Dahulu ke arah barat stasiun ini, sebelum Stasiun Kesamben, terdapat Stasiun Plampangan yang kini sudah dinonaktifkan karena letaknya yang kurang strategis dan jarak antarstasiun yang tidak terlalu jauh dari Stasiun Kesamben. Terdapat pula halte nonaktif bernama Karangkates yang terletak di petak jalan antara Pogajih dan Sumberpucung, timur terowongan Karangkates II.[3] Tidak diketahui kapan halte tersebut dinonaktifkan.
Bangunan dan tata letak
Stasiun ini memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus. Stasiun ini dahulu memiliki tiga jalur kereta api, tetapi jalur 1 yang lama telah dibongkar sejak lama dan dijadikan taman kecil.
Pada 30 November 2024 hingga 1 Desember 2024, jalur di lintas Pogajih—Kesamben mengalami rintangan jalan sehingga tidak dapat dilalui penumpang. Sepanjang waktu tersebut, terjadi 3 kali banjir dan 1 kali tanah longsor yang memengaruhi kondisi rel. Tanah longsor menyebabkan wesel dan rel pada beberapa bagian jalan rel ambruk ke tepi lereng. Upaya normalisasi pun dilakukan dengan memperkuat pondasi rel, memulihkan jalur, serta membangun saluran air agar irigasi tidak berdampak pada badan rel. Pembatasan kecepatan (taspat) pun diberlakukan hingga 10 km/jam dan berangsur dari tanggal 3 Desember 2024 hingga menjadi normal pada kecepatan 60 km/jam pada 5 Desember 2024.[6]
Galeri
Stasiun Pogajih pada tahun 2014
Stasiun Pogajih pada tahun 2020, dilihat dari sisi barat