Peter Wessel Zapffe (18 Desember 1899 – 12 Oktober 1990) adalah seorang metafisikawan, penulis, pengacara, dan pendaki gunung asal Norwegia. Ia dikenal akan pandangannya mengenai eksistensi manusia yang pesimistis secara filosofis serta fatalistis.[2] Sistem filsafat dan prinsip teguhnya terhadap antinatalisme terinspirasi oleh filsuf Jerman Arthur Schopenhauer.[3] Pemikirannya terkait kekeliruan keberadaan kehidupan manusia disuguhkan dalam esainya yang berjudul "Mesias Terakhir" (Den sidste Messias, 1933). Esai ini adalah bentuk pendek dari karya filosofis besarnya yang paling terkenal tetapi belum pernah diterjemahkan berjudul "Tentang yang Tragis" (Om det tragiske, 1941).[2]
Karya filosofis
Zapffe berpandangan bahwa manusia lahir dengan kemampuan pemahaman diri yang terlalu terkembang dan sudah tidak sesuai dengan desain alam. Kehausan manusia akan keadilan dalam hal seperti kehidupan dan kematian tidak dapat dipenuhi, dengan demikian kemanusiaan secara umum memiliki suatu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi alam. Tragedinya kemudian adalah manusia menghabiskan seluruh waktunya untuk mencoba tidak menjadi manusia lagi. Pada akhirnya, umat manusia adalah sebuah paradoks.
Dalam "Mesias Terakhir", Zapffe menggambarkan empat prinsip mekanisme utama yang digunakan manusia untuk menghindari paradoks tersebut:
Isolasi – suatu penafian yang dilakukan secara sewenang-wenang terhadap semua pikiran den perasaan yang destruktif dan mengganggu
Anchoring atau penjangkaran – "penjangkaran titik-titik tertentu di dalam, atau penciptaan dinding di sekeliling, keberantakan kesadaran".[4] Dengan mekanisme penjangkaran ini, seseorang dapat memfokuskan perhatiannya terhadap suatu nilai atau ideal. Zapffe juga memperluas prinsip penjangkaran ini kepada masyarakat secara garis besar dan menyatakan bahwa "Tuhan, Gereja, Negara, moralitas, takdir, hukum kehidupan, masyarakat, masa depan"[4] seluruhnya adalah contoh titik berat jangkar primer kolektif.
Distraksi – ketika "seseorang mengabaikan batasan-batasan kritis dengan cara membuat diri sendiri terkagum-kagum dengan kesan-kesan tertentu".[4] Dengan distraksi, seseorang dapat memindahkan seluruh energinya ke dalam suatu tugas atau ide agar pikiran tidak sibuk melawan diri sendiri.
Sublimasi – pemfokusan ulang energi dari hal-hal negatif terhadap hal-hal positif. Orang-orang yang menggunakan sublimasi menjauhkan diri dan memandang eksistensi mereka dari sudut pandang estetis (mis. penulis, penyair, pelukis). Zapffe sendiri menunjukkan bahwa karya buatannya adalah produk sublimasi.
Untuk merayakan ulang tahun ke-65 filsuf Norwegia-Kanada Herman Tønnessen, buku I Choose the Truth. A Dialogue Between Peter Wessel Zapffe and Herman Tønnessen pun dipublikasikan pada tahun 1983. Kedua filsuf ini sudah saling mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Tønnessen pernah belajar di Universitas Oslo dengan Arne Næss.[5]
Minat dan karya lain
Zapffe juga merupakan seorang pendaki gunung yang rajin dan ia punya ketertarikan terhadap environmentalisme yang sudah tampak sejak dini. Bentuk konservationisme alam ini lahir dari niatan tidak untuk melindungi alam tetapi untuk menghindari kulturalisasi manusia terhadap alam.[6]
Zapffe adalah penulis banyak cerita pendek lucu mengenai naik gunung dan penjelajahan alam lainnya.[7]
Kehidupan pribadi
Zapffe adalah anak dari apoteker Fritz Gottlieb Zapffe dan Gudrun Wessel. Dari sisi ibu, ia terkait dengan admiral Denmark-Norwegia, Peter Tordenskjold.
Pendakian Stetind dengan Arne Næss, 1937. Karya fotografis
Di Kristiania di tahun 1921, Zapffe pertama kali belajar naik gunung. Gunung pertama yang didakinya adalah Kolsås di Bærum. Di tahun 1924, ia menjadi orang pertama yang mendaki puncak Tommeltott di Ullsfjorden; di tahun 1925, sisi selatan Småting di Kvaløya; dan kemudian Bentsjordtind antara Malangen dan Balsfjorden. Di tahun yang sama, ia mendaki pula Okshorn, Snekollen dan Mykkjetind. Di tahun 1926 ia berhasil mendaki puncak Senja dan juga Hollenderan di Kvaløya, sebagai orang pertama yang berhasil naik. Pada tahun 1987, puncak tertinggi Hollenderan di Kvaløya dinamakan dengan namanya. Kini puncak tersebut dipanggil "Zapffes tind" (Puncak Zapffe). Di tahun 1928, Zpaffe berhasil memanjat puncak pertama Skamtinden dan juga menjadi orang pertama yang memanjat sisi depan Svolværgeita.[5]
Di tahun 1940, Zapffe mendaftar menjadi anggota Norsk Tindeklubb, tetapi pendaftarannya ditolak. Akan tetapi, pada tahun 1965 ia diterima di sebuah klub pendaki gunung tetapi sebagai anggota honorer. Di tahun 1987 ia berhasil masuk di sebuah klub pendaki gunung dari Tromsø.[5]
Di tahun 1928, akibat suatu badai, balon udara Umberto Nobile terjun bebas saat sedang kembali ke Italia. Roald Amundsen, teman keluarga Zapffe, dan Peter Zapffe sendiri, pergi untuk membantu tim penyelamatan kru balon udara. Di sana, Peter bekerja sebagai interpreter ekspedisi. Kemudian dalam DS Isbjørn ia bekerja sebagai interpreter bahasa Jerman. Ayahnya juga ada di kapal itu. Tugas mereka adalah mencari Amundsen yang hilang, tetapi tujuan itu gagal terlaksana.
Peter meninggalkan Tromsø pada 5 Juni 1929. Ia mendapat sebuah kamar di jalan Erling Skjalgssøns di Kristiania. Di situ ia hidup hemat dan kondisi mentalnya sangat buruk. "Ide bahwa kematian adalah penenang dan jalan keluar terbaik dan selalu ada di keputusan saya, masuk lebih dalam lagi ke dalam diri saya."[5]
Mirip dengan Emil Cioran, sejak 1978 ia hidup dengan uang pensiun dari negara. Di tahun 1987 ia menerima penghargaan dari Yayasan Fritt Ord untuk mengenang "sifat orisinal dan serbaguna karya-karyanya".[5]
Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, ketika ia sering didatangi jurnalis, ia diwawancarai oleh Asker og Bærum Budstikke. Di situ ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang nihilis: "Saya bukan seorang pesimis. Saya adalah seorang nihilis. Saya bukan pesimis yang memiliki pemahaman-pemahaman yang menyebalkan, tetapi saya seorang nihilis dalam arti yang tidak moral."[5]
Zapffe dengan kamera, 1949.Siluet yang tidak dikenal, produksi fotografis
Hobi Zapffe banyak dan beragam. Sejak awal ia menunjukkan ketertarikan terhadap lukisan. Akan tetapi, fotografi menjadi hobi terbesarnya sejak umur 12. Ayahnya juga seorang fotografer dan meminjamkan peralatan fotografinya kepada Peter. Hobi ini menjadi bantuan juga untuk miopia yang ia derita. Karyanya sebagai fotografer dapat terlihat paling jelas dalam Rough Joys (1969). Ia tampak merekonstruksi ekfrase dari dokumentasi fotografisnya yang ia ambil selama perjalanannya mendaki gunung. Kebanyakan produksi fotografinya kini dianggap sebagai warisan budaya.[5]
Zapffe menikah dengan Bergljot Espolin Johnsen di tahun 1935, mereka cerai di tahun 1941. Ia menikah kembali dengan Berit Riis Christensen di tahun 1952 dan mereka tetap bersama hingga kematian Zapffe di tahun 1990. Berit meninggal pada bulan Mei 2008.[8] Zapffe tidak memiliki anak, sesuai dengan pilihannya sendiri.[9] Teman sepanjang hidupnya adalah filsuf dan pendaki gunung Norwegia, Arne Næss.[1]
↑Zapffe remarked that children are brought into the world without consent or forethought: {{quote|In accordance with my conception of life, I have chosen not to bring children into the world. A coin is examined, and only after careful deliberation, given to a beggar, whereas a child is flung out into the cosmic brutality without hesitation. (To Be a Human Being (1989–90); the philosopher Peter Wessel Zapffe in his 90th year (1990 documentary, Tromsø Norway: Original Film AS[pranala nonaktif permanen])).
123Zapffe, Peter Wessel (March–April 2004). "The Last Messiah". Philosophy Now. Diakses tanggal 2020-04-12.