Halaman stasiun digunakan untuk parkir kendaraan. Di bagian depan stasiun, tepatnya di sisi rel, terdapat susunan bebatuan kecil berwarna putih yang bertuliskan "Stasiun Prembun". Ornamen ukiran pada atap bangunan lama stasiun masih antik serta tiang berbahan dasar kayu jati memperkukuh konstruksi stasiun.[4]
Terdapat pula lampu tangan (handsign) kuno di emplasemen barat stasiun yang hanya untuk dipajang. Dahulu handsign ini dipakai oleh PPKA untuk memberangkatkan kereta api.[4]
Awalnya stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda ruas lintas Butuh-Wonosari dioperasikan per 13 Desember 2019, jumlah jalur bertambah menjadi empat. Jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus arah Kroya, jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus arah Kutoarjo, dan jalur 4 ditambahkan di sisi selatan stasiun sebagai sepur belok baru. Bangunan baru stasiun dibangun di barat bangunan lama, dan bangunan lama stasiun tetap dipertahankan. Di area emplasemennya kini telah ditambahkan kanopi baru yang menaungi semua jalur rel. Selain itu, persinyalan elektrik lama produksi Westinghouse Rail Systems yang telah beroperasi sejak 1999 sudah digantikan dengan yang terbaru produksi PT Len Industri.
Dahulu stasiun ini pernah melayani KA Prameks relasi Prembun-Solo Balapan dan tidak lama lagi rute tersebut diperpendek kembali hanya sampai Kutoarjo hingga saat ini. Saat ini tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi penyusulan antar kereta api.
Galeri
Stasiun Prembun menghadap ke barat, semasa berstatus sebagai stasiun jalur tunggal
↑Susanti, D.M. (Januari 2008). Kajian atas Pengelolaan Pengetahuan dalam Pengoperasian Teknologi Persinyalan Kereta Api (Studi Kasus Daop 2 Bandung) (S2). Program Magister Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Pengembangan, dan Perencanaan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.
12Prasetya, S. (2014). "Prembun (PRB): Antik dengan Ornamen Lampu Handsign Kuno". Majalah KA. 96: 11.