Layang-layang tebing pucat (Ptyonoprogne obsoleta) adalah burung passerine kecil dari famili layang-layang yang hidup menetap di Afrika Utara dan Asia Barat Daya hingga Pakistan. Burung ini terutama berkembang biak di daerah pegunungan, tetapi juga ditemukan di ketinggian yang lebih rendah, terutama di daerah berbatu dan sekitar permukiman. Berbeda dengan sebagian besar jenis layang-layang lainnya, spesies ini sering ditemukan jauh dari sumber air. Panjang tubuhnya sekitar 12–13 cm, dengan bulu berwarna cokelat secara keseluruhan, bagian dada atas dan penutup sayap bawah berwarna lebih pucat, serta memiliki "jendela" putih pada ekor yang terbuka saat terbang. Jantan dan betina memiliki penampilan serupa, tetapi burung muda memiliki tepi bulu bagian atas dan bulu terbang yang lebih pucat. Dahulu, burung ini dianggap sebagai subspesies utara dari layang-layang batu yang hidup di Afrika Selatan, meskipun ukurannya lebih kecil, warnanya lebih pucat, dan tenggorokannya lebih putih dibandingkan spesies tersebut. Layang-layang tebing pucat berburu serangga terbang di sepanjang tebing dengan gaya terbang lambat disertai banyak meluncur. Suaranya berupa kicauan lembut.
Taksonomi
Layang-layang tebing pucat pertama kali dideskripsikan secara resmi pada tahun 1851 oleh ahli burung Jerman Jean Cabanis sebagai Cotyle obsoleta, berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari daerah dekat Kairo, Mesir.[1][2] Pada tahun yang sama, burung ini dipindahkan ke genus baru Ptyonoprogne yang dibuat oleh ahli burung Jerman Heinrich Gustav Reichenbach.[3] Nama genus Ptyonoprogne berasal dari bahasa Yunani Kunoptuon (πτύον) yang berarti "kipas", mengacu pada bentuk ekor saat terbuka, dan Procne (Πρόκνη), nama seorang gadis dalam mitologi yang berubah menjadi seekor layang-layang.[4] Nama spesifik obsoleta berarti "lusuh" dalam bahasa Latin.[5]
Sebaran
Layang-layang tebing pucat berkembang biak di habitat yang sesuai di seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah hingga Afghanistan dan Pakistan. Spesies ini umumnya bersifat menetap, kecuali untuk pergerakan lokal atau penurunan ke ketinggian yang lebih rendah setelah masa berkembang biak. Selain itu, terdapat pula beberapa perpindahan jarak pendek, termasuk kelompok dari Arab selatan yang menyeberangi Laut Merah dan menghabiskan musim dingin bersama burung-burung penetap lokal di Etiopia dan Tanduk Afrika,[6][7][8] serta individu non-biak P. f. spatzi dan P. f. presaharica yang bergabung dengan layang-layang batu di Mali dan Mauritania.[9] Di Pakistan, wilayah berkembang biak subspesies P. f. peloplasta tumpang tindih dengan wilayah layang-layang tebing suram, meskipun spesies tersebut berkembang biak pada ketinggian yang jauh lebih rendah.[6] Di Afrika Utara, P. f. obsoleta menempati habitat gurun, sedangkan layang-layang tebing Eurasia ditemukan di daerah pegunungan.[10] Layang-layang tebing pucat juga pernah tercatat sebagai pengembara di Bahrain, Qatar,[11]Kuwait, dan Sri Lanka,[12] meskipun keberadaannya di negara terakhir dianggap belum terbukti dalam panduan lapangan tahun 2011.[13] Burung ini juga pernah diklaim berkunjung ke Turki, tetapi hal tersebut masih diperdebatkan.[14]
Referensi
↑Cabanis, Jean (1851). Museum Heineanum Verzeichniss der ornithologischen Sammlung des Oberamtmann Ferdinand Heine auf Gut St. Burchard vor Halberstatdt. Mit kritischen Anmerkungen und Beschriebung der neuen Arten, systematisch bearbeitet von Dr. Jean Cabanis, erstem Kustos der Königlichen zoologischen Sammlung zu Berlin[The directory of the ornithological collection of bailiff Ferdinand Heine at the Museum Heineanum in Gut St. Burchard, Halberstatdt. With critical remarks and descriptions of new species by Dr. Jean Cabanis, first curator of the Royal Zoological collection in Berlin.] (dalam bahasa Jerman). Vol.1. Halberstadt: R. Frantz. hlm.50. For a discussion of publication date see: Dickinson, E.C.; Overstreet, L.K.; Dowsett, R.J.; Bruce, M.D. (2011). Priority! The Dating of Scientific Names in Ornithology: a Directory to the literature and its reviewers. Northampton, UK: Aves Press. hlm.80–81. ISBN978-0-9568611-1-5.
Harrison, John; Worfolk, Tim (2011). A Field Guide to the Birds of Sri Lanka. Oxford: Oxford University Press. ISBN978-0-19-958566-3.
Jennings, Michael C (2010). Atlas of the Breeding Birds of Arabia. Fauna of Arabia, volume 25. Riyadh and Frankfurt: King Abdulaziz City for Science and Technology, Saudi Wildlife Commission and Senckenburg Forschungsinstitut und Naturmuseum. ISBN978-3-929907-83-4.
Redman, Nigel; Stevenson, Terry; Fanshawe, John; Small, Brian; Gale, John (2011). Birds of the Horn of Africa: Ethiopia, Eritrea, Djibouti, Somalia and Socotra (Helm Field Guides). London: Christopher Helm. ISBN978-1-4081-5735-0.
Reichenbach, Heinrich Gustav (1850). Avium systema naturale (dalam bahasa Jerman). Dresden and Leipzig: F. Hofmeister.
Sielicki, Janusz; Mizera, Tadeusz, ed. (2008). Peregrine Falcon Populations – status and perspectives in the 21st Century. Warsaw and Poznań: Turul and University of Life Sciences. ISBN978-83-920969-6-2.
Snow, David; Perrins, Christopher M., ed. (1998). The Birds of the Western Palearctic concise edition (2 volumes). Oxford: Oxford University Press. ISBN0-19-854099-X.
Welch, Geoff; Demirci, Barbaros; Kirwan, Guy M; Boyla, Kerem; Ozen, Metehan; Castell, Peter; Marlow, Tim; Welch, Hilary (2008). The Birds of Turkey (Helm Field Guides). London: Christopher Helm. ISBN978-1-4081-0475-0.