Dalam teori karawitanJawa, teknik imbal-imbalan atau imbal adalah teknik tabuhan yang dilakukan secara bergantian antara pemain gamelan yang satu dengan yang lain antara alat-alat musik melodis pada gamelan. Secara etimologis, kata tersebut berarti "kembali bergantian" atau "bergantian isi mengisi". Dalam konteks musikal, teknik ini didefinisikan sebagai variasi pukulan yang dilakukan secara bergantian antara pemain alat musik gamelan untuk menciptakan jalinan nada yang rapat dan dinamis.[1]
Teknik ini digunakan oleh pemain demung dan bonang. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan bonang yang diadopsi terutama pada gamelan gaya Surakarta, bonang barung membentuk jalinan dengan bonang panerus, dan pada nada dengan penekanan tertentu dapat membuat sekaran (penghias), biasanya di akhiran gatra.[2] Sementara itu, teknik imbal-imbalan juga ditemukan pada demung di gamelan gaya Yogyakarta, dengan teknik ini diadopsi pada wirama II.[3]