Wiyaga (bahasa Jawa:ꦮꦶꦪꦒcode: jv is deprecated , translit.wiyaga, har.'penabuh gamelan', diucapkan[wijɔgɔ])[1] merupakan istilah dalam seni karawitan, berarti sekumpulan orang yang mempunyai keahlian khusus menabuh gamelan, terutama dalam megiringi upacara adat dan seni pertunjukan. Wiyaga juga disebut dengan niyaga atau nayaga yang berarti pengrawit atau penabuh.[2][3] Wiyaga disebut juga pengrawit.[4][5]
Etimologi
Pengrawit juga sering disebut nayaga atau Yogo. Yogo sendiri menurut Ki Mujoko Joko Raharjo dalang terkenal dari Klaten, menyebutkan berasal dari kata wiyoga yang berarti semadi atau meditasi. Seorang Nayoga bila sedang menabuh gamelan biasanya dengan konsentrasi penuh untuk memberi roh terhadap gendhing yang sedang ia mainkan. Keseriusan dalam menabuh gamelan ibarat orang semadi/meditasi, di mana bila rusak tabuhannya ibaratnya gagal sembahnya terhadap yang Maha Kuasa.[6]
Sementara itu, kata pengrawit berasal dari kata rawit, yang berarti rumit, atau yang berhubungan dengan hal-hal halus, lembut. Pengrawit memang berhubungan dengan hal-hal rumit, misalnya harus menghafal ratusan gending yang berbentuk not-not angka di luar kepala dan menyajikannya dengan "garap" yang benar.[7] Bahkan pengrawit yang "mumpuni" terhadap garap ratusan bahkan ribuan gending, disebut "Empu". Empu karawitan ini biasanya abdi dalem pengrawit keraton yang memang ahli di bidangnya.[8] Di masa lalu nama-nama seperti Mloyo Widodo,[9][10] Marto pangrawit,[11][12][13] adalah empu karawitan yang banyak cantrik-nya, dan menjadi panutan atau menjadi nara sumber garap gending-gending kuno yang sudah jarang ditabuh atau dibunyikan oleh generasi di bawahnya.[14]
Kelompok
Dalam lingkungan keraton, pelaksana seni musik karawitan adalah para abdi dalem yang secara khusus bertugas di bidang tersebut.[15] Abdi dalem karawitan ini terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu Abdi Dalem Wiyaga Kasepuhan yang berperan mengiringi berbagai seni pertunjukan, seperti wayang wong serta upacara sekaten, Abdi Dalem Wiyaga Kadipaten yang bertugas ketika putra mahkota mengadakan kegiatan, misalnya dalam acara penyambutan tamu agung, dan Abdi Dalem Wiyaga Punakawan yang bertanggung jawab mengiringi berbagai upacara keraton, termasuk pertunjukan tari srimpi dan tari bedaya.[16][17]
Adab memainkan
Pengrawit juga menunjuk pada penabuh karawitan mandiri/klenengan,[18] pengiring tari, pengiring wayang, dan ketoprak. Pada pertunjukan seni gaya Surakarta, pengrawit juga harus pandai menafsir notasi-notasi atau gending tersebut, bagaimana garap kendang-nya, gender-nya, rebab-nya, bonang-nya, dan tafsir tabuhan ricikan gamelan lainnya. Pengrawit gaya Surakarta dalam menabuh biasanya memakai kain, beskap, blangkon, atau kerisan dengan beskap krowok. Jika acara santai biasanya memakai batik atau baju yang sopan.[19]
Referensi
↑Poerwadarminta, W.J.S (1939). Bausastra Jawa[Kamus bahasa Jawa] (dalam bahasa Jawa). Batavia: J.B. Wolters.
↑"KBBI Daring". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud.
↑Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.45 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
↑Rismawati (penulis); Rahmad Nuthihar (editor). (2017). Perkembangan sejarah sastra Indonesia / penulis, Rismawati, M.Pd.; editor, Rahmad Nuthihar. Banda Aceh. Bina Karya Akademika,.
↑Moeljono; Mulyono (1989). R.W.Y. Larassumbogo: karya dan pengabdiannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm.10. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)