Konsumsi daging dari hewan buruan adalah sebuah masalah ekologis yang besar di Indonesia, serta menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati kelelawar Indonesia. "Masyarakat lokal memakan kelelawar setidaknya sebulan sekali, tetapi keseringannya meningkat sepuluh kali lipat pada hari raya Nasrani. Sekiar 500 ton metrik kelelawar diimpor dari provinsi lainnya, dengan Sulawesi Selatan, Indonesia sebagai penyedia utamanya pada 38%." Perburuan berlebih dan konsumsi kelelawar dalam jumlah yang tinggi ini telah menjadikannya sebagai salah satu spesies terlangka di Indonesia.[4]
↑Prasetyo PN, Noerfahmy S dan Tata HL. 2011. Jenis-jenis Kelelawar Agroforest Sumatera. Bogor, Indonesia. World Agroforestry Centre - ICRAF, SEA Regional Office. 75p. hlm. 31-32