yang ketiganya mengarah pada pembentukan kompleks lisis melibatkan protein-protein C5, C6, C7, C8, C9, Protein S[6]
Sejarah
Di akhir abad ke 19, serum darah telah diketahui mengandung suatu faktor atau cara yang dapat digunakan untuk membunuh bakteri. Pada tahun 1896, Jules Bordet, ilmuwan muda Belgia dari Pasteur Institute, Paris, mendemonstrasikan bahwa prinsip ini bisa dianalisis menggunakan dua komponen: komponen panas-tetap dan komponen panas-labil. Panas-labil menunjukkan bahwa komponen akan kehilangan kemampuannya jika serum dipanaskan. Komponen panas-tetap ada untuk memberikan kekebalan melawan mikroorganisme spesifik, sedangkan komponen panas-labil bertanggung jawab terhadap aktivitas mikrobial non-spesifik yang dimiliki serum. Komponen panas-labil ini adalah yang disebut “komplemen”.
Istilah “komplemen” diperkenalkan oleh Paul Ehrlich pada akhir tahun 1980an, sebagai bagian dari teorinya mengenai sistem kekebalan. Menurut teorinya, sistem kekebalan terdiri dari berbagai sel yang memiliki reseptor spesifik pada permukaannya untuk mengenali antigen. Pasca imunisasi dengan antigen, lebih banyak reseptor terbentuk, lalu reseptor itu mengalir dari sel ke aliran sirkulasi darah. Reseptor ini, yang saat ini kita kenal dengan nama “antibodi”, disebut oleh Ehrlich sebagai “amboceptor” untuk menekankan fungsi ganda reseptor dalam melakukan pengikatan. Reseptor tesebut mampu mengenali dan mengikat antigen spesifik, tetapi mereka juga mampu mengenali dan mengikat komponen antimikrobial panas-labil dari serum. Ehrlich lalu menamakan komponen panas-labil ini “komplemen” karena ini adalah sesuatu dalam darah yang menjadi komplemen sel pada sistem kekebalan.
Ehrlich percaya bahwa setiap amboceptor antigen spesifik memiliki komplemen yang spesifik, di mana Bordet percaya bahwa sebenarnya hanya ada satu tipe komplemen. Di awal abad ke 20, kontroversi ini terselesaikan ketika ditemukan bahwa komplemen bisa beraksi berpasangan dengan antibodi spesifik atau secara sendirian secara non-spesifik.
Sistem komplemen memiliki kemungkinan untuk memberi kerusakan parah kepada jaringan milik sendiri, yang berarti bahwa aktivasi sistem komplemen harus dilakukan dengan tepat. Sistem komplemen diatur oleh protein kontrol komplemen, yang terdapat di dalam plasma darah dalam konsentrasi yang lebih besar daripada protein komplemen itu sendiri. Beberapa protein kontrol komplemen berada di membran sel untuk mencegah penyerangan oleh sistem komplemen.
↑(Inggris)"IMMUNOLOGY - CHAPTER TWO COMPLEMENT". University of South Carolina School of Medicine; Gene Mayer. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-29. Diakses tanggal 2010-04-03.
Abbas AK, Lichtman AH (2003). Cellular and Molecular Immunology (5th ed.), 563p. Philadelphia: Saunders.
Peakman M, Vergani D (1997). Basic and Clinical Immunology. New York: Churchill Livingstone.
Paul WE (ed.) (1999). Fundamental Immunology (4th ed.), 1589p. Philadelphia: Lippincott-Raven.
Roitt I, Brostoff J, Male D (2001). Immunology (6th ed.), 480p. St. Louis: Mosby.
Anderson DM (2003) Dorland's Illustrated Medical Dictionary (30th ed.), Philadelphia: W.B. Saunders.
Parham P (2005). The Immune System. New York: Garland.
Murphy K, Travers P, Walport M, with contributions by Ehrenstein M et al. (2008). Janeway's Immunobiology (7th ed.), New York: Garland Science.
DeFranco AL, Locksley RM, Robertson M (2007). Immunity: The Immune Response in Infectious and Inflammatory Disease. London; Sunderland, MA: New Science Press; Sinauer Associates.