Sistem navigasi inersia DF-21D dilengkapi sistem panduan terminal
Alat peluncur
Peluncur jalan raya (TEL)
Dong-Feng 21 (DF-21; kode NATO: CSS-5) adalah rudal balistik dua tahap berbahan bakar padat dengan jarak menengah dalam seri Dongfeng yang dikembangkan oleh China Changfeng Mechanics and Electronics Technology Academy. Nama "Dongfeng" berarti "Angin Timur" dalam bahasa Tionghoa.
Sejarah pengembangan
Pengembangan DF-21 dimulai pada akhir tahun 1960-an dan selesai sekitar tahun 1985–1986, tetapi rudal ini baru digunakan secara operasional pada tahun 1991. Rudal ini dikembangkan dari rudal kapal selam JL-1 dan merupakan rudal darat berbahan bakar padat pertama Tiongkok.
Pada tahun 1996, Tiongkok mulai mengganti DF-21 versi awal dengan varian yang lebih baik, yaitu DF-21A. Varian ini memiliki bagian hidung yang dimodifikasi, dengan panjang 12,3 meter, diameter 1,4 meter, dan berat luncur 15.200 kg. DF-21A memiliki akurasi yang lebih baik dibandingkan versi sebelumnya.[1]
Varian DF-21D (Pembunuh Kapal Induk)
DF-21D (CSS-5 Mod 5) adalah varian rudal balistik anti-kapal (ASBM) yang dirancang khusus untuk menenggelamkan kapal induk. Rudal ini menjadi perhatian besar Amerika Serikat dan sekutunya karena kemampuannya yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Asia-Pasifik.[1]
Kemampuan
Kecepatan hipersonik: DF-21D dapat melaju dengan kecepatan Mach 5 atau lebih, sehingga sulit diintersepsi.[1]
Jangkauan: Lebih dari 1.500 kilometer, yang berarti dapat digunakan untuk menargetkan kapal induk di Pasifik Barat.[1]
Sistem panduan: Dilengkapi dengan sistem panduan terminal (terminal guidance) yang memungkinkannya mengunci target dengan presisi tinggi.[1]
Kemampuan manuver: Dapat bermanuver di fase akhir penerbangan, membuat pertahanan kapal menjadi lebih sulit.[1]
Peringatan dari Pakar
Harry Kazianis, pakar strategi perang terkemuka, menggambarkan rudal DF-21D dan DF-26D Tiongkok sebagai "momok" bagi Angkatan Laut AS. Ia memperingatkan bahwa Tiongkok memiliki jumlah senjata semacam itu begitu banyak sehingga sangat tidak mungkin Angkatan Laut AS akan mampu menembak jatuh semuanya.[2]
Respons Amerika Serikat
Menanggapi pengembangan DF-21D, Amerika Serikat mengembangkan ASBM sendiri, seperti SM-3 Block IIA, serta mengerahkan sistem pertahanan rudal Aegis di Pasifik Barat yang dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik.[1]