ENSIKLOPEDIA
Pesimisme filosofis

Pesimisme filosofis adalah pandangan bahwa kehidupan dan eksistensi memiliki nilai negatif. Pandangan ini kerap diungkapkan sebagai klaim bahwa hidup tidak layak untuk dijalani dan bahwa ketiadaan, setidaknya dalam banyak kasus, lebih patut dipilih daripada memasuki atau mempertahankan keberadaan. Argumen lain menekankan klaim bahwa penderitaan dan berbagai keburukan memiliki dampak atau bobot yang lebih besar dibandingkan kenikmatan dan kebaikan; bahwa jumlah keburukan di dunia melampaui kuantitas kebaikan; bahwa kebahagiaan bersifat fana atau tidak dapat dicapai; atau bahwa eksistensi tidak memiliki makna maupun tujuan yang melekat secara inheren.
Tema-tema yang berkaitan dengan pesimisme muncul dalam beragam tradisi religius dan filosofis, termasuk bagian-bagian dari Buddhisme, Kitab Pengkhotbah, bentuk-bentuk tertentu dari Gnostisisme, serta karya Hegesias dari Kirene. Pada abad ke-19, Arthur Schopenhauer memberikan bentuk sistematis pada pesimisme melalui karyanya Dunia sebagai Kehendak dan Representasi, dan kemudian para pemikir Jerman seperti Eduard von Hartmann dan Philipp Mainländer mengembangkan versi mereka masing-masing. Pada abad ke-20 dan ke-21, para penulis termasuk Peter Wessel Zapffe, Emil Cioran, Thomas Ligotti, David Benatar, Julio Cabrera dan Drew Dalton kembali mengulas gagasan-gagasan pesimistis dengan menggunakan argumen dari etika, psikologi, dan ilmu-ilmu alam.
Argumen-argumen pesimistis mencakup sejumlah topik yang berulang: klaim bahwa kenikmatan sebagian besar atau sepenuhnya hanyalah bentuk pelepasan dari rasa sakit atau frustrasi; pandangan bahwa kejahatan-kejahatan tertentu tidak dapat dinegasikan atau ditandingi oleh kebaikan]] yang datang kemudian; penggambaran kehidupan sebagai sesuatu yang dibangun di atas dorongan tanpa henti, kebosanan, dan kemerosotan; seruan pada asimetri antara kerugian dan manfaat dalam proses memasuki keberadaan; gagasan bahwa eksistensi tidak memiliki makna kosmik; serta perhatian terhadap penderitaan hewan non-manusia, khususnya dalam konteks penderitaan hewan liar dan sejarah evolusi. Para filsuf dalam tradisi ini mengajukan berbagai tanggapan, termasuk jalan-jalan religius atau kuasi-religius berupa pelepasan diri, proyek-proyek etis dan politis yang bertujuan mengurangi penderitaan atau mewujudkan akhir kehidupan secara kolektif, serta posisi-posisi mengenai aborsi, antinatalisme, bunuh diri, dan kepunahan. Para pengkritik seperti Friedrich Nietzsche, Albert Camus, Bertrand Russell, Bryan Magee dan James Sully mempertanyakan baik argumen-argumen maupun dasar psikologis pesimisme, dan tema-temanya terus muncul dalam sastra serta budaya populer.
Definisi
Kata pesimisme berasal dari bahasa Latin pessimus, yang berarti "yang terburuk". Istilah "optimisme" mula-mula digunakan untuk menyebut tesis Leibniz bahwa kita hidup di dalam "dunia terbaik dari semua dunia yang mungkin", dan istilah "pesimisme" kemudian diciptakan untuk pandangan yang berlawanan.[1][2]: 222 [3]: 69 [4]: 9 Arthur Schopenhauer, misalnya, secara eksplisit berpendapat bahwa kita hidup di dunia terburuk dari semua dunia yang mungkin.[5]: 598–599 [6]
Banyak cendekiawan pesimisme filosofis mencirikannya sebagai pandangan bahwa kehidupan tidak layak untuk dijalani dan bahwa ketiadaan lebih dapat dipilih daripada keberadaan.[7]: 4 [8]: 27–29 [9][10]: 1 Penulis lain mendefinisikannya dalam kerangka klaim bahwa keburukan dalam kehidupan mengungguli kebaikan,[2]: 211 [3]: 11, 16, 68–71 [11]: 350 [12]: 158 atau menyajikannya sebagai "penyangkalan terhadap kebahagiaan atau penegasan atas kesengsaraan inheren kehidupan".[13]: 4
Tema
Pencapaian suatu kesimpulan pesimistis dapat ditempuh melalui berbagai cara, dengan beragam argumen yang menopang sudut pandang ini. Namun demikian, sejumlah tema yang berulang senantiasa muncul:
- Kehidupan tidak layak untuk dijalani. Singkatnya, para pesimis memandang eksistensi, secara keseluruhan, sebagai sesuatu yang berdampak merugikan bagi makhluk hidup: untuk hidup berarti ditempatkan dalam kondisi yang buruk.[7]: 4 [8]: 27–29 [9][14]
- Keburukan mengungguli kebaikan — secara umum, keburukan mengalahkan kebaikan.[2][11] Hal ini dapat dipahami dalam dua cara. Pertama, dapat diajukan argumen bahwa—terlepas dari kuantitas kebaikan dan keburukan—penderitaan tidak dapat dikompensasi oleh kebaikan.[9][15][12] Kedua, dapat pula diajukan argumen bahwa terdapat dominasi hal-hal buruk atas hal-hal baik.[16][14]: 2 : 76–83
- Ketiadaan lebih dapat dipilih daripada keberadaan.[7]: 4 [8]: 27–29 [10]: 1 Pokok ini dapat dipahami dalam salah satu dari dua cara berikut. Pertama, dapat dikemukakan bahwa, bagi setiap individu, akan lebih baik seandainya ia tidak pernah ada.[15][17]: 361 Kedua, berbagai pesimis berpendapat bahwa ketiadaan seluruh dunia akan lebih baik daripada keberadaannya.[2][18]
Perkembangan pemikiran pesimistis
Sentimen-sentimen pesimistis dapat ditemukan di berbagai agama dan dalam karya beragam filsuf. Perkembangan utama dalam tradisi ini bermula dari karya filsuf Jerman Arthur Schopenhauer, yang merupakan tokoh pertama yang memberikan penjelasan mengenai mengapa terdapat begitu banyak kesengsaraan di dunia serta membangun suatu sistem filsafat yang utuh, di mana pesimisme memainkan peranan sentral.[2][7]: 4
Zaman kuno
Hegesias dari Kirene, yang hidup pada zaman Yunani kuno, berpendapat bahwa kebahagiaan yang lestari tidak dapat diwujudkan karena penyakit jasmani yang terus-menerus serta ketidakmungkinan untuk mencapai seluruh tujuan seseorang.[19]: 92
Salah satu pokok ajaran utama dalam Buddhisme, yang berasal dari India kuno, adalah klaim bahwa kehidupan dipenuhi oleh penderitaan dan ketidakpuasan. Hal ini dikenal sebagai duḥkha dalam Empat Kebenaran Mulia.[13]: 38 [20][21]: 29–42 [22]: 130 Dalam Kitab Pengkhotbah, yang terdapat dalam Alkitab Ibrani, penulisnya meratapi kesia-siaan hidup manusia,[23] memandang hidup sebagai sesuatu yang lebih buruk daripada kematian,[24] serta mengungkapkan sentimen-sentimen antinatalistik terhadap tindakan memasuki keberadaan.[25] Pandangan-pandangan ini menjadi fokus utama dalam Gnostisisme, suatu gerakan religius awal dalam Kekristenan awal dan, pada tingkat yang lebih terbatas, Yudaisme, di mana tubuh dipandang sebagai semacam "penjara" bagi jiwa dan dunia sebagai sejenis neraka.[26]
Jerman abad ke-19
Filsuf Jerman abad ke-19 Arthur Schopenhauer merupakan filsuf pertama yang membangun suatu sistem filsafat secara menyeluruh, di mana ia menyajikan penjelasan tentang dunia melalui metafisika, estetika, epistemologi, dan etika—semuanya terjalin dengan suatu pandangan dunia yang pesimistis.[2]: 212 [3]: 335 [7]: 13 [21]: 5 Schopenhauer memandang dunia memiliki dua sisi: Kehendak dan representasi. Kehendak adalah daya menghendaki murni: tanpa tujuan, tak henti-hentinya, dan tanpa akhir; ia merupakan hakikat batin segala sesuatu.[27][28]: 53–54 [29]: 137–163 Representasi adalah cara manusia sebagai organisme memandang dunia melalui perangkat perseptual dan kognitif yang khas; ia merupakan cara manusia membangun objek-objek dari persepsi mereka.[28]: 17–32 [29]: 105–118
Dalam makhluk hidup, Kehendak mengambil bentuk kehendak untuk hidup: pelestarian diri atau naluri bertahan hidup yang menampakkan diri sebagai dorongan untuk memuaskan hasrat-hasrat.[7]: 51 Karena kehendak untuk hidup ini merupakan kodrat batin manusia, mereka ditakdirkan untuk senantiasa tidak puas, sebab satu hasrat yang terpenuhi segera membuka ruang bagi pengejaran objek hasrat yang lain.[16][30][31]: 9–10 Namun demikian, ada sesuatu yang dapat dilakukan manusia terhadap kehendak yang tak berkesudahan ini: mengambil jeda sementara melalui kontemplasi estetis atau dengan menumbuhkan sikap moral. Manusia juga dapat menaklukkan kehendak untuk hidup secara lebih permanen melalui asketisme, dengan mencapai keseimbangan batin.[32]
Abad ke-20 dan ke-21
Pada abad ke-20 dan ke-21, sejumlah pemikir meninjau kembali dan menghidupkan kembali pesimisme filosofis—dengan banyak bertumpu pada karya-karya Arthur Schopenhauer dan para filsuf sezamannya. Bagi para penulis ini, pesimisme kembali menawarkan suatu sudut pandang metafisis dan etis dari mana suatu kritik kontemporer atas eksistensi dapat diajukan. Para penulis terkemuka abad ke-20 dan ke-21 yang menganut pandangan pesimistis secara filosofis antara lain Emil Cioran,[33] Peter Wessel Zapffe,[34][35] Eugene Thacker,[36] Thomas Ligotti,[22] David Benatar,[14] Drew M. Dalton,[37] dan Julio Cabrera.[38]
Argumen utama
Argumen-argumen yang paling umum bagi prinsip-prinsip pesimisme filosofis dipaparkan secara ringkas di sini.

Tiga ciri keberadaan
Menurut Buddhisme, ketidakpuasan yang terus-menerus (duḥkha) merupakan ciri inheren dari keberadaan makhluk berperasaan. Semua makhluk hidup tunduk pada penderitaan kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian; mereka menginginkan apa yang tidak mereka miliki, berupaya menghindari apa yang mereka anggap tidak menyenangkan, serta merasakan kehilangan ketika hal-hal dan keadaan yang bernilai berlalu. Pola keinginan ini (taṇhā) diperlakukan sebagai sumber penderitaan yang utama, yang berakar bukan hanya pada keadaan eksternal, tetapi juga pada kecenderungan yang mengakar seperti keserakahan, nafsu, iri hati, dan pemanjaan diri.[39]
Dalam Buddhisme, konsep duḥkha berkaitan erat dengan dua ciri keberadaan lainnya: anattā (ketiadaan-diri) dan anicca (ketidakkekalan). Anattā menolak adanya diri yang permanen dan tak berubah, dan sebaliknya berpendapat bahwa apa yang dianggap sebagai "diri" adalah himpunan proses fisik dan mental yang senantiasa berubah. Wawasan mengenai ketiadaan diri yang tetap ini dikatakan menerangi duḥkha, karena keterikatan pada diri yang dibayangkan dan lestari dipandang memperkuat penderitaan.[40]
Anicca, atau ketidakkekalan, berarti bahwa semua hal yang terkondisi berada dalam perubahan yang terus-menerus. Segala sesuatu yang dialami seseorang, termasuk kenikmatan dan sukacita, bersifat sementara. Dalam pandangan ini, melekat pada pengalaman, peran, atau identitas niscaya akan menuntun pada kekecewaan dan penderitaan yang berulang ketika hal-hal tersebut berubah atau lenyap.[41]
Jika dipertimbangkan bersama, tiga ciri keberadaan ini menggambarkan kehidupan biasa sebagai tidak stabil dan tidak memuaskan. Karena pembebasan atau nirwana didefinisikan sebagai kebalikan dari kondisi ini, sebagian penafsir memandang ajaran-ajaran Buddhis mengenai duḥkha, anattā, dan anicca menawarkan diagnosis keberadaan yang secara luas bersifat pesimistis, sekalipun doktrin-doktrin tersebut juga merumuskan suatu jalan praktik dan wawasan. Dalam pembacaan ini, nilai dari keberlanjutan dalam saṃsāra setidaknya patut dipertanyakan, dan pencarian jalan melampaui penderitaan yang meresap menjadi tugas sentral filsafat dan etika Buddhis.[20][22]: 130
Kritik terhadap kenikmatan
Sejumlah filsuf telah mengajukan kritik terhadap kenikmatan, yang pada dasarnya menyangkal bahwa kenikmatan menambahkan sesuatu yang positif bagi kesejahteraan kita di atas keadaan netral.
Salah satu alur kritik terhadap kenikmatan dapat ditelusuri kembali hingga Plato, yang menyatakan bahwa sebagian besar kenikmatan yang kita alami merupakan bentuk pelepasan dari rasa sakit, dan bahwa orang yang tidak bijak mengacaukan keadaan netral tanpa rasa sakit dengan kebahagiaan.[42]: 286–287 Epicurus mendorong gagasan ini hingga batas akhirnya, dan mengklaim bahwa "[b]atas dari kebesaran kenikmatan adalah peniadaan segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit".[19]: 474 Dengan demikian, menurut para penganut Epikureanisme, seseorang tidak mungkin berada dalam keadaan yang lebih baik daripada bebas dari rasa sakit, kecemasan, penderitaan, ketakutan, kejengkelan, penyesalan, kekhawatiran, dan sejenisnya—yakni dalam keadaan ketenangan batin.[43][44]: 117–121
Schopenhauer berpendapat bahwa hanya rasa sakit yang bersifat positif, yakni hanya rasa sakit yang dirasakan secara langsung—dialami sebagai sesuatu yang segera ditambahkan ke dalam kesadaran kita. Sebaliknya, kenikmatan selalu bersifat negatif, dalam arti bahwa ia hanya menghilangkan sesuatu yang telah ada dalam pengalaman kita, seperti hasrat atau ketidaknyamanan. Inilah yang membentuk tesis negativitasnya—bahwa kenikmatan senantiasa merupakan pelepasan dari rasa sakit.[7]: 50 [9][30][45] Para pesimis Jerman kemudian—Julius Bahnsen, Eduard von Hartmann, dan Philipp Mainländer—mempertahankan pandangan yang sangat serupa.[7]: 154, 208, 268 Menurut Schopenhauer, salah satu cara untuk meniadakan rasa sakit adalah dengan memuaskan suatu hasrat; karena berhasrat berarti menderita, maka ketika suatu hasrat terpenuhi, penderitaan berhenti untuk sesaat.[45] Dengan mengembangkan gagasan ini, para pemikir lain menyarankan bahwa dorongan-dorongan keinginan muncul ketika kita memusatkan perhatian pada objek-objek eksternal atau mempersepsikan sesuatu yang tidak diinginkan dalam situasi kita saat ini. Dorongan-dorongan ini menciptakan kebutuhan viseral untuk mengubah keadaan. Sebaliknya, ketiadaan dorongan semacam itu mengarah pada keadaan kepuasan atau ketenangan batin, yang ditandai oleh ketiadaan urgensi untuk mengubah pengalaman seseorang.[46][47]: 254–255
Versi yang lebih kuat dari pandangan ini menyatakan bahwa mungkin tidak ada keadaan yang benar-benar tanpa gangguan. Setidaknya masuk akal untuk berpikir bahwa dalam setiap keadaan kita dapat menemukan suatu kualitas yang tidak memuaskan, seperti kelelahan, kejengkelan, kebosanan, kesepian, penyesalan, kekhawatiran, ketidaknyamanan, dan sebagainya. Alih-alih keadaan netral, mungkin yang ada hanyalah keadaan-keadaan "baku"—keadaan dengan frustrasi dan ketidaknikmatan kecil yang berulang dan yang, seiring waktu, telah kita biasakan serta pelajari untuk tidak lagi ditanggapi.[14]: 71–73 [43][47]: 255 [48]: 23–24 Sejumlah pemikir berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman positif secara konseptual dan empiris sulit ditegaskan sebagai benar-benar berbeda atau sebagai kebalikan dari pengalaman-pengalaman negatif.[note 1]
Kehidupan mengandung keburukan yang tidak dapat dikompensasi
Salah satu argumen bagi pandangan negatif tentang kehidupan adalah pengakuan bahwa keburukan bersifat tidak dapat diterima tanpa syarat. Kehidupan yang baik tidak mungkin terwujud jika di dalamnya terdapat keburukan. Alur pemikiran ini berlandaskan pada pernyataan Schopenhauer bahwa "penyakit dan kejahatan di dunia … sekalipun berada dalam hubungan yang paling adil satu sama lain, bahkan sekalipun jauh terungguli oleh kebaikan, tetap merupakan hal-hal yang sama sekali tidak seharusnya ada dalam bentuk, rupa, atau cara apa pun" dalam Dunia sebagai Kehendak dan Representasi.[5]: 181 [30]: 283 [31]: 9–10 Gagasan utamanya di sini adalah bahwa tidak ada kebaikan apa pun yang dapat menghapus keburukan yang telah dialami, karena keburukan tersebut memiliki kualitas atau bobot kepentingan yang berbeda.[50]: 63–64
Schopenhauer menguraikan lebih lanjut perbedaan mendasar antara yang baik dan yang buruk, dengan menyatakan bahwa "pada dasarnya tidak relevan untuk memperdebatkan apakah terdapat lebih banyak kebaikan atau keburukan di dunia: sebab keberadaan keburukan itu sendiri sudah memutuskan persoalan, karena ia tidak pernah dapat ditiadakan oleh kebaikan apa pun yang mungkin ada bersamaan atau menyusulnya, dan oleh karena itu tidak dapat ditandingi atau diimbangi", serta menambahkan bahwa, "sekalipun ribuan orang hidup dalam kebahagiaan dan kenikmatan, hal itu tidak akan pernah meniadakan kecemasan dan kematian yang tersiksa dari seorang pun; dan kesejahteraan saya saat ini sama sekali tidak menghapus penderitaan saya di masa lampau."[5]: 591 [9][30][31]: 9–10 : 283
Salah satu cara menafsirkan argumen ini adalah dengan memusatkan perhatian pada bagaimana suatu hal dapat mengompensasi hal lain. Kebaikan hanya dapat mengompensasi keburukan apabila (a) dialami oleh subjek yang sama, dan (b) terjadi pada waktu yang sama. Alasan mengapa kebaikan harus dialami oleh subjek yang sama adalah karena orang yang menderita tidak dapat merasakan kebahagiaan orang yang berbahagia, sehingga kebahagiaan tersebut tidak memiliki pengaruh baginya. Alasan mengapa kebaikan harus terjadi pada waktu yang sama adalah karena kenikmatan di masa depan tidak bekerja mundur dalam waktu, sehingga tidak memengaruhi keadaan kini dari individu yang sedang menderita. Namun, syarat-syarat ini tidak terpenuhi, dan oleh karena itu kehidupan tidak layak untuk dijalani. Dalam kerangka ini, tidak menjadi persoalan apakah terdapat kenikmatan positif yang sejati, karena selama kenikmatan dan penderitaan terpisah secara pengalaman, keburukan tetap tidak terbayar.[9][30]
Penafsiran lain atas tesis negativitas, bahwa kebaikan semata-mata bersifat negatif dalam karakternya, menggunakan metafora utang dan pelunasan, serta kejahatan dan hukuman. Di sini, sekadar menghentikan suatu keburukan tidaklah dianggap sebagai pelunasannya, sebagaimana berhenti melakukan suatu kejahatan tidak sama dengan menebusnya. Keburukan hanya dapat dikompensasi oleh sesuatu yang secara positif baik, sebagaimana suatu kejahatan harus dijawab dengan hukuman, atau suatu utang harus dilunasi dengan sesuatu yang bernilai. Jika kebaikan hanya berupa penghilangan keburukan, maka ia tidak dapat mengompensasi yang buruk karena tidak sejenis dengannya—ia bukan sesuatu yang positif yang dapat "melunasi utang" dari keburukan tersebut.[51]
Penderitaan merupakan unsur esensial kehidupan karena dorongan yang terus-menerus
Arthur Schopenhauer mengemukakan suatu argumen apriori bagi pesimisme. Dasar argumen ini adalah pengakuan bahwa organisme berperasaan, yakni hewan, berwujud jasmani dan mendiami relung-relung tertentu dalam lingkungannya. Mereka berjuang demi pelestarian diri; dorongan untuk memuaskan kebutuhan merupakan hakikat seluruh kehidupan organik. Namun, Schopenhauer berpendapat bahwa setiap dorongan untuk menghendaki senantiasa melibatkan penderitaan. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa penderitaan tidak terelakkan dan melekat secara inheren pada eksistensi. Berdasarkan hal ini, ia menyatakan bahwa keseimbangan antara kebaikan dan keburukan secara keseluruhan bersifat negatif.[16][31]: 9–10
Terdapat beberapa alasan mengapa penderitaan merupakan aspek fundamental dari kehidupan:[30][31]: 9–10
- Kepuasan sukar diraih: organisme senantiasa mengarahkan diri pada berbagai tujuan. Setiap kali suatu hasrat terpenuhi, hasrat lain segera muncul, dan dorongan pun dimulai kembali.
- Kebahagiaan bersifat negatif: sementara kebutuhan tampak datang kepada kita seolah-olah dengan sendirinya, kita harus mengerahkan upaya untuk mengalami tingkat kegembiraan tertentu. Lebih jauh, kenikmatan selalu merupakan pemuasan, atau peniadaan, dari suatu hasrat tertentu. Oleh karena itu, ia hanyalah pengalaman negatif, karena untuk sementara waktu menghapus suatu dorongan atau kebutuhan.
- Dorongan adalah penderitaan: selama dorongan belum terpenuhi, ia dialami sebagai penderitaan.
- Kebosanan adalah penderitaan: ketiadaan objek hasrat dialami sebagai suatu keadaan yang tidak nyaman.
Asimetri antara kerugian dan manfaat
David Benatar, seorang filsuf asal Afrika Selatan di Universitas Cape Town, berpendapat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiadaan/kehadiran kerugian dan manfaat ketika membandingkan suatu situasi di mana seseorang ada dengan situasi di mana orang tersebut tidak pernah ada. Titik awal argumen ini adalah pengamatan berikut yang tidak kontroversial:[15]: 28–59 [21]: 97–126
1. Kehadiran rasa sakit adalah buruk.
2. Kehadiran kenikmatan adalah baik.
Namun, simetri ini runtuh ketika kita mempertimbangkan ketiadaan rasa sakit dan kenikmatan:
3. Ketiadaan rasa sakit adalah baik, bahkan jika kebaikan tersebut tidak dinikmati oleh siapa pun.
4. Ketiadaan kenikmatan tidaklah buruk kecuali terdapat seseorang bagi siapa ketiadaan tersebut merupakan suatu perampasan.
Berdasarkan hal-hal di atas, Benatar menarik kesimpulan berikut:[15]: 28–59
- ketiadaan rasa sakit lebih baik dalam kasus ketika seseorang tidak pernah ada daripada kehadiran rasa sakit dalam kasus ketika seseorang memang ada,
- ketiadaan kenikmatan tidaklah lebih buruk dalam kasus ketika seseorang tidak pernah ada daripada kehadiran kenikmatan dalam kasus ketika seseorang memang ada.
Singkatnya, ketiadaan rasa sakit adalah baik, sedangkan ketiadaan kenikmatan tidaklah buruk. Dari sini disimpulkan bahwa tidak memasuki keberadaan memiliki keunggulan dibandingkan memasuki keberadaan bagi pihak yang akan terdampak oleh kelahiran ke dunia. Inilah landasan utama argumennya bagi antinatalisme—pandangan bahwa memasuki keberadaan adalah buruk dan oleh karena itu membawa makhluk lain ke dalam keberadaan merupakan tindakan yang secara moral keliru.[15]: 28–59 [21]: 100–103
Perbedaan empiris antara kenikmatan dan penderitaan dalam kehidupan
Untuk semakin menguatkan argumennya bagi pesimisme, Benatar mengemukakan serangkaian perbedaan empiris antara kenikmatan dan penderitaan dalam kehidupan. Dari sudut pandang temporal yang ketat, kenikmatan paling intens yang dapat dialami bersifat singkat (misalnya orgasme), sedangkan penderitaan yang paling parah dapat berlangsung jauh lebih lama, bertahan selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.[14]: 77 Penderitaan terburuk yang dapat dialami juga lebih buruk dalam kualitas atau besaran dibandingkan seberapa baiknya kenikmatan terbaik, sebagaimana ditunjukkan melalui eksperimen pemikiran tentang apakah seseorang bersedia menerima "satu jam kenikmatan yang paling menyenangkan sebagai ganti satu jam siksaan terburuk".[14]: 77
Selain mengutip Schopenhauer, yang mengajukan argumen serupa ketika meminta para pembacanya untuk "membandingkan perasaan hewan yang memangsa dengan perasaan hewan yang sedang dimangsa";[52]: §149 Benatar juga mengemukakan tantangan-tantangan lanjutan dengan mengajak kita membandingkan lamanya waktu yang dibutuhkan agar keinginan seseorang terpenuhi—dengan kenyataan bahwa sebagian keinginan tidak pernah terpenuhi sama sekali;[14]: 79 cepatnya tubuh seseorang dapat terluka, rusak, atau jatuh sakit, dengan lambannya proses pemulihan—yang dalam beberapa kasus tidak pernah sepenuhnya tercapai;[14]: 77–78 keberadaan nyeri kronis, berbanding dengan hampir tidak adanya kenikmatan kronis;[14]: 77 serta betapa mudahnya hal-hal buruk dalam hidup datang dengan sendirinya, sementara betapa besar upaya yang harus dikerahkan untuk menangkalnya dan memperoleh hal-hal yang baik.[14]: 80 Terhadap ketimpangan-ketimpangan yang mencolok ini, ia menambahkan poin mengenai ketiadaan makna kosmis atau transenden bagi kehidupan manusia secara keseluruhan[14]: 35–36 serta kemerosotan fisik dan mental yang berlangsung perlahan namun tak terelakkan, yang dialami setiap kehidupan melalui proses penuaan.[14]: 78–79
Benatar menyimpulkan bahwa, sekalipun seseorang berpendapat bahwa hal-hal buruk dalam hidup dalam arti tertentu diperlukan agar manusia dapat menghargai hal-hal baik dalam hidup—atau setidaknya menghargainya secara penuh—tetap tidak jelas bahwa penghargaan tersebut menuntut sebanyak penderitaan yang memang ada, dan bahwa kehidupan kita menjadi lebih buruk daripada seharusnya seandainya hal-hal buruk itu tidak diperlukan dalam pengertian tersebut.[14]: 85
Kehidupan manusia akan jauh lebih baik seandainya rasa sakit bersifat sekejap dan kenikmatan berlangsung lama; seandainya kenikmatan jauh lebih baik daripada penderitaan itu buruk; seandainya sungguh sulit untuk terluka atau jatuh sakit; seandainya pemulihan berlangsung cepat ketika cedera atau penyakit menimpa kita; serta seandainya keinginan-keinginan kita terpenuhi seketika dan tidak segera digantikan oleh keinginan-keinginan baru. Kehidupan manusia juga akan menjadi jauh lebih baik jika kita hidup selama ribuan tahun dalam kesehatan yang baik dan jika kita jauh lebih bijaksana, lebih cerdas, dan lebih bermoral daripada keadaan kita sekarang.[14]: 82–83
Entropi, peluruhan, dan finalitas

Julio Cabrera, Philipp Mainländer, dan Drew M. Dalton telah mengeksplorasi konsep entropi, peluruhan, dan finalitas dalam keberadaan, khususnya dalam konteks konflik kolektif yang menurut mereka, tersirat dalam ciri-ciri kehidupan tersebut bagi makhluk hidup, serta pemusnahan akhir dan menyeluruh atas totalitas keberadaan itu sendiri.[37][53]: 168 [54][55][56]
Finalitas struktural kehidupan manusia
Julio Cabrera, seorang filsuf Argentina yang bermukim di Brasil, mengemukakan sebuah ontologi di mana kehidupan manusia memiliki nilai yang secara struktural negatif. Dalam pandangan ini, ketidaknyamanan pada manusia tidak dipicu oleh peristiwa-peristiwa partikular yang terjadi dalam kehidupan individu, melainkan oleh hakikat keberadaan manusia itu sendiri. Ia berpendapat bahwa manusia secara inheren tunduk pada proses kemerosotan, dengan eksistensi yang senantiasa berada dalam keadaan peluruhan sejak pembuahan. Untuk melawan kemunduran ini beserta tiga jenis gesekan yang menyertainya, rasa sakit fisik, keputusasaan (dari kebosanan ringan hingga depresi berat), dan agresi sosial, manusia menciptakan nilai-nilai positif (estetis, religius, hiburan) yang bersifat sementara dan pada akhirnya hanya paliatif, karena nilai-nilai tersebut tidak muncul dari struktur kehidupan itu sendiri, melainkan harus disuntikkan ke dalam kehidupan melalui upaya guna mengurangi penderitaan.[38]: 23–24 [57]: 92–93 Namun, pengejaran nilai-nilai positif ini justru melahirkan fenomena rintangan moral, yakni keadaan di mana individu tanpa disengaja mencelakai orang lain dalam perjuangan mereka menciptakan makna di tengah keberadaan yang terus membusuk.[38]: 52–54 [57]: 93–94
"Kehendak menuju kematian" sebagai dorongan menuju anihilasi kosmik
Philipp Mainländer, seorang filsuf Jerman abad ke-19 dan salah satu tokoh pesimis pasca-Schopenhauer, memperkenalkan konsep "kehendak menuju kematian" (will to death), yang ia posisikan sebagai prinsip metafisis fundamental dari eksistensi. Mainländer menegaskan bahwa dunia, sebagai produk pengorbanan diri Tuhan,[note 2] adalah "mayat-Nya yang membusuk".[36]: 307 [note 3] Ia lebih lanjut menyatakan bahwa tujuan akhir atau telos dari segala sesuatu yang ada adalah untuk pada akhirnya memusnahkan dirinya sendiri.[58]: 277–281 Dalam pandangan ini, pluralitas dan keragaman kehendak-kehendak individual dalam keberadaan, melalui pengejaran mereka terhadap kehidupan (yakni kehendak untuk hidup), saling berjuang dan saling menggerogoti,[37]: 233 [56] sehingga mempercepat dorongan asli Tuhan menuju ketiadaan. Menurut Mainländer, pemahaman terbaik yang dapat kita peroleh mengenai hakikat eksistensi adalah sebagai suatu dorongan menuju anihilasi kosmik yang telah "diperlambat" melalui proses-proses organik dan kehidupan—dengan kata lain, kehidupan tampak sebagai fase yang murni sementara dalam pencapaian kealpaan mutlak dunia,[37]: 232 [56] sebab setiap makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga akhirnya manusia, secara tak terelakkan binasa dan berhenti ada, betapapun kuatnya kehendak untuk hidup itu tampak pada pandangan awal dan dangkal.[55]: 394 "Seluruh alam semesta," tulisnya sebagai simpulan, "bergerak dari keberadaan menuju ketiadaan, terus-menerus melemahkan dayanya, [dan karena itu] memiliki suatu akhir: ia tidak tak berhingga, melainkan mengarah pada ketiadaan mutlak yang murni, pada sebuah nihil negativum."[37]: 231 [56]
Pesimisme ilmiah Mainländer dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh Schopenhauer, namun ia menyimpang darinya dengan menekankan bahwa suatu "filsafat sejati" harus berpijak pada realitas imanen atau empiris, sehingga menolak segala rujukan pada ranah transenden atau spiritual (seperti pandangan Schopenhauer bahwa terdapat satu Kehendak pemersatu dalam realitas yang, sebagai benda-pada-dirinya-sendiri, merupakan prinsip keberadaan yang nirwaktu, tak terdiferensiasi, dan akausal). Ia berpendapat bahwa ilmu-ilmu alam menyediakan landasan terbaik untuk memahami eksistensi, dengan menyingkap bahwa totalitas realitas sejatinya tersusun dari beragam kehendak individual, yang masing-masing berjuang untuk hidup sekaligus, pada saat yang sama dan pada akhirnya, berkontribusi pada kematian dan peluruhan yang lain.[37]: 228–233 [56]
"Peniadaan" dunia melalui peluruhan entropik
Drew M. Dalton, seorang filsuf Amerika dan profesor sastra Inggris di Indiana University, mengembangkan tema-tema ini dengan menambatkannya pada pemahaman ilmiah kontemporer, khususnya melalui lensa entropi sebagaimana dirumuskan dalam hukum kedua termodinamika dan ilmu-ilmu matematis modern.[59][60] Ia berpendapat bahwa alam semesta dicirikan oleh peluruhan entropik, di mana seluruh materi dan energi berada dalam keadaan disipasi yang terus-menerus, dan keberadaan itu sendiri berada dalam suatu proses "peniadaan" (unbecoming).[61] Dalton menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada bukan hanya ditakdirkan untuk terurai, melainkan juga secara aktif bergerak menuju tujuan tersebut. Ia menggambarkan eksistensi sebagai sebuah "mesin anihilatif", di mana setiap entitas berkontribusi pada kehancuran dirinya sendiri dan kehancuran yang lain—dan, pada akhirnya, pada kehancuran keberadaan itu sendiri (yakni kehancuran segala sesuatu yang hidup maupun tak hidup, organik maupun anorganik). Sifat entropik realitas ini mengimplikasikan bahwa eksistensi secara fundamental bersifat antagonistik terhadap dirinya sendiri, menuntut setiap makhluk untuk mempertahankan dirinya dengan mengorbankan yang lain dalam suatu "metafisika peluruhan".[37]: 275–278
Ketakbernilaian keberadaan semata

Blaise Pascal, Arthur Schopenhauer, dan Julio Cabrera berpendapat bahwa keberadaan semata pada dirinya sendiri tidak memiliki nilai intrinsik.[38][52]: §146 [62]
Cabrera berargumen bahwa seluruh kenikmatan bersumber dari "estantes" eksternal (penopang kontingen atau distraksi yang terdapat di dalam dunia), alih-alih dari keberadaan itu sendiri. Ia mengilustrasikan hal ini melalui pengalaman penjara isolasi, di mana seorang tahanan, yang dilucuti dari segala bentuk pengalihan, dibiarkan sepenuhnya sendirian bersama keberadaannya yang murni. Keadaan ini menyingkap penderitaan yang mendalam yang melekat pada keberadaan telanjang; seandainya keberadaan itu sendiri secara inheren bernilai, isolasi semacam ini tidak akan merupakan bentuk penyiksaan yang sedemikian berat. Sebaliknya, rasa sakit dan keputusasaan yang meluap-luap yang dialami dalam bentuk kesendirian ekstrem tersebut menegaskan gagasan bahwa manusia secara terus-menerus membutuhkan nilai-nilai dan pengalihan eksternal untuk menemukan makna dalam hidup.[38]: 146 [57]: 93
Cabrera selanjutnya berpendapat bahwa kehidupan kerap dipandang sebagai sarana menuju tujuan tertentu, alih-alih sebagai tujuan akhir. Para filsuf moral menyadari bahwa sekadar bertahan hidup, tanpa tujuan atau pemenuhan makna, sering kali dipahami sebagai cara hidup yang menyedihkan. Perspektif ini menunjukkan adanya pemahaman inheren bahwa keberadaan semata tidak dengan sendirinya menganugerahkan nilai positif; sebaliknya, nilai tersebut mungkin muncul dari keterlibatan tertentu dengan dunia yang dapat mengisi kehidupan dengan makna. Kondisi penyekapan yang menyiksa, di mana individu dibiarkan hanya dengan keberadaan telanjangnya sendiri, menjadi contoh nyata dari ketiadaan nilai intrinsik tersebut.[63]: 46–47
Schopenhauer menggemakan pandangan ini dengan menegaskan bahwa jika keberadaan memiliki nilai positif pada dirinya sendiri, kebosanan tidak akan pernah ada; keberadaan belaka sudah akan mencukupi bagi kita dan kita tidak akan membutuhkan apa pun yang lain. Kenyataannya, manusia hanya menemukan kepuasan yang bersifat sementara melalui upaya mencapai tujuan atau dengan terlibat dalam kegiatan intelektual maupun artistik, yang sesaat mengalihkan perhatian mereka dari kehampaan inheren dalam eksistensi. Namun, ketika dihadapkan secara langsung pada realitas keberadaan murni, kekosongan hidup itu tampak dengan kejelasan yang menyakitkan.[52]: §146
Blaise Pascal, seorang filsuf Prancis abad ke-17, juga mengulas tema pengalihan diri ini dengan menyatakan bahwa manusia terlibat dalam beragam distraksi untuk menghindari konfrontasi dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keberadaan serta penderitaan yang menyertai kesadaran akan diri. Dalam karyanya Pensées, Pascal berargumen bahwa manusia kerap mencari hiburan dan interaksi sosial sebagai sarana untuk melarikan diri dari kecemasan dan kegelisahan eksistensial yang timbul dari kesadaran akan keterbatasan dan kefanaan mereka.[64]: 199 Ia merangkum gagasan ini dalam sebuah aforisme terkenal: "Seluruh ketidakbahagiaan manusia bersumber dari satu fakta tunggal, yakni bahwa mereka tidak mampu berdiam dengan tenang di dalam kamar mereka sendiri."[62]: 40
Ketiadaan makna kehidupan
David Benatar mengakui bahwa meskipun kita dapat menimba makna dari perspektif terestrial—melalui tindakan kebaikan, kreativitas, dan kontribusi sosial—makna-makna tersebut bersifat terbatas secara duniawi dan tidak menganugerahkan signifikansi kosmik. Ia menegaskan bahwa kehidupan berkesadaran secara keseluruhan, dilihat dari sudut pandang kosmik, tidak dapat ditebus dari ketidakbermaknaan, karena keberadaan kita sama sekali tidak berdampak pada jagat raya yang lebih luas. Evolusi kehidupan, termasuk kehidupan manusia, merupakan hasil dari kekuatan fisik dan kimia yang buta serta tidak melayani tujuan apa pun yang tampak.[14]: 35–36
Demikian pula, Peter Wessel Zapffe, seorang filsuf Norwegia abad ke-20, mengartikulasikan rasa keputusasaan eksistensial yang mendalam, yang berakar pada hakikat kepentingan manusia dan keterbatasan eksistensi kita di dunia. Dalam karyanya On the Tragic, Zapffe mengelompokkan kepentingan manusia ke dalam empat jenis: biologis, sosial, autotelik, dan metafisis. Jika kepentingan biologis dan sosial berkaitan dengan kelangsungan hidup dan relasi antarmanusia, maka kepentingan metafisis — kerinduan kita akan keadilan dan makna — dianggap Zapffe sebagai yang paling menentukan. Ia berpendapat bahwa meskipun kita dapat menemukan kepuasan sementara dalam pengejaran autotelik, hal-hal tersebut tidak menyediakan dasar yang memadai bagi makna menyeluruh kehidupan. Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa kehidupan tidak bermakna karena tidak dapat dibenarkan secara eksternal, sebab lingkungan duniawi kita gagal memenuhi kepentingan metafisis kita (dengan kata lain, kehidupan tidak memiliki sumber makna dan keadilan yang heterotelik, yakni yang berada di luar kehidupan itu sendiri dan karenanya independen dari upaya manusia). Kesadaran akan kematian semakin memperparah rasa kesia-siaan ini dengan menyingkap sifat sementara dari segala usaha kita dan melucuti kehidupan dari signifikansi yang bertahan lama.[35]: 59–60 [65]
Tanggapan terhadap kutukan eksistensial
Para filsuf yang mengadopsi pandangan pesimistis telah mengemukakan berbagai cara untuk menanggapi apa yang mereka anggap sebagai penderitaan dan kesengsaraan kehidupan.
Jalan Mulia Berunsur Delapan
Buddhisme merumuskan tanggapan terhadap apa yang dipandangnya sebagai keburukan eksistensi melalui doktrin Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Empat Kebenaran Mulia menganalisis penderitaan (Dukkha), asal-usulnya dalam nafsu keinginan dan keterikatan, kemungkinan penghentiannya (Nirwana), serta jalan yang mengarah pada penghentian tersebut. Jalan Mulia Berunsur Delapan disajikan sebagai suatu proses pembinaan etis dan mental, yang umumnya dijabarkan dalam istilah pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, upaya benar, perhatian penuh benar, dan konsentrasi benar. Menurut para pemikir Buddhis, menapaki jalan ini dapat menumbuhkan kebijaksanaan dan welas asih, mengurangi penderitaan, serta mengarahkan individu menuju keadaan kedamaian batin.[66]: 11
Penyangkalan kehendak untuk hidup menurut Schopenhauer
Arthur Schopenhauer memandang filsafatnya bukan hanya sebagai kecaman terhadap eksistensi, melainkan juga sebagai suatu doktrin keselamatan yang memungkinkan manusia menangkal penderitaan yang bersumber dari kehendak untuk hidup dan mencapai ketenangan.[7]: 52 Menurut Schopenhauer, penderitaan bersumber dari kehendak (hasrat, dorongan, keinginan). Kehendak seseorang berbanding lurus dengan sejauh mana ia berfokus pada dirinya sendiri—pada kebutuhan, ketakutan, dan individualitasnya. Oleh karena itu, Schopenhauer beralasan bahwa untuk memutus penderitaan, kehendak itu sendiri harus diputus. Dan untuk melemahkan kehendak, fokus pada diri harus dikurangi. Hal ini, menurutnya, dapat dicapai melalui beberapa cara.[3]: 375–376 [4]: 107–108 [32][67]: 335–341
Kontemplasi estetis
Menurut Schopenhauer, kontemplasi estetis berarti penghayatan yang terpusat terhadap suatu karya seni, musik, atau bahkan suatu gagasan, di mana kontemplasi tersebut bersifat tidak berkepentingan dan impersonal. Ia disebut tidak berkepentingan karena kepentingan pribadi mengalah kepada pengabdian pada objek; objek dipandang sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Ia juga bersifat impersonal karena tidak dibatasi oleh selera suka dan tidak suka individu. Apresiasi estetis membangkitkan gagasan universal tentang suatu objek, alih-alih persepsi atas objek sebagai sesuatu yang unik dan partikular.[4]: 108–110 [7]: 60–61 [32]
Dalam momen tersebut, bagi Schopenhauer, seseorang "kehilangan dirinya" di dalam objek kontemplasi, dan rasa keindividuan untuk sementara waktu meluruh. Hal ini terjadi karena universalitas objek yang dikontemplasikan berpindah kepada subjek. Kesadaran pun menjadi tanpa kehendak. Seseorang menjadi — meskipun hanya sejenak — seorang penonton netral atau "subjek murni", yang tidak lagi dibebani oleh dirinya sendiri, kebutuhan-kebutuhannya, dan penderitaannya.[4]: 108–110 [7]: 60–61 [32]
Dengan cara yang serupa, Schopenhauer berpendapat bahwa salah satu jalan untuk menyingkirkan penderitaan adalah dengan mengalihkan perhatian darinya. Ketika kita tidak memusatkan perhatian pada apa yang kita kekurangan — dan dengan demikian, kita inginkan — kita untuk sementara berada dalam keadaan damai.[45]
Pandangan moral yang berlandaskan welas asih
Bagi Schopenhauer, sikap moral yang tepat terhadap sesama berakar pada pengakuan bahwa pemisahan antara makhluk hidup hanya terjadi dalam ranah representasi, yang bersumber dari principium individuationis. Di bawah ranah representasional tersebut, kita pada hakikatnya adalah satu. Setiap individu sesungguhnya merupakan Kehendak yang sama — hanya termanifestasi melalui objektivasi yang berbeda-beda. Dengan demikian, penderitaan makhluk lain adalah penderitaan kita sendiri.[68]: 380–381 Pengakuan atas kebenaran metafisis ini memungkinkan seseorang mencapai kesadaran yang lebih universal, alih-alih kesadaran yang individualistis. Dalam kesadaran universal semacam itu, seseorang melepaskan fokus eksklusif pada kesejahteraan dan kesengsaraan pribadinya, dan mengalihkannya pada kesejahteraan serta penderitaan semua makhluk lainnya.[32][68]: 405
Asketisme
Schopenhauer menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami suatu pengalaman transformatif, di mana ia menyadari bahwa persepsi tentang dunia sebagai tersusun atas entitas-entitas yang terpisah, bersifat tidak kekal, dan senantiasa berjuang, pada dasarnya bersifat ilusif. Kesadaran semacam ini dapat muncul melalui pemahaman akan cara kerja dunia ataupun melalui pengalaman penderitaan yang ekstrem.[3]: 376–377 Seseorang pun menyingkap tabir Maya. Hal ini berarti bahwa ia tidak lagi mengidentifikasi dirinya sebagai individu yang terpisah; sebaliknya, ia mengenali dirinya sebagai segala sesuatu. Ia melihat sumber dari seluruh kesengsaraan — yakni Kehendak sebagai benda-pada-dirinya, yang merupakan inti dari seluruh realitas. Dari sini, ia dapat mengubah sikapnya terhadap kehidupan menuju penyangkalan terhadap kehendak untuk hidup dan mempraktikkan penyangkalan diri (yakni tidak menuruti hasrat-hasrat).[68]: 405–407
Bagi Schopenhauer, pribadi yang mencapai keadaan batin ini menjalani hidupnya dalam kedamaian dan keseimbangan yang sempurna. Ia tidak lagi terusik oleh keinginan maupun kekurangan; ia menerima segala sesuatu sebagaimana adanya. Jalan penebusan ini, menurut Schopenhauer, bersifat lebih menetap, karena berlandaskan pada pengenalan mendalam yang mengubah sikap hidup seseorang; ia bukan sekadar momen sesaat seperti halnya pengalaman estetis.[7]: 61
Namun demikian, menurutnya, jalan hidup askese tidak tersedia bagi semua orang — hanya segelintir individu yang langka dan bersifat heroik yang mampu hidup sebagai pertapa dan mencapai keadaan semacam itu. Lebih penting lagi, Schopenhauer menegaskan bahwa askese menuntut kebajikan; dan kebajikan dapat dibina, tetapi tidak dapat diajarkan.[3]: 375–379 [7]: 61–62 [32]
Humor dan tawa

Dalam karyanya tahun 1877, Das Tragische als Weltgesetz und der Humor als ästhetische Gestalt des Metaphysischen ("Yang Tragis sebagai Hukum Dunia dan Humor sebagai Bentuk Estetis dari Yang Metafisis"), Julius Bahnsen, seorang filsuf Jerman abad ke-19 sekaligus salah satu dari para pesimis pasca-Schopenhauer, berpendapat bahwa tragedi merupakan bagian inheren dari eksistensi manusia — yang muncul dari konflik antara nilai-nilai moral dan kewajiban-kewajiban yang tidak sebanding satu sama lain.[7]: 264
Bagi Bahnsen, hakikat tragedi terletak pada pengakuan bahwa dilema-dilema moral kehidupan tidak mengandung di dalam dirinya solusi yang jelas atau konsisten; setiap tindakan memikul beban nilai-nilai yang saling bersaing serta konsepsi-konsepsi yang bertentangan mengenai kehidupan yang baik, sehingga menghasilkan pelanggaran moral yang tak terelakkan. Hal ini, menurut Bahnsen, menyebabkan bahwa — berbeda dari Schopenhauer, von Hartmann, bahkan Mainländer — tidak ada penebusan dari tragedi kehidupan; tidak melalui askese, kontemplasi estetis, ataupun bunuh diri. Karena kewajiban dan komitmen kita terhadap sesama serta terhadap komunitas secara keseluruhan, kita tidak dapat melarikan diri ke dunia lain maupun melenyapkan diri kita sendiri — dengan demikian kita terjerat secara tak terpisahkan di dalam "drama dunia".[7]: 267
Namun demikian, Bahnsen mengajukan gagasan bahwa meskipun tidak terdapat penebusan atau keselamatan dari tragedi moral yang melekat pada kehidupan, masih ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban eksistensi, yakni humor dan tawa. Kendati keduanya memungkinkan kita menyadari ketidakberdayaan kita terhadap kondisi yang kita hadapi, humor dan tawa juga memungkinkan kita untuk berdiri di atas kebuntuan-kebuntuan moral yang menekan kita, dengan cara mengambil jarak darinya untuk sesaat.[7]: 267
Aktivisme politik Philipp Mainländer
Philipp Mainländer mengkritik apa yang ia pandang sebagai quietisme moral dalam filsafat Schopenhauer dan Buddhisme awal. Ia berpendapat bahwa meskipun sistem-sistem tersebut dapat meredakan penderitaan individu, keduanya nyaris tidak berbuat banyak untuk mengatasi ketidakadilan sosial yang lebih luas. Menurutnya, pendekatan quietistis semacam itu justru membantu mempertahankan ketimpangan, karena tidak menyediakan bagi mereka yang tidak memiliki keuntungan sosial dan material kondisi-kondisi yang diperlukan untuk perkembangan moral mereka sendiri. Bagi Mainländer, etika yang secara konsisten bersifat pesimistis seharusnya mencakup baik upaya moral personal maupun kepedulian terhadap keadilan sosial, agar setiap orang memiliki akses terhadap pendidikan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengenali apa yang ia anggap sebagai ketiadaan nilai kehidupan.[37]: 237–238 [56]
Untuk menanggapi ketimpangan-ketimpangan ini, Mainländer menyerukan penghapusan struktur sosial dan politik yang, menurut pandangannya, menopangnya. Ia memandang perjuangan menuju kesetaraan sosial dan politik sebagai perpanjangan dari welas asih, yang berlandaskan pada penilaian bahwa eksistensi pada dirinya sendiri bersifat jahat. Ia mendukung komunisme dan suatu "gerakan cinta bebas" (freie Liebe) sebagai unsur-unsur sentral dari masyarakat yang adil, yang bertumpu pada kepemilikan komunal dan tanggung jawab bersama untuk menolak kehendak untuk hidup.[37]: 239–241 [56] Melalui gerakan cinta bebas ini, Mainländer bertujuan mengubah relasi seksual dan perkawinan dengan membebaskan individu dari tekanan sosial untuk menikah dan memiliki anak, sehingga mereka dapat menapaki jalan kontemplasi, welas asih, kemurnian seksual, dan pada akhirnya penyangkalan terhadap keberadaan melalui bunuh diri.[37]: 241 Ia menampilkan bunuh diri bukan sebagai tindakan yang digerakkan oleh keputusasaan, melainkan sebagai keputusan rasional yang, bila diambil dengan pemahaman jernih mengenai hakikat eksistensi, dapat sepenuhnya dan dengan cepat mengakhiri penderitaan seseorang.[37]: 236
Bagi Mainländer, komunisme merupakan instrumen utama untuk menciptakan kesetaraan sosial dan ekonomi, menghapus pembelahan kelas, serta memberikan akses yang relatif setara bagi semua orang terhadap pendidikan dan sumber daya. Dalam masyarakat semacam itu, ia meyakini bahwa individu akan melampaui kepentingan diri yang sempit dan naluri bertahan hidup yang elementer, serta akan lebih cenderung menunjukkan welas asih dan bekerja sama untuk mengurangi penderitaan.[37]: 235–243 [56] Ia menggambarkan negara komunis ini sebagai tahap penultimate dalam metanarasi kehendak menuju kematian. Setelah seluruh hasrat manusia terpenuhi, manusia, menurut pandangannya, akan sampai pada kesadaran akan kesia-siaan dan kehampaan eksistensi, serta menilai bahwa kenikmatan yang terkait dengan pemenuhan tersebut tidak sebanding dengan apa yang ia anggap sebagai nilai negatif dari keberadaan. Pengakuan ini kemudian akan memulai suatu proses yang mengarah pada kepunahan umat manusia, yang ia pahami sebagai selaras dengan gerak alamiah seluruh materi di alam semesta menuju ketiadaan.[7]: 228 [22]: 34–35 [56][69]: 115–116
Amor fati dan pengulangan abadi
Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad ke-19, menganjurkan penerimaan eksistensi tanpa syarat melalui konsep amor fati dan pengulangan abadi. Amor fati, atau "cinta terhadap (nasib) seseorang", mendorong individu untuk merangkul seluruh pengalaman hidupnya, termasuk penderitaan dan kesukaran, sebagai unsur-esensial dari keberadaannya. Nietzsche berpendapat bahwa dengan menegaskan kehidupan secara utuh, seseorang dapat melampaui nihilisme dan menemukan makna bahkan di tengah kesengsaraan. Gagasan pengulangan abadi lebih jauh mendorong individu untuk menjalani hidup seolah-olah mereka harus mengulanginya berulang kali, sehingga menumbuhkan penghargaan yang mendalam terhadap setiap momen dan, dengan demikian, menyingkirkan tujuan kebahagiaan sebagai sasaran tertinggi kehidupan manusia.[4]: 190–191
Dalam esainya tahun 1942, Mitos Sisifus, filsuf Prancis abad ke-20 Albert Camus dengan cara yang serupa mengemukakan suatu bentuk "pesimisme heroik"; yakni suatu sudut pandang yang beresonansi dengan penegasan kehidupan ala Nietzsche, khususnya ketika berhadapan dengan keabsurdan eksistensial. Jika Nietzsche menganjurkan penerimaan eksistensi tanpa syarat melalui konsep amor fati dan pengulangan abadi, Camus, di sisi lain, memanfaatkan hukuman Sisifus sebagai metafora bagi kondisi manusia, seraya menekankan pentingnya merangkul kehidupan, bahkan di tengah pergulatan dan absurditas yang melekat padanya.[22]: 181
Mekanisme pertahanan Zapffe
Peter Wessel Zapffe memandang manusia sebagai hewan dengan kesadaran yang berkembang secara berlebihan, yang merindukan keadilan dan makna dalam semesta yang pada dasarnya tidak bermakna dan tidak adil—serta terus-menerus bergulat dengan kecemasan eksistensial dan pengetahuan akan kefanaan mereka sendiri. Ia mengidentifikasi empat mekanisme pertahanan yang memungkinkan manusia bertahan menghadapi pikiran-pikiran yang mengusik mengenai hakikat eksistensi manusia:[21]: 91–94 [34]
- Isolasi: fakta-fakta eksistensi yang mengganggu semata-mata ditekan—tidak dibicarakan di ruang publik, bahkan tidak dipikirkan dalam ranah privat.[34]
- Penjangkaran: seseorang menambatkan dirinya pada proyek-proyek kultural, keyakinan religius, ideologi, dan sejenisnya; serta mengejar tujuan-tujuan yang sesuai dengan objek penjangkaran tersebut. Dengan mendedikasikan diri pada suatu perkara, perhatian difokuskan pada nilai atau ideal tertentu, sehingga tercapai rasa stabilitas komunal atau kultural dan perlindungan dari renungan eksistensial yang menggelisahkan.[34]
- Pengalihan: melalui hiburan, karier, status, dan sejenisnya, seseorang mengalihkan diri dari pikiran-pikiran eksistensial yang meresahkan. Dengan terus-menerus mengejar kesenangan baru, tujuan baru, dan aktivitas baru, manusia dapat menghindari konfrontasi langsung dengan situasi umat manusia yang rapuh dan bernasib malang di kosmos.[34]
- Sublimasi: ekspresi artistik dapat berfungsi sebagai sarana peredaan sementara dari kecemasan eksistensial dengan mentransformasikannya ke dalam karya seni yang dapat diapresiasi secara estetis dari kejauhan.[34]
Teori manajemen teror
Teori manajemen teror (terror management theory, TMT) mempostulatkan bahwa kesadaran akan kematian menimbulkan ketakutan eksistensial, yang dikelola individu melalui kepercayaan dan ideologi kultural. Berakar pada karya Penolakan terhadap Kematian karya Ernest Becker, TMT mengembangkan argumennya bahwa ketakutan akan kematian merupakan kekhawatiran fundamental manusia yang mendorong sebagian besar perilaku kita. Becker berpendapat bahwa manusia menyangkal kefanaan mereka dengan merangkul narasi-narasi kultural dan ideologi-ideologi yang menganugerahkan makna serta rasa kebertahanan pada kehidupan mereka. Ketika dihadapkan pada keniscayaan kematian, individu mengadopsi pandangan dunia simbolik — seperti ideologi kultural, religius, maupun personal — untuk menekan kecemasan eksistensial.[70][71]
Thomas Ligotti, seorang penulis horor asal Amerika Serikat, menarik paralel antara TMT dan filsafat Zapffe, dengan mencatat bahwa keduanya sama-sama mengakui meningkatnya kesadaran manusia akan kefanaan dirinya serta mekanisme penanggulangan yang dituntut oleh kesadaran tersebut. Zapffe berpendapat bahwa manusia melindungi diri dari keputusasaan eksistensial dengan membatasi kesadaran, melibatkan diri dalam berbagai pengalihan, dan membangun makna-makna artifisial — suatu pandangan yang bergema dengan analisis Becker mengenai bagaimana individu menggunakan strategi sosial dan psikologis untuk mengelola ketakutan mereka akan kematian.[22]: 158–159
Peningkatan biomedis
Peter Wessel Zapffe bersikap skeptis terhadap banyak bentuk peningkatan teknologi, yang ia pandang terutama sebagai distraksi dangkal yang gagal menyentuh pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang lebih mendalam dalam kehidupan manusia. Ia berpendapat bahwa meskipun teknologi mampu memenuhi kebutuhan biologis dasar, ia tidak menyelesaikan penderitaan dan kecemasan inheren yang mencirikan kondisi manusia. Dari sudut pandang Zapffe, garis dasar keberadaan manusia saat ini sendiri berada dalam keadaan "sakit", akibat kesadaran kita yang berkembang secara berlebihan terhadap persoalan-persoalan makna metafisis dan keadilan dalam eksistensi, yang dengan demikian menggugat pembedaan tradisional antara kesehatan dan peningkatan.[72]: 322
Namun demikian, Zapffe mengakui bahwa bioteknologi, setidaknya secara teoretis, dapat mengubah kebutuhan-kebutuhan metafisis kita, sehingga tidak semata-mata berfungsi sebagai alat pengalihan. Ole Martin Moen berargumen bahwa pandangan Zapffe dengan demikian menyiratkan bahwa baik kepunahan maupun peningkatan yang berhasil akan lebih dapat dipilih daripada kelanjutan kondisi eksistensi manusia saat ini, sehingga memperkuat argumen untuk mengejar peningkatan biomedis, khususnya yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia.[72]: 322
Zapffe juga menekankan bahwa, berkat intelek manusia, kita mampu memahami "persaudaraan penderitaan di antara segala sesuatu yang hidup".[72]: 316 Dalam jalur pemikiran yang berkaitan, filsuf Britania David Pearce menganjurkan penerapan peningkatan biomedis tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada hewan non-manusia. Pearce berpendapat bahwa tujuan jangka panjang seharusnya adalah merancang ulang ekosistem dan menulis ulang genom vertebrata guna menghapus penderitaan di seluruh makhluk berkesadaran. Ia beranggapan bahwa kemajuan teknologi pada akhirnya dapat memungkinkan umat manusia secara signifikan mengurangi penderitaan di alam, sehingga menanggapi implikasi etis penderitaan yang melampaui keberadaan manusia semata.[72]: 323–325
Antinatalisme dan kepunahan
Kepedulian terhadap mereka yang akan datang ke dunia ini telah hadir sepanjang sejarah pesimisme. Secara khusus, Arthur Schopenhauer mengajukan pertanyaan berikut:[52]: §156
Seseorang patut membayangkan bahwa tindakan prokreasi bukanlah suatu kebutuhan, dan tidak pula disertai kenikmatan seksual, melainkan semata-mata persoalan pertimbangan rasional murni; apakah umat manusia masih akan dapat terus bertahan? Bukankah, sebaliknya, setiap orang akan memiliki belas kasih yang begitu besar terhadap generasi yang akan datang sehingga ia lebih memilih membebaskannya dari beban eksistensi, atau setidaknya menolak untuk dengan dingin dan tanpa perasaan memaksakan beban itu kepada mereka?
Schopenhauer juga membandingkan kehidupan dengan suatu utang yang ditagih melalui kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dan hasrat-hasrat yang menyiksa. Kita hidup dengan membayar bunga atas utang ini dengan terus-menerus memuaskan keinginan-keinginan kehidupan; dan keseluruhan utang tersebut dikontrak melalui prokreasi: ketika kita hadir di dunia.[5]: 595
Antinatalisme antroposentris
Sebagian penganut pesimisme menganjurkan penghindaran prokreasi sebagai tanggapan terbaik terhadap keburukan-keburukan kehidupan. Seseorang hanya dapat berbuat sejauh tertentu untuk melindungi dirinya dari penderitaan atau membantu orang lain yang membutuhkan. Jalan tindakan yang paling tepat, menurut mereka, adalah tidak menghadirkan individu-individu baru ke dalam dunia di mana ketidaknyamanan telah dijamin sejak awal.[15][21]: 90–126 [38]
Selain itu, sebagian dari mereka juga mempertimbangkan suatu skenario di mana umat manusia memutuskan untuk tidak melanjutkan keberadaannya, melainkan memilih jalur kepunahan bertahap. Kepunahan spesies manusia yang dihasilkan dari pilihan tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang patut disesali, melainkan justru merupakan hal yang baik.[15]: 163–200 Mereka bahkan melangkah lebih jauh dengan menetapkan non-prokreasi sebagai tindakan yang secara moral benar — atau bahkan bersifat wajib.[14]: 207–208 [21]: 90–126 [12] Zapffe menyampaikan posisi ini melalui kata-kata tokoh utama dalam The Last Messiah: "Kenalilah dirimu — jadilah mandul dan biarkan bumi menjadi sunyi setelah engkau."[34]
Andrea Sauchelli berpendapat bahwa terdapat jenis-jenis kejahatan tertentu yang sedemikian besar sehingga tidak ada jumlah kebaikan apa pun yang mampu menandingi atau menyeimbangkannya. Dengan kata lain, suatu keadaan yang mengandung kejahatan semacam itu selalu buruk, apa pun kebaikan yang menyertainya. Kita hidup di dunia di mana "kejahatan-kejahatan tertinggi" semacam ini dilakukan oleh manusia dan ditanggung oleh manusia. Sering kali, kelompok-kelompok manusia secara kolektif melanggengkan kekejaman tersebut dalam skala besar. Berdasarkan hal ini, Sauchelli mengajukan argumen bahwa kita memiliki kewajiban kolektif untuk mencegah kejahatan-kejahatan semacam itu, dan dapat diperdebatkan bahwa salah satu cara paling efektif untuk melakukannya adalah dengan umat manusia menyebabkan kepunahannya sendiri melalui penghentian prokreasi. Jika demikian halnya, maka setiap orang memiliki kewajiban untuk tidak berprokreasi.[12]
Antinatalisme sentiosentris
Antinatalisme dapat diperluas hingga mencakup hewan non-manusia. Benatar menegaskan bahwa argumennya untuk antinatalisme "berlaku tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi semua makhluk berkesadaran" dan bahwa "hadir ke dalam eksistensi merugikan semua makhluk berkesadaran".[15]: 2 Ia memperkuat pandangan ini ketika membahas kepunahan dengan menyatakan bahwa "dengan mempertimbangkan segala hal, akan lebih baik jika tidak ada lagi manusia (dan bahkan tidak ada lagi kehidupan yang sadar)".[15]: 164
Dapat diperdebatkan bahwa karena kita memiliki kewajiban prima facie untuk menolong manusia yang membutuhkan, dan mencegah manusia masa depan untuk hadir ke dalam eksistensi berarti menolong mereka, serta tidak ada pembenaran untuk memperlakukan hewan secara lebih buruk, maka kita juga memiliki kewajiban serupa terhadap hewan yang hidup di alam liar. Artinya, kita juga sepatutnya membantu meringankan penderitaan mereka dan melakukan intervensi tertentu untuk mencegah mereka hadir ke dunia — suatu posisi yang disebut sebagai "antinatalisme satwa liar".[73][74]
Julio Cabrera mengakui bahwa hewan non-manusia mengalami banyak penderitaan sepanjang hidup mereka, namun karena mereka tidak gagal sebagai makhluk moral (sebab mereka memang bukan makhluk moral sejak awal), tidak terdapat "masalah prokreasi" atau alasan untuk mengadopsi sikap antinatalis terhadap mereka.[75]: 584–604
Bunuh diri

Sejumlah pesimisme, termasuk David Benatar, Philipp Mainländer, dan Julio Cabrera, berpendapat bahwa dalam situasi-situasi ekstrem tertentu, seperti penderitaan fisik yang sangat hebat, teror, dan perbudakan, seseorang secara moral dibenarkan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Meskipun tindakan tersebut tidak menyelesaikan kondisi manusia secara keseluruhan, setidaknya ia dapat menghentikan penderitaan lanjutan atau degradasi moral dari individu yang bersangkutan.[14]: 163–199 [37]: 235–243 [38]: 246–249 [76]
Bunuh diri dalam pandangan Schopenhauer
Arthur Schopenhauer menolak berbagai keberatan terhadap bunuh diri yang bersumber dari agama, maupun yang didasarkan pada tuduhan kepengecutan atau kegilaan terhadap orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam perspektif ini, kita seharusnya bersikap penuh belas kasih terhadap orang yang bunuh diri—memahami bahwa seseorang mungkin tidak lagi sanggup menanggung penderitaan yang hadir dalam hidupnya, dan bahwa hidupnya sendiri adalah sesuatu yang atasnya ia memiliki hak yang tak terbantahkan.[52]: §157
Namun demikian, Schopenhauer tidak memandang bunuh diri sebagai suatu bentuk solusi atas penderitaan eksistensi; penolakannya berakar pada sistem metafisikanya. Schopenhauer memusatkan perhatian pada kodrat manusia — yang diperintah oleh Kehendak. Ini berarti bahwa kita terjerat dalam suatu siklus tanpa akhir: berusaha mencapai tujuan, merasa tidak puas, merasa bosan, dan kemudian kembali menginginkan sesuatu yang lain. Akan tetapi, karena Kehendak merupakan esensi batiniah dari keberadaan itu sendiri, sumber penderitaan kita tidak sepenuhnya terletak pada diri kita, melainkan pada dunia itu sendiri.[68]: 472
Bagi Schopenhauer, mengakhiri hidup sendiri merupakan suatu kekeliruan, sebab orang tersebut sesungguhnya masih ingin hidup, hanya saja dalam kondisi yang lebih baik. Orang yang bunuh diri masih menginginkan kebaikan-kebaikan dalam hidup: seorang "yang melakukan bunuh diri berhenti hidup justru karena ia tidak mampu berhenti menghendaki".[68]: 472 Bukan kehidupan individual seseorang yang menjadi sumber penderitaannya, melainkan Kehendak — sifat keberadaan yang terus-menerus mengupayakan diri. Kekeliruannya terletak pada pemusnahan kehidupan individual, bukan pada penyangkalan Kehendak itu sendiri. Kehendak tidak dapat dinegasikan dengan mengakhiri hidup, sehingga bunuh diri bukanlah solusi bagi penderitaan yang tertanam dalam eksistensi itu sendiri.[21]: 63–65 [5][68][76]
Bunuh diri dalam pandangan Benatar
David Benatar menilai banyak keberatan terhadap bunuh diri—seperti anggapan bahwa tindakan tersebut melanggar kesucian hidup manusia, melanggar hak hidup seseorang, bersifat tidak alamiah, atau merupakan tindakan pengecut—sebagai tidak meyakinkan. Satu-satunya pertimbangan yang relevan dalam persoalan bunuh diri, menurutnya, adalah pertimbangan yang menyangkut orang-orang terhadap siapa kita memiliki kewajiban khusus, seperti anggota keluarga. Secara umum, bagi Benatar persoalan bunuh diri lebih merupakan soal bagaimana menghadapi penderitaan-penderitaan khusus dalam kehidupan seseorang, ketimbang suatu masalah moral pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa dalam situasi-situasi tertentu, bunuh diri bukan hanya dapat dibenarkan secara moral, tetapi juga merupakan tindakan yang rasional.[14][76]
Argumen Benatar mengenai buruknya kualitas kehidupan manusia tidak membawanya pada kesimpulan bahwa kematian secara umum lebih baik daripada melanjutkan hidup. Namun, argumen-argumen tersebut membantu menjelaskan mengapa terdapat kasus-kasus di mana keberlanjutan eksistensi seseorang akan lebih buruk daripada kematian, dengan menegaskan bahwa bunuh diri dapat dibenarkan dalam ragam situasi yang lebih luas daripada yang biasanya kita akui. Situasi setiap orang berbeda-beda, dan pertanyaan mengenai rasionalitas bunuh diri harus dipertimbangkan dari sudut pandang setiap individu secara khusus — berdasarkan kesulitan yang mereka hadapi serta prospek mereka terhadap masa depan.[15][76][77]
Jiwoon Hwang berpendapat bahwa penafsiran hedonistik terhadap asimetri aksiologis David Benatar mengenai bahaya dan manfaat berimplikasi pada promortalisme — pandangan bahwa selalu lebih baik untuk berhenti ada daripada terus hidup. Hwang berargumen bahwa ketiadaan kenikmatan tidaklah buruk dalam kasus-kasus berikut: bagi mereka yang tidak pernah ada, bagi mereka yang ada, dan bagi mereka yang telah berhenti ada. Dengan istilah "buruk", yang dimaksud adalah bahwa keadaan tersebut tidak lebih buruk daripada kehadiran kenikmatan bagi mereka yang ada. Hal ini selaras dengan pernyataan Benatar bahwa kehadiran kenikmatan bagi orang yang ada bukanlah suatu keuntungan dibandingkan dengan ketiadaan kenikmatan bagi mereka yang tidak pernah ada, dan sebaliknya.[78]
Bunuh diri dalam padangan Cabrera
Julio Cabrera berpendapat bahwa literatur antinatalisme umumnya mengandaikan sudut pandang yang secara eksklusif hedonistik, menurut mana penderitaan fisik dan psikologis yang hadir dalam kehidupan menjadikannya tidak layak untuk dimulai. Namun bagi Cabrera, kehidupan juga problematis karena mengandung penderitaan moral yang signifikan; sebab dalam setiap keadaan tertentu, kita tidak selalu dapat bersikap benar secara moral terhadap semua orang. Ia menyatakan bahwa — karena terminalitas struktural dari eksistensi manusia — semakin lama kita terus hidup, semakin lama pula kita akan terpapar pada risiko-risiko moral; seperti risiko untuk berprokreasi, memanipulasi dan mencelakakan orang lain, serta ketidakmampuan untuk mengakhiri hidup kita dengan bermartabat. Cabrera mengidentifikasi beberapa alasan mengapa kita mungkin terus hidup: menolong sesama, menciptakan karya-karya yang indah, dan tidak melukai orang-orang terkasih dengan kematian kita; namun pada akhirnya ia menilai alasan-alasan tersebut sebagai cukup meragukan.[53]
Yang lebih penting, jika kita sungguh-sungguh menerima penilaian pesimistis bahwa kehidupan sarat dengan penderitaan, bahaya, kegagalan moral, serta biaya yang tinggi untuk memperoleh kebaikan bagi diri kita sendiri, maka kita melihat bahwa, setidaknya, kelanjutan suatu kehidupan patut dipersoalkan secara etis. Namun demikian, Cabrera memperingatkan agar tidak serta-merta menyimpulkan bahwa kita seharusnya membunuh diri; sebab bunuh diri sendiri juga dapat bermasalah secara etis.[53][79]: 14
Sebaliknya, kita sebaiknya terbuka terhadap kemungkinan kematian dengan menempatkan hidup kita dalam risiko pada situasi-situasi berbahaya apabila etika menuntutnya (misalnya dalam aksi mogok lapar, perjuangan pembebasan, merawat orang sakit selama wabah, dan sebagainya). Kematian dapat menjadi sesuatu yang secara etis dianjurkan ketika kita tidak lagi mampu menciptakan nilai-nilai positif, atau ketika kelanjutan hidup menuntut kita untuk melanggar tuntutan moral agar tidak mencelakakan dan tidak memanipulasi orang lain.[53][79]: 14 Cabrera juga menekankan bahwa kematian pada umumnya tidak menyenangkan maupun bermartabat, sehingga bunuh diri merupakan satu-satunya cara melalui mana seseorang mungkin dapat meninggal dengan suatu "kematian yang baik". Ia menulis, "Jika engkau ingin mati dengan baik, engkau harus menjadi seniman dari kematianmu sendiri; tak seorang pun dapat menggantikanmu dalam hal itu."[38]: 249
Cabrera mengkritik para filsuf antinatalis lainnya yang mempostulasikan suatu asimetri, di mana kehidupan pada umumnya layak untuk diteruskan tetapi tidak layak untuk dimulai. Menurutnya, alur penalaran semacam ini dapat melemahkan tesis antinatalis bahwa kehidupan tidak pernah layak untuk dimulai; sebab jika kehidupan kita pada umumnya cukup dapat ditanggung, dan bahkan terkadang menyenangkan (sehingga layak untuk diteruskan), maka kita dapat memiliki harapan rasional bahwa anak-anak kita pun akan mampu menciptakan nilai-nilai yang menjadikan kehidupan mereka layak untuk dijalani.[53][79]: 14
Pesimisme dan topik-topik filsafat lainnya
Hewan

Selain kemalangan manusia, banyak filsuf pesimis juga menaruh perhatian pada apa yang mereka anggap sebagai kualitas hidup yang secara dominan negatif pada hewan non-manusia serta pada eksistensi makhluk berperasaan secara keseluruhan, dan dengan demikian mereka mempertanyakan gagasan tentang alam sebagai pencipta yang "bijaksana dan bermurah hati".[14]: 42–44 [5]: 364–376 [80] Sejumlah filsuf merujuk pada pernyataan ahli biologi evolusioner Richard Dawkins, yang berbicara tentang besarnya penderitaan yang tampak tanpa tujuan di dunia hewan dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang "melampaui segala perenungan yang pantas",[81]: 131–132 [82] serta pada Charles Darwin, salah satu perintis teori evolusi melalui seleksi alam, yang menolak kepercayaan pada Tuhan yang bermurah hati sebagian karena penderitaan hewan, yang menurut pandangannya tidak menghasilkan perbaikan moral apa pun bagi mereka.[3]: 8–9 [83][84]: 90
Sebagian penulis mengemukakan apa yang disebut sebagai argumen "pesimisme evolusioner". Mereka mencatat bahwa sepanjang ratusan juta tahun sejarah evolusi telah terjadi penderitaan dalam jumlah yang sangat besar, termasuk rasa sakit fisik, tekanan emosional, predasi, parasitisme, agresi, kelaparan, dan penyakit. Berdasarkan hal ini, mereka berpendapat bahwa total nilai negatif yang dialami oleh makhluk berperasaan kemungkinan jauh lebih besar daripada total nilai positif. Untuk menyeimbangkan hal tersebut, sejumlah kebaikan yang sangat besar harus muncul di masa depan. Karena kebaikan masa depan semacam itu tidak pasti dan mungkin tidak pernah cukup untuk mengompensasi "kejahatan evolusioner" ini, para penulis ini menyimpulkan bahwa kemungkinan besar akan lebih baik jika evolusi sama sekali tidak pernah menghasilkan makhluk berperasaan.[82]
Para sarjana yang meneliti topik Penderitaan hewan liar berpendapat bahwa penderitaan di alam tersebar luas di antara banyak spesies hewan. Mereka mencatat bahwa banyak hewan memiliki jumlah keturunan yang sangat besar, yang sebagian besar mati pada usia muda, sering kali dengan cara yang menyakitkan seperti penyakit, predasi, atau paparan kondisi lingkungan yang keras. Karena hewan-hewan ini umumnya hanya hidup dalam waktu singkat, mereka memiliki sedikit kesempatan untuk mengalami pengalaman positif, sementara harus menghadapi banyak pengalaman negatif. Para peneliti juga menyatakan bahwa banyak dari keturunan tersebut sudah berperasaan sejak lahir, sehingga mereka dapat menderita sejak saat mereka mulai ada. Atas dasar ini, para penulis tersebut menegaskan bahwa, bagi hewan liar, penderitaan kemungkinan besar melebihi kenikmatan.[85][86][87][88]
Giacomo Leopardi
Dalam "Dialog antara Alam dan Seorang Islandia", filsuf dan penyair Italia Leopardi—melalui suara tokoh Islandia yang menjadi judul dialog tersebut—mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap penderitaan luar biasa yang dialami hewan-hewan liar. Ia berpendapat bahwa Alam pada hakikatnya bersifat kejam, dengan hewan-hewan yang terus-menerus memangsa dan melahap satu sama lain dalam perjuangan tanpa henti demi kelangsungan hidup. Tokoh Islandia itu meratapi "kehidupan dunia yang menyedihkan" dan "penderitaan serta kematian semua makhluk yang menyusunnya", tanpa adanya jeda atau jalan keluar dari siksaan universal semacam itu.[80][89]: 79
Melalui tokoh ini, Leopardi menolak gagasan bahwa alam bersifat bermurah hati atau bahwa hewan liar hidup dalam keadaan bahagia dan tenteram. Sebaliknya, ia menggambarkan Alam sebagai entitas yang acuh tak acuh terhadap nasib makhluk-makhluknya, digerakkan semata-mata oleh hukum persaingan yang tanpa belas kasihan dan oleh prinsip kelangsungan hidup yang paling kuat. Tokoh Islandia itu memohon agar Alam menunjukkan belas kasih dan meringankan penderitaan manusia maupun hewan liar—namun Alam tetap tak tergoyahkan, membela cara-caranya yang kejam sebagai bagian yang niscaya dari tatanan alamiah. Inti dari pesimismenya terletak pada penolakannya terhadap keniscayaan predasi dalam kehidupan serta penolakan atas nilai siklus penghancuran dan regenerasi.[80][89]
Arthur Schopenhauer
Pesimisme filosofis Schopenhauer juga meluas ke pandangannya mengenai hewan.[8]: 36 Ia meyakini bahwa hewan, seperti halnya manusia, berada di bawah kuasa Kehendak metafisis dan karenanya juga mengalami penderitaan serta hasrat. Atas dasar itu, ia berpendapat bahwa hewan harus diperlakukan dengan hormat dan belas kasih, serta bahwa hak-hak mereka patut diakui. Schopenhauer mengkritik pandangan Kristen tradisional tentang hewan, yang ia anggap tidak bermoral dan bertumpu pada asumsi keliru mengenai superioritas manusia.[80][90]: §8 Sebagai gantinya, ia menjunjung tinggi belas kasih universal yang mengakui nilai inheren semua makhluk hidup dan menjadi dorongan bagi tindakan yang baik dan adil.[90]: §19 Namun demikian, ia percaya bahwa manusia perlu memakan hewan demi pemeliharaan hidup,[68]: 178–179 dan bahwa karena kapasitas untuk menderita berkaitan dengan kecerdasan (dan, menurutnya, manusia jauh lebih cerdas daripada hewan karena manusia merupakan bentuk manifestasi atau objektivasi tertinggi dari Kehendak),[13]: 95 [68]: 151 manusia dibenarkan untuk memakan hewan, sebab manusia akan menderita lebih besar jika tidak memakan hewan daripada penderitaan hewan akibat dibunuh.[68]: 399–400 [90]: 231
Eduard von Hartmann
Von Hartmann menggemakan pandangan yang serupa dengan filsuf Britania Jeremy Bentham seabad sebelumnya: karena semua hewan pada akhirnya tak terelakkan menghadapi kematian, maka mengambil nyawa seekor hewan dengan cara yang lebih cepat dan kurang menyakitkan dibandingkan dengan penderitaan yang akan dialaminya secara alami tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang secara moral tercela.[91]
Julio Cabrera
Julio Cabrera berpendapat bahwa sementara manusia berada di bawah suatu triade penderitaan—rasa sakit, keputusasaan, dan hambatan moral—hewan non-manusia hanya mengalami sebuah diade: rasa sakit dan keputusasaan, tanpa hambatan moral. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan kapasitas pada diri mereka untuk dipandang sebagai makhluk moral, sehingga mereka tidak dapat gagal secara moral. Ia mengemukakan bahwa ketiadaan dimensi moral ini justru dapat menjadi suatu bentuk kebahagiaan bagi hewan non-manusia, karena membebaskan mereka dari salah satu beban eksistensial yang dihadapi manusia. Akibatnya, kehidupan mereka tidak terdevaluasi secara struktural dengan cara yang sama seperti kehidupan manusia. Pada saat yang sama, ia mengakui bahwa hewan non-manusia tetap mengalami kondisi yang keras dan penderitaan yang signifikan di alam liar, yang semakin diperparah oleh tindakan manusia.[75]: 584–604
Cabrera selanjutnya berargumen bahwa karena hewan bukanlah makhluk moral, manusia tidak dapat menjalin relasi etis dengan mereka, yang berarti kita tidak dapat memiliki kewajiban moral terhadap hewan ataupun mengatribusikan hak-hak kepada mereka. Namun, meskipun ia menegaskan bahwa kita tidak dapat memasuki kontrak dengan hewan non-manusia karena ketiadaan resiprositas, simetri, dan dimensi moral, hal ini tidak membenarkan perlakuan buruk terhadap mereka. Sebaliknya, dapat dikemukakan bahwa memusatkan perhatian pada kesejahteraan mereka—alih-alih pada perjanjian etis formal—merupakan sebuah keputusan etis pada dirinya sendiri, dan mungkin satu-satunya pendekatan yang layak kita tempuh terhadap hewan (yang tidak memiliki dimensi moral).[75]: 584–604
Misantropi
Misantropi berkaitan erat dengan pesimisme filosofis, namun tidak identik dengannya. Pesimisme filosofis terutama berfokus pada klaim bahwa kehidupan mengandung penderitaan yang tak terelakkan, sedangkan misantropi menyoroti apa yang dipandangnya sebagai cacat-cacat moral manusia. Seorang pesimis filosofis dapat berpendapat bahwa penderitaan eksistensi bersifat universal dan tidak dapat dihindari, sementara seorang misantrop mungkin menekankan cara-cara di mana tindakan manusia memperparah penderitaan tersebut melalui kekejaman, ketidakpedulian, dan kerusakan moral. Kedua sudut pandang ini sama-sama bersikap kritis terhadap kemanusiaan, tetapi pesimisme diarahkan pada sifat umum keberadaan, sedangkan misantropi pada peran manusia di dalam keberadaan itu.[92]
Pesimisme filosofis dapat bergerak menuju misantropi ketika seseorang menyimpulkan bahwa kodrat manusia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penderitaan dan kesia-siaan eksistensi. Sebaliknya, suatu pandangan misantropis dapat menopang pandangan pesimistis tentang kehidupan, karena pengalaman-pengalaman negatif yang berulang dengan sesama manusia dapat menumbuhkan perasaan ketertekanan yang lebih luas terhadap keberadaan itu sendiri.[93]: 5–6
Aborsi
Meskipun para pesimis sepakat dalam penilaian bahwa kehidupan itu buruk dan sebagian antinatialis pesimistis mengkritik prokreasi, pandangan mereka mengenai aborsi tidaklah seragam.[15]: 133–162 [38]: 208–233
Pandangan pro-kematian
David Benatar menganut suatu posisi "pro-kematian" terhadap aborsi. Ia berpendapat bahwa pada tahap-tahap awal kehamilan, ketika janin belum mengembangkan kesadaran dan belum memiliki kepentingan yang relevan secara moral, kita seharusnya mengadopsi suatu praduga untuk tidak melanjutkan kehamilan hingga kelahiran. Yang memerlukan pembenaran, menurutnya, bukanlah tindakan aborsi itu sendiri, melainkan kegagalan untuk melakukan aborsi terhadap janin (pada tahap awal kehamilan). Benatar tidak berargumen bahwa aborsi dini semacam ini harus bersifat wajib, melainkan hanya bahwa akan lebih baik jika aborsi tersebut dilakukan.[15]: 133–162
Pandangan anti-aborsi
Julio Cabrera berpendapat bahwa aborsi selalu melibatkan pertimbangan terhadap sesuatu yang telah ada. Ia menegaskan bahwa "sesuatu" ini, apa pun hakikat pastinya, harus disertakan dalam pertimbangan moral.[38]: 209–210 Menulis dari perspektif etika negatif, Cabrera mengembangkan suatu argumen yang menentang aborsi. Ia memulai dengan klaim bahwa adalah keliru untuk melenyapkan seorang manusia lain semata-mata demi keuntungan diri sendiri, karena tindakan tersebut memperlakukan yang lain tidak lebih dari sekadar rintangan yang harus disingkirkan. Ia juga menekankan pentingnya secara moral melindungi mereka yang tidak mampu membela diri, dan dalam konteks gestasi, kehamilan, serta kelahiran, ia memandang janin sebagai pihak yang paling tak berdaya dan rentan. Selain itu, ia melihat janin sebagai suatu entitas yang telah memulai "kariernya" sebagai manusia. Atas dasar alasan-alasan ini, Cabrera menyimpulkan bahwa secara moral adalah salah untuk mengakhiri (menggugurkan) seorang manusia.[38]: 210
Cabrera menambahkan sejumlah pertimbangan lanjutan. Dalam kerangka pemikirannya, semua manusia bersifat "tanpa nilai", sehingga agen yang melakukan aborsi tidak memiliki nilai yang lebih tinggi daripada korban yang dapat membenarkan tindakan pembunuhan. Oleh karena itu, ia menganjurkan kehati-hatian, dengan menyatakan bahwa aborsi tidak seharusnya dilakukan ketika sulit untuk menentukan pada titik mana janin menjadi seorang manusia. Ia menyatakan bahwa janin memiliki potensi untuk menjadi agen rasional dengan kesadaran, perasaan, preferensi, dan pikiran, serta bahwa manusia senantiasa berada dalam proses membangun dan membentuk diri mereka sendiri—suatu deskripsi yang, menurutnya, sudah berlaku bagi janin. Ia juga menegaskan bahwa janin, seperti manusia lainnya, telah berada dalam suatu proses "pelapukan". Akhirnya, ia mengusulkan agar perdebatan moral juga mempertimbangkan status mereka yang melakukan aborsi dan para perempuan yang menjalani aborsi, dan tidak semata-mata berfokus pada status janin.[38]: 211–219
Kematian
Bagi Arthur Schopenhauer, setiap tindakan (makan, tidur, bernapas, dan sebagainya) merupakan suatu pergulatan melawan kematian, meskipun pergulatan yang pada akhirnya selalu berakhir dengan kemenangan kematian atas individu.[68]: 338 Karena hewan-hewan lain juga takut akan kematian, rasa takut terhadap kematian bukanlah sesuatu yang rasional, melainkan lebih menyerupai naluri atau dorongan, yang ia sebut sebagai kehendak untuk hidup. Namun pada akhirnya, kematian melarutkan individu dan, bersamaan dengan itu, melenyapkan seluruh ketakutan, penderitaan, dan hasrat. Schopenhauer memandang kematian sebagai suatu "kesempatan besar untuk tidak lagi menjadi ‘aku’".[5]: 524 Akan tetapi, hakikat batiniah kita tidaklah musnah—sebab kita merupakan perwujudan dari Kehendak universal.[94]
David Benatar tidak hanya memiliki pandangan negatif mengenai keberadaan yang dimulai, tetapi juga mengenai berakhirnya keberadaan. Meskipun hadir ke dalam eksistensi merupakan suatu kerugian bagi kita, setelah kita ada, kita memiliki kepentingan untuk terus ada. Kita memiliki rencana bagi masa depan; kita ingin mencapai tujuan-tujuan kita; dan mungkin terdapat berbagai kebaikan di masa depan yang dapat kita nikmati jika kita terus eksis. Namun kematian melenyapkan kita; dengan demikian, ia merampas masa depan kita serta kemungkinan bagi kita untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut.[14][15][76]
Kritik
Kritik terhadap Schopenhauer
Olga Plümacher
Filsuf Swiss-Amerika Olga Plümacher mengkritik sistem Schopenhauer pada berbagai titik. Menurut Schopenhauer, seorang individu pada dirinya sendiri merupakan perwujudan dari Kehendak. Namun, jika demikian halnya, maka penyangkalan terhadap Kehendak itu sendiri juga merupakan suatu ilusi, sebab apabila penyangkalan tersebut sungguh-sungguh nyata, ia akan mengakibatkan berakhirnya dunia. Lebih lanjut, Plümacher mencatat bahwa bagi Schopenhauer, ketiadaan dunia lebih dapat diutamakan daripada keberadaannya. Akan tetapi, pernyataan ini bukanlah pernyataan absolut (yakni bahwa dunia adalah yang terburuk secara mutlak), melainkan pernyataan komparatif (yakni bahwa dunia lebih buruk daripada sesuatu yang lain).[2]
Eduard von Hartmann
Eduard von Hartmann menuliskan kritik yang serupa dengan yang diajukan oleh Olga Plümacher. Ia menunjukkan bahwa kehendak individual suatu makhluk hanyalah penampakan khusus atau "sinar" dari Kehendak Yang Esa, sehingga penyangkalan-penyangkalan individual atas Kehendak tersebut, menurutnya, pada akhirnya bersifat sia-sia (bertentangan dengan pandangan Schopenhauer); terlepas dari apakah penyangkalan itu terjadi melalui asketisme, pantang seksual, kematian, atau bahkan bunuh diri. Hakikat dunia—sebagai Kehendak metafisis—akan terus-menerus terobjektivikasi dalam makhluk-makhluk baru tanpa henti, terlepas dari penyangkalan-penyangkalan individual terhadapnya, sebab Kehendak itu sendiri tidak dapat memperoleh pengetahuan maupun pengalaman melalui upaya-upaya yang tidak bersifat kolektif yang dapat mengurangi daya metafisisnya. Oleh karena itu, bagi Hartmann, hanya penyangkalan terhadap Kehendak yang bersifat "kosmik-universal" yang memadai untuk mengakhiri penderitaan dan irasionalitas kehendak secara tuntas.[95]: 128–131
Nietzsche
Meskipun Nietzsche mengakui pengaruh Schopenhauer terhadap pemikiran awalnya, ia kemudian menyimpang dari kesimpulan-kesimpulan sang mentor dan pada akhirnya mencari suatu filsafat yang menegaskan kehidupan.[56][96]: 145
Schopenhauer berpendapat bahwa kehidupan pada dasarnya ditandai oleh penderitaan, yang digerakkan oleh "kehendak untuk hidup", yang ia gambarkan sebagai suatu daya yang buta dan tak pernah terpuaskan, yang melahirkan hasrat tanpa akhir serta ketidakpuasan yang berkelanjutan. Nietzsche, sebaliknya, memperkenalkan gagasan tentang "kehendak untuk berkuasa" sebagai dorongan dasar dalam diri manusia, yang berpusat pada pengatasan diri dan penyempurnaan diri, alih-alih sekadar kelangsungan hidup. Pandangan Schopenhauer mengarah pada penarikan diri secara asketik dan penyangkalan terhadap kehidupan, sedangkan Nietzsche—yang tetap mempertahankan pandangan yang secara garis besar pesimistis tentang eksistensi—mengkritik posisi Schopenhauer sebagai suatu bentuk "kelemahan" dan justru menganjurkan untuk mengatakan "ya" kepada kehidupan. Bagi Nietzsche, kehidupan tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan ukuran hedonistik tentang kenikmatan dan penderitaan, melainkan juga berdasarkan perasaan kekuatan dan daya yang dapat muncul dari menghadapi serta mengatasi kesulitan, rasa sakit, dan penderitaan.[56][97]: 248 [98]: 123
Kritik Sully terhadap pesimisme filosofis
Psikolog dan filsuf Inggris abad ke-19 James Sully mengajukan suatu uraian psikologis mengenai keyakinan-keyakinan pesimistis, dengan menitikberatkan perhatian pada bagaimana disposisi internal dan kesan-kesan eksternal membentuknya. Ia memandang keadaan emosional Weltschmerz, yakni kesedihan yang meresap terhadap keberadaan, bukan semata-mata sebagai suatu posisi filosofis, melainkan sebagai sesuatu yang erat kaitannya dengan ciri-ciri psikologis individual serta dengan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih luas.[99]
Ia mengidentifikasi sejumlah sifat psikologis yang, menurut pandangannya, cenderung menopang suatu cara pandang pesimistis. Di antaranya adalah kepekaan emosional yang sangat tinggi, yang mendorong seseorang untuk senantiasa mengantisipasi penderitaan; sikap mudah tersinggung dan menantang yang memandang dunia sebagai sesuatu yang bermusuhan; temperamen yang lamban dan rendah energi sehingga kehidupan terasa memberatkan; kebiasaan kritik yang terus-menerus, yang mempertahankan perhatian pada jurang antara dunia dan cita-cita pribadi; serta hasrat untuk dikagumi, yang dapat memperkuat keyakinan pesimistis dengan mendorong individu melihat diri mereka sebagai martir penderitaan.[99]
Pandangan Sully beresonansi dengan perspektif para pengkritik pesimisme lainnya, seperti para filsuf Inggris abad ke-20 Bertrand Russell dan Bryan Magee, yang juga berpendapat bahwa pesimisme bukanlah suatu sikap filosofis, melainkan sikap emosional. Russell mencirikan pesimisme sebagai persoalan temperamen alih-alih rasio,[100]: 758 sementara Magee mengemukakan bahwa pandangan dunia Schopenhauer yang sarat keputusasaan dapat dipahami sebagai manifestasi neurotis yang berakar pada hubungannya dengan sang ibu, bukan sebagai suatu argumen filosofis yang koheren.[29]: 13 Dengan membingkai pesimisme filosofis sebagai tanggapan terhadap faktor-faktor emosional dan lingkungan, Sully mempertanyakan klaim rasionalitasnya, seraya menyiratkan bahwa pesimisme mungkin lebih mencerminkan psikologi individual dan kondisi sosial daripada "kebenaran-kebenaran objektif" tentang keberadaan.[99]
Penentangan terhadap klaim bahwa kenikmatan hanya dapat bersifat negatif
Salah satu klaim yang diajukan oleh para pesimis adalah bahwa kenikmatan pada hakikatnya bersifat negatif: kenikmatan hanyalah pemuasan hasrat atau penghilangan rasa sakit semata.[101]
Sanggahan terhadap klaim ini diajukan dengan mempertimbangkan skenario-skenario di mana seseorang berada dalam keadaan tidak terganggu dan tengah terlibat dalam sesuatu yang menyenangkan:
Bayangkan bahwa saya sedang menikmati keadaan tubuh yang terhidrasi dengan baik, kenyang, dan hangat. Lalu seseorang menawarkan kepada saya sebutir kecil cokelat bon-bon, dan saya sangat menikmati cita rasa lezat cokelat hitam tersebut. Mengapa saya tidak mengalami kenikmatan yang lebih besar sekarang dibandingkan sebelumnya (...)?[44]: 122
Keberatan yang diajukan di sini adalah bahwa, dalam situasi tersebut, seseorang akan mengalami tambahan kenikmatan, bukan sekadar berhenti merasakan rasa sakit, kebosanan, atau hasrat tertentu.[102]: 282–284
Sanggahan lain terhadap klaim ini diajukan dengan menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman yang menyenangkan memiliki nilai intrinsik yang dapat ditangkap secara langsung melalui introspeksi fenomenologis.[103] Pengalaman-pengalaman yang secara intrinsik baik mencakup kejutan yang menyenangkan, terbangun dengan suasana hati yang baik, menikmati hidangan yang lezat, mengantisipasi sesuatu yang baik yang kemungkinan besar akan terjadi pada diri kita, dan lain-lain.[9]: 124
Pengaruh di luar filsafat
Televisi
Tokoh Rust Cohle dalam musim pertama serial televisi True Detective dikenal karena mengungkapkan suatu pandangan dunia yang pesimistis secara filosofis;[104][105] pencipta serial tersebut terinspirasi oleh karya-karya Thomas Ligotti, Emil Cioran, Eugene Thacker, dan David Benatar dalam membangun karakter tersebut.[106]
Dalam sastra
Eugene Thacker, Colin Feltham, dan Alan R. Pratt telah menyebutkan sejumlah karya dan pengarang sastra sebagai memiliki keterkaitan, dalam satu cara atau lainnya, dengan pesimisme filosofis.[36]: 250 [107][108]
Lihat pula
- Antifrustrasionisme
- Antinatalisme – filosofi yang menanggap bahwa kelahiran berdampak negatif
- Sinisme – Mazhab filsafat kuno
- Realisme depresif
- Distheisme
- Sejarah pesimisme filosofis
- Daftar filsuf pesimis
- Misantropi – ketidaksukaan umum terhadap kemanusiaan
- Misoteisme
- Bias optimisme
- Filsafat kematian
- Filsafat bunuh diri
- Masalah kejahatan
- Etika yang berfokus pada penderitaan
- Penderitaan hewan liar
Catatan
- ↑ Mereka menekankan bahwa apa yang kerap kita anggap sebagai pengalaman yang "lebih baik" dapat dijelaskan sebagai ketiadaan ketidaknyamanan tertentu, alih-alih kehadiran sesuatu yang secara intrinsik positif. Suatu model teoretis yang hanya mencakup keadaan negatif dan netral dinilai lebih sederhana dan lebih koheren. Demikian pula, gagasan tentang keadaan yang sungguh-sungguh positif dapat dipersoalkan dengan menyatakan bahwa tidak ada pengalaman yang secara jelas memenuhi syarat sebagai kebalikan pengalaman dari penderitaan. Perspektif ini juga mempertanyakan koherensi gagasan tentang kebalikan dalam pengalaman, dengan mengusulkan bahwa keadaan-keadaan yang berkontras (seperti panas dan dingin) berada pada sumbu yang terpisah tanpa menjadi kebalikan sejati. Secara bersama-sama, pandangan-pandangan ini mendukung tesis bahwa pengurangan atau ketiadaan keadaan-keadaan negatif—alih-alih pengejaran keadaan-keadaan positif—merupakan kerangka yang lebih dapat dipertahankan untuk memahami nilai pengalaman.[43][49]
- ↑ Dalam filsafat naturalistik Mainländer, "Tuhan" merupakan metafora bagi sejenis singularitas awal tempat ekspansi alam semesta bermula.
- ↑ Thacker menulis: "God doesn't die accidentally, but kills himself. In this 'self-cadaverization of God,' Mainländer suggests that the world, life, our very selves, are all the rotting residue of God's suicide." ["Tuhan tidak mati secara kebetulan, melainkan mengakhiri diri-Nya sendiri. Dalam ‘pemayatan diri Tuhan’ ini, Mainländer menyatakan bahwa dunia, kehidupan, bahkan diri kita sendiri, tak lain adalah sisa-sisa yang membusuk dari bunuh diri Tuhan."]
Referensi
- ↑ "Etymology, origin and meaning of pessimism". etymonline. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-28. Diakses tanggal 2023-09-18.
- 1 2 3 4 5 6 7 Janaway, Christopher (2021). "Worse Than the Best Possible Pessimism? Olga Plümacher's Critique of Schopenhauer". British Journal for the History of Philosophy. 30 (2): 211–230. doi:10.1080/09608788.2021.1881441. S2CID 233897050.
- 1 2 3 4 5 6 7 van der Lugt, Mara (2021). Dark Matters: Pessimism and the Problem of Suffering. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-20662-2.
- 1 2 3 4 5 Dienstag, Joshua Foa (2009). Pessimism: Philosophy, Ethic, Spirit. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-14112-1.
- 1 2 3 4 5 6 7 Schopenhauer, Arthur (2018) [1844]. Welchman, Alistair; Janaway, Christopher; Norman, Judith (ed.). The World as Will and Representation. Vol. 2. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9780511843112. ISBN 978-0-521-87034-4.
- ↑ Bather Woods, David (2025). "Schopenhauer's worst of all possible worlds". British Journal for the History of Philosophy. Routledge: 1–16. doi:10.1080/09608788.2025.2543360. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-08-30.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Beiser, Frederick C. (2016). Weltschmerz: Pessimism in German Philosophy, 1860–1900. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-876871-5.
- 1 2 3 4 Hassan, Patrick (2023). Nietzsche's Struggle against Pessimism. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-1009380270.
- 1 2 3 4 5 6 7 Simmons, Byron (2021). "A Thousand Pleasures Are Not Worth a Single Pain: The Compensation Argument for Schopenhauer's Pessimism". European Journal of Philosophy. 29 (1): 120–136. doi:10.1111/ejop.12561. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-18. Diakses tanggal 2023-08-18.
- 1 2 Segev, Mor (2020). The Value of the World and of Oneself: Philosophical Optimism and Pessimism from Aristotle to Modernity. Oxford University Press. ISBN 978-0197634073.
- 1 2 Prescott, Paul (2012). "What Pessimism Is" (PDF). Journal of Philosophical Research. 37: 337–356. doi:10.5840/jpr20123716. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-10-12. Diakses tanggal 2023-09-01.
- 1 2 3 4 Sauchelli, Andrea (2025). "Axiological pessimism, procreation and collective responsibility" (PDF). Philosophy and Phenomenological Research. 111 (1): 157–172. doi:10.1111/phpr.70015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-09-02. Diakses tanggal 2025-09-02.
- 1 2 3 Sully, James (1877). Pessimism: A History and a Criticism. London: Henry S. King & Co.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Benatar, David (2017). The Human Predicament: A Candid Guide to Life's Biggest Questions. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-063381-3.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Benatar, David (2006). Better Never to Have Been: The Harm of Coming into Existence. Oxford University Press. ISBN 978-0199296422.
- 1 2 3 Hassan, Patrick (2021). "Striving as Suffering: Schopenhauer's A Priori Argument for Pessimism" (PDF). Philosophia. 49 (4): 1487–1505. doi:10.1007/s11406-020-00316-0. S2CID 234157970. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-10-12. Diakses tanggal 2023-09-01.
- ↑ Segev, Mov (2024). "Schopenhauer on the Pessimism, Fatalism, and Superstitions of Herodotus and the Greek Tragedians". Dalam Bather Woods, David; Stoll, Timothy (ed.). The Schopenhauerian Mind. Oxon: Routledge. ISBN 9780367501532.
- ↑ Hassan, Patrick (2021). "Individual vs. World in Schopenhauer's Pessimism". The Southern Journal of Philosophy. 59 (2): 122–152. doi:10.1111/sjp.12401. S2CID 234303325. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-18. Diakses tanggal 2023-08-18.
- 1 2 Laërtius, Diogenes (2018). The Lives and Opinions of Eminent Philosophers. Diterjemahkan oleh Yonge, Charles Duke. Project Gutenberg. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-24. Diakses tanggal 2022-12-06.
- 1 2 Cooper, David E. (2021). "Buddhism as Pessimism". Journal of World Philosophies. 6 (2): 1–16. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-07. Diakses tanggal 2023-09-07.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Coates, Ken (2016). Anti-Natalism: Rejectionist Philosophy from Buddhism to Benatar. First Edition Design Publishing. ISBN 978-1506-902-40-1.
- 1 2 3 4 5 6 Ligotti, Thomas (2011). The Conspiracy Against the Human Race: A Contrivance of Horror. New York: Hippocampus Press. ISBN 978-0-9844802-7-2.
- ↑ Ecclesiastes 1:1–9:HE
- ↑ Ecclesiastes 4:2:HE
- ↑ Ecclesiastes 4:3:HE
- ↑ Hutin, Serge (1978) [1958]. "Chapter 2: Misère de l'homme". Les Gnostiques. Que sais-je? (dalam bahasa Prancis) (Edisi 4th). Paris: Presses Universitaires de France. OCLC 9258403.
- ↑ Janaway, Christopher (2018). "Schopenhauer on the Aimlessness of the Will". British Journal for the History of Philosophy. 26 (2): 331–347. doi:10.1080/09608788.2017.1393619. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-11-05. Diakses tanggal 2023-11-05.
- 1 2 Young, Julian (2005). Schopenhauer. New York: Routledge. ISBN 0-415-33347-4.
- 1 2 3 Magee, Bryan (1997). The Philosophy of Schopenhauer (Edisi Revised). New York: Oxford University Press. ISBN 978-0198237228.
- 1 2 3 4 5 6 Simmons, Byron (2024). "Schopenhauer's Pessimism". Dalam Bather Woods, David; Stoll, Timothy (ed.). The Schopenhauerian Mind. Oxon: Routledge. hlm. 282–296. ISBN 9780367501532.
- 1 2 3 4 5 Janaway, Christopher (2002). Schopenhauer: A very short introduction. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0192802590.
- 1 2 3 4 5 6 (Inggris) Entri Arthur Schopenhauer di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- ↑ Emil Cioran, On the Heights of Despair (1996), ISBN 978-0-226-10671-7
- 1 2 3 4 5 6 7 Zapffe, Peter Wessel (2004) [1933]. "The Last Messiah". Philosophy Now. No. 45. Diterjemahkan oleh Tangenes, Gisle R. hlm. 35–39. ISSN 0961-5970. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-09-22. Diakses tanggal 2022-09-18.
- 1 2 Zapffe, Peter Wessel (2024) [1941]. Showler, Ryan L.; Zapffe, Peter Wessel (ed.). On the Tragic. Diterjemahkan oleh Showler, Ryan L. New York: Peter Lang. doi:10.3726/b20965. ISBN 978-1-636-67488-9. LCCN 2023043423.
- 1 2 3 Thacker, Eugene (2018). Infinite Resignation. Repeater. ISBN 978-1912248193.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dalton, Drew M. (2023). The Matter of Evil: From Speculative Realism to Ethical Pessimism. Evanston: Northwestern University Press. ISBN 978-0810146402.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cabrera, Julio (2019). Discomfort and Moral Impediment: The Human Situation, Radical Bioethics and Procreation. Newcastle upon Tyne: Cambridge Scholars Publishing. ISBN 978-1-5275-1803-2.
- ↑ Dhammacakkappavattana Sutta Diarsipkan 2023-10-03 di Wayback Machine., diterjemahkan dari versi Pali oleh Bhikkhu Bodhi.
- ↑ Anattalakkhaṇa Sutta Diarsipkan 2024-11-10 di Wayback Machine., diterjemahkan dari versi Pali oleh Bhikkhu Sujato.
- ↑ Dhammapada, Bab XX (Jalan) Diarsipkan 2006-07-08 di Wayback Machine., diterjemahkan dari versi Pali oleh Acharya Buddharakkhita.
- ↑ Plato (2004). Reeve, C. D. C. (ed.). Republic. Hackett Publishing Company, Inc. ISBN 978-0872207363.
- 1 2 3 Knutsson, Simon (2022), Undisturbedness as the Hedonic Ceiling, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-10-31, diakses tanggal 2023-10-31
- 1 2 O'Keefe, Tim (2009). Epicureanism (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1st). Routledge. doi:10.4324/9781315711645. ISBN 978-1-84465-169-6.
- 1 2 3 Fox, Joshua Isaac (2022). "Does Schopenhauer Accept Any Positive Pleasures?". European Journal of Philosophy. 31 (4): 902–913. doi:10.1111/ejop.12830.
- ↑ Gloor, Lukas (2017), Tranquilism, Center on Long-Term Risk, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-10-08, diakses tanggal 2023-11-01
- 1 2 Metzinger, Thomas (2017). "Suffering" (PDF). Dalam Almqvist, Kurt; Haag, Anders (ed.). The Return of Consciousness. Stockholm: Axel and Margaret Ax:son Johnson Foundation. hlm. 237–262. ISBN 978-91-89672-90-1. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
- ↑ Warren, James (2007). Sedley, David (ed.). Oxford Studies in Ancient Philosophy XXXIII. Oxford University Press. ISBN 978-0199238026.
- ↑ Vinding, Magnus (2022), A Phenomenological Argument Against a Positive Counterpart to Suffering
- ↑ Simmel, Georg (1991). Schopenhauer and Nietzsche. University of Massachusetts Press. ISBN 978-0-252-06228-5.
- ↑ Bather Woods, David (2022). "The Standard Interpretation of Schopenhauer's Compensation Argument for Pessimism: A Non-Standard Variant". European Journal of Philosophy. 30 (3): 961–976. doi:10.1111/ejop.12699.
- 1 2 3 4 5 Schopenhauer, Arthur (2015) [1851]. Janaway, Christopher (ed.). Parerga and Paralipomena: Volume 2: Short Philosophical Essays. Diterjemahkan oleh Caro, Adrian Del. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-1108436526.
- 1 2 3 4 5 Cabrera, Julio (2020). "Antinatalism and Negative Ethics". Dalam Lochmanová, Kateřina (ed.). History of Antinatalism: How Philosophy Has Challenged the Question of Procreation. hlm. 167–188. ISBN 9798645624255.
- ↑ Cabrera, Julio (2020). La Forma del Mundo: Ensayo sobre la muerte del ser. Elementos de Metafilosofía Primera [Bentuk Dunia: Esai tentang kematian keberadaan. Unsur-unsur Metafilsafat Pertama.] (dalam bahasa Spanish). Ed. do Autor. hlm. 19–23. ISBN 978-6500084023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-04-14. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- 1 2 Mainländer, Philipp (2014) [1876]. Filosofía de la redención [Philosophy of Redemption] (dalam bahasa Spanyol). Diterjemahkan oleh Manuel Pérez, Cornejo. Madrid: Ediciones Xorki. ISBN 978-84-941505-5-5.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Dalton, Drew M. (2024). "Pessimism and the Questions of Moral Nihilism and Ethical Quietism: Schopenhauer and Mainländer on the Practical Potencies of Metaphysical Pessimism". Epoché: A Journal for the History of Philosophy. 29 (1): 119–144. doi:10.5840/epoche2024828256.
- 1 2 3 Casey, Myles (2019). "Book Review: Discomfort and Moral Impediment by Julio Cabrera". Dianoia: The Undergraduate Philosophy Journal of Boston College. Cambridge Scholars Publishing. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-11-30.
- ↑ Mainländer, Philipp (2024). The Philosophy of Redemption. Diterjemahkan oleh Romuss, Christian. Irukandji Press. ISBN 978-0645498073.
- ↑ Dalton, Drew M. (2022). "The Metaphysics of Speculative Materialism: Reckoning with the Fact of Entropy". Philosophy Today. 66 (4): 687–705. doi:10.5840/philtoday2022623456. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-05-12. Diakses tanggal 2024-11-29.
- ↑ Dalton, Drew M. (2025-08-22). "Reality is evil". Aeon. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-08-27. Diakses tanggal 2025-08-29.
- ↑ Dalton, Drew M. (2023). "The Unbecoming of Being: Thermodynamics and The Metaphysics and Ethics of Entropic Decay". Technophany, A Journal for Philosophy and Technology. 2 (1): 1–24. doi:10.54195/technophany.14045. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-08. Diakses tanggal 2024-11-07.
- 1 2 Pascal, Blaise (2014). Pensées. Diterjemahkan oleh Paul, C. Kegan. Project Gutenberg. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-08. Diakses tanggal 2024-11-07.
- ↑ Cabrera, Julio; Di Santis, Thiago Lenharo (2009). Porque te amo não nascerás! : Nascituri te salutant. LGE Editora. ISBN 978-8572384087. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-04-14. Diakses tanggal 2025-04-14.
- ↑ Huisman, Denis (2002). Histoire de la philosophie française [History of French Philosophy] (dalam bahasa Prancis). Paris: Perrin. ISBN 978-2262016999. OCLC 473902784.
- ↑ Fremstedal, Roe (2013). "Meaning of Life: Peter Wessel Zapffe on the Human Condition". On Meaning in Life. hlm. 113–128. doi:10.1515/9783110324242.113. ISBN 978-3-11-032389-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-12. Diakses tanggal 2024-11-12.
- ↑ Bhikkhu, Bodhi (2011). The Noble Eightfold Path: Way to the End of Suffering. Pariyatti Publishing. ISBN 9781928706816.
- ↑ Janaway, Christopher (1999). "Schopenhauer's Pessimism". Dalam Janaway, Christopher (ed.). The Cambridge Companion to Schopenhauer. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 318–343. doi:10.1017/CCOL0521621062.011. ISBN 978-0521621069.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Schopenhauer, Arthur (2010) [1818]. Welchman, Alistair; Janaway, Christopher; Norman, Judith (ed.). The World as Will and Representation. Vol. 1. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511780943. ISBN 978-0-521-87184-6.
- ↑ Gajardo, Paolo. (2023). The Ontological Suicide of Philipp Mainländer: A Search for Redemption Through Nothingness Diarsipkan 2024-11-22 di Wayback Machine.. 10.1007/978-3-031-28982-8_10.
- ↑ Becker, Ernest (1973). The Denial of Death. New York: The Free Press. ISBN 0-684-83240-2.
- ↑ Pyszczynski, Tom; Greenberg, Jeff; Solomon, Sheldon; Arndt, Jamie; Schimel, Jeff (2004). "Why Do People Need Self-Esteem? A Theoretical and Empirical Review". Psychological Bulletin. 130 (3): 436. doi:10.1037/0033-2909.130.3.435. PMID 15122930.
- 1 2 3 4 Moen, Ole Martin (2021). "Pessimism Counts in Favor of Biomedical Enhancement: A Lesson from the Anti-Natalist Philosophy of P. W. Zapffe". Neuroethics. 14 (2): 315–325. doi:10.1007/s12152-021-09458-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-10-18. Diakses tanggal 2024-11-29.
- ↑ Vinding, Magnus (2016). "The Speciesism of Leaving Nature Alone, and the Theoretical Case for "Wildlife Anti-Natalism"". Apeiron. 8: 169–183.
- ↑ Raal, Ludwig (2022). Better Never to Have Been in the Wild: A Case for Weak Wildlife Antinatalism (Master of Philosophy thesis). Stellenbosch University. hdl:10019.1/124595. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-10-17. Diakses tanggal 2023-10-15.
- 1 2 3 Cabrera, Julio (2018). Mal-Estar e Moralidade: Situação Humana, ética e Procriação [Discomfort and Moral Impediment: The Human Situation, Radical Bioethics and Procreation] (dalam bahasa Brazilian Portuguese). Brasília: Editora Universidade de Brasília. ISBN 978-85-230-1218-2.
- 1 2 3 4 5 Cholbi, Michael (2021). "Schopenhauer, Suicide, and Contemporary Pessimism". Dalam Hassan, Patrick (ed.). Schopenhauer's Moral Philosophy. New York: Routledge. hlm. 141–159. doi:10.4324/9781003090953-8. ISBN 978-0367547721.
- ↑ Benatar, David (2020). "Suicide Is Sometimes Rational and Morally Defensible". Dalam Cholbi, Michael; Timmerman, Travis (ed.). Exploring the Philosophy of Death and Dying: Classical and Contemporary Perspectives. New York: Routledge. ISBN 9781138393585.
- ↑ Hwang, Jiwoon (2017). "Why it is Always Better to Cease to Exist". SSRN Electronic Journal. doi:10.2139/ssrn.3184600.
- 1 2 3 Marioka, Masahiro (2021). "What Is Antinatalism? Definition, History, and Categories" (PDF). The Review of Life Studies. 12: 1–39.
- 1 2 3 4 Pedatella, Stefan (2009). "Images of Animal Predation in Giacomo Leopardi's Dialogo della Natura e di un Islandese". Italian Culture. 27 (1): 25–42. doi:10.1179/155909009X401665.
- ↑ Dawkins, Richard (1995). River Out of Eden: A Darwinian View of Life. Weidenfeld & Nicolson. ISBN 978-0297815402.
- 1 2 Kahane, Guy (2023). "Was evolution worth it?". Philosophical Studies. 180 (1): 249–271. doi:10.1007/s11098-022-01893-4.
- ↑ Darwin, Charles (1860). "'Letter no. 2814' (22 May 1860)". Darwin Correspondence Project.
- ↑ Barlow, Nora, ed. (1958). The Autobiography of Charles Darwin, 1809–1882. With the original omissions restored. Edited and with appendix and notes by his grand-daughter Nora Barlow. London: Collins.
- ↑ Ng, Yew-Kwang (1995). "Towards welfare biology: Evolutionary economics of animal consciousness and suffering" (PDF). Biology and Philosophy. 10 (3): 255–285. doi:10.1007/bf00852469.
- ↑ Tomasik, Brian (2015). "The Importance of Wild-Animal Suffering". Relations. Beyond Anthropocentrism. 3 (2): 133–152. doi:10.7358/rela-2015-002-toma.
- ↑ Horta, Oscar (2010). "Debunking the idyllic view of natural processes: Population dynamics and suffering in the wild". Télos. Revista Iberoamericana de Estudios Utilitaristas. 17 (1).
- ↑ Horta, Oscar (2015). "The Problem of Evil in Nature: Evolutionary Bases of the Prevalence of Disvalue". Relations. Beyond Anthropocentrism. 3 (1): 17–32. doi:10.7358/rela-2015-001-hort.
- 1 2 Leopardi, Giacomo (1882). "Dialogue Between Nature and an Icelander". Essays and Dialogues. Diterjemahkan oleh Edwardes, Charles. London: Trübner & Co.
- 1 2 3 Schopenhauer, Arthur (2009) [1841]. "Prize Essay on the Basis of Morals". Dalam Janaway, Christopher (ed.). The Two Fundamental Problems of Ethics. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 113–258. ISBN 978-0-521-87140-2.
- ↑ Luy, Jörg (2006). "The question of a right to life in animal ethics". ALTEX. 23 (4): 279–280. ISSN 1868-596X. PMID 17186111. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-11-30. Diakses tanggal 2024-11-26.
- ↑ Kidd, Ian James (2020). "Philosophical Misanthropy". Philosophy Now (139). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-03-05. Diakses tanggal 2024-11-12.
- ↑ Cooper, David E., David E. (2018). Animals and Misanthropy. Routledge. ISBN 978-1-138-29594-0.
- ↑ Janaway, Christopher (2022). "Schopenhauer's Consoling View of Death". Essays on Schopenhauer and Nietzsche: Values and the Will of Life. Oxford: Oxford University Press. hlm. 116–C6.P52. doi:10.1093/oso/9780198865575.003.0007. ISBN 9780198865575. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-26. Diakses tanggal 2023-09-26.
- ↑ von Hartmann, Eduard (1884) [1869]. Philosophy of the Unconscious: Speculative Results According to the Induction Method of the Physical Sciences. Vol. 3. Diterjemahkan oleh Coupland, William Chatterton. London: Trübner & Company.
- ↑ Christopher, Janaway. Willing and Nothingness: Schopenhauer as Nietzsche's Educator. Clarendon Press. ISBN 978-0198235903.
- ↑ Kaufmann, Walter A. (1975). Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist. Princeton University Press. ISBN 978-0691019833.
- ↑ Solomon, Robert C.; Higgins, Kathleen M. (1990). Reading Nietzsche. Oxford University Press. ISBN 978-0195066739.
- 1 2 3 Hassan, Patrick (2024). "James Sully's Psychological Reduction of Philosophical Pessimism" (docx). British Journal for the History of Philosophy. 32 (5). Routledge: 1097–1120. doi:10.1080/09608788.2023.2268125.
- ↑ Russell, Bertrand (1967). The History of Western Philosophy. Simon & Schuster/Touchstone. ISBN 978-0671201586.
- ↑ Gillham, Alex R. (2021). "Epicurean Tranquility and the Pleasure of Philosophy". Southwest Philosophy Review. 37 (1): 149–158. doi:10.5840/swphilreview202137116.
- ↑ Yosef Z., Liebersohn (2015). "Epicurus' 'Kinetic' and 'Katastematic' Pleasures: A Reappraisal". Elenchos. 36 (2): 271–296.
To repeat my contention, katastematic pleasure consists of the process and the result of satisfying a desire to remove pain, i.e. to reach a state of stability. Kinetic pleasure consists in the enjoyment of its own movement, with no ulterior aim such as the removal of pain. Thus, katastematic pleasure is necessary and kinetic pleasure is unnecessary. (...) I agree with Konstan that kinetic pleasures are not necessary but if the axis is removing pain, kinetic pleasures become naturally enough everything which does not remove pain, and this includes first and foremost the continuity of the same action used before to fulfil the lack (keep on eating after hunger has been reomoved). [sic]
[Untuk mengulangi argumen saya, kenikmatan katastematik terdiri atas proses dan hasil dari pemuasan suatu hasrat untuk menghilangkan rasa sakit, yakni mencapai keadaan stabil. Kenikmatan kinetik terdiri atas kenikmatan dari gerakannya sendiri, tanpa tujuan lanjutan seperti penghilangan rasa sakit. Dengan demikian, kenikmatan katastematik bersifat perlu, sedangkan kenikmatan kinetik tidak perlu. (...) Saya sepakat dengan Konstan bahwa kenikmatan kinetik tidaklah perlu, tetapi jika porosnya adalah penghilangan rasa sakit, maka kenikmatan kinetik secara alami mencakup segala sesuatu yang tidak menghilangkan rasa sakit, dan ini terutama mencakup keberlanjutan dari tindakan yang sama yang sebelumnya digunakan untuk memenuhi kekurangan (terus makan setelah rasa lapar telah dihilangkan). [sic]] - ↑ Brax, David (2003), Rabinowicz, W.; Rönnow-Rasmussen, T. (ed.), "The Intrinsic Value of Pleasure Experiences", Patterns of Value - Essays on Formal Axiology and Value Analysis, diakses tanggal 2025-02-17
- ↑ Patches, Matt (2014-02-28). "Ask a Philosopher: What's Up With True Detective's Rust Cohle?". Vulture-us. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-12-06. Diakses tanggal 2022-12-06.
- ↑ Janning, Finn (December 2014). "True Detective: Pessimism, Buddhism or Philosophy?" (PDF). Journal of Philosophy of Life. 4 (4): 121–141. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-05-31. Diakses tanggal 2022-12-06.
- ↑ Calia, Michael (2014-02-02). "Writer Nic Pizzolatto on Thomas Ligotti and the Weird Secrets of 'True Detective'". WSJ-US. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-11-05. Diakses tanggal 2020-05-31.
- ↑ Feltham, Colin (2016). Depressive Realism: Interdisciplinary Perspectives. Routledge. hlm. 53–61. ISBN 978-1-317-58482-7.
- ↑ Pratt, Alan R. (1994). The Dark Side: Thoughts on the Futility of Life from Ancient Greeks to the Present. Carol Publishing Group. ISBN 978-0806514819.
Bacaan lanjutan
Literatur primer
Buku
- Benatar, David (2017). The Human Predicament: A Candid Guide to Life's Biggest Questions. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-063381-3. A modern account of pessimistic thought.
- Ligotti, Thomas (2011). The Conspiracy Against the Human Race: A Contrivance of Horror. New York: Hippocampus Press. ISBN 978-0-9844802-7-2. OCLC 805656473. A very readable telling of many pessimistic ideas.
- Schopenhauer, Arthur (2010) [1818]. Welchman, Alistair; Janaway, Christopher; Norman, Judith (ed.). The World as Will and Representation. Vol. 1. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511780943. ISBN 978-0-521-87184-6. The first volume of the seminal work in pessimism.
- Schopenhauer, Arthur (2018) [1844]. Welchman, Alistair; Janaway, Christopher; Norman, Judith (ed.). The World as Will and Representation. Vol. 2. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9780511843112. ISBN 978-0-521-87034-4. The second volume of the seminal work in pessimism.
Esai
- Zapffe, Peter Wessel (2004) [1933]. "The Last Messiah". Philosophy Now. No. 45. Diterjemahkan oleh Tangenes, Gisle R. hlm. 35–39. ISSN 0961-5970. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-09-22. Diakses tanggal 2022-09-18. A short and accessible essay.
Literatur sekunder
Buku
- Beiser, Frederick C. (2016). Weltschmerz: Pessimism in German Philosophy, 1860–1900. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-876871-5. A historical account of German pessimism.
- Coates, Ken (2016). Anti-Natalism: Rejectionist Philosophy from Buddhism to Benatar. First Edition Design Publishing. ISBN 978-1506-902-40-1. A historical account of life rejection from ancient traditions to contemporary figures.
- van der Lugt, Mara (2021). Dark Matters: Pessimism and the Problem of Suffering. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-20662-2. An often-cited work building a case for pessimism.
Pranala luar
"Pessimism" . Encyclopædia Britannica. Vol. 21 (Edisi 11). 1911. - Pessimism by Mara Van der Lugt in The Philosopher
- Transcendental Pessimism by Ignacio L. Moya in The Philosopher
- APA series on philosophical pessimism
- Metzinger, Thomas (2017). Benevolent Artificial Anti-Natalism (BAAN). Edge
- Revista Hénadas, Spanish magazine about philosophical pessimism
- Listing of papers and books on pessimism on PhilPapers