Pulau ini dikenal karena merupakan salah satu tempat wisata untuk melihat ikan duyung di pinggir pantai.[2]
Akses
Pulau Bukide dapat ditempuh dari Kota Tahuna menggunakan perahu bermotor tempel dengan waktu sekitar dua jam perjalanan. Perjalanan tidak disarankan saat musim angin bertiup kencang dikarenakan ombak yang besar.[3]
Pulau ini juga merupakan salah satu jalur kapal-kapal tol laut, yang dilintasi oleh trayek R-34 dan dilayani oleh KM. Berkat Taloda berukuran 750 DWT dan kapal Coaster 750 DWT sebagai kapal pengganti/cadangan.[4]
Penduduk
Terdapat dua desa di Pulau Bukide yaitu Bukide dan Bukide Timur dengan total penduduk sebanyak 1200 jiwa yang terdiri dari 350 KK.[5] Untuk kampung Bukide Timur, dihuni oleh 475 jiwa dan penduduknya berprofesi nelayan serta 80% beragama Islam.[3]
Budaya
Meskipun didominasi oleh agama Islam, namun penduduk di pulau ini tetap melaksnakan tradisi Masamper dalam bahasa Sasahara.[3]
Pulau Bukide juga masih menjaga tradisi lainnya yaitu pembuatan kue Amik, kue yang terbuat dari tepung beras dan gula merah, kemudian dicetak menggunakan cetakan khusus.[6]
Ekosistem
Pulau Bukide merupakan salah satu habitat Kuskus beruang talaud dengan kepadatan populasi 5,42±1,79 ekor/km2.[7]
Fasilitas
Pulau Bukide dialiri listrik yang berasal dari PLTD yang dibangun pada 2019. Pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari program Indonesia Terang.[8]
↑Batubara, Rido; Rusandi, Andi; Yusuf, Muhammad; Roroe, Pingkan Katharina; Sidqi, Muhandis; Sinaga, Simon Boyke; Solihin, Akhmad (2015). Sulawesi Utara Manikam Nusa di Tepian Minahasa dan Bolaang Mongondow. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN978-979-709-588-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)