ENSIKLOPEDIA
Psikologi Islam
Psikologi Islam merupakan suatu bidang ilmu pengembangan dari ilmu nafs (psikologi Islam klasik) yaitu suatu ilmu pada zaman keemasan Islam. Ilmu nafs adalah suatu ilmu klasik yang berdasarkan pemikiran para filsuf klasik Islam semisal al-Kindi , al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Arabi, Abu Yazid al-Bustami, al-Farabi dan banyak filsuf muslim lainnya yang mencetuskan berbagai macam proposisi tentang gejala kejiwaan dalam bidang psikologi keperibadian, psikologi sosial, dan berbagai macam bidang psikologi lainnya. Setelah terjadi revolusi logika di Dunia yang menyebabkan paradigma ilmiah bergeser kepada paradigma empiris oleh Francis Bacon menggantikan logika Alfarabi maupun Aristoteles, berbagai macam ilmu pun ikut melakukan revolusi baik pada ilmu alam, ilmu sosial, maupun ilmu budaya. Adalah Auguste Comte dan Spencer sebagai pencetus bawasannya proposisi pada ilmu sosial juga dapat menjadi proposisi yang empirik, dan didukung oleh data pendukung empirik. Pernyataan Comte ini digagas berdasarkan observasinya pada sejarah, bahwa sejarah manusia adalah suatu yang terulang dan terulang kembali, baik itu kebijakan, tindakan, maupun perilaku. Gagasan Comte ini bukan hanya merevolusi ilmu sosial tetapi juga membawa ilmu budaya tertarik masuk kedalam sains, dengan pembagian jenis data yaitu ilmu alam adalah nomotetik, ilmu sosial termasuk psikologi adalah semi nomotetik, dan ilmu budaya adalah idiografi yang ketiganya kini diakui Unesco sebagai sains.
Psikologi Islam adalah suatu paradigma psikologi empirik yang mengkonstruksi teori dengan terinspirasi oleh dalil-dalil kitab suci Islam, maupun proposisi-proposisi teori dari ilmuan muslim klasik. Suatu ilmu yang menjadi jembatan antara logika modern yang empirik dengan nash Alquran dan Sunnah. Metodenya yaitu dengan meriset kitab suci Islam untuk menemukan logika empirik tentang gejala jiwa yang kemudian dikonstruk menjadi suatu proposisi yang didukung oleh temuan-temuan psikologi kekinian. Produk dari Psikologi Islam adalah lahirnya teori-teori psikologi yang proposisinya terinspirasi dari ayat-ayat kitab suci Islam yang disandingkan dengan data pendukung empirik, selain itu juga memperbaharui data pendukung empiris teori-teori psikologi klasik para ilmuan muslim abad pertengahan.
Sejarah
Masa klasik (abad ke-7 hingga ke-13 Masehi)
Pada masa klasik (abad ke-7–13 Masehi), unsur-unsur psikologi dalam ajaran Islam dikemukakan oleh para tokoh dan institusi yang memiliki tingkat penafsiran yang tinggi atas ajaran Islam. Penfasiran ini dilakukan dengan tujuan untuk membentuk perilaku manusia menjadi pribadi yang memiliki nilai-nilai kesehatan, keadilan, dan kebenaran. Umat Islam pada masa ini ditekankan untuk mengetauhi ajaran Islam dan hadis. Perilaku manusia didasarkan kepada sunah Nabi Muhammad dengan tujuan agar terbentuk kebiasaan baik.[1]
Para tokoh yang melakukan kajian kejiwaan pada masa klasik tidak disebut sebagai ahli jiwa. Selain itu, kajian kejiwaan juga tidak memiliki disiplin ilmiah tersendiri yang disebut ilmu jiwa. Kajian kejiwaan dilakukan dalam bidang tafsir ahli tafsir, bidang hadis oleh ahli hadis, bidang filsafat oleh filsafat Islam dan bidang tasawuf oleh para sufi. Mereka mengkaji tentang kejiwaan menggunakan pendekatan skriptualis, pendekatan filosofis dan pendekatan tasawuf.[2] Epistemologi dari pemikiran-pemikiran kejiwaan dalam psikologi Islam diperoleh dalam kajian filsafat Islam dan tasawuf. Tokoh-tokoh utama dalam kajian ini antara lain al-Farabi dan Ibnu Sina.[3]
Masa modern (Abad ke-20 Masehi)
Psikologi Islam muncul sebagai bentuk ketidakpuasan dari para psikolog muslim terhadap teori-teori psikologi yang dikemukakan oleh psikolog di dunia Barat.[4] Pengembangan kajian psikologi Islam baru dimulai sejak awal periode tahun 1960-an.[5] Pada tahun 1978, perbincangan publik dalam skala internasional mengenai psikologi Islam telah diadakan di Universitas Riyadh, Arab Saudi. Perbincangan ini merupakan bagian dari Simposium Internasional tentang Psikologi dan Islam. Kemudian pada tahun 1979, terbit sebuah buku yang dianggap monumental di Inggris. Buku ini ditulis oleh Malik B. Badri dengan judul The Dilemma of Muslim Psychologist.[6] Penerbitan buku ini kemudian menjadi awal bagi psikologi Islam sebagai mazhab baru dalam psikologi.[7]
Penamaan
Wacana mengenai psikologi dan Islam dilakukan oleh para ahli menggunakan berbagai sebutan. Beberapa di antaranya adalah psikologi Islam, psikologi islami, psikologi modern dalam perspektif Islam, psikologi kenabian, psikologi sufi, psikologi Al-Qur’an, psikologi qur'ani, nafsiologi, dan psikologi motivatif. Namun, sebutan "psikologi Islam" dan "psikologi islami" merupakan dua istilah yang paling banyak digunakan. Dalam bahasa Inggris kedua istilah ini diterjemahkan menjadi "Islamic psychology". Sedangkan dalam bahasa Arab, kedua istilah tersebut diterjemahkan menjadi ‘ilm al-nafs al-islamy. Dua istilah tersebut dianggap memiliki pengertian yang sama. Namun, para ahli membuat kesepakatan untuk menggunakan istilah "psikologi Islam" untuk keperluan pengembangan ilmu.[8]
Pengertian
Terdapat dua pengertian umum mengenai psikologi Islam. Pertama, psikologi Islam sebagai ilmu yang membahas manusia menggunakan sumber-sumber resmi dalam ajaran Islam. Pada pengertian ini, manusia dipandang sebagai makhluk yang mampu berfilsafat, membuat teori dan menetapkan metodologi. Kedua, psikologi Islam sebagai bagian dari psikologi yang memandang manusia sesuai dengan ajaran Islam. Pada pengertian ini, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki pola perilaku yang unik. Perilaku manusia dipelajari sebagai bagian dari pengalaman atas interaksi dengan diri sendiri, lingkungan dan kerohanian. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas kesehatan jiwa dan kualitas keberagamaan.[9]
Tipe dasar
Ada empat tipe dasar kepribadian pada manusia yaitu: sanguin (yang populer), koleris (yang kuat), melankolis (yang sempurna), dan plegmatis (cinta damai). Memang sifat manusia tidak terkotak-kotak kaku hanya sanguin saja, hanya koleris saja. Akan tetapi bisa ada dua yang mendominasi, misalnya melankolis-koleris, sanguin-plegmatis. Dan juga bisa jadi dalam satu sisi urusan dia melankolis dan dalam urusan yang lain dia plegmatis. Contohnya, dengan karyawannya di kantor dia koleris (tegas dan bewibawa serta sangat jarang bercanda) akan tetapi di rumahnya dia sangat sanguin (sering bercanda dan tertawa bersama anak dan istrinya).[10]: 26--27 Penulis buku "Personality Plus", Florence Litteur menyatakan bahwa sifat manusia bukan terkotak-kotak. Misalnya hanya koleris saja atau hanya sanguin saja. Akan tetapi ada yang mendominasi sehingga bisa jadi dalam seseorang koleris 60%, Sanguin 35%, plegmatis 10% dan melankolis 5%. Sehingga ia disebut bersifat Koleris-Sanguin.[10]: 62 Sah-sah saja jika ada yang berpendapat dengan teori ini, misalnya untuk masalah akhirat harus melankolis (sangat memikirkan) dan untuk masalah dunia harus plegmatis (santai saja). Kemudian sifat terbaik bagi para laki-laki adalah koleris-Sanguin, karena laki-laki harus punya jiwa kepemimpinan dan sanguinnya sangat berguna untuk istri dan anaknya. Misalnya mencandai istri dan membuat suasana rumah menjadi tidak kaku. Sedangkan sifat ideal wanita adalah plegmatis-melankolis, karena plegmatisnya sangat berguna untuk kepatuhannya kepada suami dan sifat melankolisnya sangat berguna dalam posisinya sebagai ibu dari anak-anak yang perasa dan lembut. Demikianlah teori manusia akan tetapi alangkah baiknya jika tetap berkiblat dengan panduan syariat.[10]: 63
Sanguinis
Sifat ini adalah mereka cenderung ingin populer dan eksis, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.[10]: 68
Akan tetapi orang-orang sanguinis ini sedikit agak peluang, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir pendek dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali Anda lihat meja kerja pegawai Anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tidak melalakukan apapun juga ataupun kurang beres.[10]: 68
Cukup beruntung yang memiliki sifat ini, karena tidak semua orang bisa ceria baik dalam keadaan susah dan gembira. la bisa menularkan kebahagiaan dan keceriaan bersama-sama. Ia bisa sering mengamalkan hadis berikut,[10]: 69
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهِ طَلْقٍ.
"Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria"[a][10]: 69--70
Tipe sifat ini memang sering sekali bercanda dan tertawa. Membuat lelucon atau gerakan dan sikap yang membuat orang lain tertawa dan gembira. Sebenarnya baik, akan tetapi ia sering kali berlebihan dan tidak melihat waktu yang tepat.[10]: 85
Berkaitan dengan hal ini, pemilik sifat ini harus sering-sering ingat sabda Nabi Islam Muhammad,[10]: 85
وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ.
"Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh-nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati."[b][10]: 85
Melankolis
Sifat dasar ini adalah mereka agak-agak berseberangan dengan sifat sanguin. Seorang melankolis cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka serta sering sekali memikirkan segala sesuatu secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankolis cenderung lebih menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.[10]: 104
Orang melankolis selalu ingin serba sempurna dan ingin teratur. Karena itu jangan heran jika seorang yang melankolis tidak bisa tidur hanya karena selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah ia susun, sebab betul-betul ia tata secara apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. la akan 'dongkol' sekali apabila susunan itu tiba-tiba jadi lain.[10]: 104
Kemampuan kekuatan pikiran dan kecerdasan melankolis dapat digunakan untuk mempelajari ilmu agama dan mendakwahkannya atau mempelajari masalah dunia yang bisa bermanfaat bagi manusia. Memang tipe melankolis adalah tipe pemikir. la bisa jadi berpikir sangat dalam mengenai suatu hal. Tipe seperti ini biasanya dimiliki oleh para peneliti dan perancang. Apabila dimanfaatkan oleh si melankolis untuk menjadikannya manusia yang bermanfaat, maka berharaplah pahala.[10]: 105–106
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia"[c][10]: 106
Kepintarannya bisa digunakan agar menjadi ulama atau cendikiawan muslim. Dengan ilmu akan meningkatkan derajat seseorang, baik itu ilmu agama ataupun ilmu dunia.[10]: 106
Kekurangan melankolis salah satunya adalah mudah sekali curiga dan berprasangka kepada orang lain. Misalnya, ketika ada temannya yang memberikan sumbangan, bisa jadi ada terbesit dalam pikirannya, orang ini tidak ikhlas atau sekedar mencari popularitas, atau prasangka-prasangka yang lainnya. Ini harus dijauhi karena prasangka atau sekedar dugaan-dugaan tidak disukai dalam Islam. Sifat ini harus meresapi firman Allah,[10]: 123--124
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌcode: ar is deprecated
![]()
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"[10]: 124
Buruk sangka jika ada indikasi boleh-boleh saja, misalnya ada teman yang memang suka menipu atau suka berbohong maka boleh berprasangka, bahkan jika sudah keterlaluan maka berita tentangnya boleh disebarkan ke orang lain agar orang lain bisa berhati-hati dengan orang tersebut. Akan tetapi apabila buruk sangka tanpa indikasi atau terlalu banyak curiga, maka hal ini dilarang. Perlu diajarkan agar selalu berpikiran positif, sehingga diajarkan agar senantiasa mencari uzur bagi saudaranya. Mungkin dia sering meminjam uang karena sedang tertimpa musibah, mungkin dia suka berbohong karena sangat terpaksa sekali dan untuk kebaikan orang lain, dia juga tidak punya kebiasaan berbohong.[10]: 125
Koleris
Sifat ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang, la tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa saja la suruh melakukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang suka jadi bos sehingga orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orang berusaha menghindar, menjauh agar tak jadi "korban" karakternya yang suka mengatur dan tak mau kalah itu.[10]: 140
Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, "hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya, tanpa saya berantakan semua". Karena itu mereka sangat "goal oriented" tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Apabila ia sudah kobarkan semangat "ya pasti jadi",maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, serta tak mudah pula mengalah.[10]: 104
Inilah yang dibutuhkan dalam Islam, seorang pemimpin yang kuat. Paling minimal ia menjadi pemimpin bagi diri sendiri atau di rumah tangganya. Kaidah Islam dalam memilih pemimpin adalah laki-laki yang kuat dan tegas dengan agama yang sedang-sedang saja/cukup, lebih didahulukan menjadi pemimpin daripada laki-laki yang saleh tetapi lemah dan kurang tegas.[10]: 141
Nabi Islam Muhammad pernah bersabda kepada Abu Dzar,[10]: 141
يَا أَبَا ذَرٍ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيم
"Wahai Abu Dzar, aku lihat engkau seorang yang lemah dan aku suka engkau mendapatkan sesuatu yang aku sendiri menyukainya. Janganlah engkau memimpin dua orang dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim."[d][10]: 141
Dijelaskan oleh para ulama, bahwasanya Abu Dzar sangat dermawan dan perasa. Jika ada yang meminta akan ia berikan bagaimanapun juga. Sehingga jika mengurus harta untuk kemashlahatan umat maka kurang baik dan tentu tidak profesional.[10]: 141
Sifat koleris cenderung tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis). Kelemahan ini terkadang membuatnya agak dijauhi oleh orang lain. Khususnya ketika ia akan marah. Maka ia akan meluapkan kemarahannya dengan tanpa pandang bulu dan melihat keadaan. Tentu hasil akhirnya tidak berujung kebaikan karena segala sesuatu yang diselesaikan dengan amarah tidak terkendali, tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah. Perlu sering-sering ingat hadis berikut,[10]: 151
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِي ، قَالَ : لَا تَغْضَبْ فرَدَّدَ مِرَارًا ، قَالَ : لَا تَغْضَبْ
"Dari Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Islam: "Berilah aku wasiat. Beliau menjawab, "Jangan marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Islam bersabda: "Jangan marah!"[e][10]: 152
Marah yang dipendam bisa berbahaya bagi kesehatan, tetapi marah yang lepas tidak terkendali berbahaya bagi sosial Anda, yang benar marah pada batasnya, dilepas pada saat yang tepat dan alasannya tepat.[10]: 153
Plegmatis
Sifat dasar ini adalah mereka tak suka terjadi konflik, karenanya disuruh apa saja ia mau lakukan meskipun ia tidak suka. Baginya kedamaian adalah segalanya. Jika timbul masalah ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran, la mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya segera selesai.[10]: 162
Sifat plegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin, cenderung diam, kalem, dan apabila memecahkan masalah umumnya dengan cara yang sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tetapi jika disuruh untuk mengambil keputusan la akan terus menunda-nunda. Apabila Anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang plegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sanguin.[10]: 162
Berurusan dengan orang plegmatis bisa serba salah. Ibarat keledai, "kalau didorong ngambek, tapi jika dibiarkan tidak jalan". Apabila memiliki pegawai plegmatis, Anda harus rajin memotivasinya hingga ia benar-benar termotivasi.[10]: 162
Pelgmatis cenderung damai, tenang, santai dan teguh, mudah diajak rukun dan mudah bergaul. Suka perdamaian dan menghindari pertikaian, perpecahan serta konflik adalah sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ini adalah sifat dasar plegmatis. Setiap orang yang melihat plegmatis, mereka tidak melihat adanya aura persaingan atau aura jahat dari plegmatis. Karenanya plegmatis terkenal amat tenang dan menciptakan suasana perdamaian Anjuran Islam agar berdamai dan mencari kesepakatan damai. Tentang perdamaian Allah berfirman,[10]: 163--164
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًاcode: ar is deprecated
![]()
"Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."[10]: 164
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَcode: ar is deprecated
![]()
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."[10]: 164
Mungkin pernah terdengar 'serang saja negara yang memusuhi Islam'. Mereka lupa bahwa perang ada fikihnya, kedamaian adalah anugrah terbesar. Perang bagi laki-laki mungkin bisa sebagai ajang pembuktian diri, tetapi jangan lupakan akan banyak anak menjadi yatim dan wanita yang menjadi janda karena perang.[10]: 164
Plegmatis memang terlalu santai dan itu adalah sifat yang sudah melekat pada dirinya. karenanya beberpa pekerjaan dan proyek tidak bisa selesai karena sikapnya suka menunda-nunda. Sangat cocok untuk dipasangkan dengan koleris yang akan memaksa atau melankolis yang sering menyindir-nyindir dan memotivasi. Ini merupakan sikap yang kurang baik dan lebih tepatnya diperintahkan untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba.[10]: 181--182
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلِ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحْتِكَ لِمَرْضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.
Dari Ibnu Umar ia berkata: Nabi Islam memegang kedua pundakku seraya bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir." Ibnu Umar berkata: "Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati."[f][10]: 182
Ruang lingkup
Kemajuan diskursus psikologi kontemporer di dunia Barat telah menghasilkan reaksi yaitu kemunculan psikologi Islam.[11] Psikologi Islam memiliki perbedaan dengan psikologi kontemporer. Keduanya berbeda dari segi perumusan konsep tentang manusia dan pendekatan yang digunakan. Psikologi kontemporer menjelaskan asas-asas kejiwaan hanya menggunakan kecerdasan intelektual. Sedangkan psikologi Islam menggunakan akal dan keimanan untuk menjelaskannya.[12]
Psikologi Islam mengkaji tentang prinsip-prinsip psikologis pada manusia untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran ini mencakup kebenaran secara teologis maupun kebenaran secara psikologis.[13] Selain membahas perilaku kejiwaan, psikologi Islam juga membahas tentang hakikat dari jiwa yang sesungguhnya.[14] Psikologi Islam dibahas secara luas bersama dengan kajian tentang akidah, akhlak dan syariat Islam.[15]
Pendekatan
Tolok ukur dari psikologi Islam dalam menjelaskan kejiwaan manusia melalui perilakunya adalah nilai-nilai Islam.[16] Kajian dari psikologi Islam dilandasi oleh keterangan-keterangan dalam Al-Qur'an, sunah dan pemikiran para ulama. Tiap pemikiran yang ada kemudian dikaji, dianalisis, dan diteliti berdasarkan pendekatan psikologis. Kajian psikologi Islam menggunakan metode deduktif-normatif. Setiap pernyataan di dalam Al-Qur'an ditetapkan dan diterima sebagai aksioma-psikologis, meskipun belum ditemukan bukti empiris. Beberapa aksioma ini antara lain tentang roh, malaikat, jin, kehidupan sesudah kematian dan akhirat.[17]
Narasi dalam Al-Qur'an
Al-Qur’an memberikan gambaran yang benar mengenai manusia dengan memuat petunjuk mengenai manusia beserta dengan sifat-sifat dan keadaan psikologisnya. Selain itu, Al-Qur'an juga menerangkan tentang motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia. Al-Qur'an juga menerangkan tentang faktor-faktor yang dapat membentuk keselarasan dan kesempurnaan bagi kepribadian manusia sehingga kesehatan jiwa manusia dapat diwujudkan.[18]
Kisah Qabil dan Habil
Al-Qur'an telah memberikan narasi yang berkaitan dengan psikologi sejak dimulainya sejarah manusia. Kisah yang berkaitan dengan hal tersebut adalah kisah dua putra Nabi Adam yang bernama Qabil dan Habil. Pada kisah tersebut, Qabil membunuh saudaranya yaitu Habil. Setelah membunuh Habil, Qabil kebingungan mengenai mayat saudaranya. Allah kemudian mengirimkan contoh cara menguburkan mayat dengan mengutus seekor gagak untuk menggali tanah. Habil pun meniru burung gagak tersebut. Kisah ini menjelaskan tentang adanya motivasi psikologis yang berbentuk perilaku menyimpang. Qabil membunuh Habil karena adanya kecemburuan yang berlebihan. Di sisi lain, dijelaskan pula perilaku yang bersifat psikologis lainnya, yaitu peniruan. Qabil yang meniru burung gagak merupakan bentuk manusia dalam belajar dengan meniru. Dalam psikologi, peniruan merupakan bagian dari asas perilaku dan teori percontohan.[19]
Pemikiran-pemikiran
Kepribadian manusia
Dalam pandangan psikologi Islam, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang dilahirkan dalam keadaan suci. Manusia memiliki potensi dan ditugaskan untuk menjadi pemimpin di Bumi. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terlahir dalam keadaan memiliki kebaikan, tauhid dan Islam. Di sisi lain, manusia juga merupakan makhluk yang kreatif. Manusia memiliki kehendak sehingga mampu berusaha untuk mengubah kehidupannya.[20]
Dalam psikologi Islam, manusia selalu berhubungan dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Hubungan manusia dengan sesama manusia berkaitan dengan penciptaan manusia dalam kedudukan yang sama. Dalam hubungan ini, manusia berkewajiban menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia. Hubungan manusia dengan alam berkaitan dengan penghormatan terhadap sesama makhluk ciptaan. Dalam hubungan ini, manusia berkewajiban menjaga lingkungannya. Sementara hubungan manusia dengan Tuhan berkaitan dengan penghambaan yang diliputi oleh kebaikan. Dalam hal ini, manusia diciptakan oleh Allah dengan penuh kasih sayang.[21]
Peran
Psikologi Islam berperan dalam pengembangan kajian psikologi berdasarkan pendekatan diri kepada Tuhan. Dalam hal ini, psikologi Islam mendekatkan manusia kepada Allah. Psikologi Islam menjadi alat untuk mengkritik psikologi yang berkembang di dunia Barat. Psikologi di dunia Barat dianggap telah gagal dalam memberikan kesejahteraan terhadap manusia dari segi moral dan spiritual.[22]
Catatan kaki
- ↑ Hadis riwayat Muslim no. 2626
- ↑ Hadis riwayat At-Tirmidzi 50/2, Disahihkan oleh Al-Albani, Silsilah Shohihah 4/3
- ↑ Hadis ini dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami` no. 3289.
- ↑ Hadis riwayat Muslim no. 1826.
- ↑ Hadis riwayat Al-Bukhari no. 6116.
- ↑ Hadis riwayat Al-Bukhari, hadis Arbain ke 40.
Referensi
- ↑ Syahid, A., dkk. (2018). Romli, Cecep (ed.). Diskursus Psikologi Islam di Indonesia (PDF). Jakarta: UIN Jakarta Press. hlm. 1. ISBN 978-602-346-083-0. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Faridah, Siti (2016). "Metodologi dalam Kajian Psikologi Islam". Studia Insania. 4 (1): 70.
- ↑ Zaharuddin (2013). "Telaah Kritis terhadap Pemikiran Psikologi Islam di Indonesia". Intizar. 19 (1): 165.
- ↑ Hadi, Imam Anas (2017). "Peran Penting Psikologi Dalam Pendidikan Islam". Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam. 11 (2): 263.
- ↑ Arifin, Bambang Samsul (2018). Psikologi Kepribadian Islam: Memahami Perilaku Manusia dengan Paradigma Islam (PDF). Bandung: CV Pustaka Setia. hlm. 49. ISBN 978-979-076-731-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Safrina (2008). "Psikologi dalam Islam". Islam Futura. VII (2): 85.
- ↑ Dewi, S. K., dan Huda, M. J. N. (2012). "Dikotomi Paradigma Psikologi Islami; Studi Kasus Sejarah Integrasi antara Ilmu dan Islam di Indonesia" (PDF). Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS XII): 1979. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Nashori,, Fuad (2016). Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran (PDF). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. hlm. 1. ISBN 978-602-60361-8-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ↑ Aryani, Sekar Ayu (2018). Psikologi Islam: Sejarah, Corak dan Model (PDF). Yogyakarta: SUKA-Press. hlm. 2. ISBN 978-602-1326-85-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Bahraen, Raehanul (2016). Saputro, Hafid Ibnu (ed.). Psikologi Islam yang Sempurna. Bekasi: Rumah Ilmu. ISBN 9786021668061.
Mengupas kesempurnaan Agama Islam tentang ilmu personality plus atu 'ilmu psikologi kepribadian'
Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Nunzairina (2018). "Sejarah Pemikiran Psikologi Islam Zakiah Daradjat" (PDF). JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam. 2 (1): 100. ISSN 2580-8311.
- ↑ Yudiani, Ema (2013). "Pengantar Psikologi Islam" (PDF). JIA. XIV (2).
- ↑ Rois, Nur (2019). "Konsep Motivasi, Perilaku, dan Pengalaman Puncak Spiritual dalam Psikologi Islam". Progress. 7 (2): 185.
- ↑ Haris, Munawir (2017). "Pendekatan Psikologi dalam Studi Islam". PALITA: Journal of Social-Religion Research. 2 (1): 87. ISSN 2527-3752.
- ↑ Yuriadi (2016). "Perilaku Manusiaa dalam Perspektif Psikologi Islam". El-Furqania. 3 (2): 233.
- ↑ Musrifah (2018). "Pembentukan Kepribadian Mental Sehat Perspektif Psikologi Islam". Jurnal Madaniya. 8 (1): 97. ISSN 2548-6993.
- ↑ Saleh, Adnan Achiruddin (2018). Pengantar Psikologi (PDF). Makassar: Penerbit Aksara Timur. hlm. 205. ISBN 978-602-5802-10-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Hidayat, Aat (2017). "Psikologi dan Kepribadian Manusia: Perspektif Al-Qur'an dan Pendidikan Islam". Jurnal Penelitian. 11 (2): 469.
- ↑ Narulita, Sari (2015). "Psikologi Islam Kontemporer". Jurnal Studi Al-Qur’an: Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani. 11 (1): 58–59.
- ↑ Tim Asosiasi Psikologi Islam (2019). Rusdi, A., dan Subandi (ed.). Psikologi Islam: Kajian Teoritik dan Penelitian Empirik (PDF). Yogyakarta: Asosiasi Psikologi Islam dan Arti Bumi Intaran. hlm. 126–127. ISBN 978-602-5963-89-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Rosidi, Ayep (2019). "Pendekatan Psikologi dalam Studi Islam" (PDF). Inspirasi. 4 (1): 50. ISSN 2598-4268.
- ↑ Hafizallah, Yandi (2019). "Psikologi Islam: Sejarah, Tokoh, & Masa Depan" (PDF). Psychosophia: Journal of Psychology, Religion, and Humanity. 1 (1): 3.