Quercus cerris, dikenal juga sebagai ek turki atau ek austria, adalah spesies pohon ek yang berasal dari kawasan Eropa tenggara dan Asia Kecil. Pohon ini merupakan spesies tipe dari Quercus subbagian Cerris, kelompok dalam genus ek yang memiliki ciri khas berupa tunas yang dibungkus rambut halus, daun berlobus dengan ujung berbulu, serta biji ek yang umumnya membutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk mencapai kematangan.[3][4]
Deskripsi
Quercus cerris merupakan pohon gugur berukuran besar yang dapat mencapai tinggi 25–40 meter, dengan diameter batang hingga sekitar 2 meter. Kulit batangnya berwarna abu-abu gelap dan tampak sangat berkerut, sementara pada pohon yang telah tua, celah-celah kulitnya sering menunjukkan garis berwarna oranye di dekat pangkal batang. Daunnya mengilap, berukuran 7–14 cm panjang dan 3–5 cm lebar, serta memiliki 6–12 lobus segitiga di setiap sisi. Pola lobus ini sangat bervariasi antara satu pohon dan lainnya, ada yang tersusun rapi dan teratur, tetapi ada juga yang bentuknya jauh lebih acak. Bunganya berupa bunga untai yang diserbuki oleh angin, dan buahnya, yaitu biji ek, membutuhkan sekitar 18 bulan untuk matang setelah proses penyerbukan. Biji ek tersebut berukuran cukup besar, panjang 2,5–4 cm dan lebar sekitar 2 cm, dengan dua warna: bagian dasar berwarna oranye hingga ke tengah, sedangkan ujungnya berwarna hijau kecokelatan. Cangkang biji ek memiliki kedalaman sekitar 2 cm dan tertutup rapat oleh rambut-rambut halus menyerupai lumut yang panjangnya 4–8 mm.[5]
Ekologi
Biji ek dari tanaman ini pada tahun pertama memiliki rasa yang sangat pahit, tetapi tetap menjadi makanan bagi burung seperti celung dan merpati. Sementara itu, tupai biasanya hanya memakannya ketika makanan lain tidak tersedia. Secara historis, jangkauan spesies ini pernah meluas hingga Eropa utara dan Kepulauan Inggris sebelum zaman es terakhir sekitar 120.000 tahun lalu. Pada abad ke-18, ek Turki diperkenalkan kembali ke Inggris dan Irlandia sebagai tanaman hias, dan sejak itu tawon empedu yang hidup padanya menjadi sumber makanan awal bagi beberapa spesies burung. Pohon ini juga menjadi inang bagi tawon empedu Andricus quercuscalicis, yang larvanya dapat merusak biji ek asli Inggris. Kekhawatiran mengenai hal tersebut membuat Kementerian Pertahanan Inggris pada tahun 1998 memerintahkan penebangan seluruh ek turki di pangkalan militer.[6][7]
Saat ini, ek turki banyak dibudidayakan dan telah menjadi bagian alami dari lanskap di berbagai wilayah Eropa, sebagian karena pertumbuhannya yang cukup cepat. Pohon ini sering digunakan sebagai tanaman hias maupun sebagai penahan angin di daerah pesisir. Beberapa kultivar juga telah dikembangkan, seperti ‘Variegata’ yang memiliki daun belang dan ‘Woden’ yang dikenal dengan daun besar berlobus dalam.[8]
Referensi
↑Gorener, V. (2017). "Quercus cerris". 2017. Diakses tanggal March 21, 2023.
↑"Quercus cerris L."Plants of the World Online. Board of Trustees of the Royal Botanic Gardens, Kew. 2017. Diakses tanggal 16 November 2025.