Ini adalah nama Melayu; nama "Maidin" merupakan patronimik, bukan nama keluarga, dan tokoh ini dipanggil menggunakan nama depannya, "Zainuddin". Kata bin (b.) atau binti (bt.), jika digunakan, berarti "putra dari" atau "putri dari".
Zainuddin kemudian meraih diploma dalam jurnalisme dari Berlin Journalism Institute pada tahun 1969. Pada tahun 1981, ia dianugerahi penghargaan Professional Journalist Fellowship oleh Universitas Michigan, Amerika Serikat.
Zainuddin menikah dengan Datin Zaiton Zainol Abidin dan dikaruniai dua putri dan dua putra.
Karier
Zainuddin memulai kariernya sebagai jurnalis semi-profesional Utusan Melayu di Alor Star pada tahun 1951, kemudian diangkat sebagai jurnalis full-time pada tahun 1961. Ia juga pernah bekerja sebagai perwakilan Utusan Melayu di London dan menjadi Pemimpin Redaksi Utusan Melayu pada tahun 1982.
Sejak tahun 1992, ia memegang berbagai jabatan non-editorial seperti Konsultan Departemen Editorial Utusan Melayu (1992) dan Ketua Eksekutif Publikasi dan Distributor Utusan Melayu Sdn. Bhd (UP & D) (1994). Setelah itu, ia menjadi anggota Dewan Direksi kumpulan Utusan Melayu (M) Bhd dan menjadi Deputi Utusan Melayu pada tahun 1998.
Zainuddin diangkat sebagai anggota Dewan Negara pada tahun 1998. Ia disumpah sebagai anggota dari Dewan Negara untuk masa jabatan kedua pada bulan Februari 2001 dan diangkat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada 21 November 2002 oleh Perdana MenteriMahathir Mohamad. Kemudian, ia memenangkan kursi parlemen Merbok dalam pemilu 2004, mengalahkan kandidat Parti Keadilan Rakyat dengan 15.162 perolehan suara.
Pada tanggal 14 Februari 2006, dia diangkat menjadi Menteri Penerangan oleh Perdana MenteriTun Abdullah Ahmad Badawi, menggantikan Datuk Paduka Abdul Kadir Sheikh Fadzir.
Pada 10 Desember 2012, Zainuddin menerbitkan "Persamaan B. J. Habibie dengan Anwar Ibrahim" di koran Utusan Malaysia. Dalam penulisan artikel tersebut disebutkan bahwa B. J. Habibie sebagai Presiden Indonesia paling tersingkat dan tersingkir karena telah mengkhianati negaranya yang menyebabkan Timor Timur lepas dari Indonesia. Hal ini dikecam berbagai pihak di Malaysia dan Indonesia. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan ketidaknyamanannya pemerintah Malaysia.[3]
Zainuddin sempat menolak untuk meminta maaf kepada Indonesia atas penghinaannya tersebut.[4] Bahkan kunjungan Habibie ke negara bagian Selangor dianggap sebagai dukungan untuk koalisi oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim, padahal tujuannya datang untuk diundang sebagai tamu resmi pemerintah guna memberikan ucapan selamat kepada universitas di negara itu.
Penghargaan
1982 - Ahli Mahkota Pahang (AMP)
1987 - Ahli Mahkota Kedah (AMK)
1990 - Johan Mahkota Negara (JMN)
1990 - Setia Mahkota Selangor (SMS)
1996 - Pingat Jasa Negara (PJN); carrying the title Datuk
2003 - Darjah Pingat Dato’ Mahkota Selangor (DPMS)
2006 - Datuk Paduka Mahkota Kedah (DPMK)
2006 - Darjah Gemilang Seri Melaka (DGSM); carrying the title Datuk Seri
2009 - Panglima Setia Mahkota (PSM); digelari Tan Sri