Klasifikasi rudal balistik berdasarkan jangkauan umumnya mengikuti standar yang ditetapkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. MRBM didefinisikan memiliki jangkauan maksimum antara 1.000 hingga 3.000 km.[3][4]
Dalam terminologi modern, MRBM merupakan bagian dari kelompok yang lebih luas yaitu rudal balistik teater (theatre ballistic missile), yang mencakup semua rudal balistik dengan jangkauan kurang dari 3.500 km.[3]Traktat INF (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) yang berlaku antara Amerika Serikat dan Uni Soviet tahun 1987–2019 mengelompokkan MRBM bersama IRBM dalam kategori rudal jarak menengah (500–5.500 km).[2]
MRBM mengikuti lintasan balistik khas rudal balistik. Setelah diluncurkan, roket pendorong akan mengangkat muatan ke luar atmosfer, kemudian hulu ledak akan terpisah dan melanjutkan perjalanan mengikuti lintasan parabola menuju target. Kecepatan saat memasuki kembali atmosfer dapat mencapai Mach 5 atau lebih.[2]
Sistem propulsi
MRBM dapat menggunakan dua jenis bahan bakar:
Bahan bakar cair – memberikan jangkauan lebih jauh, namun waktu persiapan lebih lama dan bahan bakar tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Contoh: R-12 Dvina (SS-4 Sandal) Uni Soviet.[2]
Bahan bakar padat – waktu respons lebih cepat, perawatan lebih mudah, dan lebih aman disimpan. Contoh: Sejjil Iran, DF-21 Tiongkok, Shaheen-III Pakistan.[5]
Peluncur jalan raya (TEL – transporter erector launcher) yang meningkatkan mobilitas dan kemampuan bertahan
Kapal permukaan atau kapal selam (dalam beberapa konfigurasi)
Sejarah
Asal-usul dan Perang Dingin awal
Teknologi dasar MRBM bermula dari roket V-2 Nazi Jerman, yang pertama kali diluncurkan pada 3 Oktober 1942 dan digunakan secara operasional mulai September 1944 dengan jangkauan sekitar 320 km.[2] Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet merebut komponen, cetak biru, dan ilmuwan V-2 melalui operasi Paperclip dan Osoaviakhim.
Amerika Serikat mengembangkan PGM-11 Redstone (jangkauan 200–300 km) sebelum melanjutkan ke PGM-19 Jupiter. Program Jupiter dimulai pada Desember 1955, dengan uji coba pertama pada 18 Mei 1959. Jupiter memiliki jangkauan 2.400–2.700 km dan dilengkapi hulu ledak nuklir W49 1,44 megaton. Rudal ini ditempatkan di Italia dan Turki mulai tahun 1958.[7]
Uni Soviet mengembangkan R-12 Dvina (NATO: SS-4 Sandal) di bawah pimpinan Kepala Desainer Mikhail Yangel. R-12 menggunakan bahan bakar cair yang dapat disimpan (kerosin/asam nitrat) dengan jangkauan 2.000–2.200 km. Uji coba pertama dilakukan tahun 1957 dan mulai berdinas pada 4 Maret 1959. Produksi mencapai lebih dari 600 unit. Keberadaan R-12 di Kuba menjadi pemicu utama Krisis Rudal Kuba tahun 1962.[2]
Puncak pengembangan (1970-an–1980-an)
Tahun 1970-an menandai puncak pengembangan MRBM dan IRBM. Uni Soviet memperkenalkan RSD-10 Pioneer (NATO: SS-20 Saber), sistem berbahan bakar padat dengan jangkauan 5.000 km yang diluncurkan dari kendaraan TEL. Pada 1987, sekitar 441 peluncur SS-20 telah ditempatkan di wilayah Soviet.[2]
Sebagai respons, NATO mengadopsi Dual-Track Decision tahun 1979 yang mengizinkan penempatan Pershing II Amerika Serikat dan rudal jelajah darat di Eropa. Pershing II pertama tiba di Jerman Barat pada 22 November 1983. Rudal ini memiliki jangkauan 1.770 km dan akurasi luar biasa (CEP 30 m) berkat sistem panduan radar terminal.[6]
Traktat INF dan pasca pembubaran
Traktat INF ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1987, melarang pengembangan, produksi, dan penempatan rudal balistik berbasis darat dengan jangkauan 500–5.500 km. Akibatnya, seluruh MRBM dan IRBM berbasis darat dari kedua negara dimusnahkan pada tahun 1991.[2]
Amerika Serikat menarik diri dari traktat ini pada 2 Agustus 2019, diikuti oleh Rusia, dengan alasan pelanggaran yang dilakukan masing-masing pihak. Pembubaran traktat ini membuka jalan bagi pengembangan kembali MRBM berbasis darat.[2]
Pengembangan
Saat ini, beberapa negara terus mengembangkan dan memproduksi MRBM:
Tiongkok
DF-21 (CSS-5) – rudal berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan 1.100+ km. Varian DF-21D merupakan rudal balistik anti-kapal (ASBM) pertama di dunia.[1]
DF-25 – pengembangan lebih lanjut dengan jangkauan lebih jauh.
India
Agni-II – rudal berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan 2.000–2.500 km. Menjadi tulang punggung kekuatan nuklir India.[1]
Agni-III – memiliki jangkauan hingga 3.500 km (mendekati IRBM).
Pakistan
Ghauri (Hatf-5) – MRBM berbahan bakar cair dengan jangkauan 1.500 km, mampu membawa hulu ledak 700 kg.[8]
Shaheen-III – rudal berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan 2.750 km.[8]
Ababeel – MRBM pertama Pakistan yang dilengkapi kemampuan MIRV (hulu ledak ganda dengan target terpisah), jangkauan 2.200 km.[8]
Iran
Sejjil – MRBM berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan ±2.000 km. Panjang 18 m, berat luncur 23.600 kg, mampu membawa hulu ledak 700 kg. Nama "Sejjil" berasal dari Surah Al-Fil ayat ke-4 yang berarti "tanah liat yang dibakar".[5]
Kheibar Shekan – MRBM generasi ketiga Iran dengan jangkauan 1.450 km. Memiliki hulu ledak manuver (MaRV) pada fase terminal untuk menghindari intersepsi. Diluncurkan dari platform bergerak.[9]
Shahab-3 – MRBM berbahan bakar cair dengan jangkauan 1.000–2.000 km, dikembangkan dari teknologi Nodong Korea Utara.
Korea Utara
Nodong (Hwasong-7) – MRBM berbahan bakar cair satu tahap dengan jangkauan 900–1.300 km. Menjadi basis pengembangan rudal Shahab-3 Iran dan Ghauri Pakistan.[1]
Hwasong-9 (Scud-ER) – varian jangkauan diperpanjang dari Scud-C dengan jangkauan hingga 1.000 km.[1]
Negara-negara lain
Israel – diyakini memiliki sistem MRBM/IRBM bernama Jericho dengan jangkauan bervariasi.
Arab Saudi – mengakuisisi rudal CSS-2 (DF-3) dari Tiongkok pada akhir 1980-an dengan jangkauan 1.500+ km.[1]
Program yang dihentikan
MMRBM (Mobile Mid-Range Ballistic Missile) – program Amerika Serikat yang dimulai tahun 1961 tetapi dibatalkan pada tahun 1965 karena alasan anggaran dan perubahan prioritas strategis.[10]
Pershing I/IA – digantikan oleh Pershing II yang kemudian dimusnahkan berdasarkan Traktat INF.