Shinji Hirai (平井 伸治code: ja is deprecated , Hirai Shinji, lahir 17) adalah seorang politikus dan mantan birokrat asal Jepang yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Prefektur Tottori. Menjabat sejak tahun 2007, Hirai adalah salah satu gubernur dengan masa jabatan terlama yang masih aktif di Jepang. Meskipun memimpin prefektur dengan jumlah penduduk paling sedikit di negara tersebut, Hirai telah mendapatkan pengakuan nasional atas kepemimpinannya yang inovatif, kemampuannya dalam manajemen krisis, serta penggunaan humor dan permainan kata (puns) yang cerdas untuk mempromosikan pariwisata daerah. Ia juga menjabat sebagai Presiden Asosiasi Gubernur Nasional Jepang (National Governors' Association) dari tahun 2021 hingga 2023.[1]
Kehidupan awal dan karier birokrasi
Fakultas Hukum Universitas Tokyo, tempat Hirai menempuh pendidikan sebelum bergabung dengan kementerian.
Kariernya di kementerian pusat membawanya ke berbagai posisi strategis yang membentuk keahliannya dalam otonomi daerah:
Pemerintah Prefektur Tottori: Ia sempat ditugaskan ke Tottori sebagai Direktur Divisi Perencanaan Umum pada tahun 1995, di mana ia mulai membangun ikatan kuat dengan wilayah tersebut.
Wakil Gubernur Tottori (1999–2003): Di bawah Gubernur Yoshihiro Katayama, Hirai menjabat sebagai wakil gubernur termuda di Jepang pada masa itu (usia 38 tahun).
Sekretariat Kabinet: Ia kembali ke Tokyo untuk bertugas di Sekretariat Kabinet sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Tottori untuk terjun ke dunia politik elektoral.[2]
Gubernur Prefektur Tottori (2007–Sekarang)
Hirai pertama kali terpilih sebagai gubernur pada tahun 2007 dan sejak itu telah memenangkan pemilihan ulang sebanyak empat kali (2011, 2015, 2019, dan 2023) dengan mayoritas suara yang sangat besar, seringkali mendapatkan dukungan dari hampir semua partai politik utama.
Inovasi Pariwisata dan Branding
Hirai dikenal karena kreativitasnya dalam mempromosikan Tottori melalui kampanye yang unik:
"Suna-ba" (Kedai Pasir): Menanggapi fakta bahwa Tottori adalah satu-satunya prefektur tanpa Starbucks selama bertahun-tahun, Hirai berseloroh, "Tottori mungkin tidak punya Suta-ba (Starbucks), tapi kami punya Suna-ba (Bukit Pasir Tottori) terbaik di Jepang." Hal ini memicu pembukaan kedai kopi lokal populer bernama "Sunaba Coffee".
Prefektur Manga: Memanfaatkan asal-usul kreator manga terkenal seperti Shigeru Mizuki (GeGeGe no Kitaro) dan Gosho Aoyama (Detective Conan), Hirai mendeklarasikan Tottori sebagai "Prefektur Manga" untuk menarik wisatawan penggemar budaya pop.
Kani-tori (Prefektur Kepiting): Ia sementara waktu mengubah nama promosi prefektur menjadi "Prefektur Kanitori" (Permainan kata dari Kepiting dan Tottori) untuk mempromosikan hasil laut andalan daerahnya.[3]
Kepemimpinan Nasional dan Manajemen Krisis
Selama pandemi COVID-19, Hirai mendapatkan pujian luas karena pendekatannya yang cepat dan berbasis data dalam menangani penyebaran virus di Tottori, yang secara konsisten memiliki angka infeksi terendah di Jepang. Sebagai Presiden Asosiasi Gubernur Nasional, ia menjadi jembatan krusial antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat di Tokyo, mendesak kebijakan yang lebih fleksibel untuk kebutuhan lokal.[4]
Bukit Pasir Tottori, simbol prefektur yang sering dipromosikan oleh Hirai melalui berbagai kampanye kreatif.
Kebijakan Sosial
Hirai sangat vokal dalam menangani masalah penurunan populasi (shōshika). Ia memperkenalkan berbagai insentif untuk keluarga muda dan mempromosikan konsep "Workation" (Work + Vacation) untuk menarik pekerja digital dari kota besar agar pindah ke Tottori yang memiliki kualitas hidup tinggi dan biaya rendah. Ia juga memelopori undang-undang prefektur pertama di Jepang yang mengakui Bahasa Isyarat Jepang sebagai bahasa resmi, menunjukkan komitmennya terhadap inklusivitas sosial.[5]
Kehidupan pribadi
Hirai dikenal sebagai pribadi yang sangat ramah, cerdas, dan memiliki memori yang luar biasa terhadap detail konstituennya. Meskipun lahir di Tokyo, ia telah mengadopsi identitas Tottori sepenuhnya dan sering terlihat mengenakan atribut lokal dalam acara-acara publik. Kegemarannya pada permainan kata-kata bukan sekadar hiburan, melainkan strategi komunikasi politik untuk membuat birokrasi terasa lebih dekat dengan rakyat jelata.