Awalnya, stasiun ini hanya memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus, ditambah satu sepur badug yang menyambung dengan jalur 1.[3] Sejak dibangunnya jalur ganda ruas Telagasari–Cirebon pada tahun 2007,[4] jumlah jalur di stasiun ini bertambah menjadi empat dengan jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus arah Cirebon saja dan jalur 3 merupakan sepur lurus arah Cikampek. Bangunan stasiun yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen dipertahankan.
Tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi penyusulan antarkereta api.
Insiden
Pada tanggal 24 Juli 1951, empat orang gerombolan bersenjata tajam melarang masinis untuk memberangkatkan kereta api. Berikutnya pada 23 Agustus 1951, Stasiun Cangkring dibakar oleh gerombolan pengacau. Gerombolan tersebut diyakini terafiliasi dengan DI/TII.[5]
Pada 16 Januari 2011, seorang remaja bernama Sani bin Rebat (16) asal Blok Jembatan RT 07, RW 04, Bakung Kidul, Jamblang, Cirebon tewas seketika, setelah tertabrak kereta api (KA) barang di Stasiun Cangkring sekitar pukul 07.00 WIB.[6]
Pada 20 Februari 2012, ada seorang pria yang ditemukan tergeletak di Stasiun Cangkring. Kapolsek Plered mengatakan, pria yang ditemukan tergeletak sekitar pukul 10.00 ini diduga korban perampokan.[7][8][9]
↑Tim Telaga Bakti Nusantara (1997). Sejarah Perkeretaapian Indonesia. Vol.2. Bandung: Angkasa. hlm.399. ISBN9796651688. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑(Indonesia)
Seorang Remaja Tewas Tertabrak Kereta Api di Stasiun Cangkring Minggu, 16/01/2011 - 15:04
"www.pikiran-rakyat.com". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-01-01. Diakses tanggal 21 Januari 2011.
↑(Indonesia)
Pria Terluka di Stasiun Diduga Korban Perampokan
"jabar.tribunnews.com". Diakses tanggal 9 April 2012.
↑(Indonesia)
Penumpang KA Dibacok
"radarcirebon.com". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-04. Diakses tanggal 9 April 2012.
↑(Indonesia)
Pria Tergolek Penuh Luka Ditemukan di Stasiun
"jabar.tribunnews.com". Diakses tanggal 9 April 2012.