Raehanul Bahraen (lahir 4 Maret 1986) adalah seorang dokter spesialis, pendakwah Islam, penulis, dan pendidik asal Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.[1][2] Ia juga menjadi ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta, pembina Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia (KIPMI), pembina Yayasan Indonesia Bertauhid, serta pembina Yayasan Pendidikan Muslimafiyah Indonesia[3].[4][2]
Ia dikenal dengen aktivitasnya dalam menyebarkan ilmu kesehatan yang dikolaborasikan dengan ajaran Islam. Ia memberikan kajian dakwah secara daring maupun luring, menulis materi agama dan kesehatan pada situs yang ia kelola,[4][2] yaitu situs organisasi dakwah Muslimafiyah Indonesia, yang isinya memberikan edukasi berupa, kajian ilmiah di bidang agama, kesehatan, psikologi, olahraga dan pengembangan diri, yang ia hubungkan dalam perspektif agama Islam.[5][2]
Pendidikan
Raehanul menempuh pendidikan formal dari tingkat dasar hingga menengah di Sumbawa Besar dan Mataram sebelum kemudian melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2004 hingga 2010.[1]
Selama menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Gadjah Mada, ia juga menimba ilmu syar’i di Ma’had Al-‘Ilmi YPIA, seangkatan dengan Abduh Tuasikal. Ia belajar di mahad tersebut kurang lebih 2 tahun, yaitu dari 2005 sampai 2007. Di sanalah ia belajar bahasa Bahasa Arab.[4]
Selanjutnya ia mengambil pendidikan spesialis Patologi Klinik dan gelar Magister Ilmu Kedokteran Klinik di UGM dari tahun 2013 sampai 2018.[1]
Karier
Pasien dan dokter Raehanul Bahraen di Rumah Sakit Umum Daerah Nusa Tenggara Barat tahun 2021
Raehanul menjadi dokter spesialis patologi klinik yang pernah bertugas di beberapa rumah sakit[5][1] seperti Hospital Besar Wilayah Nusa Tenggara Barat,[6] Hospital Islam Mataram, dan Hospital Universiti Mataram..[5][1] Selain itu, ia juga berperan sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram sebagai Pegawai Negeri Sipil.[7][1]
Fatwa
Jalani malam tahun baru seperti biasa
Raehanul menyebutkan bahwa malam tahun baru sebaiknya dijalani sebagaimana malam-malam biasa, tanpa perlu diberi perlakuan khusus. Ia menegaskan, tidak perlu membuat majelis zikir, pengajian, atau acara doa yang dikaitkan secara khusus dengan malam tahun baru.[8]
Ia menjelaskan bahwa kalender Masehi berakar dari tradisi Romawi, di mana 1 Januari dipersembahkan untuk Janus, dewa pintu dan permulaan. Bahkan, nama Januari sendiri diambil dari nama dewa tersebut. Menurutnya, membuat kegiatan keagamaan khusus justru berpotensi menempatkan malam tahun baru sebagai momen istimewa, padahal secara sejarah dan ajaran Islam, tahun baru Masehi bukan bagian dari perayaan kaum Muslimin.[8]
Pandangannya juga diperkuat oleh sejumlah pendapat ulama yang menilai bahwa memberi ucapan selamat atau mengaitkan ibadah tertentu dengan momen tahun baru Masehi dapat masuk dalam kategori tasyabbuh atau menyerupai tradisi non-muslim.[8]