Dalam bab 15, Santo Paulus mengutip Kristus sebagai teladan untuk menunjukkan bahwa kita juga harus bersabar terhadap yang lemah, bahkan mereka yang gagal karena berbuat dosa di depan umum atau karena moral mereka yang buruk. Kita tidak boleh mengabaikan mereka, tetapi harus bersabar dengan mereka sampai mereka menjadi lebih baik. Begitulah cara Kristus memperlakukan kita, dan masih memperlakukan kita setiap hari; Ia menoleransi kejahatan kita, moral kita yang buruk, dan segala ketidaksempurnaan kita, dan Ia menolong kita tanpa henti. Akhirnya, Paulus berdoa bagi umat Kristen di Roma; ia memuji dan menyerahkan mereka kepada Allah. Ia menunjukkan jabatannya sendiri dan pesan yang ia khotbahkan. Ia dengan diam-diam memohon sumbangan bagi kaum miskin di Yerusalem. Kasih yang murni adalah dasar dari semua yang ia katakan dan lakukan.[5]
Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.[6]
Perjanjian Lama sangat penting bagi kehidupan rohani orang Kristen. Hukum kebijaksanaan dan moral Allah mengenai setiap aspek kehidupan, dan juga penyataan tentang diri-Nya, keselamatan, dan kedatangan Kristus, mempunyai nilai permanen (2 Timotius 3:16; lihat Matius 5:17).[7]
Ayat 21
Tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."[8]
Menurut ayat ini, penggenapan Yesaya 52:15 diteruskan oleh pelayanan Rasul Paulus di mana dia memberitakan Injil kepada orang yang belum mengenal YesusKristus. Bagi Rasul Paulus, pendirian jemaat yang bersifat perintisan merupakan suatu kehormatan yang begitu besar, sehingga seluruh hidupnya terikat pada perintisan tersebut.[9]
↑Donaldson, Terence L. (2007). "63. Introduction to the Pauline Corpus". Dalam Barton, John; Muddiman, John (ed.). The Oxford Bible Commentary (Edisi first (paperback)). Oxford University Press. hlm.1077. ISBN978-0199277186.
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 9794159050.