RSD-10 Pioneer (bahasa Rusia:ракета средней дальности (РСД) «Пионер»code: ru is deprecated , translit.Raketa Sredney Dalnosti (RSD) "Pioner") adalah rudal balistik jarak menengah antara (IRBM) dengan hulu ledak nuklir yang digunakan oleh Uni Soviet dari tahun 1976 hingga 1988. Rudal ini memiliki kode GRAU 15Zh45. NATO memberi nama pelaporan SS-20 Saber. Penyebaran rudal ini menjadi penyebab utama NATO mengadopsi Double-Track Decision yang menyebabkan penempatan lebih banyak senjata nuklir jarak menengah di Eropa Barat.[1] RSD-10 ditarik dari layanan berdasarkan Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) tahun 1987.[2]
Sejarah pengembangan
Pengembangan RSD-10 dimulai pada tahun 1966 dengan konsep desain yang disetujui pada tahun 1968. Tugas pengembangan diberikan kepada Institut Teknologi Termal Moskow di bawah pimpinan Alexander Nadiradze, yang juga mengembangkan rudal RT-21 Temp 2S (SS-16 Sinner) pada periode yang sama.[1][3] RSD-10 dikembangkan untuk menggantikan rudal R-12 Dvina (SS-4 Sandal) dan R-14 Chusovaya (SS-5 Skean) yang sudah usang dan menggunakan bahan bakar cair.[1]
Uji coba penerbangan dimulai pada tahun 1974, dan rudal mulai ditempatkan pada 11 Maret 1976, dengan unit pertama menjadi operasional pada Agustus 1976.[3]
Motif pengembangan
Terdapat beberapa teori mengenai alasan Uni Soviet mengembangkan RSD-10:[3]
Sebagai bagian dari upaya meraih kekuasaan global (menurut pandangan AS seperti Richard Perle)
Karena Perjanjian SALT membatasi rudal jarak jauh, sehingga Soviet beralih ke rudal jarak menengah yang tidak tercakup dalam perjanjian
Sebagai "anak" dari proyek RT-21 Temp 2S yang gagal, dengan teknologi yang digunakan kembali
Sebagai upaya mengembangkan strategi nuklir yang lebih canggih dengan kemampuan serangan kedua yang sebelumnya tidak dimiliki
Desain dan spesifikasi
RSD-10 adalah rudal berbahan bakar padat dua tahap, yang menjadikannya rudal Soviet pertama dengan propelan padat. Keunggulan bahan bakar padat adalah rudal dapat diluncurkan segera setelah perintah diberikan, berbeda dengan rudal berbahan bakar cair yang memerlukan waktu berjam-jam untuk pengisian bahan bakar yang berbahaya.[3]
Dimensi
Panjang: 16,5 meter
Diameter: 1,79 meter
Berat luncur: 37.100 kg
Hulu ledak
Uni Soviet mengembangkan tiga model (Mod) RSD-10:[1]
Mod 1 – hulu ledak tunggal 1.000 kT
Mod 2 – tiga hulu ledak MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle) masing-masing 150 kT; varian ini adalah yang paling banyak digunakan
Mod 3 (Pioneer-UTTKh / 15Zh53) – varian modernisasi yang mulai diuji pada 10 Agustus 1979 dan ditempatkan pada 17 Desember 1980. Varian ini memiliki akurasi lebih baik (CEP 450 m), jangkauan 10% lebih jauh, dan mendapat nama NATO SS-28 Saber 2.[4][3]
Sistem peluncur
Rudal diluncurkan dari kendaraan peluncur jalan raya (transporter erector launcher, TEL) MAZ-547A/MAZ-7916 yang diproduksi di RSS Byelorusia oleh Pabrik Mobil Minsk. TEL ini awalnya dirancang untuk rudal antarbenua RT-21 Temp 2S.[3]
Penempatan
Pada puncaknya, Uni Soviet menempatkan 441 rudal SS-20.[1] Pada tahun 1986, total 48 lokasi peluncuran dilengkapi dengan 405 rudal RSD-10 di bawah kendali Pasukan Rudal Strategis Uni Soviet.[3] Rudal ini ditempatkan di berbagai lokasi di Uni Soviet, termasuk di barat Pegunungan Ural dan dekat Teykovo, sekitar 193 km timur laut Moskow.[1]
Dengan jangkauan 5.000 km, SS-20 mampu menjangkau seluruh Eropa dari wilayah Soviet, namun tidak cukup untuk mencapai daratan Amerika Serikat.[1]
Dampak strategis
Kemampuan SS-20 yang mobile, akurat, dan dilengkapi MIRV mengubah keseimbangan kekuatan di Eropa. Rudal ini memiliki kapasitas untuk menghancurkan semua pangkalan dan instalasi NATO dengan peringatan yang sangat singkat, sehingga Uni Soviet memperoleh kemampuan untuk menetralkan kekuatan nuklir taktis NATO dengan serangan nuklir presisi.[3]
Sebagai respons, NATO mengadopsi Double-Track Decision pada 12 November 1979, yang terdiri dari:[5]
Jalur negosiasi: upaya diplomasi untuk mengurangi kekuatan INF
Jalur penempatan: penempatan rudal Pershing II AS dan rudal jelajah darat (GLCM) di Eropa Barat mulai tahun 1983
Penonaktifan
Pada tahun 1981, Amerika Serikat menawarkan untuk membatalkan penempatan Pershing II dan GLCM sebagai imbalan atas pembongkaran SS-20 serta pensiunnya SS-4 dan SS-5. Proposal ini memicu negosiasi yang akhirnya menghasilkan Traktat INF yang ditandatangani pada 8 Desember 1987 dan mulai berlaku pada 1 Juni 1988.[1][5]
Traktat ini mengharuskan penghapusan semua rudal berbasis darat dengan jangkauan 500–5.500 km dari kedua belah pihak. Total rudal yang dimusnahkan:[2]
Amerika Serikat: 846 rudal (169 Pershing IA, 234 Pershing II, 443 GLCM)
Proses penghapusan dimulai pada Juli 1988. Rudal pertama dihancurkan dengan bahan peledak tinggi di Kapustin Yar. Uni Soviet juga menghancurkan rudal dengan meluncurkannya (tanpa hulu ledak) ke luar angkasa dari pangkalan di wilayah timur Uni Soviet, dengan total 72 rudal dihancurkan dengan cara ini.[1]
Rudal terakhir dimusnahkan pada Mei 1991. Sebuah momen bersejarah tercatat pada 12 Mei 1991 di Kapustin Yar, ketika rudal SS-20 terakhir dihancurkan dengan disaksikan oleh tim inspektur Amerika Serikat.[6]
Pelestarian
Sebagai bagian dari perjanjian, 15 rudal RSD-10, 8 rudal BGM-109G Gryphon, dan 7 rudal Pershing II dilestarikan untuk tujuan peringatan. Saat ini, satu rudal RSD-10 dapat dilihat di halaman Museum Nasional Sejarah Ukraina dalam Perang Dunia II di Kyiv, satu di Museum Angkatan Udara Ukraina di Vinnytsia, Ukraina, dan satu lagi di Smithsonian National Air and Space Museum di Washington, D.C., Amerika Serikat.[3]
Divisi Rudal Garda ke-23, Kansk, Krasnoyarsk Krai (sekitar 1983–1988)[3]
Pengguna lain
Korea Utara dilaporkan telah memperoleh sejumlah kendaraan peluncur TEL SS-20 yang telah didemiliterisasi dari Rusia atau Belarus untuk digunakan dengan rudal BM25 Musudan.[3]
Cant, James "The SS-20 Missile-Why Were You Pointing at Me?" pages 240-253 from Russia War, Peace and Diplomacy edited by Ljubica and Mark Erickson, London: Weidenfeld & Nicolson, 2004 ISBN 0-297-84913-1.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai RSD-10 Pioneer.