Biografi
Mengajar, menjadi pendeta, karya-karya pertama
Setelah menyelesaikan studinya di Halle, Schleiermacher mulai bekerja sebagai guru privat untuk keluarga Pangeran Dohna-Schlobitten; di tengah keluarga bangsawan kelas atas itu, ia mengembangkan kecintaannya yang mendalam terhadap kehidupan keluarga dan sosial. Dua tahun kemudian, pada 1796, ia menjadi pendeta di Rumah Sakit Charité di Berlin. Karena kurangnya wawasan untuk mengembangkan kecakapan berkhotbahnya, ia mencari kepuasan mental dan rohani di kalangan masyarakat kelas atas kota itu dan dalam sistem filsafat dan keagamaannya sendiri. Saat inilah Schleiermacher berkenalan dengan seni, sastra, sains, dan kebudayaan umumnya. Ia sangat dipengaruhi oleh Romantisisme Jerman, sebagaimana dikemukakan oleh sahabatnya Karl Wilhelm Friedrich von Schlegel. Surat-suratnya, Surat-surat Rahasia tentang Lucinde Schlegel, maupun hubungannya dengan Eleonore Grunow, istri seorang pendeta Berlin, semuanya menunjukkan minatnya ini.
Pengenalan akan Allah
Schleiermacher percaya bahwa pengalaman yang sejati dengan Allah hanya dapat menjadi objek pengalaman. Manusia dapat benar-benar mengalami pengalaman sejati dengan Allah melalui salah satu aspek dalam “inner self” ("jati diri") manusia yang ia sebut dengan “feeling of absolute dependency” ("perasaan ketergantungan mutlak") atau “feeling of immediate self consciousness” ("perasaan kesadaran diri langsung"). Menurut Schleiermacher manusia mengalami momentum dengan Allah pada saat:
- (1) ia benar-benar secara tulus menyadari akan dosanya dan merindukan untuk diperdamaikan dengan Allah, dan
- (2) ia tidak lagi terjerat dengan kedagingannya.
Schleiermacher percaya bahwa natur yang sejati dari kehidupan beragama tidak terletak pada rasio dan tingkah laku agamawi tetapi pada pengalaman naluriah (intuitif/feeling) dengan Allah.
Doktrin tentang Allah
Schleiermacher merasakan betapa pemahaman gereja tentang Allah yang “transcendent” dan sekaligus juga “immanent” tidak mampu dijelaskan pada manusia jamannya. Akibatnya dalam hati manusia, ada suatu prasangka adanya gap (jurang pemisah) yang tak mungkin dapat dijembatani oleh manusia. Schleiermacher menolak Panteisme yang menyatakan bahwa Allah berada di belakang setiap fenomena, juga menolak Deisme yang menyatakan Allah tidak menentukan apa yang terjadi dalam realita kehidupan ini, serta pandangan Ortodoks yang satu pihak mengakui adanya "hukum alam" (“natural laws”) yang diciptakan Allah, tetapi pihak lain mengakui bahwa tidak semua yang terjadi di alam semesta ini terjadi karena "hukum alam" itu. Bagi Schleiermacher, hal-hal supranatural (pekerjaan Allah) tak terpisahkan dengan "hukum alam". Dalam alam ini ada dua realita yaitu:
- (1) yang terkait dengan "hukum alam" dan menjadi objek sains. Allah tidak menjadi bagian dari realita ini, karena ia bukan "objek di dalam dunia ini, atau suatu oknum di antara oknum-oknum" (“an object within the world, or a being among beings”)
- (2) yang tidak terkait dengan "hukum alam" tetapi suatu realita dan bagian dari kehidupan ini.
Kehidupan ini mempunyai dimensi-dimensi yang tidak terkait pada "hukum alam", termasuk "kesadaran akan Allah" (“God-consciousness”), insting, intuisi dan sebagainya, yang menjadi bagian dalam kehidupan manusia.
Schleiermacher percaya bahwa pengalaman yang sejati dengan Allah juga ditandai dengan munculnya perasaan “kehangatan kasih,” spontanitas dan keterlibatan pribadi secara penuh. Lebih jauh menurutnya, pengalaman agamawi itu hanya dapat dialami jikalau manusia mempraktikkan kasih secara tulus terhadap sesamanya. Pada saat manusia benar-benar mengasihi sesamanya, ia akan merasa bahagia dan saat-saat seperti itu tak lain adalah "saat-saat pertemuan dengan Allah" (“moments of encountering with God”) yang kalau disadari akan memberikan "perasaan ketergantungan mutlak" (“feeling of absolute dependency”). Perbuatan kasih itulah juga yang menyatukan seluruh imat manusia diseluruh dunia, karena hanya melalui kesadaran akan realita adanya “tali” (kehadiran Allah) yang menyatukan manusia dengan sesamanya itulah, jalan untuk menentukan “the true individuality” ("penemuan diri yang seutuhnya") menjadi terbuka. Jadi, ada hubungan yang begitu erat antara “the true individuality” (yang ditemukan melalui pengalaman kasih yang sejati) dan pengalaman dengan kehadiran Allah dalam hidup manusia.
Doktrin tentang Kristus
Gereja bagi Schleiermacher, hanya merupakan wujud dari salah satu agama di dunia yang punya keunikan tersendiri. Keunikan gereja terletak dalam misinya memberitakan “jalan keselamatan yang sejati” yaitu pemenuhan "kesadaran akan Allah dalam Kristus" (“God-consciousness in Christ”). Dan ini hanya dimiliki oleh Gereja, karena gereja merupakan bagian dari agama yang positif/benar. Agama yang positif/benar bagi Schleiermacher adalah agama yang menerima bentuknya (identitasnya, tradisinya, hukum-hukumnya dsb) hanya dari inti agama yaitu “bagaimana secara essensial Allah dan manusia dapat bersekutu.” Oleh sebab itu jikalau suatu agama disebut sebagai agama yang positif seperti agama Yahudi dan agama Kristen, maka segala sesuatu yang ada dalam agama tersebut haruslah merupakan manifestasi dari “the essential nature of Divine –human relations” tersebut. Dengan demikian ajaran-ajaran agama yang positif selalu dapat diterapkan/cocok untuk setiap aspek kehidupan manusia. Schleiermacher menegaskan, bahwa Kekristenan lebih dari semua agama positif manapun juga. Alasannya ialah oleh karena Kristus telah memberikan contoh/model yang sempurna tentang bagaimana “inti agama yang positif,” yaitu hubungan antara Allah dan manusia, dapat benar-benar tercapai secara sempurna.
Kristus menurut Schleiermacher adalah manusia biasa yang “kebetulan” dipilih Allah untuk tidak mewarisi dosa asal, sehingga sejak lahir ia dapat berhasil mengembangkan "kesadaran rohaniahnya" (“his spiritual consciousness”). Kesadaran rohani (spiritual consciousness) adalah kesadaran batiniah yang merupakan satu-satunya "sarana" (means) untuk mengenal dan bersekutu dengan Allah. Jadi, Kristus disebut sebagai anak Allah oleh karena di dalam dirinya kesadaran batiniah akan Allah dapat berkembang dan mencapai kepenuhannya. Ia berbea dari manusia lain karena ia memiliki kesadaran batiniah akan Allah yang tidak tercemarkan oleh dosa.
Doktrin tentang Keselamatan
Konsep keselamatan dari Schleiermacher berbeda dari konsep Kristen pada umumnya. Menurutnya keselamatan adalah:
Keselamatan adalah anugerah, tetapi anugerah dalam bentuk “impulse” ang memungkinkan manusia memanfaatkan “anugerah umum” yang ada pada dirinya yaitu: "Kesadaran akan Allah" (“God-consciousness”). Dengan anugerah ini manusia melatih kepekaan kesadarannya akan Allah (God-consciousness).
- (2) Proses Perkembangan God-consciousness menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus.
Yesus Kristus adalah "Tipe awal" (Archetypal) dari "kesadaran akan Allah" (“God-consciousness”) yaitu manusia yang secara khusus disediakan Allah untuk menjadi model bagaimana manusia seharusnya menghidupi kesadarannya akan Allah secara tepat. Keselamatan sejati bukan terjadi karena iman kepada "kematian Kristus yang menggantikan kematian manusia" (“substitutionary death of Christ”). Keselamatan yang sejati adalah pengalaman hidup dengan kesadaran akan Allah seperti Kristus, yang mungkin akan menuju pada puncak manifestasi kesadaran akan Allah yaitu kerelaan mati sama seperti Kristus.
Kesematan manusia menurutnya bukan terjadi oleh karena dan melalui penebusan dalam darahNya, dan juga bukan karena Kristus melakukan hal-hal ajaib yang dampaknya terjadi dalam hidup manusia, tetapi ia menjadi penebus manusia melalui jalan:
- (a) Membagi (sharing) atau mengambil bagian dalam setiap kondisi kehidupan manusia (pengalamannya bisa menjadi pengalaman kita)
- (b) Melibatkan (assuming) manusia dengan kehidupan dalam "kesadarannya akan Allah" yang sempurna (mengajar manusia untuk mempraktikkan bagaimana hidup dalam kesadaran rohani yang sempurna.
Kematian
Di tengah-tengah kesibukan, dan ketika masih menikmati kesegaran tubuh dan jiwa, Schleiermacher meninggal karena suatu pembengkakan di paru-parunya, pada tanggal 12 Februari 1834.