4 kg (9 pon) rebung segar dalam sehari, dengan protein kasar dan lemak sebagai yang paling mudah dicerna. Pencernaan paling tinggi terjadi pada musim panas dan gugur tetapi paling rendah di musim dingin, dan lebih mudah untuk rebung daripada daun.[68] Laju metabolisme panda merah sebanding dengan mamalia lain seusurannya, meskipun dietnya buruk.[69] Panda merah mencerna hampir sepertiga bahan kering, yang lebih efisien daripada panda raksasa yang mencerna 17 persen.[68] Mikroba di dalam usus dapat membantu dalam pemrosesan bambu; komunitas mikrobiota pada panda merah kurang beragam dibandingkan pada mamalia lain.[70]
Komunikasi
Setidaknya tujuh vokalisasi berbeda telah direkam dari panda merah, yang terdiri atas geraman, gonggongan, pekikan, seruan, embikan, dengusan, dan kicauan. Geraman, gonggongan, dengusan, dan pekikan dihasilkan selama perkelahian dan pengejaran yang agresif. Seruan dibuat sebagai respons saat didekati oleh individu lain. Embikan dikaitkan dengan penandaan aroma dan pengirupan. Pejantan mungkin mengembik saat kawin, sementara betina berkicau.[71] Baik selama perkelahian main-main maupun perkelahian agresif, individu melengkungkan punggung dan ekor mereka sambil perlahan-lahan menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah. Mereka kemudian memutar kepala sambil mengatup-ngatupkan rahang, menggerakkan kepala ke samping, dan mengangkat kaki depan untuk menyerang. Mereka berdiri dengan kaki belakang, mengangkat tungkai depan di atas kepala, dan kemudian menerkam. Dua panda merah mungkin saling "menatap" dari kejauhan.[29]
Reproduksi dan pengasuhan


Panda merah adalah pembiak hari panjang, yang bereproduksi setelah titik balik matahari musim dingin seiring bertambah panjangnya siang hari. Oleh karena itu, perkawinan berlangsung dari Januari hingga Maret, dengan kelahiran terjadi dari Mei hingga Agustus. Reproduksi tertunda selama enam bulan bagi panda di penangkaran di belahan bumi selatan. Estrus berlangsung selama satu hari, dan betina dapat memasuki masa estrus beberapa kali dalam satu musim, namun tidak diketahui berapa lama interval antara setiap siklus berlangsung.[72]
Saat musim reproduksi dimulai, jantan dan betina lebih banyak berinteraksi, dan akan beristirahat, bergerak, serta makan di dekat satu sama lain. Betina yang sedang estrus akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menandai wilayah dan jantan akan memeriksa daerah anogenitalnya. Betina yang reseptif akan mengibaskan ekor dan memosisikan diri dalam pose lordosis, dengan bagian depan diturunkan ke tanah dan tulang belakang melengkung. Kopulasi melibatkan jantan yang menunggangi betina dari belakang dan di atas, meskipun perkawinan berhadapan muka serta perkawinan perut-ke-punggung sambil berbaring miring juga terjadi. Jantan akan mencengkeram sisi tubuh betina dengan kaki depannya dan bukan menggigit lehernya. Intromisi berlangsung selama 2–25 menit, dan pasangan tersebut saling menelisik di antara setiap ronde.[72]
Masa kehamilan berlangsung sekitar 131 hari.[73] Sebelum melahirkan, betina memilih lokasi sarang, seperti pohon, lubang batang kayu atau tunggul, atau celah batu, dan membangun sarang menggunakan material dari sekitarnya, seperti ranting, tongkat, dahan, serpihan kulit kayu, daun, rumput, dan lumut.[57] Kelahiran biasanya terdiri atas satu hingga empat anak yang lahir sepenuhnya berbulu tetapi buta. Mereka sepenuhnya bergantung pada induknya selama tiga hingga empat bulan pertama sampai mereka pertama kali meninggalkan sarang. Mereka menyusu selama lima bulan pertama.[73] Ikatan antara induk dan anak berlangsung hingga musim kawin berikutnya. Anak panda tumbuh sepenuhnya pada usia sekitar 12 bulan dan pada usia sekitar 18 bulan mereka mencapai kematangan seksual.[29] Dua anak panda berkalung radio di Nepal timur berpisah dari induknya pada usia 7–8 bulan dan meninggalkan daerah kelahirannya tiga minggu kemudian. Mereka mencapai wilayah jelajah baru dalam waktu 26–42 hari dan menjadi penghuni tetap setelah menjelajahinya selama 42–44 hari.[41]
Mortalitas dan penyakit
Rentang hidup panda merah di penangkaran mencapai 14 tahun.[29] Mereka tercatat menjadi mangsa macan tutul di alam liar.[74] Sampel feses panda merah yang dikumpulkan di Nepal mengandung parasit protozoa, amoebozoa, cacing gelang, trematoda, dan cacing pita.[75][76] Cacing gelang, cacing pita, dan coccidia juga ditemukan dalam kotoran panda merah yang dikumpulkan di Taman Nasional Rara dan Taman Nasional Langtang.[77] Empat belas panda merah di Kebun Binatang Knoxville menderita kurap yang parah, sehingga ekor dua di antaranya harus diamputasi.[78] Penyakit Chagas dilaporkan sebagai penyebab kematian seekor panda merah yang dipelihara di kebun binatang Kansas.[79] Amdoparvovirus terdeteksi dalam kotoran enam panda merah di Kebun Binatang Sacramento.[80] Delapan panda merah di sebuah kebun binatang Tiongkok menderita sesak napas dan demam tidak lama sebelum mati karena pneumonia; autopsi mengungkapkan bahwa mereka memiliki antibodi terhadap protozoa spesies Toxoplasma gondii dan Sarcocystis yang mengindikasikan bahwa mereka adalah inang perantara.[81] Seekor panda merah di penangkaran di Pangkalan Penelitian Pembiakan Panda Raksasa Chengdu mati karena alasan yang tidak diketahui; autopsi menunjukkan bahwa ginjal, hati, dan paru-parunya rusak akibat infeksi bakteri yang disebabkan oleh Escherichia coli.[82]
Ancaman
Panda merah terutama terancam oleh kerusakan dan fragmentasi habitatnya, yang penyebabnya meliputi peningkatan populasi manusia, deforestasi, pengambilan material hutan non-kayu secara ilegal, dan gangguan oleh penggembala serta ternak.[1] Penginjakan oleh ternak menghambat pertumbuhan bambu,[74] dan tebang habis menurunkan kemampuan beberapa spesies bambu untuk beregenerasi.[83] Stok kayu tebangan di Sichuan saja mencapai 2.661.000 m3 (94.000.000 cu ft) pada tahun 1958–1960, dan sekitar 3.597,9 km2 (1.389,2 sq mi) habitat panda merah ditebang antara pertengahan 1970-an dan akhir 1990-an.[48] Di seluruh Nepal, habitat panda merah di luar kawasan lindung terkena dampak negatif oleh limbah padat, jalur ternak dan pos penggembalaan, serta orang-orang yang mengumpulkan kayu bakar dan tanaman obat.[43][84] Ancaman yang teridentifikasi di Distrik Lamjung, Nepal, mencakup penggembalaan oleh ternak selama transhumans musiman, kebakaran hutan akibat ulah manusia, dan pengumpulan bambu sebagai pakan ternak di musim dingin.[85] Lalu lintas kendaraan merupakan hambatan signifikan bagi pergerakan panda merah antar-petak habitat.[60]
Perburuan liar juga merupakan ancaman utama.[1] Di Nepal, 121 kulit panda merah disita antara tahun 2008 dan 2018. Perangkap yang ditujukan untuk satwa liar lain tercatat telah membunuh panda merah.[86] Di Myanmar, panda merah terancam oleh perburuan menggunakan senjata api dan perangkap; sejak jalan menuju perbatasan dengan Tiongkok dibangun mulai awal tahun 2000-an, kulit dan hewan panda merah hidup telah diperdagangkan dan diselundupkan melintasi perbatasan.[39] Di Tiongkok barat daya, panda merah diburu untuk diambil bulunya, terutama ekor lebatnya yang bernilai tinggi, yang digunakan untuk memproduksi topi. Populasi panda merah di Tiongkok dilaporkan telah menurun sebesar 40 persen selama 50 tahun terakhir, dan populasi di wilayah Himalaya barat dianggap lebih kecil.[48] Antara tahun 2005 dan 2017, 35 panda merah hidup dan tujuh yang mati disita di Sichuan, dan beberapa pedagang dijatuhi hukuman 3–12 tahun penjara. Survei selama sebulan terhadap 65 toko di sembilan kabupaten di Tiongkok pada musim semi 2017 mengungkapkan hanya satu toko di Yunnan yang menawarkan topi yang terbuat dari kulit panda merah, dan ekor panda merah ditawarkan di sebuah forum daring.[87]
Konservasi
Panda merah terdaftar dalam CITES Apendiks I dan dilindungi di semua negara wilayah persebarannya; perburuan adalah ilegal. Hewan ini telah terdaftar sebagai spesies Genting dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 2008 karena populasi globalnya diperkirakan berjumlah 10.000 individu, dengan tren populasi yang menurun. Sebagian besar habitatnya merupakan bagian dari kawasan lindung.[1]
Unit anti-perburuan liar panda merah dan pemantauan berbasis masyarakat telah dibentuk di Taman Nasional Langtang. Anggota Kelompok Pengguna Hutan Masyarakat juga melindungi dan memantau habitat panda merah di bagian lain Nepal.[91] Program penyuluhan masyarakat telah dimulai di Nepal timur menggunakan papan informasi, siaran radio, dan Hari Panda Merah Internasional tahunan pada bulan September; beberapa sekolah mengesahkan panduan konservasi panda merah sebagai bagian dari kurikulum mereka.[92]
Sejak tahun 2010, program konservasi berbasis masyarakat telah dimulai di 10 distrik di Nepal yang bertujuan untuk membantu penduduk desa mengurangi ketergantungan mereka pada sumber daya alam melalui perbaikan praktik penggembalaan dan pengolahan makanan serta peningkatan kemungkinan sumber pendapatan alternatif. Pemerintah Nepal meratifikasi Rencana Aksi Konservasi Panda Merah lima tahunan pada tahun 2019.[93] Dari tahun 2016 hingga 2019, 35 ha (86 ekar) padang penggembalaan dataran tinggi di Merak, Bhutan, dipulihkan dan dipagari melalui kerja sama 120 keluarga penggembala untuk melindungi habitat hutan panda merah dan memperbaiki lahan komunal.[94] Penduduk desa di Arunachal Pradesh mendirikan dua kawasan konservasi masyarakat untuk melindungi habitat panda merah dari gangguan dan eksploitasi sumber daya hutan.[46] Tiongkok telah memrakarsai beberapa proyek untuk melindungi lingkungan dan satwa liarnya, termasuk Grain for Green, Proyek Perlindungan Hutan Alam, dan Proyek Konstruksi Margasatwa/Cagar Alam Nasional. Untuk proyek terakhir, panda merah tidak terdaftar sebagai spesies kunci untuk perlindungan tetapi mungkin mendapatkan keuntungan dari perlindungan panda raksasa dan monyet hidung-pesek emas, yang wilayah persebarannya saling tumpang tindih.[95]
Di penangkaran
Kebun Binatang London menerima dua ekor panda merah pada tahun 1869 dan 1876, yang pertama ditangkap di Darjeeling. Kebun Binatang Calcutta menerima seekor panda merah hidup pada tahun 1877, Kebun Binatang Philadelphia pada tahun 1906, serta Kebun Binatang Artis dan Kebun Binatang Köln pada tahun 1908. Pada tahun 1908, anak panda merah pertama di penangkaran lahir di sebuah kebun binatang India. Pada tahun 1940, Kebun Binatang San Diego mengimpor empat ekor panda merah dari India yang telah ditangkap di Nepal; kelahiran anak pertama mereka terjadi pada tahun 1941. Anak-anak yang lahir kemudian dikirim ke kebun binatang lain; pada tahun 1969, sekitar 250 panda merah telah dipamerkan di kebun binatang.[96] Taronga Conservation Society mulai memelihara panda merah pada tahun 1977.[97]
Pada tahun 1978, sebuah pendaftaran ras, International Red Panda Studbook (Buku Silsilah Panda Merah Internasional), dibentuk, diikuti oleh Program Spesies Terancam Punah Eropa untuk Panda Merah pada tahun 1985. Anggota kebun binatang internasional meratifikasi rencana induk global untuk penangkaran panda merah pada tahun 1993. Pada akhir 2015, 219 panda merah hidup di 42 kebun binatang di Jepang.[98] Taman Zoologi Himalaya Padmaja Naidu berpartisipasi dalam Rencana Kelangsungan Hidup Spesies Panda Merah dan memelihara sekitar 25 panda merah pada tahun 2016.[99] Pada akhir 2019, 182 kebun binatang Eropa memelihara 407 panda merah.[100] Program penangkaran regional juga telah didirikan di kebun-kebun binatang Amerika Utara, Australasia, dan Afrika Selatan.[4]
Dalam budaya

Peran panda merah dalam budaya dan cerita rakyat masyarakat setempat tergolong terbatas. Sebuah gambar panda merah terdapat pada gulungan Tiongkok abad ke-13.[101] Di Distrik Taplejung, Nepal, cakar panda merah digunakan untuk mengobati epilepsi; kulitnya digunakan dalam ritual untuk mengobati orang sakit, membuat topi, orang-orangan sawah, dan menghias rumah.[86] Di Nepal bagian barat, dukun Magar menggunakan kulit dan bulunya dalam pakaian ritual mereka dan percaya bahwa benda tersebut melindungi dari roh jahat. Penduduk di Bhutan tengah menganggap panda merah sebagai reinkarnasi dari biksu Buddha. Beberapa suku di timur laut India dan masyarakat Yi percaya bahwa mengenakan ekor panda merah atau topi yang terbuat dari bulunya membawa keberuntungan.[101] Di Tiongkok, bulunya digunakan untuk upacara budaya setempat. Pada acara pernikahan, pengantin pria secara tradisional membawa kulit hewan ini. Topi yang terbuat dari ekor panda merah juga digunakan oleh pengantin baru setempat sebagai "jimat keberuntungan".[48]
Panda merah diakui sebagai hewan negara bagian Sikkim pada awal 1990-an dan menjadi maskot Festival Teh Darjeeling.[83] Hewan ini telah ditampilkan pada prangko dan koin yang diterbitkan oleh beberapa negara wilayah persebaran panda merah. Panda merah antropomorfis ditampilkan dalam film animasi dan serial TV seperti The White Snake Enchantress, The Jungle Book: The Adventures of Mowgli, Bamboo Bears, Barbie as the Island Princess, waralaba Kung Fu Panda karya DreamWorks, Aggretsuko, dan Turning Red karya Disney/Pixar, serta dalam beberapa permainan video dan buku komik. Hewan ini menjadi asal nama peramban Firefox dan telah digunakan sebagai nama grup musik dan perusahaan. Penampilannya telah digunakan untuk mainan boneka, kaos, kartu pos, dan barang-barang lainnya.[101]
Catatan
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 Glatston, A.; Wei, F.; Than Zaw & Sherpa, A. (2015). "Ailurus fulgens" e.T714A110023718. ; ;
- 1 2 Thomas, O. (1902). "On the Panda of Sze-chuen". Annals and Magazine of Natural History. 7. X (57): 251–252. doi:10.1080/00222930208678667.
- 1 2 3 Groves, C. (2021). "The taxonomy and phylogeny of Ailurus". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 95–117. ISBN 978-0-12-823753-3.
- 1 2 3 4 5 Glatston, A. R. (2021). "Introduction". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. xix–xxix. ISBN 978-0-12-823753-3.
- ↑ Turner, R. L. (1931). "पञ्जा pañjā". A Comparative and Etymological Dictionary of the Nepali Language. London: K. Paul, Trench, Trübner. hlm. 359. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 27 January 2022.
- ↑ Liddell, H. G. & Scott, R. (1940). "αἴλουρος". A Greek-English Lexicon (Edisi Revised and augmented). Oxford: Clarendon Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 February 2021. Diakses tanggal 21 February 2021.
- ↑ Lewis, C. T. A. & Short, C. (1879). "fulgens". Latin Dictionary (Edisi Revised, enlarged, and in great part rewritten). Oxford: Clarendon Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 February 2021. Diakses tanggal 21 February 2021.
- ↑ Lowther, D. A. (2021). "The first painting of the Red Panda (Ailurus fulgens) in Europe? Natural history and artistic patronage in early nineteenth-century India". Archives of Natural History. 48 (2): 368–376. doi:10.3366/anh.2021.0728. S2CID 244938631.
- ↑ Cuvier, F. (1825). "Panda". Dalam Geoffroy Saint-Hilaire, E.; Cuvier, F. (ed.). Histoire naturelle des mammifères, avec des figures originales, coloriées, dessinées d'après des animaux vivans: publié sous l'autorité de l'administration du Muséum d'Histoire naturelle (dalam bahasa Prancis). Vol. 5. Paris: A. Belin. hlm. LII 1–3.
- ↑ Cuvier, G. (1829). "Le Panda éclatant". Le règne animal distribué d'après son organisation (dalam bahasa Prancis). Vol. 1. Paris: Chez Déterville. hlm. 138.
- ↑ Hardwicke, T. (1827). "Description of a new genus of the class Mammalia, from the Himalaya chain of hills between Nepal and the Snowy Mountains". The Transactions of the Linnean Society of London. XV: 161–165.
- ↑ Hu, Y.; Thapa, A.; Fan, H.; Ma, T.; Wu, Q.; Ma, S.; Zhang, D.; Wang, B.; Li, M.; Yan, L. & Wei, F. (2020). "Genomic evidence for two phylogenetic species and long-term population bottlenecks in red pandas". Science Advances. 6 (9) eaax5751. Bibcode:2020SciA....6.5751H. doi:10.1126/sciadv.aax5751. PMC 7043915. PMID 32133395.
- ↑ Joshi, B. D.; Dalui, S.; Singh, S. K.; Mukherjee, T.; Chandra, K.; Sharma, L. K. & Thakur, M. (2021). "Siang river in Arunachal Pradesh splits Red Panda into two phylogenetic species". Mammalian Biology. 101 (1): 121–124. doi:10.1007/s42991-020-00094-y. S2CID 231811193.
- ↑ Dalui, S.; Singh, S. K.; Joshi, B. D.; Ghosh, A.; Basu, S.; Khatri, H.; Sharma, L. K.; Chandra, K. & Thakur, M. (2021). "Geological and Pleistocene glaciations explain the demography and disjunct distribution of Red Panda (A. fulgens) in eastern Himalayas". Scientific Reports. 11 (1): 65. doi:10.1038/s41598-020-80586-6. PMC 7794540. PMID 33420314.
- ↑ Pecon-Slattery, J. & O'Brien, S. J. (1995). "Molecular phylogeny of the red panda (Ailurus fulgens)". The Journal of Heredity. 86 (6): 413–422. doi:10.1093/oxfordjournals.jhered.a111615. PMID 8568209.
- 1 2 Flynn, J. J.; Finarelli, J. A.; Zehr, S.; Hsu, J. & Nedbal, M. A. (2005). "Molecular phylogeny of the Carnivora (Mammalia): Assessing the impact of increased sampling on resolving enigmatic relationships". Systematic Biology. 54 (2): 317–337. doi:10.1080/10635150590923326. PMID 16012099.
- 1 2 Law, C. J.; Slater, G. J. & Mehta, R. S. (2018). "Lineage Diversity and Size Disparity in Musteloidea: Testing Patterns of Adaptive Radiation Using Molecular and Fossil-Based Methods". Systematic Biology. 67 (1): 127–144. doi:10.1093/sysbio/syx047. PMID 28472434.
- 1 2 Hassanin, A.; Veron, G.; Ropiquet, A.; van Vuuren, B. J.; Lécu, A.; Goodman, S. M.; Haider, J.; Nguyen, T. T. (2021). "Evolutionary history of Carnivora (Mammalia, Laurasiatheria) inferred from mitochondrial genomes". PLOS ONE. 16 (2) e0240770. Bibcode:2021PLoSO..1640770H. doi:10.1371/journal.pone.0240770. PMC 7886153. PMID 33591975.
- 1 2 3 Salesa, M. J.; Peigné, S.; Antón, M. & Morales, J. (2021). "The taxonomy and phylogeny of Ailurus". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 15–29. ISBN 978-0-12-823753-3.
- 1 2 Salesa, M. J.; Mauricio, A.; Peigné, S. & Morales, J. (2006). "Evidence of a false thumb in a fossil carnivore clarifies the evolution of pandas". PNAS. 103 (2): 379–382. Bibcode:2006PNAS..103..379S. doi:10.1073/pnas.0504899102. PMC 1326154. PMID 16387860.
- 1 2 3 4 5 Wallace, S. C. & Lyon, L. (2021). "Systemic revision of the Ailurinae (Mammalia: Carnivora: Ailuridae): with a new species from North America". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 31–52. ISBN 978-0-12-823753-3.
- 1 2 Wallace, S. C. & Wang, X. (2004). "Two new carnivores from an unusual late Tertiary forest biota in eastern North America" (PDF). Nature. 431 (7008): 556–559. Bibcode:2004Natur.431..556W. doi:10.1038/nature02819. PMID 15457257. S2CID 4432191.
- ↑ Tedford, R. H. & Gustafson, E. P. (1977). "First North American record of the extinct panda Parailurus". Nature. 265 (5595): 621–623. Bibcode:1977Natur.265..621T. doi:10.1038/265621a0. S2CID 4214900.
- ↑ Sotnikova, M. V. (2008). "A new species of lesser panda Parailurus (Mammalia, Carnivora) from the Pliocene of Transbaikalia (Russia) and some aspects of ailurine phylogeny". Paleontological Journal. 42 (1): 90–99. Bibcode:2008PalJ...42...90S. doi:10.1007/S11492-008-1015-X. S2CID 82000411.
- ↑ Su, B.; Fu, Y.; Wang, Y.; Jin, L. & Chakraborty, R. (2001). "Genetic diversity and population history of the Red Panda (Ailurus fulgens) as inferred from mitochondrial DNA sequence variations". Molecular Biology and Evolution. 18 (6): 1070–1076. doi:10.1093/oxfordjournals.molbev.a003878. PMID 11371595.
- ↑ Hu, Y.; Wu, Q.; Ma, S.; Ma, T.; Shan, L.; Wang, X.; Nie, Y.; Ning, Z.; Yan, L.; Xiu, Y. & Wei, F. (2017). "Comparative genomics reveals convergent evolution between the bamboo-eating giant and red pandas". Proceedings of the National Academy of Sciences. 114 (5): 1081–1086. Bibcode:2017PNAS..114.1081H. doi:10.1073/pnas.1613870114. PMC 5293045. PMID 28096377.
- ↑ Shan, L.; Wu, Q.; Wange, L.; Zhang, L. & Wei, F. (2017). "Lineage-specific evolution of bitter taste receptor genes in the giant and red pandas implies dietary adaptation". Integrative Zoology. 13 (2): 152–159. doi:10.1111/1749-4877.12291. PMC 5873442. PMID 29168616.
- 1 2 3 4 5 6 Fisher, Rebecca E. (2021). "Red Panda Anatomy". Dalam Glatston, Angela R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi 2nd). London: Academic Press. hlm. 81–93. doi:10.1016/B978-0-12-823753-3.00030-2. ISBN 978-0-12-823753-3. S2CID 243824295.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Roberts, M. S. & Gittleman, J. L. (1984). "Ailurus fulgens" (PDF). Mammalian Species (222): 1–8. Bibcode:1984MamSp.222....1R. doi:10.2307/3503840. JSTOR 3503840. S2CID 253993605. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 December 2017. Diakses tanggal 1 December 2017.
- ↑ Wozencraft, W. C. (2013). "Carnivora". Dalam Xie, Y.; Smith, A. T.; Smith, D. E.; Hoffmann, R. S.; Wozencraft, W. C.; MacKinnon, J. R.; Lunde, D. (ed.). Mammals of China. Princeton University Press. hlm. 334. ISBN 978-0-691-15427-5.
- ↑ Makungu, M.; du Plessis, W. M.; Groenewald, H. B.; Barrows, M. & Koeppel, K. N. (2015). "Morphology of the pelvis and hind limb of the Red Panda (Ailurus fulgens) evidenced by gross osteology, radiography and computed tomography". Anatomia, Histologia, Embryologia. 44 (6): 410–421. doi:10.1111/ahe.12152. hdl:2263/50447. PMID 25308447. S2CID 13035672.
- ↑ Antón, M.; Salesa, M. J.; Pastor, J. F.; Peigné, S. & Morales, J. (2006). "Implications of the functional anatomy of the hand and forearm of Ailurus fulgens (Carnivora, Ailuridae) for the evolution of the 'false-thumb' in pandas". Journal of Anatomy. 209 (6): 757–764. doi:10.1111/j.1469-7580.2006.00649.x. PMC 2049003. PMID 17118063.
- ↑ Wood, W. F.; Dragoo, G. A.; Richard, M. J.; Dragoo, J. W. (2003). "Long-chain fatty acids in the anal gland of the red panda, Ailurus fulgens". Biochemical Systematics and Ecology. 31 (9): 1057–1060. Bibcode:2003BioSE..31.1057W. doi:10.1016/S0305-1978(03)00060-7.
- 1 2 Kandel, K.; Huettmann, F.; Suwal, M. K.; Regmi, G. R.; Nijman, V.; Nekaris, K. A. I.; Lama, S. T.; Thapa, A.; Sharma, H. P. & Subedi, T. R. (2015). "Rapid multi-nation distribution assessment of a charismatic conservation species using open access ensemble model GIS predictions: Red Panda (Ailurus fulgens) in the Hindu-Kush Himalaya region". Biological Conservation. 181: 150–161. Bibcode:2015BCons.181..150K. doi:10.1016/j.biocon.2014.10.007.
- 1 2 Mallick, J. K. (2010). "Status of Red Panda Ailurus fulgens in Neora Valley National Park, Darjeeling District, West Bengal, India". Small Carnivore Conservation. 43: 30–36. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 March 2022. Diakses tanggal 18 March 2022.
- 1 2 3 Dorji, S.; Rajaratnam, R. & Vernes, K. (2012). "The Vulnerable Red Panda Ailurus fulgens in Bhutan: distribution, conservation, status and management recommendations". Oryx. 46 (4): 536–543. Bibcode:2012Oryx...46..536D. doi:10.1017/S0030605311000780. S2CID 84332758.
- 1 2 3 Thapa, K.; Thapa, G. J.; Bista, D.; Jnawali, S. R.; Acharya, K. P.; Khanal, K.; Kandel, R. C.; Karki Thapa, M.; Shrestha, S.; Lama, S. T. & Sapkota, N. S. (2020). "Landscape variables affecting the Himalayan Red Panda Ailurus fulgens occupancy in wet season along the mountains in Nepal". PLOS ONE. 15 (12) e0243450. Bibcode:2020PLoSO..1543450T. doi:10.1371/journal.pone.0243450. PMC 7740865. PMID 33306732.
- 1 2 3 Dong, X.; Zhang, J.; Gu, X.; Wang, Y.; Bai, W. & Huang, Q. (2021). "Evaluating habitat suitability and potential dispersal corridors across the distribution landscape of the Chinese Red Panda (Ailurus styani) in Sichuan, China". Global Ecology and Conservation. 28 e01705. Bibcode:2021GEcoC..2801705D. doi:10.1016/j.gecco.2021.e01705.
- 1 2 3 Lin, A. K.; Lwin, N.; Aung, S. S.; Oo, W. N.; Lum, L. Z. & Grindley, M. (2021). "The conservation status of Red Panda in north-east Myanmar". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 475–488. ISBN 978-0-12-823754-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2022. Diakses tanggal 24 January 2022.
- ↑ Shrestha, S.; Lama, S.; Sherpa, A. P.; Ghale, D. & Lama, S. T. (2021). "The endangered Himalayan Red Panda: first photographic evidence from its westernmost distribution range". Journal of Threatened Taxa. 13 (5): 18156–18163. doi:10.11609/jott.6100.13.5.18156-18163.
- 1 2 3 Bista, D.; Baxter, G. S.; Hudson, N. J.; Lama, S. T.; Weerman, J. & Murray, P. J. (2021). "Movement and dispersal of a habitat specialist in human-dominated landscapes: a case study of the Red Panda". Movement Ecology. 9 (1): 62. Bibcode:2021MvEco...9...62B. doi:10.1186/s40462-021-00297-z. PMC 8670026. PMID 34906253.
- 1 2 Dalui, S.; Khatri, H.; Singh, S. K.; Basu, S.; Ghosh, A.; Mukherjee, T.; Sharma, L. K.; Singh, R.; Chandra, K. & Thakur, M. (2020). "Fine-scale landscape genetics unveiling contemporary asymmetric movement of Red Panda (Ailurus fulgens) in Kangchenjunga landscape, India". Scientific Reports. 10 (1): 15446. Bibcode:2020NatSR..1015446D. doi:10.1038/s41598-020-72427-3. PMC 7508845. PMID 32963325.
- 1 2 3 Panthi, S.; Aryal, A.; Raubenheimer, D.; Lord, J. & Adhikari, B. (2012). "Summer diet and distribution of the Red Panda (Ailurus fulgens fulgens) in Dhorpatan Hunting Reserve, Nepal" (PDF). Zoological Studies. 51 (5): 701–709. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 March 2022. Diakses tanggal 18 March 2022.
- ↑ Khatiwara, S. & Srivastava, T. (2014). "Red Panda Ailurus fulgens and other small carnivores in Kyongnosla Alpine Sanctuary, East Sikkim, India". Small Carnivore Conservation. 50: 35–38. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2020. Diakses tanggal 18 March 2022.
- ↑ Bashir, T.; Bhattacharya, T.; Poudyal, K. & Sathyakumar, S. (2019). "First camera trap record of Red Panda Ailurus fulgens (Cuvier, 1825) (Mammalia: Carnivora: Ailuridae) from Khangchendzonga, Sikkim, India". Journal of Threatened Taxa. 11 (8): 14056–14061. doi:10.11609/jott.4626.11.8.14056-14061.
- 1 2 Chakraborty, R.; Nahmo, L. T.; Dutta, P. K.; Srivastava, T.; Mazumdar, K. & Dorji, D. (2015). "Status, abundance, and habitat associations of the Red Panda (Ailurus fulgens) in Pangchen Valley, Arunachal Pradesh, India". Mammalia. 79 (1): 25–32. doi:10.1515/mammalia-2013-0105. S2CID 87668179.
- ↑ Megha, M.; Christi, S.; Kapoor, M.; Gopal, R. & Solanki, R. (2021). "Photographic evidence of Red Panda Ailurus fulgens Cuvier, 1825 from West Kameng and Shi-Yomi districts of Arunachal Pradesh, India". Journal of Threatened Taxa. 13 (9): 19254–19262. doi:10.11609/jott.6666.13.9.19254-19262.
- 1 2 3 4 Wei, F.; Feng, Z.; Wang, Z. & Hu, J. (1999). "Current distribution, status and conservation of wild Red Pandas Ailurus fulgens in China". Biological Conservation. 89 (3): 285–291. Bibcode:1999BCons..89..285W. doi:10.1016/S0006-3207(98)00156-6.
- ↑ Li, F.; Huang, X. Y.; Zhang, X. C.; Zhao, X. X.; Yang, J. H. & Chan, B. P. L. (2019). "Mammals of Tengchong Section of Gaoligongshan National Nature Reserve in Yunnan Province, China". Journal of Threatened Taxa. 11 (11): 14402–14414. doi:10.11609/jott.4439.11.11.14402-14414.
- 1 2 3 4 Wei, F.; Feng, Z.; Wang, Z. & Hu, J. (2000). "Habitat use and separation between the Giant Panda and the Red Panda". Journal of Mammalogy. 81 (2): 448–455. doi:10.1644/1545-1542(2000)081<0448:HUASBT>2.0.CO;2.
- 1 2 Dorji, S.; Vernes, K. & Rajaratnam, R. (2011). "Habitat correlates of the Red Panda in the temperate forests of Bhutan". PLOS ONE. 6 (10) e26483. Bibcode:2011PLoSO...626483D. doi:10.1371/journal.pone.0026483. PMC 3198399. PMID 22039497.
- 1 2 Dendup, P.; Lham, C.; Wangchuk, J. & Tshering, K. (2018). "Winter habitat preferences of Endangered Red Panda (Ailurus fulgens) in the Forest Research Preserve of Ugyen Wangchuck Institute for Conservation and Environmental Research, Bumthang, Bhutan". Journal of the Bhutan Ecological Society. 3: 1–13. ISSN 2410-3861. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 May 2021. Diakses tanggal 18 March 2022.
- 1 2 Dendup, P.; Humle, T.; Bista, D.; Penjor, U.; Lham, C. & Gyeltshen, J. (2020). "Habitat requirements of the Himalayan Red Panda (Ailurus fulgens) and threat analysis in Jigme Dorji National Park, Bhutan". Ecology and Evolution. 10 (17): 9444–9453. Bibcode:2020EcoEv..10.9444D. doi:10.1002/ece3.6632. PMC 7487235. PMID 32953073.
- 1 2 3 Zhang, Z.; Wei, F.; Li, M. & Hu, J. (2006). "Winter microhabitat separation between Giant and Red Pandas in Bashania faberi Bamboo forest in Fengtongzhai Nature Reserve". The Journal of Wildlife Management. 70 (1): 231–235. doi:10.2193/0022-541X(2006)70[231:WMSBGA]2.0.CO;2. S2CID 86350625.
- 1 2 Zhou, X.; Jiao, H.; Dou, Y.; Aryal, A.; Hu, J.; Hu, J. & Meng, X. (2013). "The winter habitat selection of Red Panda (Ailurus fulgens) in the Meigu Dafengding National Nature Reserve, China" (PDF). Current Science. 105 (10): 1425–1429. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 March 2022. Diakses tanggal 18 March 2022.
- 1 2 Liu, X.; Teng, L.; Ding, Y. & Liu, Z. (2021). "Habitat selection by Red Panda (Ailurus fulgens fulgens) in Gaoligongshan Nature Reserve, China" (PDF). Pakistan Journal of Zoology. 54 (4). doi:10.17582/journal.pjz/20190726090725. S2CID 238963119. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 January 2022. Diakses tanggal 28 January 2022.
- 1 2 Gebauer, A. (2021). "The early days: maternal behaviour and infant development". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 149–179. ISBN 978-0-12-823753-3.
- ↑ Karki, S.; Maraseni, T.; Mackey, B.; Bista, D.; Lama, S. T.; Gautam, A. P.; Sherpa, A. P.; Koju, A. P.; Koju, U.; Shrestha, A. & Cadman, T. (2021). "Reaching over the gap: A review of trends in and status of red panda research over 193 years (1827–2020)". Science of the Total Environment. 781 146659. Bibcode:2021ScTEn.78146659K. doi:10.1016/j.scitotenv.2021.146659. hdl:10072/403744. PMID 33794452. S2CID 232763016.
- 1 2 3 Reid, D. G.; Jinchu, H. & Yan, H. (1991). "Ecology of the Red Panda Ailurus fulgens in the Wolong Reserve, China". Journal of Zoology. 225 (3): 347–364. Bibcode:1991JZoo..225..347R. doi:10.1111/j.1469-7998.1991.tb03821.x.
- 1 2 Bista, D.; Baxter, G. S.; Hudson, N. J.; Lama, S. T. & Murray, P. J. (2021). "Effect of disturbances and habitat fragmentation on an arboreal habitat specialist mammal using GPS telemetry: a case of the red panda". Landscape Ecology. 37 (3): 795–809. doi:10.1007/s10980-021-01357-w. PMC 8542365. PMID 34720409.
- ↑ Nijboer, J. & Dierenfeld, E. S. (2021). "Red panda nutrition: how to feed a vegetarian carnivore". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 225–238. ISBN 978-0-12-823753-3.
- ↑ Wei, F.; Thapa, A.; Hu, Y. & Zhang, Z. (2021). "Red Panda ecology". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 329–351. ISBN 978-0-12-823753-3.
- ↑ Stapleton, C. M. A. (1994). "The bamboos of Nepal and Bhutan. Part II: Arundinaria, Thamnocalamus, Borinda, and Yushania (Gramineae: Poaceae, Bambusoideae)". Edinburgh Journal of Botany. 51 (2): 275–295. doi:10.1017/S0960428600000883.
- ↑ Triplett, J. K. & Clark, L. G. (2010). "Phylogeny of the temperate bamboos (Poaceae: Bambusoideae: Bambuseae) with an emphasis on Arundinaria and allies". Systematic Botany. 35 (1): 102–120. Bibcode:2010SysBo..35..102T. doi:10.1600/036364410790862678. S2CID 85588401.
- ↑ Pradhan, S.; Saha, G. K. & Khan, J. A. (2001). "Ecology of the Red Panda Ailurus fulgens in the Singhalila National Park, Darjeeling, India". Biological Conservation. 98 (1): 11–18. Bibcode:2001BCons..98...11P. doi:10.1016/S0006-3207(00)00079-3.
- ↑ Roka, B.; Jha, A. K. & Chhetri, D. R. (2021). "A study on plant preferences of Red Panda (Ailurus fulgens) in the wild habitat: foundation for the conservation of the species". Acta Biologica Sibirica. 7: 425–439. doi:10.3897/abs.7.e71816. S2CID 244942192. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 June 2022. Diakses tanggal 29 January 2022.
- ↑ Sharma, H. R.; Swenson, J. E. & Belant, J. (2014). "Seasonal food habits of the Red Panda (Ailurus fulgens) in Rara National Park, Nepal". Hystrix. 25 (1): 47–50. doi:10.4404/hystrix-25.1-9033.
- 1 2 Wei, F.; Feng, Z.; Wang, Z.; Zhou, A. & Hu, J. (1999). "Use of the nutrients in bamboo by the Red Panda Ailurus fulgens". Journal of Zoology. 248 (4): 535–541. Bibcode:1999JZoo..248..535W. doi:10.1111/j.1469-7998.1999.tb01053.x.
- ↑ Fei, Y.; Hou, R.; Spotila, J. R.; Paladino, F. V.; Qi, D. & Zhang, Z. (2017). "Metabolic rate of the Red Panda, Ailurus fulgens, a dietary bamboo specialist". PLOS ONE. 12 (3) e0173274. Bibcode:2017PLoSO..1273274F. doi:10.1371/journal.pone.0173274. PMC 5356995. PMID 28306740.
- ↑ Kong, F.; Zhao, J.; Han, S.; Zeng, B.; Yang, J.; Si, X.; Yang, B.; Yang, M.; Xu, H. & Li, Y. (2014). "Characterization of the gut microbiota in the red panda (Ailurus fulgens)". PLOS ONE. 9 (2) e87885. Bibcode:2014PLoSO...987885K. doi:10.1371/journal.pone.0087885. PMC 3912123. PMID 24498390.
- ↑ Qi, D.; Zhou, H.; Wei, W.; Lei, M.; Yuan, S.; Qi, D. & Zhang, Z. (2016). "Vocal repertoire of adult captive red pandas (Ailurus fulgens)". Animal Biology. 66 (2): 145–155. doi:10.1163/15707563-00002493.
- 1 2 Curry, E. (2021). "Reproductive biology of the Red Panda". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 119–138. ISBN 978-0-12-823753-3.
- 1 2 Roberts, M. S. & Kessler, D. S. (1979). "Reproduction in Red pandas, Ailurus fulgens (Carnivora: Ailuropodidae)". Journal of Zoology. 188 (2): 235–249. doi:10.1111/j.1469-7998.1979.tb03402.x.
- 1 2 Yonzon, P. B. & Hunter, M. L. Jr. (1991). "Conservation of the Red Panda Ailurus fulgens". Biological Conservation. 57 (1): 1–11. Bibcode:1991BCons..57....1Y. doi:10.1016/0006-3207(91)90104-H.
- ↑ Lama, S. T.; Lama, R. P.; Regmi, G. R. & Ghimire, T. R. (2015). "Prevalence of intestinal parasitic infections in free-ranging Red Panda Ailurus fulgens Cuvier, 1825 (Mammalia: Carnivora: Ailuridae) in Nepal". Journal of Threatened Taxa. 7 (8): 7460–7464. doi:10.11609/JoTT.o4208.7460-4.
- ↑ Bista, D.; Shrestha, S.; Kunwar, A. J.; Acharya, S.; Jnawali, S. R. & Acharya, K. P. (2017). "Status of gastrointestinal parasites in Red Panda of Nepal". PeerJ. 5 e3767. doi:10.7717/peerj.3767. PMC 5591639. PMID 28894643.
- ↑ Sharma, H. P. & Achhami, B. (2021). "Gastro-intestinal parasites of sympatric Red Panda and livestock in protected areas of Nepal". Veterinary Medicine and Science. 8 (2): 568–577. doi:10.1002/vms3.651. PMC 8959333. PMID 34599791. S2CID 238250774.
- ↑ Kearns, K. S.; Pollock, C. G. & Ramsay, E. C. (1999). "Dermatophytosis in Red Pandas (Ailurus fulgens fulgens): a review of 14 cases". Journal of Zoo and Wildlife Medicine. 30 (4): 561–563. JSTOR 20095922. PMID 10749446.
- ↑ Huckins, G. L.; Eshar, D.; Schwartz, D.; Morton, M.; Herrin, B. H.; Cerezo, A.; Yabsley, M. J. & Schneider, S. M. (2019). "Trypanosoma cruzi infection in a zoo-housed Red Panda in Kansas". Journal of Veterinary Diagnostic Investigation. 31 (5): 752–755. doi:10.1177/1040638719865926. PMC 6727118. PMID 31342874.
- ↑ Alex, C. E.; Kubiski, S. V.; Li, L.; Sadeghi, M.; Wack, R. F.; McCarthy, M. A.; Pesavento, J. B.; Delwart, E. & Pesavento, P. A. (2018). "Amdoparvovirus infection in Red Pandas (Ailurus fulgens)". Veterinary Pathology. 55 (4): 552–561. doi:10.1177/0300985818758470. PMID 29433401.
- ↑ Yang, Y.; Dong, H.; Su, R.; Li, T.; Jiang, N.; Su, C. & Zhang, L. (2019). "Evidence of Red Panda as an intermediate host of Toxoplasma gondii and Sarcocystis species". International Journal for Parasitology: Parasites and Wildlife. 8: 188–191. Bibcode:2019IJPPW...8..188Y. doi:10.1016/j.ijppaw.2019.02.006. PMC 6403407. PMID 30891398.
- ↑ Liu, S.; Li, Y.; Yue, C.; Zhang, D.; Su, X.; Yan, X.; Yang, K.; Chen, X.; Zhuo, G.; Cai, T.; Liu, J.; Peng, X. & Huo, R. (2020). "Isolation and characterization of uropathogenic Escherichia coli (UPEC) from Red Panda (Ailurus fulgens)". BMC Veterinary Research. 16 (1): 404. doi:10.1186/s12917-020-02624-9. PMC 7590469. PMID 33109179.
- 1 2 Glatson, A. R. (1994). "The Red Panda or Lesser Panda (Ailurus fulgens)" (PDF). Status Survey and Conservation Action Plan for Procyonids and Ailurids. The Red Panda, Olingos, Coatis, Raccoons, and their Relatives. Gland, Switzerland: IUCN/SSC Mustelid, Viverrid, and Procyonid Specialist Group. hlm. 8, 12. ISBN 2-8317-0046-9. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 8 March 2021. Diakses tanggal 7 July 2020.
- ↑ Acharya, K. P.; Shrestha, S.; Paudel, P. K.; Sherpa, A. P.; Jnawali, S. R.; Acharya, S. & Bista, D. (2018). "Pervasive human disturbance on habitats of endangered Red Panda Ailurus fulgens in the central Himalaya". Global Ecology and Conservation. 15 e00420. Bibcode:2018GEcoC..1500420A. doi:10.1016/j.gecco.2018.e00420. S2CID 92988737.
- ↑ Ghimire, G.; Pearch, M.; Baral, B.; Thapa, B. & Baral, R. (2019). "The first photographic record of the Red Panda Ailurus fulgens (Cuvier, 1825) from Lamjung District outside Annapurna Conservation Area, Nepal". Journal of Threatened Taxa. 11 (12): 14576–14581. doi:10.11609/jott.4828.11.12.14576-14581.
- 1 2 Bista, D.; Baxter, G. S. & Murray, P. J. (2020). "What is driving the increased demand for red panda pelts?". Human Dimensions of Wildlife. 25 (4): 324–338. Bibcode:2020HDW....25..324B. doi:10.1080/10871209.2020.1728788. S2CID 213958948.
- ↑ Xu, L. & Guan, J. (2018). Red Panda market research findings in China (PDF). Cambridge: Traffic. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 January 2022. Diakses tanggal 28 January 2022.
- ↑ Datta, A.; Naniwadekar, R. & Anand, M. O. (2008). "Occurrence and conservation status of small carnivores in two protected areas in Arunachal Pradesh, north-east India". Small Carnivore Conservation. 39: 1–10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 June 2022. Diakses tanggal 18 March 2022.
- ↑ Lwin, Y. H.; Wang, L.; Li, G.; Maung, K. W.; Swa, K. & Quan, R. C. (2021). "Diversity, distribution and conservation of large mammals in northern Myanmar". Global Ecology and Conservation. 29 e01736. Bibcode:2021GEcoC..2901736L. doi:10.1016/j.gecco.2021.e01736.
- ↑ Li, X.; Bleisch, W. V.; Liu, X. & Jiang, X. (2021). "Camera-trap surveys reveal high diversity of mammals and pheasants in Medog, Tibet". Oryx. 55 (2): 177–180. doi:10.1017/S0030605319001467.
- ↑ Thapa, A.; Hu, Y. & Wei, F. (2018). "The endangered Red Panda (Ailurus fulgens): Ecology and conservation approaches across the entire range". Biological Conservation. 220: 112–121. Bibcode:2018BCons.220..112T. doi:10.1016/j.biocon.2018.02.014.
- ↑ Bista, D. (2018). "Communities in frontline in Red Panda conservation, eastern Nepal" (PDF). The Himalayan Naturalist. 1 (1): 11–12. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 January 2022. Diakses tanggal 27 January 2022.
- ↑ Sherpa, A. P.; Lama, S. T.; Shrestah, S.; Williams, B. & Bista, D. (2021). "Red Pandas in Nepal: community-based approach to landscape-level conservation". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 495–508. doi:10.1016/B978-0-12-823753-3.00019-3. ISBN 978-0-12-823753-3. S2CID 243829246. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 March 2022. Diakses tanggal 1 February 2022.
- ↑ Millar, J. & Tenzing, K. (2021). "Transforming degraded rangelands and pastoralists' livelihoods in eastern Bhutan". Mountain Research and Development. 41 (4): D1 – D7. doi:10.1659/MRD-JOURNAL-D-21-00025.1.
- ↑ Wei, F.; Zhang, Z.; Thapa, A.; Zhijin, L. & Hu, Y. (2021). "Conservation initiatives in China". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 509–520. doi:10.1016/B978-0-12-823753-3.00021-1. ISBN 978-0-12-823753-3. S2CID 243813871.
- ↑ Jones, M. L. (2021). "A brief history of the Red Panda in captivity". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 181–199. doi:10.1016/B978-0-12-823753-3.00026-0. ISBN 978-0-12-823753-3. S2CID 243805749.
- ↑ Lewis, M. (2011). "Birth and mother rearing of Nepalese red pandas Ailurus fulgens fulgens at the Taronga Conservation Society Australia". International Zoo Yearbook. 45 (1): 250–258. doi:10.1111/j.1748-1090.2011.00135.x.
- ↑ Tanaka, A. & Ogura, T. (2018). "Current husbandry situation of Red Pandas in Japan". Zoo Biology. 37 (2): 107–114. doi:10.1002/zoo.21407. PMID 29512188.
- ↑ Kumar, A.; Rai, U.; Roka, B.; Jha, A. K. & Reddy, P. A. (2016). "Genetic assessment of captive red panda (Ailurus fulgens) population". SpringerPlus. 5 (1): 1750. doi:10.1186/s40064-016-3437-1. PMC 5055525. PMID 27795893.
- ↑ Kappelhof, J. & Weerman, J. (2020). "The development of the Red panda Ailurus fulgens EEP: from a failing captive population to a stable population that provides effective support to in situ conservation". International Zoo Yearbook. 54 (1): 102–112. doi:10.1111/izy.12278.
- 1 2 3 Glatston, A. R. & Gebauer, A. (2021). "People and Red Pandas: the Red Panda's role in economy and culture". Dalam Glatston, A. R. (ed.). Red Panda: Biology and Conservation of the First Panda (Edisi Second). London: Academic Press. hlm. 1–14. doi:10.1016/B978-0-12-823753-3.00002-8. ISBN 978-0-12-823754-0. S2CID 243805192.
Pranala luar
- Red Panda Network – a non-profit organization committed to the conservation of wild red pandas
| Ailurus fulgens |
|
|---|---|
| Ailurus | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |